Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Memberitahu Kiara
Setelah beberapa waktu berlalu, Kiara perlahan meletakkan sendok dan garpunya, lalu mengangkat wajahnya menatap orang-orang di sekeliling meja dengan sopan.
“Maaf semua, aku izin ke kamar mandi dulu sebentar,” ucap Kiara lembut, lalu bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan keluar dari ruang makan menuju lorong bagian dalam rumah.
Begitu sosok Kiara menghilang di balik pintu, Baskara pun segera berpikir cepat. Ini adalah kesempatan langka yang didapatkannya untuk bisa berbicara empat mata dengan Kiara, menyampaikan apa yang ia ketahui, dan memastikan keadaan wanita itu yang sebenarnya. Ia pun segera mencari alasan yang tepat agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Maafkan saya juga sebentar, Paman, Bibi. Saya mau mencuci tangan dulu,” ucap Baskara santai, lalu segera bangkit dan berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat namun tidak mencolok, mengikuti arah jalan yang diambil Kiara tadi.
Di lorong yang hening dan diterangi cahaya temaram, Kiara baru saja selesai mencuci tangannya di wastafel kamar mandi, saat tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangnya. Dari pantulan cermin di depannya, ia melihat sosok Baskara yang berdiri tegak di sana, menatapnya dengan pandangan serius dan penuh kekhawatiran. Kiara sama sekali tidak terkejut, seolah-olah ia sudah menduga bahwa Baskara akan mengikutinya. Ia perlahan membalikkan badannya, menatap wajah pria itu dengan tatapan yang tetap tenang dan datar.
“Ada apa, Baskara? Ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?” tanya Kiara dengan nada suara yang rendah, agar tidak terdengar oleh orang lain yang mungkin lewat di luar sana.
Baskara melangkah mendekat sedikit, wajahnya tampak serius sekali, tidak ada lagi senyum santai yang tadi ia tunjukkan di meja makan.
“Kiara, aku harus bicara denganmu sekarang juga. Hal ini sangat penting dan menyangkut keselamatan serta masa depanmu,” ucap Baskara dengan nada tegas namun lembut. “Aku sudah mencari tahu semuanya. Semua tentang Ferdi, tentang Emily, dan juga tentang kebenaran kenapa selama lima tahun ini kamu tidak pernah dikaruniai anak.”
Kalimat itu terucap jelas dan tegas, membuat tubuh Kiara sedikit kaku sejenak. Meski wajahnya tetap terlihat tenang, di dalam hatinya ia sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Baskara akan bertindak sejauh itu, sampai-sampai mencari tahu dan menemukan semua kebenaran yang tersembunyi itu, bahkan sampai pada hal yang paling dalam sekalipun. Ia menatap mata Baskara lekat-lekat, melihat ketulusan dan kepedulian yang tulus di sana, namun ia segera mengembalikan ketenangannya seperti semula.
“Kamu… kamu sudah tahu semuanya?” tanya Kiara pelan, suaranya tetap stabil tanpa ada guncangan. “Siapa yang memberitahumu? Dan kenapa kamu sampai repot-repot mencari tahu hal-hal pribadi seperti itu, Baskara?”
“Aku tahu lewat jalur yang bisa dipercaya, Kiara. Semua informasi itu benar adanya, tidak ada satu pun rekayasa,” jawab Baskara cepat, nada suaranya semakin terdengar cemas. “Aku tahu Ferdi berselingkuh dengan Emily, aku tahu Emily sedang mengandung anaknya, dan yang paling mengerikan… aku tahu dialah yang diam-diam memberi obat pencegah kehamilan kepadamu selama bertahun-tahun, membuatmu menderita dan merasa bersalah sendirian. Kiara, bagaimana bisa kamu diam saja mengetahui semua itu? Bagaimana bisa kamu masih bersikap biasa saja, masih tersenyum, masih duduk semeja, bahkan masih terlihat begitu akrab dengan pria jahat itu?”
Emosi Baskara mulai tersalurkan, rasa marah terhadap Ferdi dan rasa kasihan terhadap Kiara bercampur menjadi satu. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana Kiara bisa tetap bertahan dan bersikap tenang menghadapi semua kenyataan pahit itu.
Namun, Kiara hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Baskara dengan pandangan yang penuh kedewasaan dan keteguhan hati.
“Terima kasih sudah peduli dan mencari tahu hal ini untukku, Baskara. Aku sangat menghargai niat baikmu,” ucap Kiara lembut namun tegas. “Tapi aku mohon, ini adalah urusan rumah tangga dan masalah pribadiku sendiri. Aku sudah tahu semua hal itu sejak lama, jauh sebelum kamu menemukannya. Aku sudah tahu tentang perselingkuhan mereka, aku sudah tahu tentang obat itu, dan aku juga sudah tahu rencana jahat mereka apa saja. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi, dan juga… aku mohon jangan ikut campur dalam masalah ini. Aku bisa mengatasi dan menyelesaikan semuanya sendiri, dengan caraku sendiri.”