-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Udara pagi di kaki gunung itu selalu punya cara sendiri untuk memeluk siapa pun yang berani bangun sebelum matahari benar-benar bertahta. Bianca—yang kini telah melebur dalam identitas Gita Ivara—menghirup napas dalam-dalam. Aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur-dapur tetangga terasa jauh lebih mewah daripada parfum Prancis ribuan dolar yang dulu memenuhi meja riasnya di Surabaya.
Ia merapikan kemeja katun murahnya yang sudah disetrika licin. Tidak ada lagi sutra, tidak ada lagi perhiasan mencolok. Namun, saat ia melangkah keluar dari kontrakan kayunya, cara ia mengunci pintu dan menyampirkan tas kain di bahunya tetap memancarkan keanggunan seorang Adytama yang sulit luntur.
"Neng Gita! Pagi-pagi sudah rapi saja," sapa Mak Entin, tetangga sebelah rumah yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi.
Bianca menghentikan langkah, memberikan senyum tulus—jenis senyum yang dulu jarang ia berikan pada siapa pun.
"Pagi, Mak. Iya, takut telat sampai vila. Udara lagi enak buat jalan kaki."
"Ini, bawa buat sarapan di jalan. Tadi Emak bikin ubi rebus kebanyakan," Mak Entin menyodorkan bungkusan daun pisang.
Bianca menerimanya dengan kedua tangan. "Hatur nuhun, Mak. Repot-repot sekali."
Ia melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang membelah kebun teh. Di sepanjang jalan, ia menyapa para pemetik teh yang mulai bekerja dengan caping lebar mereka. Ada kedamaian yang asing namun menghangatkan saat ia membalas sapaan "Pagi, Neng!" dari warga desa yang sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang mereka sapa ini pernah menjadi berita utama di seluruh koran nasional sepuluh tahun lalu.
Bagi mereka, dia hanyalah Gita, wanita kota yang sopan dan rajin. Bagi Bianca, ini adalah kemerdekaan yang sesungguhnya.
Sementara itu, di teras lantai dua Villa Dirgantara, Arlan berdiri dengan cangkir kopi hitam yang masih mengepul. Matanya yang tajam tidak menatap hamparan hijau di bawah sana, melainkan terpaku pada sosok wanita yang sedang berjalan di kejauhan. Dari ketinggian ini, Gita tampak kecil, namun postur tubuhnya yang tegak di antara para warga desa sangat mencolok.
"Dia sudah datang?" suara berat Pak Reza, ayahnya, terdengar dari belakang.
Arlan tidak menoleh. "Sepertinya begitu. Kenapa Ayah membiarkannya tinggal di kontrakan warga? Jalannya jauh dan menanjak."
Pak Reza terkekeh, berdiri di samping putranya. "Dia yang minta, Lan. Katanya ingin mandiri. Ayah tidak mau memaksa, tapi jujur saja, Ayah dan Ibu merasa dia bukan orang sembarangan. Cara dia berbicara, cara dia memegang alat makan... dia berpendidikan tinggi."
Arlan menyesap kopinya, membiarkan cairan pahit itu membasahi lidahnya. "Tadi malam Pak Arep bilang dia mantan narapidana. Ayah tidak takut?"
Pak Reza terdiam sejenak, matanya menatap kejauhan. "Setiap orang punya lubang hitam di masa lalunya, Arlan. Termasuk kita. Yang penting adalah bagaimana dia hari ini. Dan hari ini, dia adalah orang yang paling jujur yang pernah Ayah temui."
Arlan terdiam. Jujur? Di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan dan mantan istri yang hanya memuja kartu kreditnya, kejujuran adalah barang antik yang hampir punah.
Gita tiba di vila dan langsung menjalankan rutinitasnya. Pagi ini, tugasnya adalah merapikan kamar-kamar di sayap kanan, termasuk kamar besar yang kini ditempati oleh Arlan.
Ia mengetuk pintu kamar Arlan tiga kali. Tidak ada jawaban. Dengan asumsi pria itu sedang sarapan di bawah bersama orang tuanya, Gita membuka pintu dengan kunci duplikat pekerja. Kamar itu beraroma maskulin—campuran antara sandalwood dan sisa kopi. Gita mulai bekerja dengan efisien. Ia merapikan tempat tidur dengan gerakan terlatih yang ia pelajari di kelas etiket masa remajanya, bukan di penjara.
Saat ia sedang membungkuk untuk merapikan sudut sprei, sebuah suara dingin menginterupsi kesunyian.
"Pekerjaanmu sangat rapi untuk seseorang yang katanya baru belajar jadi pelayan."
Gita tersentak kecil, namun ia tidak berteriak. Ia segera berdiri tegak dan berbalik. Di ambang pintu balkon, Arlan berdiri dengan tangan bersedekap, memperhatikannya dengan tatapan intens yang membuat bulu kuduk Gita meremang.
"Tuan Arlan. Saya mohon maaf, saya pikir Anda sedang di bawah," ucap Gita tenang, kepalanya sedikit menunduk namun matanya tetap berani menatap lawan bicaranya.
Arlan melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut dua meter. "Aku lebih suka menghirup udara pagi daripada basa-basi di meja makan. Jadi, Gita... atau siapa pun namamu, ceritakan padaku satu hal."
Arlan bergerak lebih dekat lagi, membuat Gita terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh tiang tempat tidur yang kokoh. Pria itu meletakkan satu tangannya di tiang, mengunci ruang gerak Gita.
"Kenapa seorang wanita yang tahu cara menyetrika kemeja sutra dengan presisi seperti ini, malah memilih bekerja sebagai pelayan di desa terpencil?" Arlan menatap jemari Gita yang bersih, meski tanpa kuteks. "Dan jangan beri aku jawaban klise tentang 'mencari kerja'."
Gita menarik napas dalam, mencoba menjaga detak jantungnya agar tetap stabil. Aroma tubuh Arlan yang kuat mulai mengacaukan konsentrasinya.
"Setiap orang punya alasan untuk menghilang, Tuan. Saya hanya salah satunya."
"Menghilang? Atau melarikan diri?" Arlan merendahkan suaranya, matanya turun ke bibir Gita sejenak sebelum kembali ke matanya. "Ibu mungkin percaya dengan cerita penebusan dosamu. Tapi aku? Aku melihat sesuatu yang lain di matamu. Ada harga diri yang sangat tinggi yang sedang kamu coba injak-injak dengan seragam ini."
"Jika Tuan tidak puas dengan pekerjaan saya, Tuan bisa meminta Nyonya Anika untuk memecat saya," tantang Gita halus.
Arlan tersenyum miring—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya, namun penuh daya tarik berbahaya.
"Memecatmu? Tidak. Aku justru punya rencana lain. Mulai hari ini, kamu tidak hanya mengurusi kamar ini. Kamu akan menjadi asisten pribadiku selama aku di sini. Aku ingin tahu seberapa kuat kamu bisa bertahan di bawah pengawasanku."
Gita mengepalkan tangannya di balik punggung. "Saya dikontrak sebagai petugas kebersihan, Tuan."
"Dan sekarang aku mengubah kontrakmu secara sepihak. Mulai besok kamu pindah di kamar belakang karena aku tidak ingin jauh dari asisten baruku," bisik Arlan tepat di telinga Gita.
**
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun, namun semilir angin dari lereng pegunungan membuat hawa di teras belakang Villa Dirgantara tetap sejuk. Bianca—duduk termenung di undakan semen yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh. Di tangannya ada segelas air putih yang embunnya mulai membasahi jemarinya.
Di sudut area cuci, tawa renyah pecah. Isah dan Marni sedang menjemur serbet-serbet dapur sambil sesekali saling mencipratkan sisa air bilasan. Mak Saroh, sang kepala asisten rumah tangga yang sudah mengabdi puluhan tahun di villa itu, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua putrinya, meski senyum tipis tidak lepas dari wajah rentanya yang penuh kerutan.
Bianca memperhatikan mereka dalam diam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—sebuah rasa iri yang asing. Bagaimana bisa? batinnya. Mereka bekerja dari subuh, mencuci tumpukan piring, menyikat lantai, dan melayani kebutuhan orang lain setiap hari. Secara teori, itu adalah pekerjaan yang melelahkan dan mungkin dianggap rendah oleh Bianca yang sepuluh tahun lalu. Tapi lihatlah mereka. Isah tertawa sampai matanya menyipit, dan Marni tampak begitu bangga saat menceritakan hasil panen suaminya di kebun sebelah.
"Apa yang mereka tertawakan?" bisik Bianca pada dirinya sendiri. "Apa rahasianya bisa sebahagia itu tanpa perlu punya segalanya?"
Bagi Bianca, bahagia dulu adalah tentang tas edisi terbatas, mobil keluaran terbaru, dan tatapan iri dari sosialita lain di Surabaya. Namun di sini, di bawah langit Jawa Barat yang jujur, ia baru menyadari bahwa selama ini ia memiliki segalanya namun tidak punya apa-apa.
"Neng Gita?"
Bianca tersentak. Gelas di tangannya hampir saja merosot jika ia tidak segera mencengkeramnya kuat-kuat. Ia menoleh dan menemukan Mak Saroh sudah berdiri di sampingnya dengan wajah keibuan yang menenangkan.
"Eh, iya, Mak? Ada apa?" tanya Bianca, mencoba mengatur napasnya yang sempat terkejut.
Mak Saroh duduk di samping Bianca, mengabaikan jarak antara atasan dan bawahan yang biasanya sangat dijaga di kota besar.
"Neng Gita melamun saja. Mikirin apa? Mikirin kontrakan?"
Bianca tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak, Mak. Cuma... senang saja melihat Isah dan Marni."
"Ah, dua anak itu memang tidak bisa diam. Tapi begitulah, Neng. Hidup itu kalau dibawa berat ya berat, kalau dibawa syukur ya ringan. Yang penting malam bisa tidur nyenyak, perut kenyang, dan keluarga sehat," ujar Mak Saroh sambil menepuk pundak Bianca. "Oiya, Mak mau kasih tahu. Kamar di paviliun belakang sudah Mak bersihkan. Sudah siap ditinggali. Jadi, nanti sore Neng Gita bisa langsung pindahan. Biar tidak sendirian lagi di kontrakan, Mak khawatir kalau hujan besar jalannya licin."
Bianca merasa tenggorokannya mendadak tersumbat. "Mak... sebenarnya tidak perlu repot-repot. Gita bisa bersihkan sendiri nanti. Gita juga tidak enak sudah merepotkan Mak dan yang lain."
Mak Saroh tertawa kecil, suara tawanya kering namun hangat. "Repot apa? Neng Gita ini sudah Mak anggap seperti anak sendiri sejak hari pertama masuk. Wajah Neng itu... cantik, tapi seperti menyimpan banyak beban. Di sini, kita keluarga. Pindah ya? Isah sama Marni sudah tidak sabar mau punya teman mengobrol kalau malam."
Bianca hanya bisa mengangguk pelan, air mata hampir saja merembes keluar. Kehangatan ini adalah sesuatu yang tidak ia dapatkan di balik jeruji besi, dan sesuatu yang ia sia-siakan saat ia masih menjadi nona muda angkuh.
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh