Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Keberangkatan
Buat yang sedang merantau jauh dari keluarga...
Sini author peluk dulu.
Tapi jangan lama-lama.
Gerah.
AC kamar lagi mati. 😌
-----
Sejak keputusan itu dibuat, suasana rumah berubah.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada air mata.
Belum.
Justru semuanya terasa terlalu tenang.
Dan kadang, ketenangan seperti itulah yang paling menyiksa.
Tiga hari lagi aku berangkat ke Jakarta.
Tiga hari.
Waktu yang terasa terlalu cepat untuk sebuah perpisahan.
Dan terlalu lambat untuk sebuah penantian.
Aku mulai sering melamun.
Kadang saat menyuapi Andi, tanganku mendadak berhenti di udara.
Kadang saat melihat Lala tidur di malam hari, dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Untuk pertama kalinya...
Aku benar-benar takut.
Bukan takut pada Jakarta.
Bukan takut pada pekerjaan baru.
Melainkan takut pada kemungkinan bahwa aku akan melewatkan terlalu banyak hal dalam kehidupan anak-anakku.
"Kalau sudah sampai sana, jangan gampang percaya orang."
Ibu mengucapkannya sambil mengiris bawang di dapur.
Nada suaranya biasa saja.
Tapi aku tahu beliau sedang cemas.
"Kota besar itu beda sama kampung."
"Iya, Bu."
"Kalau ada apa-apa langsung kabari rumah."
"Iya, Bu."
Aku menjawab pendek.
Karena kalau terlalu banyak bicara, aku takut malah menangis.
Siang harinya Marni datang.
Aku belum selesai berkemas.
Bahkan sebagian besar bajuku masih bertumpuk di atas kasur.
"Wih, belum siap juga?"
Aku tertawa kecil.
"Jujur, aku bingung mau bawa apa."
Marni langsung ikut duduk di lantai.
Membantu melipat pakaian.
Melihatnya dari dekat, aku semakin sadar kalau hidupnya memang sudah berubah jauh.
Cara bicaranya berbeda.
Cara berpakaiannya berbeda.
Bahkan caranya memandang dunia pun berbeda.
"Betah kerja di Jakarta?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.
Marni terdiam sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang aneh.
Senyum orang yang sudah terlalu banyak mengalami sesuatu.
"Betah enggak betah itu urusan belakangan, Mir."
Ia melipat sebuah kaus.
Lalu melanjutkan.
"Kalau sudah pegang uang, rasa capek biasanya kalah sendiri."
Aku tidak menjawab.
Tapi entah kenapa...
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku sampai malam.
Sore harinya Mas Anto pulang lebih cepat.
Di tangannya ada sebuah kantong plastik hitam.
"Ini buat kamu."
Aku membukanya perlahan.
Sepasang sandal baru.
Bukan sandal mahal.
Bukan merek terkenal.
Tapi justru itu yang membuat dadaku terasa sesak.
Karena aku tahu persis kondisi keuangan kami.
"Mas beli pakai uang apa?"
"Lembur minggu kemarin."
Aku langsung menunduk.
Tidak sanggup menatap wajahnya.
Ada orang yang menunjukkan cinta lewat kata-kata.
Ada yang lewat hadiah mahal.
Tapi Mas Anto...
Selalu menunjukkan cintanya lewat pengorbanan kecil yang diam-diam.
Dan entah kenapa...
Itu jauh lebih menyakitkan untuk ditolak.
Malam terakhir sebelum keberangkatan.
Aku tidur di tengah.
Andi memeluk lengan kiriku.
Lala berada di sebelah kanan.
Tidak ada yang tidur cepat malam itu.
Terutama Lala.
"Mak..."
"Hm?"
"Kalau uang buat bangun rumah sudah terkumpul..."
Suara anakku terdengar pelan dalam gelap.
"Emak langsung pulang ya?"
Dadaku langsung terasa sesak.
"Iya."
"Janji?"
Aku memejamkan mata.
"Janji."
Sunyi.
Beberapa saat kemudian suara Lala terdengar lagi.
Kali ini lebih kecil.
Lebih rapuh.
"Mak..."
"Iya?"
"Lala takut."
Kalimat sederhana itu menghancurkan seluruh pertahananku.
Karena ternyata...
Bukan cuma aku yang takut ditinggalkan.
Anak-anak pun merasakan hal yang sama.
Subuh datang terlalu cepat.
Dan seperti semua perpisahan yang berat...
Tak ada seorang pun yang benar-benar siap menghadapinya.
(Bersambung)