NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

⚠️ [Mature] !!!!!!!

Malam itu, di dalam kamar apartemen yang hanya diterangi lampu temaram, Luca duduk di pinggir ranjang sambil memeluk ponselnya yang masih terasa panas. Isak tangisnya tadi saat menelepon Mama terdengar begitu nyata, sehingga sang Mama tanpa ragu mengizinkannya menginap untuk merawat Brant yang bohong Luca, sedang 'Demam tinggi dan mengigau'.

​Brant memang sedang sakit, tapi bukan badannya yang panas—melainkan jiwanya yang terbakar amarah dan alkohol.

​Brant merebahkan kepalanya di pangkuan Luca, tangannya memeluk perut Luca dengan sangat erat, seolah jika pegangan itu melonggar, dia akan langsung terseret ke benua lain.

​"Gue nggak punya pilihan, Ca," bisik Brant. Suaranya serak, pecah oleh sisa alkohol dan rasa sesak. "Dari SMA, Papa udah beli tiket untuk masa depan gue. Gue nggak pernah ditanya. Bagi dia, gue bukan anaknya... gue cuma aset, pewaris tunggal yang harus patuh."

​Luca terdiam, jemarinya mengusap rambut Brant yang berantakan. Air matanya mulai jatuh satu demi satu mengenai dahi Brant.

​"Gue pengen jadi atlet basket, Ca. Gue suka bau lapangan, gue suka keringat saat kompetisi... tapi bagi Papa, itu cuma sampah. Katanya, takdir gue adalah meja kantor di London," Brant tertawa pahit, suaranya teredam di perut Luca. "Makanya dulu gue brengsek. Gue nggak mau punya perasaan sama siapa pun karena gue tahu akhirnya bakal kayak gini. Gue takut jatuh cinta, Ca... dan sialnya, gue jatuh sedalam-dalamnya sama lo."

​Brant mengangkat kepalanya, matanya yang merah menatap Luca dengan tatapan yang menghancurkan hati. "Kenapa harus London? Kenapa dia nggak bisa biarin gue hidup di sini?"

​Isak tangis Brant pecah. Lelaki yang selalu terlihat dingin dan angkuh itu kini hancur berkeping-keping di pelukan Luca. Luca tak mampu berkata-kata; kerongkongannya terasa tercekik oleh kenyataan bahwa mereka sedang berlomba dengan waktu.

​Suasana berubah pekat. Rasa sedih itu perlahan bermutasi menjadi desakan kebutuhan yang primitif. Brant menyamai posisinya dengan Luca, menekan tubuh kecil itu ke kasur. Mereka saling menatap dalam napas yang memburu.

​Brant mencium Luca. Awalnya lembut, seolah meminta izin, namun perlahan berubah menjadi ciuman yang rakus dan penuh keputusasaan. Napas mereka saling beradu, panas dan berbau alkohol. Luca mencoba mengimbangi, meski kekuatan Brant yang sedang dalam pengaruh mabuk terasa jauh lebih besar dan mendominasi.

Brant mengangkat kepalanya, menatap Luca dengan tatapan yang begitu intens, seolah sedang mencoba merekam setiap inci wajah Luca ke dalam ingatannya selamanya. Di dalam kamar yang hening itu, hanya ada suara napas mereka yang saling memburu.

​"Ca... gue mau lo tahu. Apa pun yang Papa rencanain, apa pun yang dunia coba lakuin buat misahin kita... gue cuma mau lo. Gue mau lo jadi milik gue seutuhnya," bisik Brant dengan suara rendah yang menggetarkan udara.

Tak ada lagi kata-kata, yang ada hanyalah bahasa tubuh yang menuntut pembuktian.

​Brant kembali mencium Luca denga ciuman yang dalam, rakus, dan penuh rasa lapar akan kehadiran satu sama lain. Luca membalasnya dengan keberanian yang sama, tangannya melingkar erat di leher Brant, menarik pria itu semakin mendekat seolah ingin meleburkan jarak di antara mereka. Luca ingin membuktikan bahwa cintanya bukan sekadar ucapan, melainkan pengabdian yang siap dia serahkan sepenuhnya pada Brant.

​Sentuhan Brant mulai bergerak liar, menanggalkan atasan Luca dengan terburu-buru, menunjukkan betapa besarnya gejolak nafsu yang selama ini dia pendam di balik sikap dinginnya. Setiap sentuhan kulit yang bertemu terasa seperti sengatan listrik. Brant menciumi setiap inci bahu dan leher Luca, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas, sementara Luca hanya bisa mendesah pasrah, menyerahkan seluruh dirinya ke dalam kendali pria yang sangat dia cintai itu.

​Namun, di tengah ritme jantung yang berpacu gila, Luca merasakan napas Brant yang mulai berat karena pengaruh alkohol yang masih tersisa. Luca menahan tangan Brant yang hendak bergerak lebih jauh ke bawah.

​"Kak... Kak Brant, lihat aku," bisik Luca, matanya yang berair menatap tepat ke manik mata Brant yang gelap.

​"Aku siap. Aku mau jadi milik Kakak seutuhnya malam ini juga sebagai bukti kalau aku percaya sama Kakak..." Luca menjeda kalimatnya, mengusap pipi Brant dengan lembut. "...tapi tolong, jangan dalam keadaan mabuk seperti ini. Aku ingin kita melakukannya saat Kakak sadar sepenuhnya. Aku ingin Kakak sadar saat memilikiku, supaya Kakak ingat betapa berartinya momen ini buat kita."

​Brant tertegun, menatap Luca dengan tatapan yang perlahan melunak. Kata-kata itu menghantam kesadarannya lebih keras daripada alkohol mana pun. Dia melihat ketulusan yang luar biasa di mata Luca—sebuah penyerahan diri yang murni, bukan karena nafsu sesaat, tapi karena cinta yang dewasa.

​Brant hanya bisa terdiam, rasa haru dan bersalah bercampur menjadi satu. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Luca, menghirup aroma tubuh yang menjadi candunya itu, sebelum akhirnya tubuhnya yang lelah menyerah pada kantuk yang berat.

​Malam itu berakhir dengan Brant yang tertidur pulas dalam pelukan Luca. Luca perlahan melepaskan diri, menyelimuti Brant, lalu berjalan keluar menuju sofa ruang tengah. Di sana, Luca meringkuk dalam keheningan, meneteskan air mata bukan karena sedih, tapi karena betapa beratnya rasa cinta yang sedang dia perjuangkan untuk pria di kamar itu.

Pagi itu, sinar matahari menerobos celah gorden, menyinari Brant yang terbangun dengan kepala yang masih sedikit berdenyut. Aroma makanan tercium hingga ke dalam kamar. Di depan kompor, Luca tampak sibuk di depan panci.

​Brant mengerutkan kening, seketika teringat "trauma" masakan Luca yang selalu berakhir bencana. "Ca... lo beneran masak? Gue nggak mau sarapan di UGD ya," suara serak khas bangun tidur Brant memecah keheningan.

​Luca menoleh, nyengir tanpa dosa. "Enak aja! Ini aku lagi masak air buat mandi. Itu aku beli dari Mas bubur di depan. Terus ada tukang kolak lewat, aku borong juga. Eh, pas ke minimarket ada roti cokelat diskon, mujur banget kan aku?"

​Brant menghela napas, duduk di tepi sofa. "Kebanyakan, Ca. Lo buang-buang duit cuma buat sarapan satu meja gini."

​"Nggak buang duit aku, kok!" jawab Luca dengan wajah polos yang minta dijitak. "Aku ambil dari saku celana Kakak semalam pas Kakak tidur. Jadi dari Kakak, buat Kakak, dan buat aku juga ."

​Brant hanya bisa mengurut dada. Ternyata inisiatifnya pakai modal "subsidi paksa". Namun, pemandangan Luca yang ceria pagi itu perlahan mendinginkan kepala Brant yang panas sejak semalam.

​"Udah, buruan dihabisin. Habis itu lo mandi," ucap Brant sambil menyandarkan punggungnya, memperhatikan Luca yang asyik mengunyah roti cokelatnya.

​Luca mengangguk semangat. "Iya, tapi aku mau mandi air hangat! Air di sini kayak es batu tahu, Kak."

Tepat ​Setelah menyelesaikan sarapan singkat yang penuh tawa kecil itu, rebusan air dalam panci besar Luca sudah mendidih. Ia dengan hati-hati membawanya ke dalam kamar mandi.

​Luca menyiapkan air panas di loyang besar karena dia tidak kuat dengan dinginnya air shower di apartemen Brant. Di dalam kamar mandi yang mulai beruap, Luca menanggalkan pakaiannya satu per satu. Baru dua kali siraman air hangat membasahi kulitnya, tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.

​"AAAKH! KAK BRANT!" Luca menjerit, wajahnya langsung merah padam.

​Brant tidak menjawab. Dia justru menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuh mereka yang kini ternyata, sudah sama-sama polos. Luca meronta karena dingin dan malu, namun Brant justru mempererat pelukannya, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Luca berdiri.

​"Gue memang mabuk semalam, Ca. Tapi gue ingat setiap kata yang lo ucapin... termasuk janji lo semalam," bisik Brant rendah tepat di telinga Luca.

​Luca mematung. Rasa malu dan takut bercampur menjadi satu, membuatnya tak berani menatap mata tajam Brant. Di bawah guyuran air, Brant mulai menciumi tengkuk Luca, memberikan sensasi panas yang kontras dengan dinginnya air shower.

​Brant menggendong tubuh mungil Luca menuju tempat tidur dan membaringkannya.

Di atas sprei putih yang kini tampak berantakan, ia memerangkap tubuh Luca di bawah kungkungannya. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden menciptakan bayangan estetik di atas kulit mereka yang bersentuhan. Brant tidak terburu-buru; dia ingin menyesap setiap detik keberadaan Luca.

​Brant mulai menciumi Luca dengan kelembutan yang memabukkan—mulai dari dahi, turun ke kelopak mata, hingga ke ujung hidung. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan lagi ciuman kasar seperti saat mabuk semalam, melainkan lumatan yang penuh perasaan, seolah Brant sedang menyalurkan seluruh rasa syukurnya karena Luca masih di sini.

​Tangan besar Brant mulai menjelajah. Jemarinya yang kasar namun hangat bergerak perlahan, menelusuri lekuk pinggang Luca hingga ke tulang selangka, memberikan sentuhan posesif yang membuat kulit Luca meremang. Setiap kali ujung jari Brant menyentuh titik sensitifnya, sebuah desahan kecil lolos dari bibir Luca, memecah kesunyian kamar yang hanya diisi oleh suara detak jantung yang berpacu gila.

​"hhh...Kak Brant..." gumam Luca lirih, suaranya serak dan penuh keraguan sekaligus keinginan.

​Brant berhenti sejenak di depan wajah Luca, membiarkan napas panas mereka menyatu.

"Gue di sini, Ca. Look at me," bisiknya rendah.

​Saat Brant mulai melakukan gerakan untuk menyatukan tubuh mereka secara perlahan,

realitas fisik menghantam. Luca tersentak hebat. Tubuhnya melengkung, matanya terbelalak basah saat rasa sakit yang tajam dan asing menembus kesadarannya untuk pertama kali.

"Akhh.....," teriak keras Luca. Air mata mulai mengalir di sudut matanya.

​"Sshh... hey, lihat gue, Sayang," bisik Brant dengan nada paling lembut yang pernah Luca dengar. Brant tidak melanjutkan gerakannya; dia membiarkan posisinya diam, memberikan waktu bagi Luca untuk bernapas.

​Brant mengecupi air mata yang jatuh di pelipis Luca dengan penuh kasih. "Tatap mata gue, Ca. Jangan dipejamin. Gue mau lo lihat kalau ini bukan cuma soal nafsu. Ini cara gue bilang kalau gue sayang sama lo... kalau gue mencintai lo lebih dari apa pun.

" Sakit, kak..." isak Luca pelan, suaranya hancur.

" Gue tau. Gue di sini. Everything’s gonna be okay, I promise." Brant membisikkan kata-kata penenang tepat di telinga Luca, sementara jemarinya dengan lembut mengusap punggung Luca, mencoba mengalihkan rasa sakit itu dengan kehangatan sentuhannya.

​Luca perlahan membuka matanya yang basah, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Brant yang kini dipenuhi oleh kekaguman dan perlindungan. Di bawah bimbingan kata-kata lembut Brant, Luca mulai mencoba merilekskan otot-ototnya.

​Kasur di bawah mereka mulai berdecit pelan saat Brant kembali bergerak dengan ritme yang sangat lambat dan hati-hati. Setiap inci pergerakan terasa begitu nyata dan intens. Suara napas yang berat beradu dengan rintihan kecil Luca yang kini mulai berubah nada—dari rasa sakit menjadi sebuah kekaguman atas sensasi luar biasa yang mulai menjalar ke seluruh sarafnya.

​Brant menatap wajah Luca dengan tatapan yang nyaris memuja. Di matanya, Luca saat ini adalah hal paling indah yang pernah ia miliki. Keringat mulai membasahi dahi mereka, menyatu dalam sebuah tarian fisik yang penuh emosi. Luca merangkul leher Brant, menarik pria itu semakin dalam, menyerahkan seluruh hidup dan jiwanya dalam setiap hentakan yang kini terasa begitu hangat dan mengikat.

​Pagi itu, di dalam apartemen yang sunyi, mereka tidak hanya berbagi tubuh. Mereka berbagi janji yang tak terucap bahwa apa pun yang terjadi dengan masa depan nanti, jiwa mereka sudah terikat di tempat ini, di saat ini.

Setelah kejadian pagi itu, Luca benar-benar tumbang. Tubuhnya yang mungil ternyata tak cukup kuat menanggung "badai" yang diberikan Brant. Siang itu Luca pulang ke rumah dengan alasan dosen tidak masuk, namun saat malam tiba, badannya panas tinggi. Ibunya panik, mengira Luca tertular virus dari Brant yang katanya sakit saat di apartemen kemarin.

​Tiga hari Luca izin tidak masuk kampus. Tiga hari itu pula Brant jadi "penghuni tetap" di rumah Luca. Brant benar-benar bertanggung jawab, meskipun dalam hati dia merasa bego sekaligus bersalah. Dia tahu persis apa penyebab Luca demam dan... kesulitan berjalan.

​"Kak Brant... mau minum susu cokelat, tapi harus Kakak yang aduk," rengek Luca dari balik selimut dengan suara serak.

​Lea yang sedang melipat baju di pojok kamar hanya bisa memutar bola mata. "Manja lo keterlaluan, Ca. Demam doang kayak mau pindah alam."

​Brant hanya diam, wajahnya datar tapi tangannya cekatan mengaduk susu. Dia bahkan rela menyuapi Luca tanpa protes sedikit pun, membuat Lea makin mumet melihat kakaknya yang biasanya lincah kini berubah jadi "Tuan Putri" yang ringkih.

​Puncaknya adalah saat ibu Luca masuk ke kamar dengan wajah serius. "Ini nggak bener. Sudah tiga hari demamnya naik turun. Ayo, kita ke dokter sekarang. Mama sudah siapin mobil."

​Seketika, Luca dan Brant membeku.

​"NGGAK MAU! Nggak mau dokter, Ma!" teriak Luca panik, hampir saja ia meloncat dari tempat tidur kalau saja pinggangnya tidak terasa remuk.

​"Lho, kenapa? Nanti kalau ada infeksi atau apa gimana?" desak Mamanya.

​Brant berkeringat dingin. Infeksi? Pikirannya langsung melayang ke mana-mana. Kalau dokter memeriksa Luca dan melihat tanda "nyamuk" atau luka akibat perbuatannya, habis sudah riwayatnya. Brant tiba-tiba merasa seperti sedang tertular "lemot"-nya Luca. Dia bingung harus membela bagaimana.

​"Brant, Tante minta tolong ya. Tolong angkut Luca ke mobil, bawa ke dokter. Kamu yang tanggung jawab antar dia sampai depan ruang periksa," perintah Mama Luca dengan nada tegas.

​DEG. Kata "tanggung jawab" itu terdengar seperti vonis mati di telinga Brant. Dia merasa seperti seorang suami yang disuruh mengantar istri hamil ke bidan, tapi dalam versi yang jauh lebih menegangkan.

​"I-iya, Tante... tapi anu... anu, Tante," Brant terbata-bata, otaknya macet total. "Luca bilang tadi dia sudah mendingan. Mungkin cuma butuh... tidur lagi. Iya, tidur lagi."

​"Iya, Ma! Aku cuma butuh Kak Brant di sini! Eh, maksudnya butuh istirahat!" sahut Luca cepat sambil menarik tangan Brant agar duduk di sampingnya.

​Mama Luca menatap mereka berdua dengan tatapan menyelidik. "Kalian berdua ini aneh. Brant, kamu jangan ketularan lemotnya Luca ya. Ya sudah, kalau sampe sore belum turun panasnya, tidak ada alasan lagi. Mama sendiri yang seret Luca ke RS."

​Begitu ibu Luca keluar dan pintu tertutup, Brant langsung merosot di kursi, membuang napas panjang yang sedari tadi ia tahan.

​"Ca... kalau kita sampai ke dokter, gue beneran bakal dipenjara kayaknya," gumam Brant sambil mengusap wajahnya yang pucat.

​Luca hanya bisa nyengir sambil meringkuk di bawah selimut, menyadari bahwa "nyamuk besar" yang menggigitnya kali ini benar-benar bikin heboh seisi rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!