Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Diatas Meja Makan
Kinanti duduk berselonjor di lantai, membuka map jepit tebal yang baru saja diantarkan oleh kurir titipan Rangga. Di sampingnya, Arkan—masih dalam wujud kucing oranye gembul—ikut merangkak mendekat. Kedua kaki depannya bertumpu pada paha Kinanti, membuat berat tubuhnya yang lumayan itu menekan kaki sang sekretaris. Matanya yang hijau zamrud menyipit serius, menatap baris-baris angka dan klausul hukum di atas kertas putih tersebut.
"Mari kita lihat, Pak," gumam Kinanti, membalik halaman pertama. "Ini dokumen amandemen kontrak untuk investasi proyek smart city di Surabaya dengan pihak Singapura. Seharusnya jadwal penandatanganan ini masih minggu depan, setelah tim legal kita memeriksa ulang pasalnya."
Arkan mengeluarkan suara dengusan pendek dari hidungnya. Ia mengais kertas itu dengan cakarnya, menunjuk ke halaman tiga, tepat pada pasal mengenai pembagian dividen dan hak suara pemegang saham prarilis.
Kinanti memicingkan mata, membaca dengan teliti bagian yang ditunjuk oleh cakar kecil Arkan. Detik berikutnya, napas Kinanti tercekat. "Astaga... Pak Arkan, lihat ini! Angka persentasenya berubah!"
Kucing itu mengeong dengan nada rendah dan tajam. Bulu-bulu di lehernya agak menegak, memancarkan aura kemarahan yang pekat.
"Di draf awal yang kita bahas hari Rabu lalu, saham untuk pihak Singapura adalah tiga puluh lima persen dengan hak suara terbatas. Tapi di dokumen ini... angkanya berubah jadi empat puluh sembilan persen, dan mereka punya hak veto operasional!" Kinanti membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang gemetar. "Kalau Bapak menandatangani ini, secara hukum Bapak menyerahkan kendali penuh PT Mahardika Megah kepada pihak asing. Dan menebak siapa yang akan mereka tunjuk jadi Direktur Utama baru untuk menggantikan Bapak? Rangga."
Arkan memukul kertas tersebut dengan cakar depannya yang terbuka. Bunyi plak keras terdengar di ruangan sepi itu. Sang CEO dalam wujud kucing itu tampak sangat murka. Ekornya mengibas-ngibas dengan beringas ke lantai. Matanya berkilat penuh amarah, mengunci dokumen yang merupakan bukti pengkhianatan nyata dari orang kepercayaannya sendiri.
Ini adalah konspirasi tingkat tinggi. Rangga sengaja memanfaatkan momen akhir pekan dan mengirim dokumen ini dengan dalih "darurat" agar Arkan—yang dia kira sedang lengah di vila Bogor—langsung menandatanganinya tanpa membaca ulang. Jika Arkan tanda tangan, tamatlah riwayatnya sebagai CEO.
"Licik sekali," bisik Kinanti, ikut merasakan ketegangan yang mendera bosnya. "Pak Rangga tahu Bapak adalah orang yang paling teliti. Dia sengaja menaruh dokumen ini di hari Sabtu, berharap Bapak sedang santai dan terburu-buru agar bisa segera kembali berlibur. Tapi... bagaimana kita membalasnya, Pak? Bapak tidak bisa menandatangani ini, tapi kalau Bapak menolak tanpa alasan yang logis, Pak Rangga akan tahu ada yang tidak beres dengan Bapak."
Arkan berjalan memutar di atas dokumen tersebut. Langkah kakinya yang tadinya emosional perlahan melambat. Otak jeniusnya yang biasa memenangkan negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah mulai berputar di balik tempurung kepala kucingnya.
Ia melompat ke atas meja makan kecil yang merangkap sebagai meja kerja Kinanti di apartemen itu. Di atas meja, terdapat sebuah stempel resmi perusahaan bermata tinta biru dan sebuah pulpen berlogo PT Mahardika Megah yang semalam dibawa Kinanti dari kantor.
Arkan menatap stempel itu, lalu menatap Kinanti. Ia mengeong sekali dengan nada penuh arti.
"Bapak mau memalsukan sesuatu?" tebak Kinanti.
Arkan menggelengkan kepala. Ia menunjuk pulpen dengan moncongnya, lalu menunjuk ke telapak kaki belakangnya sendiri.
Kinanti mengerutkan kening, mencoba mencerna maksud kode dari bos kucingnya. "Pulpen... kaki belakang... coretan? Ah! Bapak mau menandatanganinya sendiri?"
Arkan mengeong pendek, membenarkan.
"Tapi Pak! Kalau Bapak tanda tangan dengan cakar kucing, bentuknya pasti berantakan! Pak Rangga akan langsung tahu kalau itu bukan tanda tangan asli Bapak yang biasanya tegak dan tajam!"
Arkan menatap Kinanti dengan pandangan jengkel. Ia melompat kembali ke lantai, mendekati kertas coret-coretan bekas yang tergeletak di bawah meja. Kucing gembul itu menaruh cakar depannya di atas kertas, lalu dengan susah payah—menggunakan seluruh kekuatan otot kakinya—ia menggerakkan cakarnya membentuk sebuah pola garis lurus yang menukik tajam ke atas, lalu meliuk ke bawah dengan presisi yang mengejutkan.
Itu adalah inisial tanda tangan singkat Arkan yang biasa ia gunakan untuk dokumen internal skala kecil. Memang tidak sesempurna saat ia menjadi manusia, tapi bentuknya... delapan puluh persen mirip.
Kinanti melongo melihat pemandangan ajaib itu. "Bapak... melatih otot cakar Bapak hanya untuk bisa tanda tangan?"
Arkan mendongak, mengangkat dagunya dengan angkuh. Tentu saja, saya ini Arkananta Mahardika. Tidak ada yang tidak bisa saya lakukan, begitulah kira-kira arti tatapan sombongnya.
"Tapi masalahnya bukan cuma tanda tangan, Pak," kata Kinanti, kembali ke mode sekretaris profesionalnya. "Pasal ini harus diubah kembali ke draf awal sebelum Bapak tanda tangani. Kita tidak boleh membiarkan Pak Rangga lolos begitu saja dengan persentase empat puluh sembilan persen ini."
Kinanti mengambil laptopnya, membuka draf asli yang tersimpan di sistem awan (cloud) perusahaan yang aman. "Saya bisa mencetak ulang halaman tiga yang asli menggunakan printer portabel saya di pojok sana. Kita ganti halaman tiga yang palsu buatan Pak Rangga dengan halaman tiga yang asli dari sistem. Setelah itu, Bapak baru tanda tangan di halaman terakhir. Jadi, saat dokumen ini kembali ke tangan Pak Rangga, dia akan mengira Bapak menandatangi dokumen palsunya tanpa melihat, padahal isinya sudah kita tukar kembali ke pasal yang asli!"
Mendengar rencana cerdik dari sekretarisnya, mata hijau Arkan berbinar. Ia mengeluarkan suara denguran halus (purr) yang terdengar seperti pujian. Kucing itu berjalan mendekati kaki Kinanti, lalu dengan sangat langka, menyundulkan kepalanya ke pergelangan kaki Kinanti—sebuah gestur khas kucing yang menunjukkan rasa terima kasih dan pengakuan.
Kinanti tersenyum geli, merasakan bulu halus Arkan menggelitik kulitnya. "Wah, dipuji oleh Pak Arkan ternyata rasanya sepesial begini ya, bahkan meski dalam wujud kucing."
Proses eksekusi rencana pun dimulai. Kinanti dengan cekatan mencetak halaman yang asli, menyatukannya kembali ke dalam map jepit dengan rapi, hingga tidak ada bekas manipulasi sama sekali. Setelah dokumen siap, Kinanti memegang dokumen itu di lantai, sementara Arkan bersiap dengan pulpen di mulutnya.
Namun, memegang pulpen dengan mulut ternyata jauh lebih sulit daripada yang Arkan bayangkan. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kepalanya untuk menggoreskan tinta, pulpen itu slip karena air liurnya sendiri atau karena berat pulpen yang tidak seimbang.
"Sini, Pak. Biar saya bantu tunjang," kata Kinanti lembut. Ia berlutut di samping Arkan, tangan kirinya memegang tubuh gembul Arkan agar tetap stabil, sementara tangan kanannya dengan sangat hati-hati membantu mengarahkan ujung pulpen yang digigit Arkan ke atas garis tanda tangan.
Jarak mereka begitu dekat. Kinanti bisa merasakan kehangatan dari tubuh kucing Arkan, dan detak jantung kecilnya yang berdegup konstan. Entah mengapa, suasana di dalam apartemen sempit itu mendadak terasa begitu intim dan hangat.
"Satu... dua... tarik ke atas, Pak... ya, tekuk ke bawah... selesai!"
Inisial tanda tangan itu akhirnya tertoreh di atas kertas putih. Meskipun agak sedikit tebal di beberapa bagian, tanda tangan itu terlihat sangat sah dan meyakinkan. Kinanti segera membubuhkan stempel resmi perusahaan di atasnya untuk menyempurnakan sandiwara mereka.
"Sempurna," ujar Kinanti bangga, mengangkat dokumen tersebut ke udara. "Hari Senin nanti, Pak Rangga akan mendapatkan kejutan terbesar dalam kariernya."
Arkan melompat ke atas pangkuan Kinanti, menatap dokumen itu dengan puas. Rasa lega tampaknya mulai menjalar di dalam diri sang CEO. Tekanan stres dan kepanikan yang sejak pagi tadi mengunci wujud hewannya perlahan-lahan mengendur.
Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menggelitik seluruh tubuh Arkan. Udara di sekeliling mereka mendadak terasa bergetar, disusul percikan cahaya keemasan tipis yang mulai muncul dari balik bulu-bulu oranyenya.
"Eh? Pak Arkan? Badan Bapak... bersinar?!" Kinanti terpekik panik, mencoba menjauhkan tubuhnya, namun terlambat.
Cahaya itu semakin terang, membungkus seluruh tubuh kucing gembul tersebut. Dalam hitungan detik, berat tubuh yang tadinya hanya enam kilogram di pangkuan Kinanti mendadak berubah menjadi berkali-kali lipat lebih berat dan jauh lebih besar.
"Aduuuh!!!" Kinanti berteriak saat tubuhnya ambruk ke lantai, tertimpa oleh beban seorang pria dewasa bertubuh tegap yang tiba-tiba muncul dari balik kilatan cahaya.
Cahaya keemasan itu lenyap. Ruangan kembali normal.
Kinanti membuka matanya yang sempat terpejam, dan hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata elang yang tajam, hidung mancung yang sempurna, dan wajah tampan yang sangat ia kenal—hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya sendiri. Arkananta Mahardika telah kembali ke wujud manusianya, berbaring tepat di atas tubuh Kinanti dengan posisi yang sangat ambigu.
Namun ada satu masalah besar yang membuat Kinanti langsung membelalakkan mata dan menahan napasnya.
Arkan kembali menjadi manusia, tapi setelan jas manusianya masih tertinggal di lantai ruang kerja kantor lantai 32 semalam. Pria itu sekarang... hanya mengenakan kaus kutang putih tipis dan celana pendek boxer bermotif hati yang tampaknya adalah baju tidur cadangan milik Kinanti yang tadi sempat tergeletak di kasur.
Kedua pasang mata itu bertemu dalam keheningan yang mencekam selama tiga detik.
"Kinanti," suara bariton Arkan yang berat dan seksi akhirnya terdengar kembali, memecah keheningan ruangan.
"Y-ya, Pak Arkan?" jawab Kinanti dengan suara bergetar, wajahnya sudah merona merah pekat seperti kepiting rebus.
"Bisa kamu singkirkan tanganmu dari pinggang saya? Dan yang kedua... kenapa baju tidurmu sempit sekali?" tanya Arkan dengan ekspresi sedingin es, berusaha mempertahankan wibawa CEO-nya meskipun penampilannya saat ini sama sekali tidak ada wibawanya.