NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03 : ' Dhahar kudu wareg '

Dipagi harinya, Naya sedang diajari kasir oleh Abel yang kurang lebih membuat Naya jadi mengerti tentang perannya sebagai kasir.

"Baik, Bu. Nasi sama rendang ayam sama teh tawar totalnya 18ribu." Ujar Naya sembari menarik struk yang keluar dari printer tinta hitam-putih.

Naya tersenyum ramah sembari memberikan struk pembayaran tanggal 8 bulan september yang dimana dipojok struk itu ada tulisan kecil ' dhahar kudu wareg ' dengan tinta merah kepada pembeli yang merupakan seorang ibu-ibu.

"Disini mahal juga ya?" Tanya Ibunya tertawa kecil lalu memberikan selembar uang berwarna biru.

Naya mengembalikan uangnya dari laci kas kasir yang memang otomatis terbuka saat melakukan pembayaran

"Kembali 32ribu, terima kasih ibu sudah mampir di rumah makan Dermawan." Ucap Naya sembari tersenyum manis.

"Sama-sama." Jawab Ibu itu yang awalnya mau tersenyum kecut namun saat diberikan senyuman manis membuat Ibu itu reflek balas tersenyum dengan manis juga.

Abel memperhatikan Naya yang menutup kas laci kasir. Abel duduk sementara Naya yang memang tidak disediakan tempat duduk di kasir hanya berdiri melayani sejak jam 8 tadi pagi karena rumah makan buka jam 08.00 pagi sementara karyawan lelaki yang memang disediakan mess di rumah makan sudah harus bersih-bersih dari jam 07.30 pagi sebelum rumah makan buka.

Sekarang sudah menunjukkan jam Tengah 11 siang. Naya yang sudah suntuk karena pembeli yang mulai sepi memilih mendekati Rifki yang sedang mengelap meja.

"Kenapa?" Tanya Rifki.

"Nggak kenapa-napa mau ngeliatin aja." Jawab Naya.

"Kalo bosen tuh lap-lap aja gini daripada gak ngapa-ngapain." Ujar Rifki memberikan kain lap kepada Naya yang menerima dan mulai mengelap.

"Ini kain lapnya cuman ada ini ya?" Tanya Naya melihat kain lap putih itu yang sudah ada bercak-bercak coklat. Sedikit membuatnya merasa jijik.

"Ada lagi sih yang lain tapi sama aja, di kain lapnya ada nada coklat yang nggak hilang-hilang. Baunya kayak kemenyan, bukan kecap." Jelas Rifki pada Naya yang terdiam sejenak.

Tatapan mereka terpaku satu sama lain namun segera sadar tatkala Agus yang masih mengenakan helm masuk ke rumah makan karena habis mengirimkan makanan ke rumah pelanggan yang memesan secara online lewat aplikasi chat pribadi rumah makan.

"Mang gue duluan makan, nanti gantian lu." Ujar Rifki segera beralih topik.

"Belum jam 12." Balas Agus melepaskan helmnya lalu menghampiri Abel dan memberikan uang dari pesanan online tadi.

Abel menghitung uang itu sembari menyamakan pembayarannya dengan struk pembayaran yang dicetak 2. Karna satu struk diberikan kepada pembeli, sementara satunya dicetak lg sebagai catatan pesanan yang belum dibayar oleh pembeli.

"Bel, tadi pacar kamu tuh aku liat boncengan sama cewek lain." Ucap Agus.

Naya nunduk. Bayangan Agus berubah aneh jadi sosok bungkuk namun pas Naya lihat Agus dan Abel lagi tak ada siapa-siapa disana, dan bayangan Agus tidak seperti yang dia lihat di awal.

"Apa sih mang, orang dia kerja." Balas Abel dengan wajah tak percaya.

"Gak percaya ya udah, tapi cwo kayak pacarmu itu ditinggal aja pantasnya." Balas Agus memberikan arahan kepada Abel yang memang usianya jauh lebih mudah daripada dirinya.

"Mending Mang Agus ngurus istrinya aja, tuh istrinya keseringan ditinggal mana lagi hamil." Balas Abel nyeletuk pada Agus yang mendernyitkan kening.

"T4i bener, pacarmu itu aku kenal betul. Banyak pacarnya dimana-mana. Kalo gak percaya ya udah." Ujar Agus yang keburu kepancing emosi lalu meninggalkan Abel sendiri.

"Lagi-lagi berantem soal hubungan, Mang Agus tuh sebenarnya suka tau sama Abel." Ujar Rifki membuat Naya terkejut tak habis pikir.

"Mang Agus udah nikahkan? Terus istrinya hamil?" Tanya Naya karena barusan dia dengar.

Rifki reflek menggeplak punggung tangan Naya diatas meja yang sedang menggenggam kain lap.

Rifki berbisik pelan, "Namanya lelaki jauh dari istri, pasti nyari yang deket. Apalagi Abel itu kan janda muda."

Naya sama sekali tak mengatakan apa-apa lagi sekarang.

Pintu dapur kebuka. Pak Dermawan keluar bawa rantang. Lalu berjalan mendekati Rifki, dan juga Naya.

"Naya, kalau ada sisa makan jangan dibuang ya. Biarin aja di atas meja. Jangan kayak kemarin." Ujar Pak Dermawan mengingatkan.

"Tapi tiap habis makan, cuci piring sendiri kan Pak?" Tanya Naya.

"Itu urusan Zuan." Jawab Pak Dermawan.

"Kalau sudah selesai makan, biarkan piring tetap di atas meja." Lanjut Pak Dermawan dengan serius.

"Iya pak." Jawab Naya.

Rifki hanya diam karena lantas dia mengingat jika dia lah yang makan bersama Naya kemarin dan dia lupa mengingatkan aturan penting itu.

"Jangan pura-pura nggak tau Rifki." Cetus Pak Dermawan tersenyum.

"Maaf, Pak." Jawab Rifki sama sekali tak berani menatap mata Pak Dermawan.

"Kalau begitu saya pulang dulu." Ujar Pak Dermawan meninggalkan mereka.

Naya melihat Pak Dermawan sudah melewati pintu rumah makan, tatapannya pun tertuju kepada Rifki yang masih diam membisu seolah telah melakukan suatu kesalahan.

"Ada apa?" Tanya Naya.

"Enggak sih, cuman lain kali kalo habis makan biarin aja piringnya di atas meja. Makanan yang sisa jangan dibawa pulang ya nanti sakit perut." Ujar Rifki mengingatkan Naya.

Naya mengangguk.

"Jangan pernah bawa makanan dari luar juga ke rumah makan ini kecuali air putih." Lanjut Rifki.

Naya yang mulai tak paham ingin bertanya namun suara Zuan muncul.

"Udah jam 12, siapa yang mau makan duluan?" Tanya Zuan.

"Naya, makan." Ucap Rifki.

"Kok aku?"

"Biar gantian kasir sama Abel. Abel biasanya shalat dulu sebelum makan." Ujar Rifki pada Naya yang mengangguk.

Naya berjalan ke dapur.

Terlihat Nesya, dan Zuan yang sudah mengambil nasi, dan lauk masing-masing.

"Eh, Naya." Seru Nesya menyapa Naya.

"Sini makan." Ajak Nesya memberikan tempat duduk kepada Naya.

"Gara-gara Naya kita diomelin tadi." Ujar Zuan dengan nada sindir kepada Naya.

"Diomelin kenapa?" Tanya Naya bingung.

"Enggak ada, sayang. Makan aja." Ajak Nesya yang mulai makan.

Naya mengambil piring dan mengambil nasi dari mejikom besar. Lauknya dia ambil rendang ayam, dan di kuah sayur asem sementara sambal sengaja tak Naya ambil mengingat Nesya kemarin berkata jika harga cabai lagi naik.

Naya pun duduk di sebelah Nesya yang sudah menyiapkan tempat duduk untuknya.

"Abel mah cepet paham, gak kayak Naya." Ujar Zuan yang juga makan.

"Ish jangan gitu." Ujar Nesya yang merasa tidak enak kepada Naya.

"Emang kenapa?" Tanya Naya bingung.

"Nay, di sini tuh kalau buat makan siang ada tiga aturan. 1 jangan bawa pulang sisa, 2 jangan buang sisa, 3 jangan tanya sisanya buat siapa." Ujar Zuan mengingatkan Naya.

"Jadi kalau pulang mending beli dari luar dong?" Tanya Naya.

"Ya iya, gaji meriang ini mah. Kerja di rumah makan mah belum tentu makannya juga ditanggung full." Canda Zuan membuat Nesya tertawa.

Nesya mencolek sambal yang dia letakkan di atas piring kecil di atas meja.

"Do'a aja biar tanggal 13 cepet dateng." Ujar Nesya.

"Kenapa Mbak? Mau lanjut resign?" Tanya Zuan tertawa.

"Berani lu bilang gitu disini." Balas Nesya marah kepada Zuan yang kembali tertawa.

"Iya biar Mbak gak jadi resign." Ledek Zuan.

"Ishh Zuannn..." Kesel Nesya dengan wajah semrawut.

"Udah kelar makannya belum? Ada pesanan." Ujar Abel yang masuk ke dapur lalu memberikan catatan di atas meja.

"Gue ajak yang ladenin. Lanjut makan aja. Kalo Zuan yang ladenin mah kebanyakan molornya gak kelar-kelar." Ujar Nesya yang masih kesal dengan Zuan, Nesya pun buru-buru menghabiskan makannya.

"Eh nanti piringnya gak usah di cuci kayak kemarin." Zuan mengingatkan Naya yang juga sudah selesai makan.

"Emang kenapa?" Tanya Naya yang sebenarnya merasa penasaran.

"Karna yang marah bukan Pak Dermawan." Jawab Zuan.

"Terus siapa?" Tanya Naya yang merasa semakin penasaran.

Zuan menatap serius, "Yang laper." Jawabnya.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!