Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Di kamar Pribadi Pangeran dan Putri. Suasana tampak tenang namun penuh ketegangan batin. Hyal duduk di sofa empuk sembari membolak-balik halaman buku sejarah, sedangkan Krystal asyik menggambar di atas karpet.
Jemari mungil Krystal berhenti bergerak. Ia mendongak, menatap punggung kakaknya. "Hyal, kau benar-benar tidak ingat, ya? Kehidupan pertama kita... saat aku menjadi Windy."
Hyal tetap diam. Matanya terpaku pada buku, meski ia tidak membaca satu kata pun sejak tadi.
"Aku mati karena dikhianati sahabatku sendiri, Hyal," lanjut Krystal dengan suara bergetar. "Elf yang seharusnya melindungiku justru menusukku dari belakang hanya karena aku memburu lebih banyak monster. Rasanya masih sangat sakit, di sini." Krystal menunjuk dadanya sendiri.
Hyal menghela napas panjang. Ia menutup bukunya perlahan, lalu berbalik. "Krystal, sudah kukatakan, itu hanya mimpi buruk. Berhentilah hidup dalam bayang-bayang yang tidak ada."
"Tapi mimpi itu terasa nyata! Kau ada di sana!" seru Krystal dengan mata berkaca-kaca.
Hyal mendekat, mengusap kepala adiknya. *Maafkan aku, Krystal*, batinnya pahit. *Aku harus terus berpura-pura tidak tahu, sampai waktunya tiba*.
"Sudahlah," bisik Hyal. "Ayo selesaikan gambarmu. Besok kita harus menyambut guru sihir baru yang dikirim oleh Ibu."
Dapur istana yang biasanya sibuk kini riuh oleh bisik-bisik para pelayan. Mereka berdesakan di balik rak bumbu, mengintip si kembar yang tengah asyik menggambar di bawah meja besar ruang penyimpanan.
"Lihatlah, mereka manis sekali!" bisik seorang pelayan dengan wajah berbunga-bunga.
"Sepertinya Tuan Putri sedang menggambar istana yang indah."
"Dan lihat Pangeran! Dia menggambar Yang Mulia Putra Mahkota sedang melawan monster. Lucu sekali, kan?"
Kenyataannya, jauh dari kata lucu. Krystal menggambar istana karena ia sedang menyusun cetak biru masa depannya—rencana untuk kabur dari istana, karena ia merasa bahwa masa depannya tidak akan secerah masa depan Hyal. Sementara itu, Hyal—menggambar Felix yang bertarung melawan sosok Alucas. Raut wajah bayi itu sangat serius; ia sadar bahwa kekuatannya tersegel hingga ia menemukan caranya, dan saat ini ia harus melindungi adiknya dengan cara apa pun.
"Ehem!" sebuah dehaman berat memecah konsentrasi para pelayan.
Joe, ajudan setia Mantan Kaisar, berdiri dengan wajah kaku. Di belakangnya, Athanasius sang mantan kaisar berdiri sambil bersedekap. Para pelayan langsung bersujud ketakutan, namun Athanasius hanya melambaikan tangan santai menyuruh mereka pergi.
Begitu para pelayan pergi, wajah tegas Athanasius berubah drastis menjadi ceria. "Anak-anakku sayang!" serunya seraya berlutut hendak memeluk Krystal.
Set! Hyal dengan sigap merangkak menghalangi jalan Ayahnya, berdiri di depan Krystal dengan tangan terentang kecil.
"Oho! Pangeran kecilku ingin dipeluk lebih dulu? Imutnya!" Athanasius tertawa gemas, mendekap Hyal erat-erat. Ia tidak tahu bahwa tindakan Hyal adalah bentuk proteksi, bukan permintaan manja.
Krystal dan Hyal seperti memiliki benteng yang membuat mereka enggan bersikap manja. Namun, benteng pertahanan si kembar akhirnya luluh oleh makanan lezat di taman dekat danau.
"Satu bulan lagi kalian akan berulang tahun," ucap Athanasius sambil menuangkan teh. "Hadiah apa yang kalian inginkan?"
Hyal menyodorkan selembar kertas: gambar tumpukan batu permata yang menggunung.
Athanasius terbahak hingga bahunya berguncang. "Hahaha! Kau menginginkan tambang berlian, Jagoanku?"
Krystal yang sedang mengunyah biskuit langsung tersedak. Ia menoleh ke arah Hyal dengan mulut menganga. Hah?! Anak ini benar-benar tidak tanggung-tanggung kalau minta jatah! batin Krystal ngeri.
Hyal hanya diam, menghela napas pendek. Ia terlalu malas menjelaskan bahwa permata itu adalah bahan dasar untuk mempercepat pelepasan segel yang mengunci kekuatannya.
"Baiklah, tambang berlian untuk Hyal," Athanasius mencatat. "Lalu kau, Putri Kecilku? Apa kau mau bintang di langit?"
Krystal menelan biskuitnya perlahan, matanya berputar memikirkan fasilitas apa yang paling mendukung hidup nanti.
Hingga pesta ulang tahun yang dinanti akhirnya tiba. Pesta digelar di taman Sayap Timur, sebuah mahakarya Athanasius dengan "Pohon Cerita" yang daunnya berdesir merdu. Krystal dan Hyal duduk di atas karpet merah; Hyal dengan setelan biru laut, dan Krystal dengan gaun putih salju.
Putra Mahkota Felix yang kini berusia delapan tahun, berdiri protektif di samping mereka. "Nanti kalian akan bertemu teman-teman baru," ucap Felix dengan nada dewasa. "Krystal, kau harus ramah. Jangan terus bersembunyi di belakang Hyal."
"Tapi aku suka bersembunyi di belakang Hyal," protes Krystal dengan suara cadel namun tegas.
Felix tertawa. Dan saat itulah, sang pembawa acara mengumumkan perkenalan teman bermain.
"Memperkenalkan, utusan dari Obsidian Circle dan teman bermain yang dipilih oleh Yang Mulia Ratu..."
Pesta ulang tahun itu menjadi ajang reuni yang terselubung para Naga. Sosok pertama yang maju adalah seorang anak perempuan seumuran Krystal. Rambut hijaunya bersinar lembut, sementara matanya yang berwarna zamrud tampak hidup, seperti lumut segar di atas batu basah.
"Halo!" sapanya ceria dengan suara semanis madu. "Aku Leafy. Aku datang untuk bermain!"
Leafy diperkenalkan sebagai putri bungsu keluarga Viscount Greenhill. Krystal tampak tertarik, namun Hyal menatapnya tajam.
Apa yang kau lakukan di sini? tanya Hyal dingin melalui transmisi batin.
Leafy tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum licik, lalu tanpa ragu menggandeng tangan Krystal, mengajaknya berlari ke arah ayunan.
Tak lama kemudian, di ambang pintu taman, seorang anak laki-laki seusia Felix berdiri dengan dagu terangkat. Rambut dan matanya berwarna merah menyala, seperti bara di dasar perapian kuno. "Aku Ignis," ucapnya dengan suara berat dan berwibawa. Ia diperkenalkan sebagai pangeran dari Kerajaan Selatan.
Hyal menghela napas panjang. Apa sebenarnya rencana kalian?
Ignis hanya menatap Hyal dengan tatapan puas tanpa memberikan jawaban, menikmati kebingungan sang Naga Air. Kesunyian itu pecah saat Seraphina datang membawa tamu terakhir: Gaea, gadis Utara yang tatapannya sekuat karang, dan seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun berambut coklat keemasan yang tampak bersembunyi di balik jubah tamu dewasa.
"Kemarilah," panggil Seraphina lembut.
Bocah itu maju dengan langkah gugup. Ia mengulurkan tangan ke arah Krystal yang sedang memegang boneka akar pemberian Leafy. "Aku... Lucas," bisiknya.
Melihat sosok itu—Alucas yang menyamar—Hyal langsung berpaling malas. Ia menarik ujung lengan gaun Seraphina, mengajak ibunya pergi seolah tak ingin berlama-lama di sana. Krystal, yang tidak merasakan keanehan apa pun, hanya mengangguk lucu dan melanjutkan bermain bersama Leafy dan Gaea.