NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:24.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Topeng Pertama Di Adiwinata Corporation

Langit Jakarta siang itu tertutup mendung tipis.

Namun suasana di gedung utama Adiwinata Corporation jauh lebih berat dibanding cuaca di luar.

Beberapa hari terakhir ini tekanan terus meningkat. Perlahan dan seakan mengulur waktu untuk menjatuhkan vonis dendam.

Namun sudah cukup untuk membuat ritme perusahaan mulai berubah.

Laporan kian terlambat. Distribusi mulai terganggu. Sistem beberapa kali mengalami masalah kecil yang sulit dijelaskan. Tidak cukup besar untuk menghancurkan. Namun cukup untuk membuat semua orang merasa gelisah. Para karyawan pun mulai ketir-ketir dengan keadaan ini.

Di ruang rapat utama, beberapa eksekutif tampak berbicara pelan satu sama lain. Wajah mereka terlihat tegang.

“Kalau ini terus berlanjut, investor mulai bertanya.”

"Otomatis mereka akan menarik diri dari perusahaan. Kita pasti akan runtuh."

“Jangan khawatir, kita masih bisa menahan untuk sementara waktu.”

Kalimat terakhir itu membuat ruangan kembali sunyi. Pintu rapat pun terbuka. Semua kepala langsung menoleh ke pintu. Kaelric Vorn masuk dengan langkah tenang.

Di belakangnya, Veliora mengikuti sambil membawa beberapa file.

Tatapan beberapa orang sempat tertahan pada wanita itu. Terlihat aneh beberapa hari ini. Masih belum terbiasa melihat seseorang berada begitu dekat dengan Kaelric.

Namun Kaelric tidak memedulikan itu. Ia langsung duduk di kursi utama.

Oke, rapat bisa dimulai.”

Nada suaranya datar.

Rapat segera berjalan. Namun baru beberapa menit berlalu, pintu kembali terbuka.

Seorang pria masuk dengan senyum tenang di wajahnya. Dan suasana ruangan langsung berubah tipis. Suara-suara lirih mulai terdengar di ruangan itu.

Ya, orang itu adalah Eryndor Hale.

Veliora memperhatikan pria itu diam-diam. Hmmm.. Mengapa Uncle Eryndor datang kesini?. Apakah dia mau menanamkan saham di sini?. Veliora hanya menggumam.

Penampilan Eryndor Hale nampak rapi. Elegan.

Tatapannya tenang, dan senyumnya terlihat begitu meyakinkan.

“Maaf saya terlambat, saudara-saudara sekalian.”

Suara Eryndor terdengar ringan, namun Kaelric hanya menatap datar.

“Silakan duduk, Tuan Eryndor.”

Eryndor tersenyum tipis lalu mengambil tempat di sisi meja rapat. Beberapa menit kemudian, layar besar mulai menampilkan data distribusi yang bermasalah.

“Gangguan ini tidak muncul secara alami.”

Salah satu direktur bicara hati-hati.

“Kami menduga ada permainan dari luar.”

Seseorang berbicara lagi.

Suasana hening kembali, semua dengan arus pikiran masing-masing.  Belum ada yang berani berbicara untuk sekedar mengeluarkan pendapat.

Eryndor menyandarkan tubuhnya santai. Menatap satu persatu orang yang berada di ruangan rapat itu.

“Kalau memang begitu… mungkin aku bisa membantu perusahaan kalian.”

Suaranya terdengar tenang. Meyakinkan semua orang yang hadir disitu. Beberapa orang langsung menoleh kearahnya.

Eryndor melanjutkan pembicaraannya dengan ekspresi profesional.

“Aku punya beberapa koneksi distribusi di luar negeri.”

Tatapannya bergerak pelan ke layar.

“Setidaknya untuk sementara, jalur cadangan bisa dipakai agar distribusi tetap berjalan.”

Ruangan mendadak sedikit lebih tenang dari sebelumnya.  Beberapa direktur terlihat bernafas lega.

“Itu benar-benar bisa membantu.”

“Kita tidak punya banyak pilihan, atau melihat perusahaan ini ambruk.”

“Kalau distribusi aman, market tidak akan terlalu bereaksi.”

Suara-suara mulai terdengar kembali, meski tidak terlalu keras.

Veliora ikut memperhatikan. Dan jujur saja,  dari cara pria itu berbicara. Eryndor Hale terlihat seperti penyelamat.

Namun anehnya Kaelric tetap diam di tempat.

Tidak ada tanda lega ataupun perubahan ekspresi pada wajahnya. Tatapannya justru terasa lebih sulit dibaca.

Rapat terus berjalan. Eryndor menjelaskan beberapa solusi dengan sangat rapi. Begitu tenang bahkan meyakinkan. Dan terlalu sempurna.

Sampai akhirnya rapat pun selesai. Satu per satu orang mulai keluar.

Veliora ikut membereskan file di meja. Namun sebelum ia selesai suara Kaelric terdengar rendah dari belakangnya.

“Apa yang kamu lihat hari ini, Veliora?”

Veliora menoleh kearah suara. Kaelric masih duduk di kursinya. Tatapannya mengarah ke pintu yang baru saja dilewati Eryndor.

Veliora berpikir sejenak.

“Dia bermaksud untuk membantu.”

Jawabannya pelan. Suasana menjadi hening beberapa detik. Lalu Kaelric tersenyum tipis.

“Itu yang terlihat di mata kamu, ya kan?”

Veliora mengernyit kecil.

“Maksud Daddy apa?”

Kaelric berdiri perlahan.

“Ini adalah pelajaran kedua.”

Ia berjalan mendekati Veliora.

“Orang yang datang membawa solusi belum tentu datang untuk menyelamatkan kita dari bencana.”

Tatapannya turun tepat ke mata Veliora. Gadis itu membeku sesaat.

“Kadang mereka hanya ingin memastikan masalahnya tetap hidup.”

Suara Kaelric semakin rendah dan dekat telinga Veliora.

Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Veliora tanpa sadar menoleh ke arah pintu tadi. Dan untuk pertama kalinya ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Senyum Eryndor tadi. Cara bicara juga cara semua orang yang langsung mempercayainya.

Semuanya terasa terlalu mudah bagi dirinya.

“Kalau kau ingin menghancurkan sesuatu jangan berdiri sebagai musuh.”

Kaelric kembali bicara dengan tenang. Lalu sejurus kemudian berhenti sejenak.

“Tetapi berrdirilah sebagai orang yang paling dipercaya.”

Kalimat itu membuat Veliora diam. Karena tiba-tiba ia menyadari satu hal. Orang seperti Eryndor jauh lebih berbahaya dibanding mereka yang terang-terangan menyerang.

Mereka masuk tanpa dipaksa. Dipercaya tanpa dicurigai. Dan saat semua sadar biasanya semuanya sudah terlambat.

Sementara itu di tempat lain jauh dari suasana rapat di Adiwinata,  Bismantaka tengah  menatap layar ponselnya. Satu pesan baru saja masuk. Nomor tanpa nama. Dan mereka mulai percaya. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Bagus.. Bagus sekali. Rencanaku akhirnya berjalan lancar.” Gumamnya pelan.

Namun di sisi lain kota Eryndor Hale nampak berdiri di depan jendela hotelnya..Tatapannya lurus pada langit mendung di luar sana. Ponselnya masih berada di tangannya.

Beberapa detik kemudian senyum tipis muncul di wajah pria itu. Begitu tenang namun sulit untuk dibaca.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Banyak orang yang tidak mengetahui cara kerjamu, kau yang kejam. Namun tak terduga."

gumamnya pelan.

Tatapannya perlahan berubah lebih tajam.

“ Hmm Kaelric Vorn.”

Kali ini senyumnya benar-benar muncul samar.

“Aku sudah tak heran lagi kalau mereka takut padamu.”

Kita kembali ke Kaelric dan Veliora. Mereka masih di Adiwinata Corporation saat ini. Dan sedang bersiap-siap kembali ke kantor utamanya, Yaitu Vorn Aegis Consortium.

Tak nampak rasa lelah di wajah Veliora. Justru dia sangat senang dengan pengalaman berharga ini.

Kaelric begitu ketat menggemblengnya. Agar Veliora tahu, nanti jika sudah siap mengemban tugasnya yang baru, dia sudah tidak canggung lagi. Dan sudah terbiasa dengan masalah besar.

Baru saja masuk mobil, dering suara handphone berbunyi.

"Bos, ada pengacau di gudang 30 sektor barat. Barang yang seharusnya kita kirim ke Eropa di curi beberapa orang bertopeng hitam."

"Siapa yang bertugas disana kemarin?"

Tanya Kaelric.

"Ferguson dan teman-temannya, Bos. Mereka terlihat kebingungan dan takut."

"Baiklah, aku yang akan mencari mereka. Tingkatkan sistem keamanan di gudang 30. Kalian bisa menghubungi polisi. Dan beritahukan kalau sudah terjadi pencurian di sana."

Kaelric lalu menutup sambungan telepon. Kemudian dia menghubungi Ravian.

"Ya Bos. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ravian, kemarin barang di gudang 30 sudah kamu pasang GPS?"

"Kita kecurian, Ravian. Barang di gudang 30 sektor barat. Tadi malam mereka bergerak kesana. Semua diambil oleh mereka."

"Baik Bos. Akan saya lacak barang kita."

"Benar-benar berani mereka menyentuh kita."

Kaelric menutup sambungan telepon. Veliora menatap Kaelric dengan wajah bingung. Karena, biasanya Kaelric tidak terlihat seperti ini.

"Dad, everything is fine?"

Kaelric hanya menggeleng. Hari ini, barang itu harus segera ditemukan. Anak buah Alessandro Vorneti pasti sudah menunggu di sana.

"Kita gak jadi ke Aegis, ada masalah sedikit. Gak papa kan?"

Tanya Kaelric pada Veliora. Gadis itu menganggukan kepala perlahan. Kaelric lalu memutar laju mobilnya. Dia pergi kearah gudang 30 sektor barat.

Setelah sampai, mereka turun dari mobil. Sesampainya disana, Veliora melihat sekeliling gudang 30.

Sementara itu, Ravian melaporkan kalau pencuri-pencuri berpakaian serba hitam sudah diketahui keberadaannya. Ternyata, mereka adalah komplotan milik Gustaf.

"Mereka sekarang dimana Ravian?"

"Mereka sedang merayakan kemenangan hasil curian dari gudang kita, Bos."

"Dimana keberadaan mereka?"

"Di Pub Eighty Nine di seberang Indomar*t."

"Ada berapa orang mereka?"

"Sekitar duapuluh orang, Bos."

"Oke, kamu cari Sieger. Katakan padanya, Orang-orang yang berada di dalam Pub miliknya, jangan ada yang keluar."

"Aku segera meluncur kesana."

"Baik Bos."

"Ravian, jangan lupa pula. Hubungi pihak kepolisian. Aku tadi sudah membicarakan masalah ini dengan petinggi kepolisian. Mereka akan ditempatkan di sel khusus. Atau kalau mereka mau menjadi anak buahku. Itu sudah lain lagi ceritanya."

"Baik, Bos."

Ravian segera pergi meninggalkan tempat itu. Kaelric pun  melangkahkan kakinya dengan menggandeng tangan Veliora.

"Kamu ikut aku, ada yang perlu kamu lihat hari ini. Hitung-hitung, ini adalah pelajaran ketiga dariku."

Mereka berdua pun meninggalkan gudang 30 menuju pub milik Sieger.

Begitu mereka masuk, dentuman suara musik memekakkan telinga menyambut kedatangan mereka. Bau alkohol bercampur aduk dengan bau asap rokok yang menyengat, menusuk hidung mereka.

Veliora, meski anak orang kaya. Namun tak pernah mendatangi tempat seperti ini pun agak terkejut juga.

Dia terbatuk.

Kaelric yang menyadari sesuatu, dia pun melihat ke arah Veliora.

"Are you, okay? "

"Don't worry, Dad.  I'm fine."

Kaelric segera masuk ke ruangan yang lebih dalam. Banyak sekali, laki-laki hidung belang melirik ke arah Veliora. Namun, Kaelric tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu.

Ada seseorang datang, dengan gayanya yang seolah-olah dia merasa dirinya paling kuat. Mendatangi mereka berdua.

"Hey, kau. Dan kau gadis manis. Lebih kau bersama diriku saja. Apa untungnya kamu dengan pria ini?. Miskin, tak tahu diri."

Kaelric diam saja. Veliora menepis tangan laki-laki itu berkali-kali. Namun, laki-laki itu bandel sekali.

Sudah berulang kali juga Veliora menolaknya, dan mengatakan kalau sudah ada yang punya. Namun, keras kepala sekali. Kaelric jadi hilang kesabaran. Dia telah memperhitungkan sesuatu

Akhirnya...

Dia memberi isyarat pada Veliora, agar tetap berdiri di dekatnya. Veliora yang menyadarinya, segera menempelkan dirinya ke punggung Kaelric. Dia menarik kerah laki-laki itu dengan keras ke arah wajahnya. Bertemu muka...

"Kau, tidak tahu diri. Dia sudah bilang tidak mau, bahkan menolak dirimu berulang kali. Tapi kau keras kepala."

"Mau kamu apa, ha?"

Pria itu agak terkejut saat benar-benar melihat wajah Kaelric. Rupanya dia tadi tidak menyadari, bicara dengan siapa.

"Tu Tuan... Tuan Vorn????"

"Ya, ini aku?. Kau mau apa?"

"Ma maafkan aku, Tuan."

"Dasar bedebah tak berguna. Segera enyah dari hadapanku. Sebelum aku berubah pikiran."

Akhirnya, laki-laki itu meninggalkan mereka berdua. Setelah itu, Kaelric segera menuju ke tempat DJ di Pub itu. Dia bicara dengan DJ disitu. DJ itu menganggukkan kepala, lalu memutar lagi kaset CD-nya.

Ya, Disc Jockey itu adalah anak buahnya. Rupanya, Kaelric menanamkan anak buahnya di beberapa Pub di Indonesia. Dari mulai bartender, pelayan, bahkan petugas kebersihan. Sieger pun keluar dari ruang kerjanya.

"Sudah, Tuan Vorn. Sebentar lagi pihak kepolisian akan segera kemari."

Kaelric menganggukan kepala perlahan. Setelah itu, dia mengambil microphone dari Disc jockey. Suara musik sudah dimatikan. Semua orang jadi terhenti, dan saling berpandangan.

"Maaf, sudah mengganggu kenyamanan Anda. Langsung saja ke pokok persoalan. Disini yang bernama Gustaf, aku minta maju ke depan."

Gustaf, yang dipanggil namanya itu celingukan. Memandang ke kanan dan kiri. Pada teman-temannya. Kemungkinan, kalau ada apa-apa mereka akan melarikan diri.

Akhirnya, Gustaf maju ke depan. Kaelric turun dari tempat DJ. Mereka berdua bertemu.

"Kamu yang bernama Gustaf?"

"Iya, Tuan."

"Kenapa kamu lancang mengambil barang milikku?. Kamu sudah bosan hidup?"

Gustaf agak bingung dan takut campur aduk jadi satu.

"Maaf, Tuan Vorn. Tadi, Sieger sudah mengatakan semuanya. Saya benar-benar tidak tahu, kalau gudang itu kepunyaan Tuan Vorn."

"Baiklah, ikut aku."

Kaelric mengajak Gustaf untuk duduk di lobby. Dia minta pelayan untuk melayani Gustaf.

"Jadi kamu sudah tahu kalau gudang itu adalah milikku?. Tapi kenapa kamu ambil?"

"Sebenarnya saya melakukan semua ini karena perintah seseorang, Tuan."

"Katakan, siapa yang sudah menyuruh kamu?"

"Tuan Bismantaka... "

Kaelric agak terkejut juga mendengarnya.

"Oh, rupanya dia berani bergerak." Kata Kaelric dalam hati.

"Dengar, Gustaf. Aku ingin, barang yang sudah kau ambil. Segera kembalikan di tempatnya. Atau tidak, keluarga kamu berikut anak buahmu juga keluarga mereka aku ratakan."

"Kamu lupa siapa aku...?"

"Tahu, Tuan Vorn."

"Oh, atau begini saja. Kamu mau bekerjasama denganku?. Aku ingin kamu menjebak Bismantaka yang licik itu."

"Dapat upah berapa kamu dari Bismantaka?"

"Duapuluh juta, Tuan."

Kaelric menyeringai.

"Aku kasih dua kali lipat. Bantulah aku, tapi kembalikan barangku ke asalnya. Bagaimana?. Jika selesai pekerjaan kamu, aku kasih bonus. Setuju?"

Gustaf mengangguk. Lalu beranjak dari tempat itu. Dia segera mengembalikan barang milik Kaelric. Tentunya di bawah kawalan anak buah Kaelric. Sedangkan pihak kepolisian yang sudah datang di tempat itu.

"Bagaimana, Tuan Vorn?.  Apakah semuanya sudah terkendali?"

"Maafkan, Bapak-bapak. Ini hanya kesalahpahaman saja. Anak buahku sudah salah mengambil barang. Dan, keadaan sudah terkendali sekarang."

"Baiklah, Tuan Vorn. Kami pergi sekarang."

Pihak kepolisian meninggalkan Pub Eighty Nine milik Sieger.

Kaelric dan Veliora segera pergi dari sana.

1
rasdi fajar
baik
rasdi fajar
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!