NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita yang Seharusnya Sudah Mati

"Mustahil..."

Suara Adrian nyaris tidak terdengar.

Untuk pertama kalinya sejak Aruna mengenalnya, pria itu tampak benar-benar terguncang.

Bukan marah.

Bukan tegang.

Melainkan terguncang.

Aruna mengikuti arah pandang Adrian.

Di samping ayahnya yang terikat di kursi, duduk seorang wanita paruh baya.

Usianya sekitar lima puluh tahun.

Wajahnya pucat.

Rambutnya sedikit berantakan.

Namun sorot matanya masih tajam.

Sangat tajam.

Wanita itu perlahan mengangkat kepala.

Dan ketika tatapannya bertemu dengan Adrian, senyum tipis muncul di bibirnya.

"Sudah lama sekali."

Jantung Adrian berdetak keras.

"Nadia..."

Aruna mengernyit.

Nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Namun jelas sekali bahwa wanita tersebut bukan orang biasa.

Karena bahkan Reza yang sejak tadi tampak santai ikut memperhatikan reaksinya.

"Kau masih mengingatku."

Nadia tersenyum kecil.

Senyuman yang justru terasa menyedihkan.

"Semua orang mengira aku mati."

Ruangan mendadak sunyi.

Tidak ada yang berbicara.

Bahkan anggota keamanan Adrian terlihat kebingungan.

Karena situasi ini jauh berbeda dari yang mereka perkirakan.

Mereka datang untuk menyelamatkan Dimas.

Namun justru menemukan orang lain yang selama ini dianggap telah meninggal.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aruna.

Tatapannya berpindah dari Adrian ke Nadia.

Lalu ke Reza.

Tidak ada satu pun wajah yang terlihat normal.

Semuanya menyimpan sesuatu.

Rahasia.

Rahasia yang sudah terlalu lama terkubur.

"Pertanyaan yang bagus."

Reza tertawa pelan.

"Sayangnya jawabannya akan membuat hidupmu berubah selamanya."

"Aku tidak peduli."

Aruna melangkah maju.

"Aku hanya ingin tahu kebenarannya."

Reza memperhatikannya beberapa detik.

Lalu tersenyum.

Senyum yang membuat bulu kuduk Aruna berdiri.

"Kau benar-benar mirip ibumu."

Kalimat itu langsung membuat suasana berubah.

Dimas yang sejak tadi diam mendadak mengangkat kepala.

"Jangan libatkan Aruna!"

Suara pria itu terdengar serak.

Namun tetap tegas.

"Biarkan dia pergi."

Reza tertawa.

"Pergi?"

Tatapannya berubah dingin.

"Setelah enam belas tahun?"

"Tidak."

"Sudah terlambat."

Aruna merasakan sesuatu yang tidak beres.

Sangat tidak beres.

Dan semakin lama, firasat buruk itu semakin kuat.

---

Adrian perlahan melangkah maju.

Matanya tidak pernah lepas dari Nadia.

"Nadia."

Wanita itu menatapnya.

"Katakan padaku satu hal."

"Apa?"

"Kenapa kau bekerja sama dengannya?"

Nadia tersenyum pahit.

"Karena aku tidak punya pilihan."

Reza langsung tertawa.

"Pilihan?"

"Jangan membuat dirimu terdengar seperti korban."

Nadia langsung memalingkan wajah.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna melihat sesuatu yang tidak ia duga.

Rasa takut.

Wanita itu takut pada Reza.

Sangat takut.

"Adrian."

Nadia kembali menatap pria itu.

"Kau seharusnya tidak datang ke sini."

"Di mana dokumennya?"

Pertanyaan itu membuat semua orang membeku.

Dokumen?

Aruna langsung menoleh.

Dokumen apa?

Namun Nadia tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih kepada Aruna.

Lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya air mata mulai muncul di sudut matanya.

"Dia benar-benar mirip Alya."

Nama ibunya kembali disebut.

Jantung Aruna berdegup keras.

"Anda mengenal ibu saya?"

Nadia mengangguk pelan.

"Kami sahabat."

Aruna membeku.

Apa?

"Ibumu orang yang sangat baik."

Suara Nadia mulai bergetar.

"Terlalu baik."

"Apa yang terjadi pada ibu saya?"

Air mata Nadia jatuh.

Satu tetes.

Kemudian dua.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wanita itu terlihat rapuh.

"Semuanya salahku."

Ruangan langsung sunyi.

"Apa maksud Anda?"

Nadia menutup matanya.

Seolah sedang mengumpulkan keberanian.

Kemudian ia berkata,

"Hari itu... aku yang mengajak ibumu datang ke gudang."

Tubuh Aruna langsung menegang.

Gudang?

Gudang apa?

"Hari kematiannya."

Kalimat itu menghantam Aruna seperti petir.

Napasnya tercekat.

Jantungnya seakan berhenti.

"Anda ada di sana?"

Air mata Nadia semakin deras.

"Iya."

"Kalau begitu katakan siapa pembunuhnya!"

Suara Aruna meninggi.

Seluruh emosinya akhirnya meledak.

"Siapa yang membunuh ibu saya?!"

Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban.

Hanya suara napas berat yang memenuhi ruangan.

Kemudian Nadia perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapannya langsung mengarah kepada seseorang.

Bukan kepada Reza.

Bukan kepada Adrian.

Melainkan...

Dimas.

Ayah Aruna.

Tubuh Aruna membeku.

"Tidak."

Suara itu keluar begitu saja.

Lemah.

Penuh ketakutan.

"Tidak."

Nadia menangis.

"Maafkan aku."

"Tidak!"

Aruna mundur satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Dunia terasa berputar.

Ia tidak ingin mendengar kalimat berikutnya.

Tidak ingin.

Namun Nadia tetap mengatakannya.

"Dimas ada di sana malam itu."

Aruna menatap ayahnya.

Pria itu menundukkan kepala.

Tidak membantah.

Tidak menyangkal.

Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada apa pun.

"Ayah?"

Suara Aruna pecah.

"Ayah..."

Dimas menutup mata.

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

"Maafkan Ayah."

Kalimat itu menghancurkan segalanya.

---

"Ayah membunuh Ibu?"

Aruna hampir tidak mengenali suaranya sendiri.

Begitu hampa.

Begitu patah.

Dimas langsung mengangkat kepala.

"Tidak!"

Untuk pertama kalinya pria itu berteriak.

"Tidak pernah."

"Kalau begitu kenapa Ayah ada di sana?"

Karena Ayah terlambat.

Kalimat itu tidak keluar.

Sebaliknya Dimas hanya menangis.

Dan melihat ayahnya menangis justru membuat Aruna semakin hancur.

Karena pria yang selama ini selalu kuat kini terlihat seperti seseorang yang memikul beban sangat berat.

"Ayah tidak membunuh ibumu."

Suara Dimas bergetar.

"Tapi Ayah gagal menyelamatkannya."

Ruangan kembali sunyi.

Semua orang membeku.

Termasuk Aruna.

"Ketika Ayah tiba..."

Air mata terus mengalir dari wajah Dimas.

"...semuanya sudah terlambat."

Aruna merasakan lututnya melemah.

Bukan pembunuh.

Tetapi saksi.

Saksi yang memilih diam selama enam belas tahun.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

"Karena mereka mengancammu."

Suara Adrian tiba-tiba terdengar.

Semua orang menoleh.

Tatapan Adrian kini tertuju kepada Reza.

Dingin.

Sangat dingin.

"Mereka mengancam akan membunuh Aruna jika kau bicara."

Dimas menutup matanya.

Dan mengangguk.

Satu kali.

Aruna langsung membeku.

Apa?

"Selama enam belas tahun..."

Suara Dimas terdengar hancur.

"...Ayah hidup dengan rasa bersalah."

"Ayah ingin mengatakan semuanya."

"Setiap hari."

"Tapi mereka selalu mengawasimu."

Air mata Aruna kembali jatuh.

Ia tidak tahu harus percaya atau tidak.

Namun rasa sakit yang terlihat di wajah ayahnya terasa nyata.

Sangat nyata.

Tiba-tiba tepuk tangan terdengar.

Tepuk.

Tepuk.

Tepuk.

Reza tersenyum lebar.

"Indah sekali."

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Keluarga yang penuh rahasia."

Senyumnya perlahan menghilang.

Dan untuk pertama kalinya, wajah asli pria itu terlihat.

Wajah penuh kebencian.

"Kalian tahu masalahnya?"

Tidak ada yang menjawab.

Reza melangkah maju.

"Masalahnya adalah kalian masih belum tahu siapa dalang sebenarnya."

Jantung Adrian langsung berdegup.

Apa maksudnya?

Reza tertawa.

Lalu mengeluarkan sebuah remote kecil dari sakunya.

Klik.

Sebuah layar besar di belakang ruangan menyala.

Semua orang langsung menoleh.

Dan dalam sekejap...

Darah Adrian terasa membeku.

Karena wajah yang muncul di layar adalah wajah seseorang yang sangat dikenalnya.

Seseorang yang selama ini berada di lingkaran terdekatnya.

Seseorang yang dipercaya semua orang.

Seseorang yang tidak pernah dicurigai.

Dan saat melihat wajah itu, Adrian langsung berbisik pelan.

"Tidak mungkin..."

Sementara Aruna membelalak.

Karena orang yang muncul di layar adalah...

Nyonya Ratih Mahesa.

Ibu Adrian.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!