Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Lapangan Hijau
Kabut pagi masih menyelimuti bukit-bukit di sekitar Klub Golf Candi, menciptakan suasana yang suram dan mencekam. Jam menunjukkan pukul 06.45 WIB, lima belas menit sebelum janji temu dengan Paman Hendra. Zidan sudah berada di sana, duduk di sebuah gazebo kayu yang terletak di tepi fairway ke-9, area yang jarang dikunjungi pemain golf pada jam segini karena medan yang curam dan berbatu.
Ia tidak datang sendirian sepenuhnya. Seperti yang ia rencanakan, dua anggota tim keamanan swasta independen—pria-pria bertubuh kekar dengan pakaian sipil yang tampak seperti jogger pagi—berdiri samar-samar di antara pepohonan pinus, jaraknya sekitar lima puluh meter dari posisi Zidan. Mereka memiliki garis pandang langsung ke gazebo tersebut. Zidan merasa sedikit lebih tenang mengetahui ada mata lain yang waspada, meski ia tahu bahwa jika musuh mereka sekelas Tuan Wijaya, pengawasan fisik saja mungkin tidak cukup.
Viona ingin memaksa ikut, namun Zidan bersikeras ia tetap di rumah. "Ini urusan keluarga lama, Vion. Jika ada hal buruk yang terjadi, aku perlu kamu aman di luar jangkauan," kata Zidan semalam dengan nada yang tidak bisa dibantah. Viona akhirnya menuruti, meski ia menghabiskan malam itu dengan gelisah, terus memantau lokasi Zidan melalui aplikasi berbagi posisi hingga sinyal GPS-nya stabil di klub golf.
Angin pagi berhembus dingin, membawa aroma tanah basah dan rumput yang baru dipotong. Zidan menyesap kopinya yang sudah mulai dingin, matanya tertuju pada jalur masuk klub. Ia memeriksa ulang isi folder cokelat tua itu untuk kesekian kalinya. Dokumen-dokumen itu terasa berat di tangannya, bukan secara fisik, tapi secara moral. Ada nama-nama, tanggal, dan angka transfer yang jika dibuka ke publik, bisa meruntuhkan kepercayaan terhadap integritas Ardhan Group.
Tepat pukul 07.00, sebuah mobil sedan hitam mewah melaju pelan memasuki area klub. Mobil itu berhenti di dekat parkiran VIP, dan seorang pria keluar. Itu adalah Paman Hendra. Ia terlihat berbeda dari biasanya. Pria yang selalu tampil necis dengan jas mahal dan sikap arogan itu kini mengenakan kaus polo sederhana dan celana olahraga. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam tebal di bawah matanya, dan langkah kakinya terlihat goyah. Ia tidak membawa tas golf, hanya sebuah map tipis di tangannya.
Zidan berdiri saat Paman Hendra mendekat. Tidak ada salam hangat, tidak ada jabat tangan. Hanya tatapan hampa yang saling bertaut.
"Kau datang tepat waktu," ucap Paman Hendra, suaranya serak. Ia langsung duduk di kursi seberang Zidan, napasnya terdengar berat.
"Aku ingin jawaban, Paman," buka Zidan tanpa basa-basi. "Apa yang sebenarnya terjadi di Kendal tahun 2010? Dan mengapa Budi Santoso, mantan kepala keamanan kita, sekarang bekerja untuk musuh terbesar Ayah?"
Paman Hendra tertawa kecil, tawa yang kering dan penuh kepahitan. Ia membuka map di tangannya, namun tidak langsung memberikannya kepada Zidan. Ia menatap dokumen itu seolah-olah itu adalah ular berbisa.
"Kau pikir ayahmu suci, Zidan? Kau pikir Ardhan Group dibangun hanya dengan kerja keras dan kejujuran?" tanya Paman Hendra sinis.
"Ayah membangun perusahaan ini dengan reputasi tiga dekade. Jika ada kesalahan di masa lalu, itu harus dikoreksi, bukan ditutupi dengan kebohongan baru," jawab Zidan tegas.
"Koreksi?" Paman Hendra mendengus. "Di dunia bisnis tingkat atas, tidak ada yang putih atau hitam. Semua abu-abu. Tahun 2010, kita sedang dalam posisi kritis. Ardhana hampir bangkrut karena krisis global. Satu-satunya cara selamat adalah memenangkan tender proyek logistik raksasa di Kendal. Tapi warga setempat menolak pindah. Mereka keras kepala."
Paman Hendra mengambil napas dalam, matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena trauma yang masih menghantui.
"Aku... aku yang menangani negosiasi waktu itu. Ayahmu sibuk di Jakarta mencari investor. Aku putus asa. Lalu, Budi Santoso datang padaku. Dia punya koneksi dengan preman lokal. Dia menawarkan 'solusi cepat'. Malam itu... malam itu ada kerusuhan kecil. Sebuah gudang sementara terbakar. Seorang penjaga malam tewas tertimpa reruntuhan. Warga panik. Mereka mengira itu ulah pihak lain, bukan kita. Kami memanfaatkan kepanikan itu untuk menekan mereka menandatangani perjanjian dengan harga murah."
Zidan merasa darahnya membeku. "Ada korban jiwa? Dan kalian menutupinya?"
"Bukan pembunuhan berencana, Zidan! Itu kecelakaan! Tapi kami memanfaatkannya. Dan sebagai imbalan atas 'bantuan' Budi, kami memberinya posisi tinggi dan bonus besar. Tapi lima tahun lalu, ketika Ayahmu membersihkan internal perusahaan, Budi merasa dikhianati. Dia dipecat dengan tuduhan palsu agar dia diam. Tapi dia tidak diam. Dia lari ke Wijaya. Dan sekarang, Wijaya memegang semua bukti asli. Rekaman CCTV malam kebakaran itu, surat perintah diam-diam dari aku, dan kesaksian warga yang disuap."
Paman Hendra menyerahkan map itu ke meja. Tangannya gemetar hebat.
"Wijaya tidak akan menggunakan ini sekarang. Dia menunggu momen yang paling menyakitkan. Dia menunggu saat Ardhan Group sedang di puncak, lalu dia akan menjatuhkannya ke dasar jurang. Kunjunganmu ke Kendal minggu lalu... itu memicu alarm di markas Wijaya. Dia tahu kau mulai menggali. Jika kau terus menyelidiki, dia akan merilis semuanya besok lusa. Tepat saat konferensi pers tahunan Ayah."
Zidan menatap Paman Hendra dengan campuran jijik dan iba. "Jadi, apa solusi Paman? Menyerah? Membiarkan Wijaya menghancurkan Ayah?"
"Tidak," bisik Paman Hendra. "Kita harus mendahuluinya. Kita harus menemui Wijaya. Bukan untuk bertarung, tapi untuk bernegosiasi. Beri dia apa yang dia mau: sebagian saham divisi konstruksi. Sebagai gantinya, dia harus memusnahkan semua bukti dan menarik Budi Santoso."
Zidan menggeleng kuat. "Itu pemerasan, Paman. Jika kita memberi satu jari, dia akan meminta seluruh tubuh. Ayah tidak akan pernah setuju menjual prinsipnya untuk membeli diam."
"Lalu apa maumu? Membiarkan nama baik keluarga hancur?" suara Paman Hendra meninggi, penuh frustrasi.
"Aku akan mencari cara lain," jawab Zidan dingin. "Cara yang tidak melibatkan penyerahan pada pemeras. Aku akan mengumpulkan bukti bahwa Budi Santoso dan Wijaya melakukan konspirasi kriminal. Jika mereka punya bukti kejahatan kita, kita juga punya bukti kejahatan mereka: pencucian uang, penyuapan pejabat, dan penggelapan pajak. Aku sudah mulai melacak aliran dana Budi sejak dia bergabung dengan PT Bayu Hitam."
Mata Paman Hendra membelalak. "Kau gila, Zidan. Itu berbahaya. Wijaya punya orang di mana-mana. Polisi, jaksa, bahkan media."
"Maka kita harus lebih pintar," ucap Zidan sambil berdiri. Ia mengambil map itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. "Terima kasih atas kejujuran Paman hari ini. Ini awal yang baik. Mulai sekarang, jangan hubungi Wijaya lagi. Jangan lakukan kesepakatan apa pun di belakang punggung Ayah. Biarkan aku yang menangani ini."
Paman Hendra menatap punggung Zidan yang berjalan pergi. Untuk pertama kalinya, ia melihat keponakannya bukan sebagai anak muda naif, tapi sebagai lawan yang patut diperhitungkan. Ada ketakutan baru di hatinya, bukan takut pada Wijaya, tapi takut pada determinasi Zidan yang bisa membakar semuanya demi kebenaran.
Saat Zidan kembali ke mobilnya, ponselnya bergetar. Pesan dari Viona: "Kak, apakah semuanya baik-baik saja? Aku merasa tidak enak badan. Ada perasaan aneh."
Zidan membalas cepat: "Aku segera pulang. Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun kecuali aku."
Ia memulai mesin mobil, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ia baru saja menyatakan perang terbuka terhadap Tuan Wijaya. Dan dalam perang semacam itu, tidak ada tempat bagi yang lemah. Namun, Zidan tidak sendirian. Ia memiliki Viona, memiliki kebenaran yang mulai ia pegang erat, dan memiliki kemarahan yang adil terhadap ketidakadilan masa lalu.
Di jalan tol menuju rumah, Zidan menelepon kepala tim investigasi pribadinya. "Temukan semua transaksi keuangan Budi Santoso lima tahun terakhir. Hubungi kontak kita di Kejaksaan Agung. Kita butuh jaminan perlindungan saksi jika nanti kita memutuskan untuk berbicara. Siapkan segala sesuatu. Badai besar akan datang."
Langit di atas Semarang kembali mendung, seolah menyetujui prediksi Zidan. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.