Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Segel Kesetiaan
Di ketinggian langit yang luas, elang yang tercipta dari gumpalan Dou Qi merah menyala membelah awan dengan kecepatan tinggi.
Angin kencang menerpa dari arah depan, namun kepakan sayap makhluk energi itu tetap stabil dan terkendali di bawah kendali Wang Ning, memastikan posisi Jiang Yuan di belakang tidak akan goyah atau terjatuh ke jurang maut di bawah sana.
"Bocah, berhasil mencapai Ranah Dou Zhi Qi tahap menengah di usia semuda ini, kau kelihatannya sudah berusaha keras."
Wang Ning memutar perlahan setengah badannya ke belakang. Gerakan memutar itu membuat pinggangnya yang ramping meliuk indah, sementara helai-helai rambut hitamnya yang panjang terbang bebas, menyapu lembut udara di antara mereka.
"Apa saja yang sudah kau lakukan?"
Jiang Yuan menatap sepasang mata emas di hadapannya dengan keraguan yang tersirat jelas dari sorot matanya, sebelum akhirnya membuka suara.
"Bukan apa-apa, hanya menginginkan kehidupan yang lebih baik. Dengan berkultivasi aku memang berharap bisa meninggalkan desa itu."
Sepasang mata emas Wang Ning seketika menyipit, menatap Jiang Yuan dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Hoo~ memangnya ada masalah?"
Jiang Yuan sedikit menurunkan pandangannya, mengatur napas agar tetap terdengar tenang. "Hanya masalah biasa. Aku kurang disukai oleh orang-orang di desa."
Sudut bibir merah Wang Ning perlahan terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi.
"Begitu. Yah, ini sering terjadi. Sekarang aku mengerti kenapa kau lari sendirian."
Mendengar tanggapan itu, insting waspada Jiang Yuan kembali bergejolak.
Ia secara refleks menggeser kaki kanannya ke belakang, mundur satu langkah untuk memperlebar jarak dari sang wanita.
"Kau ternyata tipikal orang yang bisa mengorbankan orang lain," ucap Wang Ning, nadanya mendadak berubah menjadi dingin dan terdengar begitu menyudutkan. "Kelihatannya kau lebih berbahaya dari yang kukira."
Jiang Yuan mengencangkan rahangnya, menyadari ke mana arah pembicaraan ini. Wang Ning mulai menganggapnya sebagai sosok yang berpotensi menjadi ancaman di masa depan.
Wanita kejam itu tahu betul bahwa orang yang bergerak murni demi kepentingan pribadi dan licik sering kali menjadi musuh yang paling sulit untuk dikendalikan.
"Apa yang Guru Ning bicarakan. Aku hanya Ranah Dou Zhi Qi, sama sekali tidak mungkin bisa membahayakanmu."
Wang Ning tertawa kecil tanpa suara, lalu menyilangkan kedua lengan tangannya yang mulus tepat di bawah sepasang puncak kembar miliknya yang padat.
Gerakan itu secara tidak langsung mendorong bagian dadanya ke atas, membuatnya membusung indah dan bergoyang pelan di balik ketatnya potongan kain gaun merah yang minim.
Bersamaan dengan itu, ia mengangkat dagunya yang tirus, menatap Jiang Yuan dari atas ke bawah dengan sikap angkuh yang begitu menggoda.
"Kalau begitu kau harus membuktikan padaku. Apakah kau benar-benar tidak akan berkhianat?"
Jiang Yuan merasakan tenggorokannya mendadak kering, lalu menelan ludahnya dengan berat. Atmosfer di atas punggung elang itu terasa kian menghimpit.
Sungguh sebuah tekanan yang terlalu berat bagi pemuda seusianya, berdiri berhadapan langsung dengan seorang kultivator Ranah Dou Ling yang bisa merenggut nyawanya dalam sekejap mata.
"Ba-bagaimana?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit bergetar, mencoba mencari celah untuk menyelamatkan diri.
Dengan satu sapuan tangan Wang Ning yang bergerak cepat membelah udara, gumpalan Dou Qi merah menyala melesat bagaikan tali kasatmata yang kuat.
Energi itu seketika menjerat dan menarik paksa tubuh Jiang Yuan maju ke depan tanpa bisa dilawan.
"Khhh."
Ujung jari tangan Wang Ning yang lentik kini telah mencengkeram kuat leher Jiang Yuan.
Cengkeraman itu begitu bertenaga hingga mengangkat tubuh pemuda itu ke udara, membuat kedua kakinya melayang tidak lagi menyentuh punggung elang energi.
Jiang Yuan mengerahkan seluruh kekuatannya, kedua tangannya berusaha keras mencengkeram pergelangan tangan Wang Ning untuk melepaskan diri.
Namun, apalah daya, di hadapan kekuatan sejati seorang kultivator Ranah Dou Ling, segala upayanya terasa sia-sia dan tidak berarti apa-apa.
Setelah membiarkan Jiang Yuan kesulitan bernapas sejenak, Wang Ning menghempaskan tangannya ke bawah. Tubuh Jiang Yuan langsung dijatuhkan dengan keras, telentang tepat di atas punggung elang Dou Qi yang kenyal oleh energi.
Jiang Yuan terbaring tak berdaya di sana. Salah satu tangannya bergerak memegangi lehernya yang memerah dan terasa sangat sakit, sementara dadanya kembang kempis meraup pasokan udara.
"Guru, apa yang Anda lakukan..."
Tanpa memberikan kesempatan untuk memulihkan diri, Wang Ning menggeser tubuhnya dan langsung menaiki tubuh Jiang Yuan.
Dengan gerakan yang penuh dominasi, ia duduk tepat di atas perut pemuda itu. Kedua paha mulusnya yang seputih susu menjepit erat pinggang Jiang Yuan, mengunci pergerakan mangsanya.
Sementara itu, kedua telapak tangannya bertumpu kuat di sisi kanan dan kiri wajah Jiang Yuan, membuat gaun merahnya melorot sedikit dan membiarkan sepasang puncak kembar miliknya yang padat menggantung dekat, bergoyang lembut seiring napasnya yang teratur.
"Aku akan memasangkan segel untukmu."
Wang Ning menurunkan tubuh bagian atasnya, mendekatkan wajah cantiknya yang memikat.
Jiang Yuan bahkan bisa merasakan embusan napas wanita itu yang terasa hangat dan beraroma harum merayapi permukaan kulit wajahnya.
Cup!
Bibir merah Wang Ning langsung menempel dan mengunci bibir Jiang Yuan. Ciuman itu sama sekali tidak mendarat dengan lembut.
Begitu kasar dan menuntut, Wang Ning mulai menjelajahi rongga mulut Jiang Yuan tanpa memedulikan keterkejutan sang pemuda. Kedua bibir mereka saling bertautan erat, saling bertukar liur di tengah deru angin yang kencang.
Bersamaan dengan penyatuan itu, pendaran Dou Qi berwarna merah pekat mulai mengalir keluar dari kening Wang Ning, merayap perlahan lalu berkumpul dan membentuk pola segel kecil yang bercahaya di dahi Jiang Yuan.
Sebagai sentuhan bagian terakhir, Wang Ning menekan ciumannya jauh lebih dalam, melumat bibir Jiang Yuan sekali lagi dengan sapuan yang intens hingga membuat pinggulnya sedikit bergerak gemulai di atas perut sang murid.
Dan pada saat itulah, kilatan cahaya segel di dahi Jiang Yuan meredup dan selesai terukir sempurna.
Wang Ning akhirnya menarik kembali wajahnya, melepaskan tautan bibir mereka dan membiarkan Jiang Yuan kembali bernapas bebas.
"Selesai. Dengan ini... kau benar-benar berada di bawahku. Jangan pernah berpikir untuk lari disaat-saat penting, bocah."
Jiang Yuan kini terlihat sangat berantakan. Napasnya tersengal-sengal dengan sisa benang liur di sudut bibir, tidak menyangka bahwa ciuman pertamanya telah direnggut paksa hanya demi sebuah segel kepatuhan.
Wanita di atasnya ini benar-benar sangat kejam, tidak memiliki keraguan sedikit pun bahkan ketika harus memperdaya muridnya sendiri dengan cara seperti ini.
'Ini sangat buruk.'
Wang Ning bergeser turun dari tubuh Jiang Yuan, lalu kembali berdiri tegak memunggungi pemuda itu.
Langkah kakinya yang anggun membuat pinggulnya bergoyang sensual ke kiri dan ke kanan, mengembalikan wibawa seorang tetua sekte.
"Kau cukup enak. Ini pertama kalinya aku menggunakan segel pada laki-laki. Ternyata cukup mudah," gumamnya lirih sambil mengusap bibirnya sendiri yang basah dengan ujung ibu jari.
Sementara itu, Jiang Yuan berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Ia bangun secara perlahan, mengubah posisinya menjadi duduk sambil menatap punggung tegap sang guru.
"Guru benar-benar kejam. Merenggut ciuman pertama orang lain hanya untuk segel." Jiang Yuan tanpa ragu-ragu mengucapkannya, menyuarakan sedikit kejengkelan yang tersisa di dadanya.
"Hahaha!" Tawa renyah Wang Ning seketika menggema membelah sunyinya langit malam. Wanita itu membalikkan kepalanya sedikit, menatap Jiang Yuan lewat sudut mata emasnya yang berkilau jenaka. "Hanya ciuman saja, memangnya itu penting?"
Jiang Yuan terdiam sejenak melihat reaksi santai tersebut, sebelum akhirnya menghela napas pelan dan menyerah pada keadaan.
"Benar juga."