Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Siapa yang mau nikah?"
Tiba-tiba saja ada suara lelaki yang menyela obrolan kami. Aku mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Setelah tahu, aku hanya bisa memutar bola mataku malas melihat siapa sosok lelaki yang menyela obrolan kami.
"Rani dong, kan nggak mungkin aku yang nikah. Bisa digorok aku sama suami ku yang tercinta dan yang selalu setia." Jawab Nita.
"Ran, please." pintar Mas Yunus.
Ya, lelaki itu adalah Mas Yunus. Dia ke ruanganku sebenarnya akan mengambil faktur kiriman.
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Kamu serius? Mau nikah sama cowok itu?" tanya Mas Yunus.
"Emang kenapa? Ada yang salah? Kami sama-sama single dan belum terikat hubungan apapun dengan siapapun?"
"Itu menurut kamu kan!"
"Please Mas. Ini masih pagi, jadi tolong jangan buat mood aku jadi berantakan. Dia bukan kamu," jawabku.
"Kamu baru kenal dia lho!"
"Dan aku sudah lama kenal sama kamu, gitu maksudnya?" tanyaku. "Mas, please ya. Kamu sudah ada Mbak Bia. Dan tinggal selangkah lagi lho kamu sama dia nikah. Dan satu lagi, aku cuma anggap kamu layaknya sahabat, layaknya seorang kakak. Jadi aku minta tolong, Terima semua keputusan aku. Kita bisa tetap berteman seperti sebelumnya."
Mas Yunus tidak menjawab. Dia hanya diam, mengambil faktur yang ada di atas meja lalu pergi.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar. "Ya Allah, kenapa jadi kayak gitu sih tuh orang. Nggak asik banget." ucapku.
"Sabar aja dulu. Mungkin saat ini dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau perjuangan dia selama ini buat dapetin kamu sia-sia mbaK Bon."
"Kalau saja dia tahu, perjuangan nya nggak sia-sia. Semua kan karena salah dia sendiri." jawabku.
"Terus, sekarang udah move one sama Pak Rengga berarti?" tanya Nita penasaran.
"Menurut anda?" jawabku sambil tersenyum tipis.
"Pelan-pelan aja. Nggak susah kayaknya sayang sama orang sebaik Pak Rengga."
"Semoga aja ya." jawabku singkat.
Lalu kami sama-sama mulai sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Hingga waktu terus berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00.
[Assalamu'alaikum, Bang. Jadi jemput?]
Aku mengirim pesan pada Bang Rengga.
[Waalaikumsalam, jadi dong. Bentar lagi Abang ke sana. Masih di outlet. Habis ini langsung jemput.]
[Jemputnya jangan di depan kantor ya. Males kalau terjadi huru-hara. Tunggu di masjid dekat kantor aja sekalian sholat Ashar.]
[Siap, sayangku. ]
Aku tidak lagi membalas pesan dari Bang Rengga. Ku lanjutkan menyiapkan tagihan suplier buat besok. Sambil mengecek BG yang sudah di buat dan ditandatangani sudah lengkap atau belum.
Hingga akhirnya tak terasa sudah waktunya jam pulang. Segera saja aku bereskan semua berkas yang berserakan di atas meja. Setelah semua rapi dan aman tersimpan pada tempatnya, aku segera pulang. Begitu juga dengan Nita.
"Nggak di jemput?" tanya Nita.
"Di jemput, dia nunggu di masjid. Sekalian sholat ashar dulu. Mau cari baju buat hari Minggu besok katanya." jawabku sambil terus berjalan keluar dari area kantor.
"Ya sudah kalau gitu, yuk naik. Barengan aja daripada jalan sampai masjid sana." ajak Nita.
"Oke deh, lagi males jalan juga sebenarnya." jawabku sambil naik ke boncengan motor Mbak Nita.
Tidak sampai dua menit kami sudah sampai di depan masjid yang dekat dengan kantor.
"Makasih ya, Mbak Bon." ucapku setelah turun dari motor.
"Iya, sama-sama. Aku langsung ya. Mau beli makan dulu buat anak-anak di rumah."
"Iya, hati-hati ya. Jangan ngebut!"
"Iya." jawabnya.
Setelah Nita berlalu, aku segera menyeberang jalan yang lumayan ramai di jam pulang seperti ini. Rupanya, Bang Rengga sudah selesai sholat. Dia sedang duduk bersandar di teras masjid sambil memainkan benda pipih di tangannya.
"Assalamu'alaikum," ucapku sambil duduk di samping Bang Rengga.
"Waalaikumsalam, capek?" tanyanya saat melihat wajahku yang mungkin terlihat kusut.
"Lumayan, biasa hari Senin. Semua minta jalur cepat. Nitip tas ya, Bang. Aku sholat dulu."
Lelaki itu hanya mengangguk dan mengambil tas milikku. Dia pindahkan dan dia letakkan di atas tas rangsel miliknya.
"Iya, sana. Sholat dulu, habis itu cari makan ya, Abang laper banget ini."
"Iya, makan mulu perasaan kalau keluar sama Abang." ucapku sambil berdiri hendak masuk ke tempat wudhu khusus untuk perempuan.
Beberapa saat kemudian aku kembali ke tempat Bang Rengga duduk tadi.
"Mau makan dimana?" tanyaku.
"Makan di seberang situ aja ya, biar cepet. Barusan Abang sudah pesen."
Aku hanya menganggukkan kepala. Setelah itu kami berdua berjalan beriringan, dia menggenggam erat jemari tanganku saat menyeberang jalan.
Setelah menunggu beberapa saat, makanan pesanan Bang Rengga pun di antar. Kami segera menikmati karena memang cacing dalam perut sudah berdemo.
Setelah selesai makan, kami langsung keluar karena makanan sudah dibayar Bang Rengga saat pesan tadi.
"Mau cari baju dimana, Bang?" tanyaku saat kami sudah berdiri di dekat motor Bang Rengga.
"Ke Yogiyo aja ya, motif batiknya bagus-bagus di sana menurut Abang. Gimana?" tanya Bang Rengga sambil memasang helm di kepalaku. Baru setelah itu dia memakai helmnya sendiri.
"Ngikut aja deh, kan Abang Bos nya." jawabku sambil terkekeh.
"Kok gitu? Ntar kalau nggak ada yang kamu suka langsung ngomong aja ya. Nggak usah pura-pura suka. Kayak kamu sekarang yang pura-pura sayang sama Abang."
Jleeeeb...
"Maksudnya gimana sih?" tanyaku sedikit bingung dengan maksud ucapannya. Ya, meski ku akui aku belum cinta sama lelaki baik di depanku ini.
"Tanya sama hatimu, Dek! Tapi Abang nggak keberatan buat terus berjuang dapetin cinta dan sayang kamu." ucap Bang Rengga sambil membantuku naik ke motor kesayangannya.
Aku menghirup nafas panjang dan dalam, sekedar mengurangi rasa sesak dalam dada. "Makasih ya, Bang." ucapku sambil pegangan di pinggang Bang Rengga.
"You are welcome princess. Apapun buat kamu."
"Gombal iihh." ucapku. "Dah, cepetan jalan. Keburu Maghrib ntar."
"Pegangan yang bener dong, Abang mau ngebut nih."
"Sok-sok an. Ngebut di jalan kota. Sono pergi aja sendiri kalau mau ngebut." jawabku sambil cemberut.
"Peluk pinggang Abang dong biar nggak jatuh." ucapnya karena aku hanya berpegangan pada jaket yang dikenakan Bang Rengga.
"Ntar peluknya kalau udah sah, Abang."
"Beneran ya! Awas aja kalau enggak di peluk."
"Iya, udah buruan jalan."
"Iya, sayangnya Abang."
Tak lama terdengar deru motor mesin motor Bang Rengga. Beberapa belas menit kami sudah sampai di butik tempat Bang Rengga biasa beli batik.
Setelah turun dari motor dan memastikan aman, kami segera masuk. Saat masuk sudah ada salah satu pegawai butik itu yang menyambut kedatangan kami. Lebih tepatnya Bang Rengga.
"Abang, lama banget nggak kesini."
Ucap perempuan itu sambil memeluk Bang Rengga. Aku yang berdiri di sampingnya sampai terkejut dan sedikit melongo karena penyambutan yang kurasa berlebihan.
Kulirik lelaki di sampingku yang terlihat sedang salah tingkah dan berusaha melepaskan pelukan perempuan berambut panjang itu.
Cantik, kesan pertama yang kutangkap saat pelukan itu terlepas. Kualihkan pandangan, rasanya enggan melihat acara drama telenovela di sebelahku. Aku berusaha melepas genggaman tangan Bang Rengga di jemari tangan kiri ku. Tapi lelaki itu semakin erat menggenggam.
"Hai, Nis. Kenalin, ini Rani." ucap Bang Rengga sambil menatapku.
Aku tersenyum, aku mengulurkan tangan pada perempuan bernama Nissa itu. "Rani." ucapku. Beberapa detik tanganku menggantung tanpa ada sambutan. Segera saja kutarik kembali. Mungkin perempuan itu enggan untuk berjabat tangan denganku.
Tatapan Nissa tertuju pada genggaman tangan Bang Rengga yang tak terlepas dari tanganku.
"Mau cari batik buat kayak biasanya kan, Bang?" tanya Nissa kemudian.
"Iya, sarimbit ya. Buat aku sama Rani." jawab Bang Rengga enteng.
"Ow, oke. Kebetulan ada motif baru datang. Yuk Bang. Nissa tunjukin." ucap Nissa lalu berbalik ke arah rak panjang dimana banyak baju batik dipajang. Di sisi kanan berjajar manekin, dengan pakaian batik yang menarik.
"Cemberut aja, Neng! Cemburu ya?" tanya Bang Rengga sambil berbisik.
"Biasa aja. Siapa nya Abang? Atau, ada hubungan lama yang belum kelar barangkali?"
"Enak aja belum kelar, mulai aja nggak pernah. Emang pegawai Mama satu itu agak beda kalau sama Abang."
"Whaat? Jadi butik ini punya Mama Sofia." batinku.
"Terus, Abang santai aja gitu. Enak kan ya soalnya. Menang banyak, dapat pelukan. Mana body nya bohay, bamper depan belakang juga aduhai." sindirku.
"Tapi sayangnya Abang nggak tertarik sama sekali. Kayak stok batik lama Mama, di obral biar cepet sould out. Beda sama kamu, meski kita hampir lamaran, peluk Abang aja nggak pernah mau. Gandengan tangan aja, mesti Abang dulu yang gandeng."
Aku hanya bisa melongo mendengar penjelasan lelaki tampan dengan tubuh tinggi tegap dan atletis di depan ku ini.
"Jadi pinter ngegombal ya sekarang!" jawabku.
"Udah, Abang kalau udah satu, bakal Abang jaga sepenuh hati. Nggak bakalan Abang mainin. Abang juga nggak pernah ada hubungan apapun sama Nissa. Udah lama Abang jomblo. Baru beberapa bulan kemarin Abang tiba-tiba aja pengen ngajak cewek buat nikah. Alhamdulillah, ceweknya akhirnya mau, meski Abang tahu belum ada kata cinta di hatinya."
"Bang,.... "
"Udah, pelan-pelan aja ya. Ntar juga lama-lama bucin sama Abang." goda Bang Rengga.
"Insya Allah... Pakai jalur langit ya Bang. Jangan pernah lelah dan bosan. Insya Allah, aku bakal belajar buat jadi yang terbaik."
"Aamiin. Masya Allah... Ini yang Abang suka. Cara kamu berpikir itu yang bikin Abang makin klepek-klepek sama kamu. Apalagi sekarang berhijab. Makin bucin aja rasanya. Terus ada buat Abang ya."
"Insya Allah, Bang."
Tidak lama, Nissa kembali dengan membawa beberapa koleksi baru baju batik. Setelah memilih motif, Bang Rengga mencatat size baju yang di pesan.
"Yang, size Ibu sama Bapak apa? Sekalian Azka sama Putri."
Aku segera mengalihkan pandangan dari benda pipih yang kupegang, karena membalas pesan masuk dari beberapa suplier yang menanyakan tagihan.
"Bapak biasanya pakai XL, Ibu pakai M. Kalau Azka samain aja sama Abang. Putri size M juga deh, Bang. Biar nanti dia pakai dalaman." jawabku.
"Oke." jawabnya lalu menuliskan list ukuran baju batik di sebuah memo kecil.
"Minta tolong yang ini dikemas sendiri ya, Nis. Bisa Saya tunggu bajunya?"
"Nggak di antar aja, Bang. Kayak biasanya, sambil aku pulang dari butik."
Mendengar itu aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku tetap fokus pada layar datar si setan gepeng yang sedari tadi ada dalam genggaman tanganku.
"Oh, kamu lagu sibuk ya. Biar aku minta tolong sama Mbak Irma aja." Ucap Bang Rengga lalu berdiri menghampiri seorang wanita. Mungkin itu yang dia maksud Mbak Irma.
"Eh, gara-gara kamu ya..... Bang Rengga jadi berubah kayak gitu ke aku." Ucap Nissa sambil telunjuknya sedikit mendorong ke bahuku.
"Oya? Yakin... Gara-gara aku?" Jawab ku balik bertanya.
"Iya, kamu udah ngerusak hubungan aku sama Bang Rengga."
"Wait, kamu bilang aku ganggu hubungan kamu sama Bang Rengga. Emang kalian ada hubungan apa ya?"
"Aku calon istri Bang Rengga, gara-gara kamu datang, kami jadi putus."
"Oooo... Calon istrinya Bang Rengga? Benar begitu, Bang?" Tanyaku sambil sedikit mengangkat kepala agar aku bisa melihat langsung wajah Bang Rengga yang saat ini sudah berdiri tepat di belakang Nissa.
"Calon istrinya siapa?" Tanya Bang Rengga.
Nissa tampak salah tingkah dengan wajah yang seketika menjadi pucat. Dia tidak menyangka jika Bang Rengga sudah berdiri di belakang nya.