NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kepastian Hati

Pagi itu, udara terasa lebih bersih dari biasanya. Chen terbangun dengan tekad yang sudah bulat. Ia tidak ingin lagi menunda apa yang seharusnya dikatakan. Setelah bersiap-siap dan mengenakan pakaian terbaiknya yang sederhana namun rapi, Chen melangkah keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Mei.

Saat pintu terbuka, Mei tampak terkejut melihat Chen yang sudah berdiri di sana dengan tatapan mata yang begitu serius, namun pancarannya sangat lembut.

"Chen? Ada apa sepagi ini?" tanya Mei heran, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga.

Chen tidak menjawab dengan kata-kata biasa. Ia meraih kedua tangan Mei, menggenggamnya dengan erat namun lembut. Jantung Chen berdegup kencang, tetapi kali ini rasa ragunya telah menguap.

"Mei, selama seminggu ini... tidak, sebenarnya sudah sejak lama aku memendam perasaan ini," ucap Chen tegas, menatap langsung ke dalam manik mata Mei. "Dulu aku hanya seorang kuli angkut miskin yang tidak punya apa-apa, jadi aku minder. Tapi sekarang, aku ingin bersamamu, menjagamu, dan memastikan kamu tidak pernah menangis sendirian lagi. Mei... maukah kamu menjadi kekasihku?"

Mei terpaku. Matanya berkedip tidak percaya, lalu perlahan genangan air mata kebahagiaan muncul di sudut matanya. Senyuman paling indah yang pernah Chen lihat merekah di wajah gadis itu.

"Bodoh... kenapa baru mengatakannya sekarang?" bisik Mei manja. Ia mengangguk cepat. "Tentu saja aku mau, Chen!"

Mei langsung menghambur ke pelukan Chen. Di lorong kos sepi itu, Chen mendekap erat kekasih barunya dengan perasaan lega yang luar biasa. Perasaannya akhirnya tersampaikan.

.

.

.

Tamu Tak Diundang di Halaman Kos

Namun, momen romantis sepasang kekasih baru itu tidak berlangsung lama. Dari arah halaman bawah, terdengar suara deru mesin mobil yang berat dan berwibawa, disusul oleh langkah kaki beberapa orang yang menaiki tangga kayu kos-kosan.

Chen dan Mei melepaskan pelukan mereka. Aura tajam yang tiba-tiba mendekat membuat insting Chen waspada. Sensasi hangat di matanya berdesir pelan secara otomatis.

Ketika menoleh ke ujung lorong, Chen tertegun. Sosok yang datang bukanlah asisten Liu, melainkan seorang pria tua berambut uban dengan jubah tradisional elegan yang memancarkan wibawa luar biasa. Pria itu adalah Tuan Feng, Master Giok legendaris yang mengawasinya di aula lelang dua hari lalu! Di belakangnya, berdiri dua pengawal berbadan tegap.

"Ternyata di sini tempat tinggal pemuda yang membuat keponakanku, Liu, terus-menerus membual," suara Tuan Feng terdengar berat namun menggelegar, memenuhi lorong kos yang sempit.

Mei agak ketakutan dan refleks bergeser ke belakang tubuh Chen. Sementara Chen melangkah maju satu langkah, melindungi kekasihnya. Ia menatap Tuan Feng dengan tenang.

"Tuan Feng, Master Giok legendaris. Suatu kehormatan bagi saya. Tapi, apa yang membuat seorang master besar bersedia mengotori sepatunya di kos sempit seperti ini?" tanya Chen tenang, tanpa rasa takut sedikit pun.

Tuan Feng menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan Chen. Matanya yang tajam dan sarat pengalaman mengunci pandangan Chen, mencoba membaca isi pikiran pemuda di hadapannya.

"Hahaha! Keberanianmu patut dipuji, Anak Muda," Tuan Feng terkekeh pelan, namun tatapannya tetap setajam elang.

"Aku datang sendiri ke sini karena rasa penasaranku sudah di ambang batas. Kemampuanmu menebak isi Patung Buddha dan Giok Darah Naga kemarin... itu bukan sekadar keberuntungan belaka. Aku sudah hidup di dunia batuan selama puluhan tahun, dan instingmu itu tidak masuk akal."

Tuan Feng maju satu langkah lagi, auranya semakin menekan.

"Chen, aku datang bukan sebagai musuh. Aku datang untuk menantangmu secara langsung. Aku ingin menguji, apakah sepasang matamu itu benar-benar bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa, atau kau hanya penipu yang beruntung."

1
Markario Putra
ok siap bang
👍😁
indrawanto djiwanto
konflik kurang banyak min. kalopun lanjut, ceritanya terus jangan berubah jadi kultivator plus nanti lawan alien atau mkahluk dunia ata dst.
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!