Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13 Pulang
Maxime datang ke kantor Aurora membawa buket bunga dan sekotak coklat impor kesukaan Rora. ia meminta bantuan Vera untuk memberikan buket dan coklat itu pada Aurora.
"Nih dari Maxime, kurang baik apa suami mu itu Rora? kalau kau tidak mau dengannya biar aku rebut dia!" gurau Vera.
Aurora meraih buket bunga pemberian Maxime dan sekotak coklat kesukaannya. ia teringat bagaimana Maxime sudah berusaha meminta maaf padanya. dulu sewaktu ia menjalin hubungan dengan Andre kalau ada masalah selalu Aurora yang berusaha meminta maaf. membelikan barang mewah sebagai permintaan maafnya pada Andre. kini ia di ratukan saat bersama Maxime. Max selalu meminta maaf lebih dulu ia tidak gengsi melakukannya.
Aurora segera berjalan keluar ia mencari Maxime yang mungkin masih di lobi kantor. Vera tersenyum senang melihat Aurora sudah sadar dari amarahnya.
"Rora...Rora pria sebaik dan setampan Maxime mau di sia-siakan! giliran sama si bodoh Andre saja dia malah kecintaan sendiri" kata Vera kesal mengingat perjuangan Rora menjadi Andre dulu.
Benar saja Maxime masih di lobi ia baru akan beranjak pergi. tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Max jelas tahu siapa yang memeluknya. ia berbalik dan tersenyum melihat Rora.
"Maaf" kata Maxime sembari merapikan helaian rambut Aurora.
"Aku juga minta maaf, aku yang salah" kata Rora menyesal.
Maxime merengkuh Aurora ke dalam pelukannya. ia mengusap lembut kepala Aurora seperti biasanya.
"Nanti pulang aku jemput ya? kita pulang ke rumah kita"
Aurora mengangguk kembali memeluk Maxime. ia juga tidak betah berlama-lama marahan dengan Maxime. entah kenapa sejak pernikahan itu Rora merasa ia jadi memiliki perasaan aneh pada Maxime. perasaan yang sulit di jelaskan. Aurora merasa trauma di khianati dan trauma di tinggalkan. ia takut jika Maxime meninggalkannya suatu hari nanti sama seperti Andre yang mencampakkannya di hari pernikahan mereka.
***
Maxime kembali ke kantor meng handel semua meeting. hari ini ia sangat sibuk sekali banyak pekerjaan yang harus ia urus.
"Wisnu selesaikan pekerjaan saya karena saya mau menjemput Aurora pulang ke rumah"
"Siap bos, oh ya di mobil ada anggur tua pemberian kolega dari Italia mungkin bisa menghangatkan suasana bos" kata Wisnu.
Maxime langsung melirik ke arah Wisnu.
"Mumpung bos dan mba Aurora baikan mungkin bisa menikmati pesta barbeque di halaman sambil minum segelas anggur?"
"Ide bagus" kata Maxime sambil menepuk bahu Wisnu.
Wisnu menghela napas lega karena bosnya tidak marah padanya. akhir-akhir ini mood Maxime sedang buruk. hampir setiap hari ia marah di meeting.
Malamnya Maxime dan Aurora pulang ke rumah mereka. Max benar-benar melakukan ide yang Wisnu berikan yaitu menyiapkan pesta barbeque di halaman.
"Max kau siapkan sendiri semua ini?" tanya Aurora takjub dengan dekorasi halaman yang nampak sedikit berlebihan.
"Bukan aku tapi Wisnu"
Aurora tertawa mendengar jawaban Maxime. ia sudah menduga Maxime tidak akan punya waktu untuk melakukan semua hal gila itu.
"Kau senang?" tanya Maxime memandang Aurora yang cantik.
Aurora mengangguk lalu mengecup pipi Maxime sebagai ucapan terimakasih.
"Aku sangat senang" kata Rora.
Keduanya menikmati malam di bawah langit bertabur bintang. Maxime menyiapkan dua gelas anggur tua pemberian koleganya. sementara Aurora sibuk menyiapkan barbeque panggang.
"Hmmm enak" gumam Maxime saat menyesap anggur di gelasnya.
"Oh ya? coba" Aurora ikut mencoba minuman itu. rasanya memang berbeda dari anggur kebanyakan yang biasa ia minum saat jamuan makan malam.
"Coba ini dagingnya juga enak" Aurora menyuapkan potongan kecil daging panggang ke mulut Maxime.
"Hmmm enak sekali" gumam Maxime sambil mengunyah.
Malam semakin larut suasana juga semakin romantis. Maxime menatap lekat wajah Aurora di hadapannya. ia menyentuh lembut wajah Aurora lalu mendekatkan wajahnya. ujung hidung mancungnya menyentuh kulit pipi Aurora yang terasa lembut. dalam hitungan detik bibir Maxime menyentuh lembut bibir Aurora.
"Max?! hei?" Aurora mencubit lengan Maxime yang sedang melamun.
Maxime tertawa rupanya ia hanya sedang membayangkan kejadian romantis itu. ia tidak benar-benar mencium bibir Aurora seperti di lamunannya.
Sekarang aku belum beruntung Aurora, tapi suatu hari nanti hatimu akan menjadi milikku dan lamunanku tadi akan menjadi kenyataan.