NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Di tengah sebuah lembah tersembunyi, sebuah api unggun kecil menyala dengan tenang. Tetua Mo telah memasang formasi pelindung tak kasatmata di sekeliling area tersebut agar keberadaan mereka tidak mudah dideteksi oleh musuh maupun binatang buas.

Arga akhirnya bisa duduk dengan tenang. Ling Yue berjalan mendekat lalu menyodorkan semangkuk sup hangat ke hadapannya.

"Minumlah selagi hangat," ujar Ling Yue lembut.

Arga menerima mangkuk itu dengan kedua tangannya sambil tersenyum tulus. "Terima kasih, Ling Yue."

Nara yang duduk di seberang api unggun hanya memperhatikan interaksi mereka berdua dalam diam. Sesekali, ia mengaduk sup di dalam mangkuknya sendiri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Tetua Mo yang duduk bersila di dekat mereka tiba-tiba memecah keheningan. "Arga."

"Ya, Senior?" sahut Arga sopan.

"Kau harus ikut bersama kami ke Sekte Bulan Salju," kata Tetua Mo dengan nada serius. "Di sana, dengan perlindungan sekte kami, keselamatanmu akan jauh lebih terjamin."

Sebelum Arga sempat mencerna tawaran tersebut, suara Guru Tian mendadak menggema dari dalam liontin. "Tolak tawaran itu, Arga."

Arga sedikit terkejut di dalam hatinya. "Kenapa, Senior?"

"Jika kau masuk ke sekte besar dalam keadaanmu yang sekarang, keberadaan Pedang Penjaga Langit justru akan memicu badai. Semua tetua dan murid di sana akan mengawasimu, dan kau akan hidup bagaikan burung dalam sangkar. Kau tidak akan bisa berkembang bebas," jelas Guru Tian.

Arga mengangguk pelan dalam hati, membenarkan perkataan sang guru. Ia kemudian menatap Tetua Mo dengan pandangan penuh rasa hormat namun tegas. "Maafkan aku, Senior. Aku tidak bisa ikut ke Sekte Bulan Salju."

Ling Yue spontan menoleh, tampak terkejut dengan keputusan itu. "Kenapa, Arga?"

"Aku masih memiliki tujuan lain yang harus kuselesaikan," jawab Arga tenang. "Aku harus pergi mencari Pegunungan Naga Hitam."

Begitu nama tempat itu terucap dari mulut Arga, ekspresi wajah Tetua Mo seketika berubah serius. "Siapa yang memberitahumu tentang tempat itu?"

"Ayahku."

Tetua Mo menghela napas panjang, gurat kecemasan samar terlihat di dahinya. "Pegunungan Naga Hitam bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh sembarang orang. Bahaya di sana berkali-kali lipat lebih mengerikan dari hutan ini."

"Aku tahu, Senior. Tapi apa pun risikonya, aku tetap harus pergi ke sana," balas Arga tanpa keraguan sedikit pun.

Ling Yue menggenggam mangkuk supnya erat-erat. Rasa kecewa dan sedih menyergap hatinya. Baru saja mereka dipertemukan kembali oleh takdir, kini mereka sudah harus dihadapkan pada perpisahan yang baru.

"Jika keputusanmu sudah bulat... kalau begitu, ambillah ini," kata Ling Yue sambil menyodorkan sebuah kantong penyimpanan spasial kecil berwarna putih sulam. "Di dalamnya ada batu roh, pil penyembuh, dan beberapa pakaian ganti."

Arga buru-buru melambaikan tangannya, hendak menolak. "Aku tidak bisa menerima barang seberharga ini, Ling Yue—"

"Jangan menolak," potong Ling Yue cepat, menyiratkan ketegasan di balik senyum lembutnya. "Anggap saja ini sebagai bekal perjalanan dariku untukmu."

Melihat ketulusan di mata gadis itu, Arga akhirnya menerima kantong tersebut dengan berat hati. "Terima kasih banyak."

Keheningan kembali menyelimuti lembah tersembunyi itu. Hanya suara derak kayu dari api unggun yang sesekali memecah malam. Tak ada satu pun dari mereka yang berani mengucapkan kata perpisahan lebih awal, karena mereka semua tahu—begitu matahari terbit esok hari, jalan yang mereka tempuh akan kembali berbeda.

Di dalam alam kesadarannya, Guru Tian menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang. "Pegunungan Naga Hitam... Jika dugaanku tidak salah, rahasia mengenai ayahmu, Pedang Penjaga Langit, dan bahkan asal-usul gadis bernama Ling Yue itu kemungkinan besar saling berkaitan erat."

Arga mendongak, tertegun. "Senior... apa maksud Anda yang sebenarnya?"

Guru Tian tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak sebelum berkata, "Belum saatnya kau tahu. Jika kuberitahu sekarang, hal itu hanya akan menjadi beban mental yang terlalu berat bagimu. Fokuslah menjadi lebih kuat terlebih dahulu."

Arga mengangguk paham dan memilih untuk mempercayai sepenuhnya kata-kata gurunya.

Malam itu, saat semua orang di lembah mulai terlelap dalam tidur mereka...

Jauh di puncak tebing yang tinggi dan curam, sesosok pria misterius berjubah abu-abu tampak berdiri tegak di kegelapan. Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus pada cahaya samar dari api unggun di dasar lembah.

Di tangan kanannya, terdapat sebuah gulungan perkamen yang menampilkan lukisan wajah Arga dengan sangat detail.

"Jadi... akhirnya aku menemukanmu, sang pewaris Pedang Penjaga Langit," bisik pria itu pelan.

Namun, berbeda dengan tatapan penuh keserakahan dan niat membunuh milik para Penatua Sekte Bayangan Darah, sorot mata pria berjubah abu-abu ini justru dipenuhi oleh rasa penasaran yang mendalam.

Dan di balik misteri itu, terselip secercah... harapan baru.

Hari perpisahan itu akhirnya kembali tiba.

"Kau benar-benar tidak ingin ikut bersama kami?" tanya Ling Yue untuk terakhir kalinya, menatap Arga dengan binar penuh harap.

Arga tersenyum lembut, lalu menggeleng pelan. "Jika aku ikut, aku hanya akan menyeret masalah besar ke sektemu, Ling Yue."

Ling Yue sempat ingin membantah, namun ia terdiam karena tahu perkataan Arga sepenuhnya benar. Pedang Penjaga Langit terlalu berharga; cepat atau lambat, keberadaannya pasti akan mengundang keserakahan sekte-sekte besar di luar sana.

Gadis itu kemudian merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah gelang sederhana yang terbuat dari anyaman benang biru tua. "Aku membuatnya tadi malam."

Arga menerima gelang tersebut dengan sangat hati-hati. "Gelang?"

"Di dalamnya ada sedikit segel jiwaku. Jika gelang ini sampai rusak atau terputus, itu berarti kau sedang berada dalam bahaya besar," jelas Ling Yue dengan nada serius.

Arga terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Kalau begitu, aku berjanji akan menjaganya dengan sangat baik."

Mendengar itu, senyum manis akhirnya terukir di wajah Ling Yue. "Janji?"

"Janji."

Tetua Mo yang berdiri tidak jauh dari mereka berdeham pelan, memotong momen tersebut. "Nona Muda, hari sudah semakin terang. Kita harus segera berangkat."

Ling Yue mengangguk pelan. Sebelum benar-benar membalikkan tubuhnya, ia menatap Arga cukup lama, seolah ingin merekam wajah pemuda itu di benaknya. "Sampai bertemu lagi, Arga."

"Sampai bertemu lagi."

Seekor bangau roh berukuran raksasa kembali turun dari balik kabut langit. Ling Yue dan Tetua Mo segera melompat ke punggungnya. Dalam beberapa kepakan sayap yang kuat, makhluk mistis itu melesat tinggi dan menghilang di balik hamparan awan.

Arga masih berdiri mematung, menatap langit kosong tempat bangau itu menghilang. Baru setelah bayangan mereka benar-benar lenyap dari pandangan, ia mengembuskan napas panjang.

"Sudah selesai acara tatap-tatapannya?" sindir Guru Tian dari dalam liontin.

Arga seketika tersipu malu. "Senior..."

Guru Tian terkekeh geli. "Bagus. Kalau begitu, saatnya kembali ke realitas. Latihan kita dimulai lagi!"

Seketika itu juga, senyum di wajah Arga langsung lenyap berganti kedutan di dahinya. "Hah? Sekarang?"

Guru Tian menuntun Arga menuju sebuah lembah sempit yang terisolasi. Di tengah lembah tersebut, berdiri tegak seratus tiang batu runcing dengan tinggi yang berbeda-beda dan jarak yang tidak beraturan.

"Mulai hari ini, fokus kita adalah latihan keseimbangan mutlak," ujar Guru Tian memberi instruksi.

Arga menghela napas lega. "Kalau cuma berdiri di atas tiang batu seperti ini, sepertinya tidak akan terlalu—"

Belum sempat Arga menyelesaikan kalimatnya, Guru Tian menjentikkan jarinya di alam kesadaran.

Wusss!

Angin badai yang sangat kencang mendadak berembus dari segala arah lembah. Parahnya lagi, tiang-tiang batu yang tertanam di tanah itu mulai bergerak dan bergoyang secara acak dengan ritme yang kacau.

"Apa-apaan ini?!" seru Arga panik.

"Naik!" titah Guru Tian tanpa ampun.

Arga terpaksa melompat ke tiang pertama. Namun, belum sampai lima detik ia memijakkan kaki...

Bruk!

Ia langsung terlempar jatuh ke tanah.

"Lagi!"

Bruk!

"Lagi!"

Bruk!

Sepanjang hari penuh, lembah itu hanya dipenuhi oleh suara debuman tubuh Arga yang terus-menerus jatuh bangun. Kulitnya memar dan ototnya menjerit kesakitan. Namun, saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, Arga akhirnya berhasil bertahan di atas tiang yang bergoyang selama satu menit penuh.

Guru Tian tampak mengangguk puas dari dalam liontin. "Bagus, ada kemajuan."

"Lalu... apa menu latihan untuk besok, Senior?" tanya Arga terengah-engah.

Guru Tian mengulas senyum lebar yang terlihat mengerikan. "Besok, kau harus melakukannya sambil memejamkan kedua matamu."

Arga menatap ruang hampa di depannya tanpa berkedip. "Senior... apakah dulu murid-murid Anda juga dilatih dengan cara ekstrem seperti ini?"

Guru Tian menghela napas pendek, tatapannya menerawang jauh. "Mereka? Latihannya jauh lebih berat dari ini."

Mendengar hal itu, Arga tiba-tiba merasakan simpati yang mendalam kepada murid-murid Guru Tian di masa lalu.

Tep! Tep! Tep!

Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang ritmis terdengar dari balik rimbunnya pepohonan di tepi lembah.

"Sungguh metode latihan yang luar biasa... Tidak heran kau bisa melukai Penatua Sekte Bayangan Darah dengan kultivasimu yang sekarang."

Arga tersentak waspada. Secara refleks, ia langsung menarik Pedang Penjaga Langit dari sarungnya dan memasang kuda-kuda bertarung.

Sosok pria berjubah abu-abu—pria misterius yang semalam mengawasi mereka dari puncak tebing—akhirnya melangkah keluar dari kegelapan hutan. Pria itu tampak berusia sekitar tiga puluh tahun dengan gurat wajah yang tenang. Anehnya, Arga sama sekali tidak merasakan adanya hawa membunuh dari tubuhnya.

Pria berjubah abu-abu itu berhenti di jarak yang aman, lalu membungkuk dengan sangat sopan. "Namaku Ren. Aku datang ke sini bukan untuk bertarung..."

Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke arah Arga. "Aku mengundangmu secara resmi mengikuti Ujian Tujuh Sekte."

Melihat lambang berbentuk menara kuno yang tersemat di lengan jubah pria tersebut, mata Guru Tian di dalam liontin langsung menyipit tajam.

"Lambang itu..." bisik Guru Tian dengan nada penuh arti. "Arga, sepertinya kesempatanmu untuk menapakkan kaki ke dunia kultivasi yang sesungguhnya akhirnya telah tiba."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!