TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
---Toxic and Control *BAB 28: KATA HATI YANG SALAH ARAH* _
---Toxic and Control
*BAB 28: KATA HATI YANG SALAH ARAH*
_
Sengatan hangat dari detak jantung Rian Pradifta yang berdegup gila-gilaan di balik telapak tangannya seolah mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan seluruh persendian Kinara Jose. Di bawah tatapan mata elang Rian yang menggelap pekat mengunci manik matanya, Kinara mendadak lupa bagaimana caranya bernapas.
Namun, sebelum suasana intim di koridor lantai dua itu semakin menjebak akal sehat mereka, Rian tiba-tiba menurunkan tangan kanannya. Dengan gerakan yang mendadak kaku dan terburu-buru, dia menjejalkan kembali kacamata bingkai hitam itu ke dalam genggaman tangan Kinara.
Rian langsung membalikkan tubuh tegapnya secepat kilat, memunggungi Kinara tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Langkah besarnya bergerak cepat meninggalkan koridor, setengah berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Di dalam dada bidangnya, jantung Rian serasa mau melompat keluar. Seluruh wajahnya memanas hebat, dan sepasang daun telinganya kini telah memerah padam akibat rasa malu yang teramat sangat. Sialan. Seorang Rian Pradifta—sang penguasa sekolah yang biasa mendominasi dan gila kontrol—bisa seketika mati kutu dan salah tingkah hanya karena kedua telapak tangan mungil Kinara bersandar pasrah di atas dadanya.
Kinara sendiri masih terpaku di tempatnya berdiri dengan napas terengah-engah. Dia buru-buru memakai kembali kacamatanya dengan tangan gemetar, menatap bingung sekaligus heran ke arah punggung tegap Rian yang menghilang di belokan tangga. Untuk pertama kalinya, Kinara melihat sisi rapuh dan menggemaskan dari monster arogan tersebut.
Sementara itu, di balik pilar beton dekat loker olahraga, Randy masih berdiri bergeming seiring hilangnya sosok Rian dari koridor. Kepalan tangan cowok basket itu di dalam saku celana perlahan mengendur, digantikan oleh sebaris pemikiran baru yang mendadak merayap masuk ke dalam otaknya.
Randy menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kembali serpihan hatinya yang sempat hancur melihat kedekatan Rian dan Kinara barusan. Otak cerdasnya kembali memutar ulang kalimat peringatan dari Rama dan Rangga di depan pintu basecamp kemarin sore.
`“Satu-satunya alasan kenapa beasiswamu dipulihkan pagi ini adalah karena Kinara menyerahkan dirinya menjadi pelayan pribadi Rian demi kamu!”`
DEG.
Jantung Randy mendadak berdegup kencang, namun kali ini bukan karena patah hati, melainkan karena sebuah kesimpulan baru yang menyesatkan batinnya.
Kenapa Kinara harus melangkah sejauh itu? Kenapa gadis beasiswa yang selalu tertutup itu rela menggadaikan harga diri dan kebebasannya menjadi pelayan pribadi cowok tiran seperti Kak Rian murni demi menyelamatkan beasiswaku?
Sebuah binar harapan yang keliru seketika menyala terang di sepasang mata Randy. Dia salah paham. Kepolosan batinnya menyimpulkan bahwa pengorbanan masif yang dilakukan Kinara adalah bukti fisik tak terbantahkan bahwa Kinara sebenarnya memiliki perasaan khusus kepadanya. Kinara pasti menyukainya, sama seperti dirinya yang teramat memuja gadis itu.
Rasa percaya diri sebagai kapten tim basket yang sempat runtuh, kini kembali bangkit sepenuhnya. Randy menegakkan bahunya kokoh. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia tidak akan membiarkan gadis yang mengorbankan diri demi melindunginya harus menderita sendirian di dalam kurungan sangkar emas milik Rian Pradifta. Jika Kinara terpaksa menjauhinya murni untuk melindunginya, maka Randy bersumpah dia akan mencari cara yang jauh lebih taktis untuk merebut kembali gadis itu dari cengkeraman sang penguasa sekolah.
Saat jam pelajaran bergulir di kelas sebelas, atmosfer di sekitar bangku Kinara terasa begitu menekan.
Jena, siswi yang biasanya paling vokal dan gencar merundung Kinara, kini hanya bisa duduk membeku di mejanya tanpa berani menoleh sedikit pun. Nyalinya telah ciut sepenuhnya. Paranoia hebat mencengkeram benak Jena setelah menyaksikan bagaimana tragisnya nasib Kak Silla anak kelas tiga yang dikeluarkan dan keluarganya dibuat bangkrut total dalam semalam murni karena menyentuh Kinara. Jena tahu diri, dia tidak ingin menjadi korban pembersihan ego Rian berikutnya.
Namun, meski aksi perundungan fisik telah lenyap, desas-desus miring di dalam kelas masih saja berembus kencang. Di sudut belakang ruangan, beberapa siswi tampak berkerumun sembari mencuri pandang sinis ke arah Kinara yang sedang fokus menulis materi pelajaran.
"Heh, kalian lihat tidak kejadian di koridor tadi pagi?" bisik salah satu siswi dengan nada mencemooh. "Si cupu itu sengaja menempel-nempelkan tangannya ke dada Kak Rian. Centil sekali."
"Iya, menjijikkan. Kemarin dia mendekati Kak Randy sampai pasang badan di kelas, sekarang dia malah menggoda Kak Rian juga. Dasar anak beasiswa tidak tahu diri, berani-beraninya main dua kaki di antara para pangeran sekolah," timpal siswi lain dengan dengusan muak.
Kinara yang mendengar lamat-lamat obrolan beracun tersebut hanya bisa mengeraskan rahangnya kokoh. Jemarinya meremas pulpen kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, mati-matian menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Dia ingin sekali berteriak menjelaskan bahwa semua tuduhan menjijikkan itu salah total, namun kepolosan batinnya memaksa Kinara untuk tetap diam menunduk, menelan bulat-bulat fitnah tersebut demi menjaga ketenangannya yang ringkih.
Sore harinya, setelah bel pulang sekolah berbunyi nyaring, Kinara kembali berjalan lunglai menuju ruang basecamp lantai tiga untuk menjalankan tugas pelayannya.
Saat dia mendorong pintu ganda kayu ek tebal itu, ruangan tampak sepi. Hanya ada Rian yang sedang duduk bersandar di sofa tunggal dengan laptop terbuka di atas pangkuannya. Begitu Kinara melangkah masuk, Rian langsung menutup laptopnya perlahan. Sisa rona merah di telinganya pagi tadi sudah hilang sepenuhnya, berganti dengan ekspresi wajah tampan yang ditekuk datar dan tenang, seolah kejadian memalukan di koridor lantai dua tidak pernah terjadi.
"Ini berkas rincian pemindahan kamar ibumu dan jadwal kontrol pasca-operasi untuk bulan depan," ujar Rian datar, melempar sebuah map dokumen biru ke atas meja kaca.
Kinara berjalan mendekat, mengambil map tersebut dengan gerakan kaku.
"Terima kasih, Kak Rian... untuk semua fasilitas rumah sakit Ibuku, aku benar-benar berterima kasih," ucap Kinara dengan tulus, suaranya parau menatap map biru di tangannya.
Rian tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggung tegapnya ke sofa, melipat kedua tangan di dada sembari menatap lekat-lekat ke arah Kinara yang wajah polosnya tertutup kacamata. Sisi gengsi di rahang tegasnya mengeras samar, menutupi debaran aneh yang kembali menggelitik batinnya.
"Tidak perlu berterima kasih... ini tidak gratis," sahut Rian dengan suara baritonnya yang rendah dan teramat dalam. "Nanti pulang sekolah temani aku makan di luar... aku bosan makan sendiri."
Kinara langsung memutar bola matanya jengah, menatap malas ke arah cowok di depannya. Dasar tuan muda sewenang-wenang. Benar-benar tidak mau rugi sedikit pun setelah membantuku, batin Kinara menggerutu kesal di dalam hati. Dia murni meyakini bahwa perintah ini adalah bentuk hukuman tambahan yang sengaja dirancang Rian untuk memeras tenaganya sebagai pelayan pribadi. Namun, di bawah aturan kontrak tiga bulan yang mengikat erat kebebasannya, Kinara terpaksa menundukkan kepalanya pasrah murni demi menjaga kedamaian yang baru saja dia beli untuk ibunya.
Sementara itu, di balik wajah tampan yang ditekuk datar miliknya, sebuah senyuman miring yang teramat tipis dan penuh kemenangan mutlak perlahan terukir di dalam benak Rian Pradifta. Binar kepuasan yang teramat pekat bergejolak hebat di sudut hatinya.
Pelan tapi pasti, seluruh rencana dan jerat manipulasi yang dia susun sejak semalam telah berhasil sepenuhnya. Dia berhasil menutup seluruh celah dunia luar gadis itu. Mulai detik ini, tidak ada lagi ruang untuk bajingan basket atau siapa pun mengusik dunianya. Kinara Jose hanya akan berputar di dalam teritorinya, dan seluruh fokus gadis itu murni hanya akan tertuju padanya.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk