Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Hujan dan Rahasia Kecil
Bab 4: Hujan dan Rahasia Kecil
Nara masih berdiri di tempatnya.
Otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna ucapan Damar.
Mengantar pulang?
Damar Wijaya?
Pria yang bahkan jarang tersenyum itu?
"Apa Anda akan berdiri di sana sepanjang malam?"
Suara Damar membuat Nara tersadar.
Pria itu sudah berada di depan lift.
Tangannya menahan pintu yang hampir tertutup.
Dengan canggung, Nara segera berlari kecil menghampiri.
Lift mulai bergerak turun.
Suasana kembali hening.
Nara memeluk tasnya erat.
Entah kenapa ia merasa gugup.
Padahal mereka hanya akan pulang.
Bukan melakukan sesuatu yang aneh.
Namun berada berdua dengan Damar di malam hari terasa berbeda dibanding di kantor.
Mungkin karena tidak ada rekan kerja lain.
Tidak ada rapat.
Tidak ada tumpukan dokumen.
Hanya mereka berdua.
"Apa Anda selalu pulang selarut ini?"
tanya Nara akhirnya.
Damar menatap lurus ke depan.
"Sering."
"Setiap hari?"
"Hampir."
Nara mengernyit.
"Kenapa?"
"Kita bekerja."
"Bekerja tidak berarti harus tinggal di kantor."
Damar meliriknya sekilas.
"Kata orang yang baru dua hari bekerja."
Nara langsung mendengus.
"Baiklah. Anggap saya tidak bertanya."
Sudut bibir Damar bergerak sangat tipis.
Begitu tipis hingga Nara tidak yakin apakah pria itu benar-benar tersenyum.
---
Hujan masih turun deras ketika mereka keluar dari gedung.
Udara malam terasa dingin.
Damar membuka mobilnya.
Nara masuk ke kursi penumpang.
Tak lama kemudian kendaraan itu melaju membelah jalanan yang basah.
Lampu kota memantul di genangan air.
Menciptakan pemandangan yang cukup indah.
Nara menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Rasa lelah mulai menyerang.
Hari-hari sebelumnya ia terbiasa tidur sebelum pukul sepuluh malam.
Sekarang jam bahkan hampir menunjukkan tengah malam.
Matanya terasa berat.
Sangat berat.
Awalnya ia berusaha tetap terjaga.
Namun perlahan suara hujan dan dinginnya AC membuat kelopak matanya semakin sulit dipertahankan.
Tanpa sadar...
Nara tertidur.
---
Damar sedang fokus mengemudi ketika sesuatu menarik perhatiannya.
Ia melirik ke samping.
Nara tertidur.
Kepalanya bersandar ke kaca jendela.
Rambut yang biasanya rapi kini sedikit berantakan.
Wajahnya terlihat jauh lebih muda dibanding saat berdebat di kantor.
Damar kembali mengalihkan pandangan ke jalan.
Namun beberapa menit kemudian...
Kepala Nara mulai bergeser.
Mobil melewati jalan berlubang.
Dan tanpa sengaja...
Kepala wanita itu jatuh ke bahunya.
Damar langsung menegang.
Tangannya yang memegang kemudi sedikit mengeras.
Untuk beberapa detik ia tidak bergerak.
Nara tetap tertidur.
Napasnya teratur.
Sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi.
Damar menghela napas pelan.
Kemudian membiarkan posisi itu tetap seperti adanya.
---
"Nara."
Tidak ada jawaban.
"Nara."
Masih tidak ada respons.
Damar akhirnya memanggil sekali lagi.
"Nara."
Kali ini wanita itu tersentak.
Matanya terbuka lebar.
Ia tampak kebingungan selama beberapa detik.
Lalu menyadari dirinya berada di dalam mobil.
Dan yang lebih buruk...
Kepalanya bersandar di bahu Damar.
Nara langsung menjauh seperti tersengat listrik.
"Maaf!"
Wajahnya memerah.
Sangat merah.
"Saya tidak sengaja."
Damar mematikan mesin mobil.
"Kita sudah sampai."
Nara ingin menghilang saat itu juga.
Kenapa ia bisa tertidur?
Kenapa harus bersandar ke bahu pria itu?
Dan yang paling penting...
Kenapa Damar tidak membangunkannya lebih cepat?
"Terima kasih sudah mengantar."
ucapnya cepat.
Lalu buru-buru keluar dari mobil.
Namun sebelum pergi, ia sempat menoleh.
"Selamat malam."
Damar mengangguk singkat.
"Besok jangan terlambat."
Seketika rasa malu Nara berubah menjadi kesal.
"Tentu saja."
Ia membanting pintu sedikit lebih keras dari seharusnya.
Damar memperhatikannya berjalan menuju rumah kecil di ujung gang.
Baru setelah memastikan Nara masuk dengan aman, ia kembali menjalankan mobilnya.
---
Pagi berikutnya.
Nara bangun dengan perasaan campur aduk.
Adegan di mobil semalam terus teringat.
Bahkan saat sarapan.
Bahkan saat berangkat kerja.
Bahkan saat masuk ke lift.
"Kenapa aku terus memikirkannya?"
gumamnya.
Pintu lift terbuka.
Dan orang pertama yang dilihatnya adalah Damar.
Pria itu sedang berdiri di depan ruang proyek.
Jantung Nara langsung berdetak aneh.
Ia segera mengalihkan pandangan.
Berusaha terlihat normal.
Sayangnya...
Siska langsung muncul.
"Kalian pulang bersama semalam?"
Nara hampir tersedak.
"Hah?"
"Aku lihat mobil Damar keluar setelah tengah malam."
"Siska."
"Apa?"
"Pelankan suaramu."
Siska tertawa.
"Mukamu merah."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
Siska semakin tertawa.
Nara benar-benar ingin mengunci mulut sahabat barunya itu.
---
Hari itu pekerjaan berjalan cukup lancar.
Mereka mulai menyusun strategi pemasaran baru.
Tim bekerja dalam kelompok kecil.
Dan seperti yang sudah diperkirakan...
Nara dipasangkan dengan Damar.
Takdir benar-benar tidak berpihak padanya.
"Kita akan fokus pada target usia dua puluh sampai tiga puluh tahun."
kata Damar.
Nara mengangguk.
"Kampanye digital harus diperkuat."
"Setuju."
"Selain itu kita perlu pendekatan media sosial."
"Setuju lagi."
Damar mengangkat alis.
"Anda hanya akan mengatakan setuju?"
Nara langsung kesal.
"Saya mencoba bekerja sama."
"Berikan pendapat."
Nara menghela napas.
Lalu mulai menjelaskan beberapa ide yang ia miliki.
Awalnya Damar hanya mendengarkan.
Namun semakin lama ekspresinya berubah.
Ia tampak benar-benar memperhatikan.
Ketika Nara selesai berbicara, pria itu terdiam beberapa saat.
"Itu ide yang bagus."
Nara membeku.
Apa?
Damar baru saja memuji idenya?
Ini pasti hari kiamat.
"Kenapa melihat saya seperti itu?"
tanya Damar.
"Tidak ada."
"Saya hanya mengatakan ide Anda bagus."
"Itu sebabnya saya terkejut."
Untuk pertama kalinya Damar terlihat menahan senyum.
Meski hanya sesaat.
Namun Nara berhasil melihatnya.
Dan anehnya...
Pemandangan itu tidak buruk.
---
Menjelang siang.
Sebuah keributan kecil terjadi di kantor.
Seorang wanita datang membawa buket bunga besar.
Banyak karyawan langsung memperhatikan.
"Untuk siapa?"
"Apa ada yang ulang tahun?"
Bisikan terdengar di mana-mana.
Namun beberapa saat kemudian semua orang terdiam.
Karena wanita itu berjalan lurus menuju Damar.
"Damar."
Wanita yang sama seperti di restoran beberapa malam lalu.
Nara langsung mengenalinya.
Wanita itu tersenyum manis.
"Aku membawakan makan siang."
Damar terlihat tidak antusias.
"Kamu tidak perlu melakukan ini."
"Aku mau."
Suasana kantor mendadak berubah.
Semua orang mulai menonton diam-diam.
Termasuk Nara.
Entah kenapa.
Wanita itu melirik ke arah Nara.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang terasa seperti tantangan.
"Aku Bianca."
katanya sambil mengulurkan tangan.
"Nara."
Mereka berjabat tangan.
Namun Nara bisa merasakan sesuatu yang aneh.
Instingnya mengatakan satu hal.
Bianca tidak menyukainya.
Padahal mereka baru bertemu.
"Saya sering mendengar tentang Damar."
ucap Bianca.
"Begitu?"
"Iya."
Bianca tersenyum lagi.
"Damar biasanya tidak pernah mengantar siapa pun pulang."
Jantung Nara langsung berhenti berdetak selama satu detik.
Apa?
Bagaimana wanita itu tahu?
Dan kenapa mengatakannya di depan semua orang?
Tatapan para karyawan langsung berubah.
Siska bahkan hampir menjatuhkan pulpen.
Sementara Nara ingin menghilang dari kantor.
"Itu hanya kebetulan."
jawab Nara cepat.
Bianca mengangguk pelan.
"Tentu."
Namun nada suaranya mengatakan hal berbeda.
---
Setelah Bianca pergi, suasana kantor tetap terasa aneh.
Beberapa rekan kerja mulai berbisik.
Nara pura-pura tidak mendengar.
Padahal ia tahu mereka sedang membicarakannya.
Sore harinya, saat sebagian besar orang sudah pulang, Nara memilih tetap tinggal untuk menyelesaikan laporan.
Ia tidak ingin memikirkan Bianca.
Atau ucapan wanita itu.
Namun tiba-tiba suara Damar terdengar.
"Anda terganggu."
Nara mengangkat kepala.
"Hah?"
"Sejak siang."
Nara terdiam.
Pria itu ternyata memperhatikan.
"Bukan urusan Anda."
jawabnya pelan.
Damar menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata,
"Bianca memang seperti itu."
Nara mengernyit.
"Maksudnya?"
"Dia sering mengatakan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya."
"Dia pacar Anda?"
"Tidak."
"Mantan?"
"Bukan."
"Lalu kenapa dia selalu muncul?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dan begitu mengucapkannya, Nara langsung menyesal.
Kenapa ia terdengar seperti orang yang cemburu?
Damar menatapnya cukup lama.
Sampai akhirnya berkata,
"Karena keluarganya mengenal keluarga saya."
Nara mengangguk pelan.
Jawaban sederhana.
Namun entah kenapa membuat pikirannya semakin penasaran.
Ada banyak hal tentang Damar yang belum ia ketahui.
Dan semakin lama bekerja bersama pria itu...
Semakin ia sadar bahwa sosok Damar Wijaya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Sementara itu, di sisi lain kantor, seseorang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Bianca.
Tatapannya tertuju pada Nara.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun mengenal Damar...
Ia melihat seorang wanita yang berpotensi mengubah segalanya.
Sesuatu yang tidak pernah ingin ia biarkan terjadi.
Bersambung...