Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 8
Raungan mesin V8 mobil sport kuning itu perlahan meredup saat Satria memarkirkannya di bawah rimbunnya pohon peneduh di tepi jalan raya.
Di dalam kabin yang sejuk, keheningan malam mendadak pecah oleh bunyi notifikasi ponsel Satria.
Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang beberapa jam lalu sempat mencoba mendekatinya di restoran.
Gita: “Satria... kamu udah sampai rumah? Aku kepikiran kamu terus dari tadi.
Maaf ya kalau anak-anak tadi agak keterlaluan di restoran.
Jujur, aku kangen banget sama masa-masa kita dulu. Kita bisa ketemu berdua aja gak besok? Aku mau jelasin semuanya...”
Satria menyandarkan punggungnya ke jok kulit mewah, menatap pesan itu dengan senyum geli.
Di sampingnya, Nisa sedang asyik mengunyah sisa udang galah yang dibungkusnya dari restoran, matanya tetap terpaku pada layar konsol gim portabel tua di tangannya.
"Bos, si mantan mulai melancarkan serangan fajar ya?"
celetuk Nisa tanpa menoleh.
"Bau-bau penyesalan finansialnya tercium sampai ke sini."
"Begitulah."
"Bau udang galah kalah menyengat dibanding bau ketakutan kehilangan kesempatan emas,"
sahut Satria remeh.
Sebelum Satria sempat mengetik balasan, ponselnya bergetar dengan pola frekuensi tinggi yang sangat ia kenal.
Layarnya mendadak menggelap dan memunculkan animasi mahkota emas yang berputar cepat.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Baru: 'Ujian Ketulusan Sang Mantan'.
Deskripsi: Seseorang dari masa lalu Anda mencoba kembali demi aroma uang. Manfaatkan energinya untuk merusak logika pasar ritel.
Tugas: Berikan Gita sebuah misi belanja darurat malam ini juga.
Anggaran Disediakan: Rp 300.000.000,00 (Tiga Ratus Juta Rupiah).
Aturan Khusus: Gita harus membeli barang yang paling tidak memiliki nilai estetika, tidak bisa dipakai, dan paling cepat menyusut nilainya dalam waktu 1 jam.
Uang anggaran harus ditransfer ke rekeningnya, namun dia tidak boleh menikmati satu persen pun dari hasil belanjaan tersebut.
Sisa Waktu: 00:50:00
Penalti Gagal: Pengurangan saldo secara brutal menjadi Rp 27 perak.
Satria menegakkan posisi duduknya. Matanya berbinar penuh rencana licik.
Lima puluh menit adalah waktu yang sangat sempit, tetapi dengan target yang sedang haus akan pembuktian seperti Gita, misi ini justru menjadi sangat mudah.
Satria langsung mengetik balasan untuk Gita.
Satria: “Gua gak suka omong kosong, Git. Kalau lu emang beneran kangen dan mau buktiin kalau lu masih peduli sama gua kayak dulu, gua punya satu tes kecil buat lu malam ini. Lu mau?”
Hanya butuh waktu tiga detik bagi Gita untuk membalas.
Gita: “Mau, Sat! Apapun bakal aku lakuin buat tebus kesalahan aku dulu. Kamu mau aku ke rumah kamu sekarang?”
Satria: “Gak usah. Gua baru aja transfer uang Rp 300.000.000,00 ke rekening lu. Cek sekarang.”
Di tempat lain, di dalam taksi perjalanan pulang bersama rekan-rekan alumninya, Gita mendadak menjerit kecil.
Jeritannya membuat Rendra dan Dimas menoleh kaget.
Di layar m-banking Gita, sebuah mutasi masuk dengan angka tiga ratus juta rupiah terpampang nyata.
"G-gila... Satria beneran transfer gua tiga ratus juta!"
bisik Gita dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca karena syok sekaligus girang yang tak terkira.
"Hah?! Serius lu, Git?!"
Rendra langsung merebut ponsel Gita, wajahnya seketika pucat penuh rasa iri.
Namun, kebahagiaan Gita langsung dipotong oleh pesan berikutnya dari Satria.
Satria: “Uang itu bukan buat lu foya-foya. Waktu lu tinggal tiga puluh lima menit dari sekarang.
"Datang ke pasar induk atau pusat grosir terdekat yang masih buka malam ini. Beli semua stok kerupuk mentah jengkol, petai busuk sisa sortir, dan ember plastik warna merah jambu sebanyak-banyaknya sampai uang itu habis total.
"Kirim semua barangnya ke alamat gudang kosan gua malam ini juga menggunakan mobil boks sewaan.
"Kalau dalam tiga puluh lima menit barangnya gak sampai atau uangnya sisa, kita selesai dan lu harus balikin duitnya dua kali lipat.”
Gita tertegun membaca pesan tersebut.
Kerupuk jengkol mentah? Petai busuk? Ember pink? Tiga ratus juta? Pikirannya mendadak macet.
Ini sama sekali bukan jenis foya-foya romantis yang ada di kepalanya.
"Satria gila ya? Masa gua disuruh beli ginian malam-malam pakai gaun?!"
keluh Gita panik.
"Git! Buruan lakuin! Itu tiga ratus juta! Kalau lu sukses, lu bisa jadi istri Sultan!"
hasut Rendra yang mendadak mendukung demi bisa kecipratan untung di masa depan.
"Supir taksi! Putar balik ke Pasar Induk Kramat Jati sekarang! Ngebut, Pak!"
Sementara itu, di dalam mobil sport kuning, Satria memandangi jam digitalnya dengan santai.
"Bos, kenapa harus kerupuk jengkol mentah dan petai busuk?"
tanya Nisa heran, akhirnya mengalihkan pandangan dari konsol gamenya.
"Sederhana, Nisa."
"Pertama, itu memenuhi syarat sistem: tidak memiliki nilai estetika dan tidak bisa dipakai sebagai barang mewah."
"Kedua, petai busuk dalam waktu satu jam akan makin membusuk dan tidak laku dijual lagi, artinya nilai investasinya langsung merosot ke titik nol."
"Dan ketiga... gua cuma mau lihat seorang Gita yang biasanya gengsian setengah mati, berdiri di tengah pasar induk malam-malam sambil memeluk karung petai busuk dengan gaun mahalnya,"
jawab Satria sambil terkekeh jahat.
Nisa bergidik ngeri, menatap bosnya dengan pandangan takjub.
"Bos, Anda benar-benar iblis finansial bertopeng sandal jepit."
Dua puluh lima menit berlalu dengan sangat menegangkan bagi Gita di Pasar Induk.
Dengan gaun malam premiumnya yang kini bagian bawahnya sudah terciprat lumpur air pasar dan bau menyengat khas sayuran busuk, Gita berteriak-teriak histeris di depan para pedagang grosir.
"Pak! Borong semua kerupuk jengkolnya! Ember pinknya juga! Semuanya! Masukkan ke dalam boks mobil itu sekarang! Buruan, Pak, waktu saya tinggal lima menit!"
teriak Gita dengan rambut yang sudah acak-acakan karena stres, mengabaikan tatapan heran dari para kuli panggul pasar.
Tepat pada menit ke 30, sebuah mobil boks sewaan berhenti di depan gerbang kosan milik Satria.
Pintu boks belakang dibuka, menampilkan pemandangan paling absurd di abad ini: ribuan ember plastik warna merah jambu yang di dalamnya penuh dengan tumpukan kerupuk jengkol mentah dan karung-karung berisi petai busuk yang mengeluarkan aroma mengerikan.
Gita turun dari kursi penumpang mobil boks dengan wajah pucat, maskaranya sedikit luntur karena keringat.
Dia menatap Satria yang sudah berdiri di depan gerbang bersama Nisa.
"S-Satria... semuanya udah aku beli."
"Pas tiga ratus juta, ini semua notanya,"
ucap Gita dengan suara habis, menyodorkan tumpukan kertas nota pasar yang lecek.
Satria melirik ponselnya.
Layar sistem berkedip hijau terang dengan suara dentingan emas yang merdu.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi 'Ujian Ketulusan Sang Mantan': BERHASIL.
Evaluasi: Menghabiskan tiga ratus juta untuk komoditas berbau menyengat dan menyusut instan melalui tangan mantan pacar bergaun mewah adalah bentuk distorsi pasar yang sangat tidak beradab (Sangat Mengagumkan).
Dana Berhasil Dipotong dari Anggaran Sistem.
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.464.550.270,00.
Catatan: Anda berhak memberikan 'hadiah' balasan yang setimpal untuknya.
Satria berjalan mendekati mobil boks, mengambil sebutir petai busuk dari salah satu karung, lalu menatap Gita yang menatapnya penuh harap berharap Satria akan memeluknya dan mengajaknya naik ke mobil sport kuning.
"Kerja bagus, Git."
"Lu terbukti punya bakat jadi kepala logistik pasar induk,"
ucap Satria datar.
"Tapi maaf, setelah gua pikir-pikir... aroma lu malam ini gak cocok sama parfum mobil sport gua."
"Bau petai busuknya terlalu pekat."
Gita membelalakkan matanya.
"H-hah? Tapi kan ini perintah kamu, Sat!"
"Iya, dan uangnya kan dari gua."
"Lu gak rugi materi sama sekali, kan?"
"Anggap aja ini upah pengalaman kerja malam hari,"
kata Satria santai. Dia kemudian menoleh ke arah Nisa.
"Nisa, tolong bagikan seluruh kerupuk jengkol mentah dan ember pink ini ke warga kampung sebelah besok pagi buat acara masak bersama."
"Untuk petai busuknya... buang ke tempat pembuangan akhir."
"Siap, Bos!" seru Nisa bersemangat.
Satria berbalik, masuk kembali ke dalam kabin mobil sport-nya bersama Nisa, meninggalkan Gita yang berdiri mematung di pinggir jalan raya,
dikelilingi oleh aroma petai busuk dan penyesalan terdalam karena telah meremehkan seorang pria yang kini menjelma menjadi Sultan paling tidak masuk akal di dunia.
Mobil sport kuning itu melesat membelah malam, meninggalkan kepulan asap dan suara tawa lepas Satria yang menggema di sepanjang jalan.