Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Jeritan frustrasi Riyan masih bergema di lorong Mansion Istana Imperial. Agus dan Ujang yang mendengar teriakan bos mereka langsung berlari kecil menuju kamar utama, masih memegang sendok semen dengan noda cat putih di lengan jas Hugo Boss mereka.
"Ada apa, Pak Dirut?! Ada sabotase proyek?! Ada tembok yang runtuh?!" tanya Agus dengan raut wajah panik sekaligus siaga.
Riyan menatap kedua teman lamanya itu dengan dada kempas-kempis. Di satu sisi, dia sangat tersentuh oleh loyalitas polos mereka. Tapi di sisi lain, gara-gara kerajinan mereka yang kelewat batas, saldo kekayaannya malah bertambah Rp150 Miliar karena valuasi rumahnya melonjak!
"Kalian..." Riyan mengelus dadanya, mencoba mengatur napas agar tidak menderita serangan jantung mendadak.
"Gua suruh kalian jadi satpam! Berdiri! Udud! Minum kopi! Kenapa malah nembok dan benerin drainase taman, hah?!"
Ujang menggaruk belakang telinganya yang kemerahan.
"Ya maaf, Yan... eh, Pak Dirut. Kami gak enak hati dapet gaji lima puluh juta sebulan tapi cuma duduk doang di pos. Pas liat semennya rada retak, tangan kami gatel pengen ngerataik. Lagian racikan semen Tiga Roda dicampur pasir vulkanik buatan kami tadi dijamin tahan gempa sampai kiamat kecil, Pak!"
Kezia yang berdiri di samping Riyan tersenyum manis, memandang para mantan kuli itu dengan penuh apresiasi.
"Kalian melakukan pekerjaan luar biasa. Saya akan perintahkan manajemen Zevan Group untuk memberikan bonus akhir bulan berupa pasokan kopi hitam dan rokok kretek kualitas terbaik untuk pos kalian."
"Siap, Ibu Dirut! Terima kasih banyak!" seru Agus dan Ujang serempak dengan mata berbinar sebelum akhirnya kembali ke pos dengan langkah bangga.
Riyan cuma bisa menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur dengan wajah lesu. 'Gua nggaji kuli lima puluh juta biar bangkrut, malah makin kaya gara-gara rumah gua tambah kokoh. Dunia ini bener-bener gak adil buat orang yang pengen miskin!
[Denting Sistem! Batas Waktu Denda Hukum Vandersen Group: Sisa 38 Jam : 12 Menit.]
[Peringatan: Saldo Aktif Anda saat ini adalah 2,22 Triliun Rupiah (ditambah valuasi aset properti 450 Miliar).]
[Segera habiskan modal komersial Anda untuk hal yang berpotensi rugi total, atau penalti gagal skenario akan diaktifkan!]
Mata Riyan langsung menyipit membaca pesan sistem tersebut. Batas waktu denda tiga triliun dari pemerintah untuk jaringan hiburan malam Vandersen semakin dekat. Jika dia tidak segera membuang modal tunainya secara ugal-ugalan sebelum denda itu jatuh tempo, dia akan terkena penalti fisik dari Sistem!
'Gua gak boleh nyerah! batin Riyan membakar semangatnya kembali. 'Kalau nggaji orang malah bikin aset naik, berarti gua harus buang duit buat barang-barang yang gak guna! Barang yang nilainya sengaja dimark-up berlipat-lipat tapi sebenernya cuma sampah!
"Kezia," panggil Riyan mendadak.
"Ya, Suamiku?"
"Hari ini ada lelang barang mewah atau barang antik gak di kota ini? Aku lagi pengen... berinvestasi di bidang seni," ujar Riyan dengan nada yang sengaja dibuat sok elit.
Kezia menyipitkan matanya, lalu tersenyum kagum. "Luar biasa. Kamu benar-benar tahu timing yang tepat. Malam ini di Hotel Grand Royal, ada acara Galeri Lelang Antik Internasional yang diadakan oleh konsorsium elit Jawa Barat. Kabarnya, Valerie Vandersen juga akan hadir di sana untuk menjual beberapa koleksi benda seni milik keluarganya demi menambah likuiditas tunai perusahaannya."
'Valerie ada di sana?! Bagus! Gua bakal beli barang-barang sampah milik perusahaannya dengan harga setinggi langit biar duit gua hangus! jerit Riyan gembira dalam hati.
Malam harinya, Ballroom Hotel Grand Royal tampak megah dipenuhi oleh para konglomerat, kolektor barang antik kelas atas, dan para pengusaha papan atas yang berpakaian gaun malam dan setelan tuxedo mahal.
Riyan datang bersama Kezia. Penampilan Riyan malam itu cukup kontras: mengenakan jas hitam mahal. Di belakang mereka, Agus dan Ujang ikut mengawal dengan setelan jas Hugo Boss mereka yang kancingnya dibiarkan terbuka, memamerkan kaos kutang putih kebanggaan mereka.
Kedatangan Riyan langsung mencuri perhatian seluruh isi ruangan.
"Lihat! Itu Riyan Sadewa! Kuli triliunan yang kemarin baru beli seluruh saham Vandersen Entertainment secara tunai!" bisik seorang pengusaha barang antik di sudut ruangan.
"Bangganya dia... tetap pakai boots kerja dan membawa pengawal berkaos kutang. Itu pasti bentuk sindiran untuk para bangsawan lama bahwa dia adalah penguasa baru!" timpal pengusaha lainnya dengan penuh kekaguman yang salah sasaran.
Di barisan depan VIP, Valerie Vandersen yang mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna hijau zamrud menoleh. Matanya menyipit saat melihat Riyan melangkah masuk.
"Riyan..." bisik Valerie, mengertakkan giginya namun ada binar penasaran di matanya. "Lu beneran dateng ke lelang ini? Mau apa lu? Mau pamer harta lagi setelah ngerebut perusahaan gua?!"
Riyan mengambil tempat duduk tepat di barisan VIP, berjarak dua kursi dari Valerie dan tepat di sebelah Kezia.
"Bukan pamer harta, Pirang," balas Riyan santai sambil menaikkan satu kakinya yang memakai boots ke atas paha. "Gua cuma denger lu lagi butuh duit, jadi gua dateng buat borong sampah-sampah tua lu."
"Sampah?!" Valerie tersentak, dadanya naik turun menahan emosi. "Barang-barang yang dilelang malam ini adalah artefak bersejarah bernilai tinggi! Bukan sampah proyekan lu!"
Pemandu lelang berdiri di atas panggung, mengetukkan palunya.
"Selamat malam, para hadirin yang terhormat! Kita buka sesi lelang pertama malam ini! Sebuah artefak berharga: Vas Bunga Keramik Dinasti Ming Abad ke-15 milik koleksi pribadi Vandersen Group! Harga awal dibuka pada angka 5 Miliar Rupiah!"
Para kolektor mulai mengangkat papan penawaran mereka secara perlahan.
"5,5 Miliar dari Meja 12!"
"6 Miliar dari Meja 08!"
Riyan menyeringai licik. Vas keramik tua rentan pecah kayak gitu dihargai lima miliar?! Ini dia kesempatan gua buat buang duit secara tidak rasional!
Tanpa ragu-ragu, Riyan langsung menyambar papan penawarannya dan mengacungkannya tinggi-tinggi.
"SERATUS MILIAR RUPIAH!" teriak Riyan dengan suara lantang khas tukang jamu keliling.
GUBRAK!
Gelas anggur di tangan seorang kolektor tua di barisan belakang mendadak jatuh dan pecah di lantai. Pemandu lelang di panggung mendadak mematung, palu kayu di tangannya hampir saja terlepas.
Seluruh ballroom mendadak diliputi keheningan yang luar biasa mencekam. Vas keramik yang harga pasarnya paling tinggi hanya Rp8 Miliar... baru saja ditawar Rp100 Miliar oleh Riyan Sadewa dalam hitungan detik!
Valerie menoleh dengan mata terbelalak lebar. "R-Riyan... lu gila?! Vas itu cuma vas biasa! Kenapa lu tawar seratus miliar?!"
Riyan tertawa penuh kemenangan di dalam hatinya. 'Nyesel kan lu?! Biar duit gua abis seratus miliar malam ini buat beli vas rentan pecah yang gak guna ini!
[Denting Sistem! Terdeteksi Penawaran Super Gila!]
[Harga Pasar: 8 Miliar. Penawaran Inang: 100 Miliar.]
[Proses Analisis Kerugian Akibat Mark-Up Ekstrem...]
Riyan menunggu denting konfirmasi kerugian dari Sistem dengan wajah penuh rasa percaya diri. Namun, sebelum pemandu lelang sempat mengetuk palu kemenangan untuk Riyan, Kezia Zevan yang duduk di sampingnya justru tersenyum sangat tipis—sebuah senyuman penuh kebanggaan atas taktik suaminya.
"Taktik yang sangat destruktif, Suamiku," bisik Kezia di telinga Riyan.
"Kamu sengaja menawarkan harga seratus miliar untuk Vas Dinasti Ming itu agar semua orang tahu bahwa seluruh artefak milik Vandersen Group berada di bawah kendalimu secara finansial, kan? Lihat reaksi Valerie... dia mulai panik."
Riyan mendadak menegang. 'Tunggu... kok perasaan gua gak enak lagi ya?