Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup ke Kediaman Deputi Gubernur
Kantong uang hasil rampasan dari preman pasar memang sudah dikembalikan ke rakyat, tapi akar masalahnya belum kelar. Malam ini, Deputi Gubernur Chang-an Selatan yang korup, Gubernur Zhang, mengadakan pesta pora mewah di kediaman resminya untuk merayakan
"keberhasilan" penyerapan pajak daerah (baca: hasil meras rakyat).
Ini adalah kesempatan emas bagi Kaivan dan Alara untuk mencuri buku kas ganda yang disembunyikan di ruang kerja rahasia Zhang.
"Rencana kita simpel," bisik Kaivan di dalam kereta kuda yang terparkir di gang gelap dekat kediaman Gubernur.
"Aku akan menyamar sebagai pengawal luar untuk memetakan rute pelarian. Kau, tunggu di sini."
"Bentar, bentar, Tuan Kai," Alara memotong cepat sembari menatap gerbang kediaman yang dijaga ketat oleh puluhan prajurit lapis baja.
"Kalau Anda masuk lewat jalur atap atau menyamar jadi pengawal, itu namanya klise. Ruang kerja pejabat korup pasti dipasang segel pengunci tingkat tinggi yang cuma bisa dibuka dari dalam kalau ada keributan atau pengalihan isu di aula utama."
Kaivan mengernyitkan alis tebalnya. "Lalu apa maumu, Rubah Kecil?"
Alara menyeringai licik, matanya melirik ke arah rombongan kereta sekte penari tradisional yang baru saja tiba di pintu belakang kediaman. "Saya masuk lewat jalur resmi: jadi pengalihan isu tercantik malam ini!"
Sepuluh menit kemudian, berkat kemampuan suap menggunakan dua keping perak dan alasan "menggantikan penari utama yang sedang mencret", Alara sukses menyusup ke dalam rombongan Penari Teratai Merah.
Dia kini mengenakan gaun sutra tipis berlapis warna merah marun dengan selendang transparan yang melilit anggun di kedua lengannya. Wajah bagian bawahnya ditutup cadar sutra tipis, menyisakan sepasang mata bulatnya yang berkilat jenaka.
Saat rombongan penari melangkah masuk ke Aula Utama yang dipenuhi para pejabat mabuk, Alara langsung memindai ruangan. Di sudut pilar dekat pintu keluar, dia menangkap sosok jangkung Kaivan yang sudah memakai seragam pengawal rumah gubernur.
Topi bajanya agak diturunkan, tapi sepasang mata elangnya menatap Alara dengan tatapan yang sanggup membakar sutra tipis yang dikenakan wanita itu.
*'Gila... kaisar kulkas kalau pakai baju satpam lokal begini kok malah kelihatan kayak model majalah aksi ya?'* batin Alara, masih sempat-sempatnya melakukan penilaian visual.
Musik petikan kecapi bertempo cepat dimulai. Alara, yang di kehidupan sebelumnya adalah mantan anggota dance cover K-Pop di kampusnya, dengan mudah beradaptasi dengan gerakan tari tradisional Dinasti Ruelle. Dia mengayunkan selendangnya, berputar dengan anggun, dan melompat ringan di antara para penari lain.
Gubernur Zhang yang bertubuh tambun dan bermata keranjang langsung menegakkan duduknya. Matanya terpaku sepenuhnya pada Alara. Aura gerakan Alara berbeda ada sentuhan kelincahan modern yang membuat tariannya terlihat sangat magnetis dan menonjol.
"Luar biasa! Penari yang di tengah itu... siapa namanya?! Kemari dan tuangkan arak untukku!" seru Gubernur Zhang dengan suara serak khas pria mabuk harta.
Alara memberikan kode kerlingan mata rahasia ke arah Kaivan Isyarat bahwa umpan telah dimakan.
Alara melangkah maju mendekati meja tinggi Gubernur Zhang dengan gerakan gemulai yang dibuat-buat. Dia mengangkat teko arak perak, menuangkannya ke cangkir emas Zhang sembari sengaja mendekatkan tubuhnya untuk membaca situasi.
"Tuan Besar, apakah tarian hamba kurang memuaskan? Mengapa Anda terlihat begitu tegang di malam yang indah ini?" bisik Alara dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu, sukses membuat bulu kuduk Kaivan di pojok ruangan meremang menahan cemburu dan jengkel yang luar biasa.
"Hahaha! Memuaskan! Sangat memuaskan!" Zhang tertawa terbahak-bahak, tangannya yang gemuk mencoba meraih pergelangan tangan Alara.
"Kemari, temani aku ke ruang belakang untuk menghitung... hadiah khusus untukmu."
'Nah, pas banget! Ruang belakang!' batin Alara bersorak kegirangan.
Alara dengan lincah menghindar secara halus, lalu memberikan senyuman misterius di balik cadarnya. "Tentu saja, Tuan Besar. Hamba akan menunggu Anda di koridor ruang kerja pribadi Anda..."
Begitu Gubernur Zhang berdiri dengan sempoyongan dan berjalan menuju ruang pribadinya di lantai dua, Alara sudah mengendap-endap duluan di koridor yang sepi.
Tepat di depan pintu jati besar ruang kerja Gubernur, sesosok bayangan hitam tinggi mendadak muncul dari balik pilar dan langsung menarik pergelangan tangan Alara ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
*SET.'
Alara mendongak, hidungnya langsung menabrak dada keras Kaivan yang terengah-engah.
"Kau... benar-benar keterlaluan, Alara," bisik Kaivan dengan suara bariton yang sangat rendah dan berbahaya. Sepasang mata elangnya berkilat marah, namun ada kecemasan mendalam di sana.
"Berani-beraninya kau tersenyum dan menggoda pria tambun itu di depan mataku?! Apakah kau lupa kalau kau adalah properti milik Kaisar?!"
Alara berkedip polos, merasakan detak jantung Kaivan yang berdegup sangat kencang di balik baju pengawalnya.
"Dih, Tuan Kai... itu namanya totalitas kerja intelijen! Kalau saya gak akting begitu, mana mungkin si tompel besar itu mau buka akses ke lantai dua?"
"Tetap saja, aku tidak suka," sahut Kaivan ketus, wajah esnya merona merah karena kesal sekaligus salah tingkah akibat jarak mereka yang terlalu intim di koridor sempit.
"Iya, iya, maaf ya, Suamiku yang cemburuan," goda Alara dengan cengiran tanpa dosa.
"Sekarang buruan buka pintunya sebelum bos besar datang!"
Kaivan mendengkus, lalu dengan satu tangan kuat menggunakan tenaga dalamnya yang tinggi, grendel besi pintu ruang kerja rahasia itu langsung patah tanpa suara. Keduanya menyelinap masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi rak buku dan peti-peti kayu.
Alara dengan insting pencari barang diskonannya langsung mengobrak-abrik meja kerja Zhang. Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, jari-jarinya yang jeli menemukan sebuah laci ganda rahasia di bawah meja.
"DAPET!" Alara mengangkat sebuah buku tebal bersampul kulit buaya hitam dengan senyum kemenangan.
"Ini dia buku kas ganda yang berisi daftar aliran dana korupsi dari seluruh pelabuhan selatan!"
*BRAKK!!!'
Tepat pada saat itu, pintu ruang kerja digebrak kasar dari luar. Gubernur Zhang berdiri di ambang pintu, namun matanya sudah tidak lagi mabuk. Di belakangnya, belasan prajurit panah siap siaga dengan busur yang sudah ditarik penuh.
"Hahaha! Kalian pikir aku sebodoh itu?!" seru Gubernur Zhang dengan seringai kejam.
"Seorang penari desa dan pengawal rendahan berani mencuri dokumen rahasia kekaisaran? Pengawal! Tembak mereka sampai mati! Jangan sisakan bukti!"
Alara langsung melotot, reflek bersembunyi di balik tubuh jangkung Kaivan. 'Waduh, plot twist-nya dapet efek kejut nih! Kita dikepung!'
Namun, Kaivan sama sekali tidak bergerak mundur. Dia melepaskan topi baja pengawalnya, membiarkan rambut peraknya yang panjang terurai bebas di bawah cahaya lampion ruangan.
Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan memancarkan aura tekanan penguasa tertinggi yang sanggup membuat seluruh ruangan terasa membeku seketika.
"Zhang," suara Kaivan menggema, sangat tenang namun bergetar penuh ancaman mutlak. "Siapa yang kau sebut pengawal rendahan di atas tanah kekaisaranku sendiri?"
Gubernur Zhang yang mengenali wajah dan warna rambut tersebut langsung membelalakkan matanya sempurna. Seluruh tubuh tambunnya mendadak gemetar hebat, golok di tangannya jatuh berdentang ke lantai.
"Y-Yang Mulia... Kaisar Kaivan...?!"
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪