~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
****
Kehangatan fajar yang menyelimuti ranjang jati setelah malam penyatuan yang intim perlahan memudar, digantikan oleh kesibukan khas administrasi rumah joglo yang kian menumpuk. Meski musim panen raya telah berlalu beberapa bulan, perhitungan akhir mengenai pajak tanah dan bagi hasil lumbung dengan kota kabupaten memerlukan ketelitian ekstra. Karena alasan itulah, sebuah surat utusan dari kadipaten tiba, membawa seorang penasihat administrasi muda bernama Raden Mas Danang.
Danang adalah pemuda terpelajar berumur pertengahan dua puluh tahun, dengan perawakan ramping, tutur kata yang halus khas ningrat kota, dan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya yang rupawan. Kedatangannya disambut baik di rumah joglo untuk merapikan lembar-lembar pembukuan yang sempat terbengkalai selama Baskoro memfokuskan seluruh energinya menjaga kehamilan Larasati.
Siang itu, udara di selasar dalam terasa cukup sejuk. Sebuah meja panjang dari kayu jati utuh telah dipenuhi oleh tumpukan kertas segel dan alat tulis kuningan. Raden Mas Baskoro duduk di ujung meja dengan wibawa kaku yang seperti biasa, mengenakan beskap lurik gelap. Di sisi lain, Danang sedang dengan tekun memeriksa angka-angka sembari sesekali menjelaskan alur pembukuan yang baru dari kabupaten.
Larasati melangkah anggun dari arah dapur dalam, ditemani oleh Mbok Sum yang membawa nampan kuningan. Tubuh Larasati yang kian berisi di usia kandungan empat bulan dibalut oleh kebaya longgar sewarna kain mori halus, menonjolkan perutnya yang membulat kecil dengan sangat indah. Sebagai seorang Nyai yang kini memegang kendali atas urusan domestik joglo, Larasati merasa wajib menunjukkan tata krama yang baik kepada tamu suaminya.
Ia mendekati meja, meraih teko kuningan berisi wedang jahe wangi sereh yang mengepulkan uap tipis.
"Nyuwun sewu, Raden Mas Danang... silakan diminum wedang jahenya untuk menghalau dingin," ucap Larasati lembut. Tata bahasanya kini kian halus, mencerminkan bimbingan intensif dari Mbok Sum selama beberapa bulan terakhir. Sembari menuangkan cairan hangat itu ke dalam cangkir lurik milik Danang, Larasati melempar seulas senyuman ramah yang tulus—sebuah senyuman alami seorang tuan rumah yang menghormati tamunya.
Danang mendongak, terpaku sesaat oleh kecantikan Nyai muda di depannya yang memancarkan aura keibuan yang sangat memikat. Pemuda itu buru-buru menundukkan kepala dengan takzim, namun matanya tak dapat menyembunyikan rasa kagum. "Matur nuwun teramat sangat, Gusti Nyai. Sungguh sebuah kehormatan besar bagi hamba disajikan wedang langsung oleh permaisuri Joglo."
Larasati tegak kembali, menaruh teko dengan perlahan. "Sama-sama, Raden Mas. Semoga pengerjaan pembukuannya lancar dan mboten melelahkan Anda."
Tanpa disadari oleh Larasati maupun Danang, atmosfer di selasar dalam mendadak bergeser secara drastis. Brakk. Suara ketukan pelan namun bertenaga dari cangkir kuningan Baskoro yang diletakkan kembali ke meja memecah keheningan magis tersebut.
Baskoro yang sedari tadi memperhatikan interaksi itu dari ujung meja merasakan kabut cemburu yang luar biasa pekat seketika menyergap dadanya. Urat-urat di rahang tegas pria paruh baya itu menegang keras. Ego kelaki-lakiannya yang posesif terusik hebat melihat bagaimana mata pemuda kota itu menatap istrinya, dan bagaimana bibir manis Larasati memberikan senyuman ramah yang biasanya hanya ia nikmati di dalam kamar utama. Trauma masa lalu dan rasa takut kehilangan apa yang sudah sah menjadi miliknya mendadak bangkit seperti singa yang terbangun dari tidur.
Manik mata Baskoro menggelap, menatap lurus ke arah Danang dengan sorot mata sedingin es yang sanggup membekukan darah siapa pun.
"Danang," panggil Baskoro. Suaranya sangat rendah, bariton yang sarat akan wibawa mutlak yang mengintimidasi, bergema di sela-sela tiang soko guru selasar.
Danang seketika menegang. Senyum di wajah rupawannya lenyap, digantikan oleh pucat pasrah saat merasakan tekanan aura raksasa dari juragan paruh baya di depannya. "I-Inggih, Raden Mas Baskoro? Wonten titah?"
"Pembukuan bulak barat dan selatan... apakah masih banyak yang harus diselesaikan?" tanya Baskoro datar, tanpa mengalihkan pandangan mematikannya barang sedetik pun.
"H-Hampir selesai, Raden Mas. Hanya tinggal mencocokkan beberapa angka dari lumbung distrik," jawab Danang dengan suara yang mulai gemetar samar.
"Bagus. Selesaikan sebelum petang ini tiba," perintah Baskoro tegas, nadanya tidak menerima bantahan. "Kereta kuda dari kabupaten akan menjemputmu tepat saat surya tenggelam. Urusan sisanya bisa kulanjutkan sendiri bersama Sentot. Rumah joglo ini tidak terbiasa menerima tamu asing hingga larut malam."
Mendengar pengusiran halus namun sarat akan ancaman itu, Danang buru-buru merapikan kertas-kertasnya dengan tangan yang bergetar. "S-Sendika dawuh, Raden Mas. Hamba akan mempercepat pengerjaannya agar mboten mengganggu ketenangan joglo."
Larasati tertegun melihat perubahan sikap suaminya yang mendadak menjadi sangat dingin dan kaku. Ia melirik Mbok Sum yang langsung memberikan isyarat mata agar Larasati segera mundur kembali ke dalam kamar. Dengan langkah perlahan, Larasati menjura takzim lalu berjalan meninggalkan selasar, merasakan sepasang mata tajam Baskoro terus menusuk punggungnya hingga ia menghilang di balik pintu jati.
Petang pun jatuh dengan cepat di perbukitan Joglo. Sesuai perintah mutlak Baskoro, Raden Mas Danang telah pamit terburu-buru sebelum malam benar-benar menjemput. Keheningan yang menekan kini mengurung seluruh rumah jati.
Di dalam kamar utama, lampu teplok minyak telah dinyalakan, melemparkan bayangan temaram yang bergoyang gelisah di dinding jati. Larasati duduk di tepi ranjang, meremas ujung selendang sutranya dengan hati yang berdebar cemas. Tidak lama kemudian, suara derit pintu kayu terdengar berat. Baskoro melangkah masuk, lalu langsung memutar kunci besi dari dalam dengan sentakan yang keras. Cklek.
Baskoro menanggalkan beskap luriknya dengan gerakan kasar, menyisakan selembar kain jarik yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidangnya yang kekar dan otot-otot bahu yang menegang tegap oleh amarah terpendam. Pria empat puluh tahun itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah lebar yang mengintimidasi, mengikis jarak di antara mereka hingga siluet tinggi besarnya seolah menelan tubuh mungil Larasati.
"Mas Baskoro..." panggil Larasati lirih, mencoba memecah ketegangan. "Ada apa dengan Anda? Kenapa sikap Anda kepada Raden Mas Danang tadi begitu—"
"Siapa penguasa tunggal atas dirimu di rumah ini, Larasati?" potong Baskoro dengan suara bariton yang teramat rendah, serak oleh kabut cemburu yang membakar egonya. Ia mencengkeram kedua bahu Larasati dengan genggaman yang kuat namun tetap berhati-hati agar mboten menyakiti istrinya, memaksa Larasati untuk menatap langsung ke dalam sepasang manik matanya yang berkilat jalang.
Larasati menahan napasnya, dadanya kembang-kempis menatap kegarangan suaminya. "Tentu saja Anda, Mas. Anda adalah suami kulo, juragan mutlak dari seluruh hidup kulo."
"Lalu kenapa kamu memberikan senyuman semanis itu kepada pemuda kota tadi, Nduk?!" tuntut Baskoro posesif, napas panasnya berburu menerpa wajah Larasati. "Apakah senyuman permaisuri Joglo kini bisa dibagikan dengan mudah kepada setiap lelaki tampan yang datang dari kabupaten?! Apakah kelembutan yang kurawat selama berbulan-bulan ini juga ingin kamu tunjukkan pada orang lain?!"
Mendengar tuduhan cemburu buta itu, Larasati menyadari betapa besarnya rasa memiliki suaminya yang telah berbatasan dengan obsesi. Namun, ia mboten lagi menangis ketakutan seperti dulu. Ia mendongak berani, menatap kabut amarah Baskoro dengan ketegaran seorang Nyai yang sah. "Mas Baskoro! Demi jabang bayi yang ada di dalam perut kulo, senyuman tadi hanya sebatas tata krama menghormati tamu Anda! Kulo mboten memiliki niat sedikit pun seperti yang Anda tuduhkan! Seluruh raga dan cinta kulo sudah terkunci di kamar ini, hanya untuk Mas Baskoro!"
"Aku tidak peduli dengan tata krama itu, Laras!" geram Baskoro rendah. Keinginan primitif untuk menandai kembali apa yang menjadi hak mutlaknya meledak tak terbendung. Ia mendorong tubuh mungil Larasati perlahan namun mendominasi hingga gadis itu telentang di atas kasur kapuk, di bawah naungan kelambu sutra yang tipis.
Baskoro memposisikan tubuh kekarnya di atas Larasati, menumpu berat badannya dengan kedua sikutnya di sisi kepala istrinya agar perut membulat kecil Larasati tetap aman. Sikapnya teramat posesif dan dominan, menahan pergerakan Larasati sepenuhnya dalam kungkungan hangat.
"Malam ini, aku akan menegaskan kembali padamu, Laras... milik siapa senyuman itu, milik siapa bibir manis itu, dan milik siapa seluruh raga yang kian montok ini," bisik Baskoro parau tepat di depan bibir Larasati, sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam cumbuan yang intens, berat, dan menuntut kepatuhan total dari permaisuri mudanya sepanjang malam di atas ranjang jati kuno.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat