Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompetisi Berburu Musim Gugur (Alara Masuk Hutan Bawa Ketapel)
Hutan Perburuan Kekaisaran pagi itu diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Ini adalah hari di mana Kompetisi Berburu Musim Gugur resmi dibuka sebuah ajang bergengsi bagi para bangsawan untuk menunjukkan ketangkasan, sekaligus panggung bagi Putri Aurora untuk pamer skill spek militernya yang legendaris.
Aurora sudah bersiap di atas kuda perang hitamnya yang gagah. Dia mengenakan baju zirah ringan perak, membawa busur besar dari tulang lembu jantan, dan sekantong anak panah berbulu elang. Penampilannya sangat memukau, memicu sorak-sorai dari barisan menteri pendukung Ibu Suri.
"Bagaimana, Selir Alara? Di mana kudamu? Dan... di mana busur panahmu?" tanya Putri Aurora dengan senyum meremehkan saat melihat Alara berjalan santai mendekati area start.
Alara hari ini tidak memakai baju zirah berat. Dia hanya memakai celana panjang katun hitam longgar, sepatu bot kulit praktis, dan jaket safari ungunya yang dimodifikasi.
Alih-alih naik kuda perang, Alara justru menuntun seekor... keledai kecil berwajah pasrah yang di punggungnya terikat sebuah keranjang anyaman besar.
"Ah, Mbak Aurora," Alara melambaikan tangannya santai. "Saya tidak bisa naik kuda perang, pantat saya suka lecet. Lagian, saya ke sini bukan mau perang, tapi mau piknik sambil cari bahan pangan gratisan."
Dari saku jaketnya, Alara mengeluarkan senjata andalannya: sebuah ketapel kayu jati bercabang dua yang dilengkapi dengan karet ban elastis super tebal hasil modifikasi teknologi modern, lengkap dengan satu kantong penuh kelereng besi hasil tempaan pandai besi Paviliun Naga Emas.
"Ketapel? Kau mau berburu burung pipit dengan mainan anak-anak itu?" Aurora tertawa renyah, diikuti tawa mengejek dari selir-selir senior di tenda utama.
Di atas podium utama, Kaisar Kaivan yang sedang memegang cangkir tehnya hanya bisa menghela napas panjang. Dia menatap ketapel di tangan Alara, lalu beralih menatap kantong besi di pinggang wanita itu.
Sebagai orang yang tahu isi otak Alara, Kaivan tahu betul ketapel itu pasti memiliki daya hancur yang tidak masuk akal jika berada di tangan si rubah kecil.
"Kompetisi DIMULAI!" pekik Kasim Penjaga waktu.
*WUSS!'
Putri Aurora langsung memacu kuda hitamnya melesat masuk ke dalam hutan dengan kecepatan tinggi, siap berburu rusa jantan berwajah emas yang memiliki poin tertinggi. Sementara Alara? Dia menepuk bokong keledainya pelan.
"Yuk, mbek. Kita cari spot yang banyak pohon buahnya."
Dua jam berlalu di dalam hutan. Putri Aurora bergerak seperti badai. Panahnya melesat akurat, menumbangkan tiga ekor rubah ekor panjang dan seekor babi hutan berukuran sedang.
Para pengawal yang mengikuti di belakangnya terus mencatat poin dengan wajah takjub.
Namun, saat Aurora sedang membidik seekor Rusa Emas langka di balik semak-semak, sebuah suara siulan santai mendadak merusak konsentrasinya.
*Fiiuutt~ Nyamm.'
Aurora menoleh dengan tajam dan tertegun. Di bawah pohon ek besar tak jauh dari sana, Alara sedang duduk santai di atas tikar kain, mengunyah apel liar yang baru dikupas, sementara keledainya sedang asyik makan rumput.
Di dalam keranjang besar di punggung keledai itu, sudah menumpuk... belasan ekor ayam hutan berbulu indah dan lima ekor kelinci gemuk!
"K-kau... bagaimana bisa kau mendapatkan buruan sebanyak itu tanpa busur?!" tanya Aurora syok, menurunkan busurnya karena terkejut.
Alara menelan apelnya, lalu berdiri dan meregangkan otot lengannya. "Gampang, Mbak Aurora. Memanah itu butuh waktu reloading yang lama dan suaranya berisik bikin hewan lain kabur. Kalau ketapel saya? Ini namanya teknologi Silent Takedown."
Tepat pada saat itu, seekor burung elang gunung yang sangat besar terbang melesat di langit atas mereka dengan kecepatan tinggi.
"Lihat ya," ucap Alara dengan mata bulatnya yang mendadak menajam.
Alara mengambil sebutir kelereng besi dari kantongnya, memasangnya di kulit pelontar ketapel, lalu menarik karet elastisnya ke belakang sampai maksimal hingga otot lengannya yang terlatih berkat memutar mesin tekstil kemarin terlihat mengencang.
Menggunakan teori fisika sudut parabola dan kecepatan angin yang dia pelajari di SMA, Alara membidik targetnya dalam waktu satu detik.
*JEBREEETTT!!!'
Karet dilepaskan. Kelereng besi itu melesat di udara dengan bunyi desingan angin yang sangat nyaring
WUSS!
menembus jarak puluhan meter di udara dengan kecepatan peluru senapan angin modern.
*TAK!'
Kelereng besi itu menghantam telak bagian syaraf sayap elang tersebut secara presisi. Burung raksasa itu langsung kehilangan keseimbangan, pingsan di udara, dan jatuh meluncur ke bawah tepat di atas tumpukan daun kering di depan kaki kuda Putri Aurora dengan kondisi... tidak berdarah sama sekali, hanya pingsan mulus.
Putri Aurora mematung di atas kudanya, matanya melotot sempurna menatap burung elang yang pingsan, lalu menatap ketapel kayu kecil di tangan Alara.
Ahli strategi perang dari utara itu mendadak merasa seluruh teori militernya dihina secara brutal oleh alat mainan anak-anak.
"Asas efisiensi energi, Mbak Aurora," Alara menepuk-nepuk ketapelnya dengan gaya pamer yang sangat menyebalkan.
"Buruannya dapet, dagingnya utuh gak rusak kena anak panah, dan yang paling penting: gak buang-buang tenaga buat ngejar kuda."
Sore harinya, di depan tenda utama kekaisaran, seluruh hasil buruan ditumpuk untuk dihitung nilainya.
Putri Aurora berhasil membawa babi hutan dan rusa emas, menghasilkan poin yang sangat tinggi. Namun, ketika giliran keledai Alara tiba, seluruh aula luar langsung gempar.
Alara tidak hanya membawa puluhan ayam dan kelinci, tapi dia juga mengeluarkan tiga karung berisi jamur truffle hitam langka, sarang madu hutan murni, dan berkarung-karung buah beri liar yang dia kumpulkan sembari menunggu hewannya lewat.
"Berdasarkan bobot kegunaan logistik pangan kekaisaran," Kasim Juri berteriak dengan suara gemetar.
"Poin hasil buruan dan pengumpulan logistik Selir Alara... UNGGUL SEPULUH POIN dari Putri Aurora!"
*JDIAARRR!'
Ibu Suri hampir saja menggigit cangkir tehnya saking syoknya, sementara para selir senior langsung pura-pura pingsan berjamaah agar tidak perlu memberi selamat pada Alara.
Putri Aurora melangkah maju, menatap Alara dengan pandangan yang kini tidak lagi meremehkan, melainkan penuh dengan rasa hormat sekaligus persaingan sengit yang membara.
"Kau... benar-benar wanita paling aneh dan berbahaya yang pernah kutemui, Alara."
"Makasih pujiannya, Mbak Aurora. Tapi sori, kemenangan ini bukan cuma soal poin," Alara menyeringai licik, lalu berbalik menatap Kaisar Kaivan yang sejak tadi menonton dengan senyuman tipis tersembunyi.
"Yang Mulia Kulkas!" seru Alara dengan suara lantang.
"Sesuai janji pemenang kompetisi, saya berhak meminta satu hadiah langsung dari Anda, kan?!"
Kaivan menegakkan duduknya, sepasang mata elangnya menatap Alara dalam-dalam. "Katakan, Alara. Apa yang kau inginkan?"
Alara menunjuk tumpukan ayam hutan dan jamur truffle miliknya dengan mata berbinar-binar penuh kelaparan sejati.
"Malam ini, saya mau Anda ikut turun ke dapur Paviliun Mawar Merah! Kita bikin Ayam Bakar Madu Truffle bareng-bareng, dan Anda yang harus bagian kipas-kipas arangnya! Gimana, deal?!"
Mendengar perintah bar-bar di mana seorang Kaisar agung disuruh menjadi tukang kipas sate dadakan, seluruh menteri langsung megap-megap kekurangan oksigen.
Namun, Kaivan... sang Kaisar Es justru terkekeh renyah di atas singgasananya. Dia berdiri, jubah naganya berkibar, lalu menatap Alara dengan binar mata yang penuh kehangatan mutlak.
"Deal, Rubah Kecil. Siapkan arangnya... malam ini Kaisarmu resmi beralih profesi menjadi asisten koki pribadimu."
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪