NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan, Kopi, dan Gencatan Senjata

Gerimis mulai turun membasahi jalanan aspal kawasan Manahan tepat ketika jarum jam menunjuk pukul tujuh malam. Bau petrichor—aroma tanah yang terguyur hujan—menyelusup masuk dari celah pintu kedai Drip & Draft yang sedikit terbuka, berbaur dengan aroma biji kopi Toraja yang baru saja selesai digiling.

Di balik meja bar, Lyana berdiri dengan bertumpu pada satu kaki. Kantuk dan kelelahan menekan pundaknya dengan brutal. Setelah bergadang di sekretariat, menghadapi sidang dadakan Pak Seno di rektorat, lalu duduk menyimak tiga SKS mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah, sisa tenaganya benar-benar sudah berada di titik nadir.

Kedai cukup sepi malam ini. Hujan membuat banyak pelanggan membatalkan niat untuk nongkrong. Lyana baru saja selesai mencuci milk jug ketika lonceng di atas pintu berdentang pelan.

Ia mendongak, bersiap menyapa pelanggan dengan senyum standar operasionalnya, namun senyum itu tertahan di ujung bibir.

Arshaka Rumi Wiraguna masuk ke dalam kedai. Sendirian. Tidak ada teman-teman dari Fakultas Teknik, tidak ada tawa bising, tidak ada jaket bomber yang mencolok. Pria itu hanya mengenakan jaket denim pudar yang bahunya basah oleh rintik hujan. Ia mengibaskan rambut ikalnya yang sedikit lepek, lalu melangkah menuju meja kasir.

"Malam, Mbak Lyan," sapa Rumi pelan. Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya, menandakan ia juga sama kelelahannya dengan Lyana.

"Malam, Mas," jawab Lyana, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional. "Tumben sendirian? Anak-anak teknik mana?"

Rumi terkekeh kecil, menarik kursi tinggi di depan meja bar dan duduk di sana. "Lagi pada tepar di sekre mereka. Sejak balik dari rektorat tadi pagi, aku langsung rapat koordinasi sama ketua-ketua BEM fakultas buat antisipasi serangan balik dari Satria. Kepalaku rasanya mau pecah."

Lyana terdiam sejenak. Ia tahu betul bagaimana rasanya mengurusi intrik politik kampus, dan ia tak bisa membayangkan seberapa banyak tekanan yang harus Rumi tanggung sendirian sebagai orang nomor satu di organisasi.

"Mau pesan apa? Es americano lagi?" tanya Lyana, jarinya sudah bersiap di atas layar tablet kasir.

Rumi menggeleng. Ia menatap ke luar jendela yang buram oleh air hujan. "Hujan begini, es americano bisa bikin lambungku jebol. Kopi tubruk ada? Yang panas, pekat, gulanya sedikit saja."

"Ini coffee shop, Mas. Nggak ada kopi tubruk," Lyana nyaris mendengus, namun sudut bibirnya berkedut menahan senyum tipis. "Long black, panas, less sugar. Bagaimana?"

"Terserah baristanya saja. Aku percaya seleramu," jawab Rumi santai.

Sementara Lyana berbalik untuk menyiapkan pesanan, Rumi merogoh saku dalam jaket denimnya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi, lalu meletakkannya di atas meja bar, tepat di sebelah mesin kasir.

Lyana kembali dengan secangkir long black yang mengepul. Ia meletakkan cangkir itu di depan Rumi, pandangannya langsung tertuju pada lipatan kertas tersebut.

"Apa ini? Tambahan tagihan katering lagi?" tanya Lyana curiga. Ia mengusap tangannya dengan celemek sebelum mengambil kertas itu.

Rumi menyesap kopinya perlahan, menghela napas panjang seolah baru saja menemukan oase di padang pasir. "Buka saja."

Lyana membuka lipatan kertas itu. Matanya sedikit melebar. Itu adalah sebuah nota bergaris resmi. Di bagian atasnya tertulis 'Warkop Pak Jo' dengan tulisan tangan balok yang rapi. Di bawahnya, rincian pesanan malam itu tertulis jelas: 15 Porsi Nasi Telur, 15 Gelas Es Teh Manis. Semuanya ditotal dengan benar, lengkap dengan meterai enam ribu dan stempel basah berwarna ungu.

"Pak Jo beli buku nota?" tanya Lyana, nyaris tidak percaya.

Rumi tertawa pelan. "Bukan. Sore tadi aku mampir ke toko fotokopi, beliin Pak Jo satu bendel buku nota sekalian bikinin stempel nama warkopnya. Aku ngajarin beliau cara nulis rincian yang benar, dan beliau sendiri yang tanda tangan di atas meterai itu."

Lyana tertegun. Ia menatap Rumi lekat-lekat. Pria ini, yang kemarin berdebat sengit dengannya karena menganggap prosedur birokrasi itu hal yang merepotkan, ternyata meluangkan waktunya untuk kembali ke warkop demi sebuah kuitansi seharga empat ratus ribu rupiah.

"Aku bilang padanya," lanjut Rumi, memutar cangkir kopinya perlahan. "Kalau Pak Jo mau mulai terima pesanan dalam jumlah besar dari anak-anak kampus, dia harus punya nota resmi supaya bendahara kami yang galak nggak darah tinggi."

Lyana tidak bisa menahan senyumnya kali ini. Sebuah senyuman kecil yang tulus, yang langsung mengubah raut wajahnya yang biasanya kaku menjadi jauh lebih hangat.

"Terima kasih, Mas Rumi," ucap Lyana pelan, melipat kembali nota itu dengan hati-hati lalu menyimpannya ke dalam saku kemejanya. "Ini sangat membantu. Kalau semua vendor kooperatif begini, pekerjaanku bakal jauh lebih ringan."

"Sama-sama, Lyan," Rumi membalas tatapan itu. Tidak ada aura intimidasi atau godaan usil. Hanya ada respek dari dua orang rekan kerja yang baru saja melewati krisis pertama mereka.

Suara rintik hujan di luar kedai mengisi keheningan yang nyaman di antara mereka. Rumi tidak mencoba memperpanjang obrolan dengan topik yang tidak penting. Ia tahu Lyana butuh istirahat, dan ia pun sama.

"Soal Satria dan Senat," Lyana membuka suara lagi setelah beberapa saat, naluri BEM-nya kembali muncul. "Kalau mereka masih mencari cara untuk menjatuhkan kita, apa rencana Mas Rumi selanjutnya? Kita nggak bisa terus-terusan main defense."

Rumi meletakkan cangkirnya yang sudah tandas setengah. Sorot matanya kembali menajam. "Kita nggak akan main defense lagi. Kalau mereka pakai birokrasi untuk menjepit kita, kita akan pakai massa untuk menekan balik. Aku sedang mengumpulkan data soal penyelewengan dana beasiswa dan fasilitas kampus. Begitu datanya matang, kita akan buat konsolidasi akbar. Kali ini, resmi, di pelataran rektorat."

Lyana mengangguk paham. Ia tidak mendebat soal anggaran atau prosedur kali ini, karena ia tahu, setelah kejadian pagi tadi di rektorat, Rumi tidak akan gegabah.

"Tugasmu cuma satu, Lyan," Rumi menunjuk pelan ke arah Lyana dengan jari telunjuknya. "Jaga benteng kita. Jaga buku kas, pastikan semua transaksi bersih, jangan sampai ada celah sedikit pun. Biar urusan berdebat sama rektorat dan ngadepin politik Senat jadi urusanku. Paham?"

"Paham, Mas," jawab Lyana tegas.

Rumi tersenyum puas. Ia menenggak habis sisa kopinya, lalu berdiri. Ia meletakkan selembar uang lima puluh ribuan di atas meja bar.

"Kembaliannya—"

"Iya, tahu," potong Rumi cepat sambil mengangkat sebelah tangannya, menirukan nada bicara Lyana. "Kembaliannya harus diambil karena sesuai prosedur dan Mbak Lyan tidak menerima tip. Benar, kan?"

Lyana terkekeh pelan. Ia menyerahkan uang kembalian itu kepada Rumi, yang menerimanya dengan kekehan yang sama.

"Aku duluan, Lyan. Tutup kedai, langsung pulang dan tidur. Jangan buka laptop lagi. Itu perintah Presiden BEM," ujar Rumi seraya merapatkan kembali jaket denimnya.

"Hati-hati di jalan, Mas."

Rumi melambaikan tangannya tanpa menoleh, lalu mendorong pintu kaca kedai, kembali menerobos gerimis malam Solo.

Lyana berdiri di balik meja bar, menatap uang kembalian di mesin kasir, lalu meraba saku kemejanya tempat nota resmi dari Pak Jo itu berada. Rasa lelah di bahunya entah kenapa terasa sedikit menguap.

Ia memutar badannya untuk mulai mencuci mesin espresso. Dalam hati, Lyana menarik kembali semua kesimpulan awalnya tentang Rumi. Arshaka Rumi Wiraguna mungkin memang urakan, mungkin sering melanggar aturan tak tertulis, dan mungkin memang "salah gaul".

Namun malam ini, Lyana menyadari satu hal. Jika ia harus pergi berperang melawan birokrasi kampus yang korup dan sistem yang tidak adil, ia tidak keberatan jika orang serampangan itu yang berdiri di garis depan sebagai komandannya.

Masa jabatan satu tahun ke depan mungkin akan menguras air matanya, namun untuk pertama kalinya, Lyana merasa siap.

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!