NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

"Sayang bukain pintunya!" Laila berkali-kali menggedor pintu penginapan Devan.

Tasya duduk lesehan di lantai koridor sembari memainkan ponselnya sedari tadi. Keira setia berdiri di samping Laila, menatap sahabatnya yang tengah frustasi.

Dug... dug... dug...

Gedoran Laila semakin lama semakin melemah, sudah hampir tiga puluh menit ia membujuk Devan untuk keluar kamar. Namun, Devan tetap keras kepala tidak membukakan pintu kamar dan mendengarkan dulu penjelasan Laila.

"Sayang... aku bisa jelasin semuanya, kamu... kamu keluar dulu." Suara Laila mulai serak dan beberapa kali hilang.

Keira menyenggol Tasya pelan, ia memberikan isyarat dengan matanya agar Tasya mencoba mengajak Laila berhenti dan kembali ke kamar terlebih dahulu. Tasya yang mengerti berdiri dari duduknya dan mendekat pada Laila.

"La, udah yok, istirahat dulu. Percuma lo kayak gini kalo Devannya belum mau dengerin lo." Tasya merangkul Laila.

"Kasih Devan waktu buat mencerna semua yang dia tahu hari ini, gak semua masalah harus di selesaiin hari ini juga," lanjut Tasya.

Laila menyeka air matanya. "Tapi gue gak tenang Sya, gue gak mau Devan salah paham lebih jauh lagi sama gue," ucap Laila tersedu-sedu.

"Devan gak bakal gitu kok, dia itu sayang banget sama lo. Dia cuma lagi shock aja, kasih dia waktu ya." Tasya meyakinkan Laila lagi.

"Iya, Tasya bener tuh La. mending kita ke kamar dulu istirahat. Nanti kalo kalian udah sama-sama dingin kepalanya, ngasih penjelasan sama Devan bakalan lebih mudah kok dan Devan pasti bakal ngertiin lo," ujar Keira menambahkan.

Laila berpikir sejenak, ditatapnya kedua sahabatnya itu. Lalu mengangguk menyetujui perkataan keduanya.

Sesampainya di kamar, Laila langsung merebahkan dirinya ke kasur. Tenaganya terkuras habis karena menangis lama tadi. Tasya dan Keira hanya membiarkan Laila, karena biasanya mereka sangat melarang keras Laila langsung ke kasur tanpa bebersih terlebih dahulu. Setelah membersihkan diri, Tasya dan Keira pun beristirahat juga.

...****************...

Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, ponsel Laila di atas nakas bergetar hebat, memecah keheningan malam yang tenang. Begitu melihat nomor tak dikenal berkedip di layar, ada sekelebat rasa tidak enak yang mendadak menyergap dada Laila.

"Siapa yang nelpon pagi-pagi buta gini," gumamnya.

"Halo, bisakah saya berbicara dengan Mbak Laila?" ucap seseorang di seberang sana.

"Iya, ini dengan saya sendiri. Ini siapa ya?" tanya Laila.

"Ini dengan pihak rumah sakit Setia Budi, ingin mengabarkan kepada Mbak Laila yang merupakan anak Bapak Dirga, bahwa Pak Dirga masuk rumah sakit Mbak."

Deg...

Saat mendengar kabar bahwa Papinya masuk rumah sakit, Laila seperti merasa seluruh oksigen di dalam ruangan mendadak lenyap. Dunia sekitar seolah melambat. Tangan yang memegang ponsel mulai terasa dingin dan gemetar. Rasa panik mulai menjalar, memicu kepulan skenario buruk di dalam kepala. Namun, kesadaran segera memaksa kaki untuk bergerak. Laila berlari menuju barang-barangnya, ia memasukkan sembarang barang bawaanya ke koper.

Tasya dan Keira kompak terbangun saat menyadari kepanikan Laila. Mereka segera menghampiri Laila.

"La, lo kenapa?" tanya Keira.

Laila tidak menggubris Keira dan terus menyumpal barangnya yang meluap di koper, ia paksa kopernya untuk tertutup.

"Ohhh iya, tiket pesawat," ucap Laila panik.

"Tiket pesawat, La maksud lo apasih?" Lagi dan lagi Laila mengabaikan sahabatnya, Tasya.

Tangan Laila bergetar hebat saat mencari aplikasi tiket.

"Laila lo kenapa!" teriak Tasya.

Laila terkejut mendengar suara bentakan Tasya dan membuat ponselnya terjatuh. Lekas ia menunduk dan mencoba memungut ponselnya.

"Mana? Mana?" Laila meraba-raba lantai mencari ponselnya.

Air mata memenuhi pelupuk mata Laila, yang sedari tadi mencoba menahannya.

"Mana anj*ng HP gue!" teriak Laila.

Keira segera menghidupkan lampu kamar. Sementara Tasya segera memeluk Laila yang panik.

"La coba tenang dulu, ini kenapa?" Tasya memeluk erat Laila dan mengelus-elus punggung Laila.

Tangis Laila yang sedari ditahannya pecah juga, ia meluapkan tangisnya sejadi-jadinya.

"Papi... Sya, Papi masuk rumah sakit," lirih Laila dengan isak tangis yang semakin menjadi.

Keira yang paham langsung merapikan koper Laila yang bahkan belum tertutup sempurna karena barang-barang dimasukkan sembarangan oleh Laila.

"Oke, sekarang kita packing. Dan sini biar gue aja yang pesen tiket balik," ucap Laila dengan tenang. Walau sebenarnya ia pun terkejut dengan kabar ini. Laila mengangguk pelan.

Mereka memutuskan mengambil jadwal penerbangan pertama di pagi itu.

...****************...

Ruangan bernomor 402 itu terasa begitu dingin, didominasi oleh aroma khas antiseptik yang menusuk hidung dan desis halus pendingin ruangan. Namun, bagi Laila, seluruh dunianya kini menyusut hanya pada sebuah ranjang besi di tengah ruangan.

Di sana, di balik selimut putih yang kaku, terbujur sosok pria yang paling dihormatinya dalam hidup. Ayahnya.

Pria yang biasanya berdiri tegap, yang suaranya selalu menggema memenuhi rumah dengan tawa atau nasihat-nasihat tegas, kini terbaring sangat rapuh. Matanya terpejam rapat. Tidak ada tanda-tanda kesadaran, tidak ada sahutan saat namanya dipanggil. Satu-satunya bukti bahwa kehidupan masih bertahan di dalam tubuh ringkih itu adalah naik-turun dada yang lemah, berkejaran dengan irama monoton dari monitor jantung di sebelah ranjang.

Pip... pip... pip...

Bunyi itu terdengar konstan, dingin, dan tak acuh. Laila menatap layar monitor tersebut, memerhatikan grafik garis hijau yang naik turun. Ia benci menyadari betapa kini kehidupan Ayahnya sangat bergantung pada kabel-kabel yang menempel di dada, selang oksigen yang melingkari hidung, dan cairan infus yang menetes perlahan ke dalam urat nadinya.

Laila melangkah mendekat, nyaris tanpa suara. Ia menarik sebuah kursi besi di samping ranjang, lalu duduk di sana. Matanya menatap lekat-lekat wajah sang Ayah. Dalam jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa waktu telah merenggut banyak hal tanpa ia sadari. Rambut Ayahnya yang dulu hitam legam kini telah memutih sepenuhnya. Kerutan-kerutan di sudut mata dan dahi tampak lebih dalam, menceritakan beban hidup yang selama ini dipikulnya sendirian tanpa pernah mengeluh.

Laila mengulurkan tangan, meraih telapak tangan kanan Ayahnya yang bebas dari jarum infus. Tangan itu terasa dingin. Kulitnya terasa kasar dan longgar, sangat kontras dengan ingatan Laila masa kecil. Dulu, tangan inilah yang menggandengnya erat saat pertama kali masuk sekolah, tangan yang begitu kokoh melindunginya dari kerasnya dunia. Kini, tangan itu terkulai lemas di atas kasur, kehilangan semua kekuatannya.

Ia membawa telapak tangan Ayahnya ke pipinya, mencoba membagikan kehangatan yang tersisa.

"Pii..." bisik Laila. Suaranya tercekat di tenggorokan, pecah menjadi getaran lirih. "Laila di sini."

Tidak ada respons. Kelopak mata Ayahnya bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, membasahi punggung tangan Ayahnya. Di dalam keheningan itu, penyesalan mulai datang mengetuk pintu benaknya. Laila teringat betapa seringnya ia menolak ajakan makan malam bersama karena alasan sibuk kuliah. Ia teringat betapa jarang ia mengangkat telepon dari Ayahnya, hanya untuk membalasnya dengan pesan singkat, "Nanti Laila telepon balik ya, Pii." Yang sering kali berujung lupa.

Pembicaraan terakhir di telepon beberapa hari lalu mulai berputar kembali di kepala Laila, terlebih lagi ucapanya yang sekarang terasa berlebihan baginya. "Papi egois", Laila tersedu-sedu mengingat kata-kata itu justru kata terakhir yang Ayahnya dengar dari mulutnya.

Kini, saat ia memiliki semua waktu di dunia untuk berbicara, Ayahnya justru tenggelam dalam ketidaksadaran yang sunyi. Laila bersedia menukar apa saja saat ini, hanya untuk melihat mata itu terbuka kembali, menceritakan lelucon tua yang garing, atau sekadar memanggil namanya sekali lagi.

Malam semakin larut, dan ruangan itu kian sepi. Laila tidak melepaskan genggaman tangannya. Di bawah temaram lampu bangsal, ia terus menatap wajah Ayahnya dengan dada yang sesak oleh cemas dan harapan. Ia berjanji dalam hati, ia tidak akan beranjak. Ia akan tetap di sini, menjaga setiap hembusan napas Ayahnya, menunggu mukjizat sampai pria hebat itu terbangun dan pulang bersamanya.

Namun, tak lama seorang perawat menghampiri Laila dan meminta dengan sopan untuk Laila segera keluar. Karena jam masuk ruang ICU itu terbatas, Laila dengan terpaksa keluar dari ruangan itu meninggalkan Ayahnya.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!