NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 — Penguasa Suci Yao Guang

Malam itu, di sebuah desa kecil yang tidak memiliki nama, api masih menyala. Bukan api kehidupan, melainkan api penghancuran—merambat dari rumah ke rumah, melahap kayu, jerami, dan daging. Jeritan telah lama berhenti, berganti dengan kesunyian yang lebih menakutkan dari teriakan sekalipun.

Di tengah reruntuhan, di antara abu dan darah yang mulai mengering, sesosok jubah putih berdiri tanpa suara. Jubah itu bersih, terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Orangnya adalah Li Daoqing, penguasa Tanah Suci Yaoguang. Ia tidak datang untuk menyelamatkan, tidak pula untuk membalas dendam. Ia hanya lewat—atau setidaknya itulah yang ingin ia yakini pada dirinya sendiri.

Namun langkahnya terhenti.

Ada sesuatu di tumpukan kayu yang hangus. Sebuah gerakan kecil, hampir tak terlihat, samar seperti denyut nadi yang sekarat. Li Daoqing mengerutkan alisnya. Bukan karena ia peduli, melainkan karena instingnya—insting seorang kultivator puncak—berbisik bahwa ada yang tidak beres.

Ia melangkah mendekat. Dengan satu lambaian tangan, kayu-kayu itu terangkat tanpa suara, memperlihatkan apa yang tersembunyi di bawahnya.

Seorang bayi.

Bayi itu telentang di atas tanah gersang, tubuhnya kecil, kulitnya sedikit kotor, napasnya lemah namun teratur. Li Daoqing menatapnya dingin. Bayi yatim di desa hancur bukanlah pemandangan langka. Di dunia seperti ini, itu sudah terlalu biasa.

Dia hampir berbalik pergi.

Tapi bayi itu membuka mata.

Dan dalam sekejap, Li Daoqing merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam ribuan tahun hidupnya—kehampaan. Bukan kehampaan biasa, bukan kekosongan pikiran, melainkan jurang tanpa dasar yang menatapnya dari balik dua bola mata kecil itu. Dua pupil, hitam pekat, berlapis seperti cermin yang saling berhadapan hingga tak terhingga. Seolah di dalam tubuh mungil itu tersimpan sebuah alam semesta yang hampa, sunyi, dan tidak terjangkau oleh hukum dunia mana pun.

Li Daoqing tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam, matanya menyipit, mencoba membaca apa yang ia lihat. Tapi ia tidak bisa. Pengetahuannya tentang tubuh spesial, tentang warisan darah, tentang fenomena langit—semuanya tidak cukup untuk menjelaskan bayi ini.

Ia mengulurkan tangan, perlahan, bukan untuk menyentuh, tetapi untuk merasakan. Energi spiritualnya mengalir ke arah bayi itu, lembut, seperti tetesan air yang menyentuh permukaan danau.

Tapi tidak ada pantulan. Tidak ada reaksi. Energinya lenyap begitu saja, seperti setetes air yang jatuh ke dalam samudra tanpa dasar.

Untuk pertama kalinya, Li Daoqing ragu.

Namun sebelum ia sempat menarik tangannya, sebuah cahaya muncul dari punggung bayi itu. Samar, lembut, nyaris tidak terlihat—tapi cukup jelas bagi mata seorang penguasa. Cahaya itu membentuk siluet, bayangan samar dari sesuatu yang terlalu tinggi untuk dimengerti sekilas. Sebuah sosok, berdiri dalam keheningan absolut, tidak bergerak, tidak bernapas, namun kehadirannya begitu nyata hingga Li Daoqing merasakan bulu kuduknya meremang.

Itu bukan ilusi. Itu bukan teknik spiritual. Itu adalah... sesuatu yang tersisa dari keabadian.

Cahaya itu perlahan memudar, dan sosok itu menghilang seperti tidak pernah ada. Bayi itu kembali menatap dengan matanya yang kosong, tanpa tangisan, tanpa gerakan, hanya menunggu.

Li Daoqing terdiam cukup lama.

Di dunia kultivasi, sudah menjadi hukum tidak tertulis bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan. Dan pertemuan ini—di desa hancur, di malam tanpa bulan, di hadapan bayi dengan mata kehampaan dan bayangan keabadian di punggungnya—terlalu aneh untuk diabaikan.

"Apa pun dirimu," bisiknya pelan, "kau bukan anak biasa."

Ia membungkuk, mengangkat bayi itu dengan hati-hati. Tubuh kecil itu ringan di tangannya, hangat, dan anehnya... terasa akrab. Seolah ia telah menunggu kedatangan bayi ini tanpa menyadarinya.

Langit malam tetap gelap. Bintang-bintang bersinar dingin. Namun di hati Li Daoqing, sebuah keputusan telah bulat.

Ia berbalik, melangkah pergi dari desa yang mati itu.

Di tangannya, bayi itu diam. Tidak menangis, tidak meronta. Matanya yang seperti dua kehampaan itu kini tertutup, seolah ia tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai.

"Li Yao," kata Li Daoqing ketika langit mulai memutih di ufuk timur. "Kau akan kuberi nama itu."

Ia tidak tahu persis mengapa nama itu yang keluar. Mungkin karena spontanitas. Mungkin karena takdir. Namun satu hal yang ia yakini: anak ini—dengan segala keanehannya—akan menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat dunia ini sebelumnya.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!