NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: DI ANTARA DUA NERAKA

Udara di dalam ruang tamu keluarga Wijaya terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari siang ini bersinar terik di luar sana. Rendra duduk di kursi kayu jati yang telah menjadi saksi bisu kejayaan dan keruntuhan keluarganya. Di hadapannya, Pak Didi dan Ibu Retno duduk dengan posisi tegak, tatapan mereka setajam belati, seolah sedang membedah setiap inci kejujuran yang diucapkan oleh putra semata wayang mereka.

Rendra baru saja menuntaskan pengakuannya. Suaranya yang semula lantang saat menceritakan tentang "kehidupan baru" dan "harapan baru" perlahan melemah saat ia sampai pada bagian tentang Laras. Ia menceritakan tentang sosok janda yang telah menjadi sandarannya, tentang Satria, dan puncaknya, tentang janin berusia dua bulan yang kini bersemi di rahim wanita itu.

Detik-detik setelah kalimat terakhir terucap, keheningan menyelimuti ruangan. Itu adalah keheningan yang menyesakkan, seperti sebelum badai besar menghantam.

"Jadi itu yang kamu lakukan selama pelarianmu, Rendra?" suara Pak Didi memecah kesunyian. Ia tidak berteriak, namun nada suaranya mengandung kemarahan yang tertahan, jauh lebih menakutkan daripada luapan amarah yang meledak-ledak. "Kamu menghabiskan waktumu dengan wanita murahan, sementara keluargamu di sini sedang berjuang membersihkan nama baikmu yang hancur?"

Ibu Retno, yang sejak tadi menahan napas, tiba-tiba berdiri. Wajahnya memerah padam. "Laras? Janda miskin? Anak satu? Dan dengar-dengar dia jauh lebih tua darimu?" Ia melangkah mendekati Rendra, menunjuk wajah putranya dengan jemari yang gemetar. "Kamu sudah gila! Kamu anak laki-laki dari keluarga Wijaya, meski kita sedang jatuh, kamu tetap punya harga diri! Kamu berani-beraninya pulang ke sini membawa kabar tentang wanita genit yang sudah pasti hanya mengincar sisa-sisa hartamu, atau mungkin hanya ingin menjeratmu agar dia bisa hidup enak!"

Rendra terperangah. "Bu, dia tidak seperti itu! Laras tulus! Dia tidak tahu siapa kita, dia tidak tahu tentang kekayaan, dia bahkan tidak tahu tentang kasus yang menimpaku! Dia menerima aku apa adanya, saat aku tidak punya apa-apa!"

"Tulus katamu?" Ibu Retno tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. "Dunia ini tidak mengenal ketulusan dari wanita seperti itu, Rendra! Dia janda, dia punya anak, dan dia tahu betul bagaimana cara membuat pria yang lemah seperti kamu bertekuk lutut. Dia empat tahun lebih tua darimu—dia sudah makan asam garam kehidupan, sementara kamu hanya pria bodoh yang terjebak dalam rasa kesepianmu sendiri!"

Pak Didi bangkit berdiri, tangannya memukul meja dengan keras. "Cukup! Kami tidak akan membiarkan nama Wijaya semakin terinjak-injak oleh skandal rendahan seperti ini. Kamu sudah cukup menghancurkan hidupmu sendiri di Semarang, jangan menyeret kami lebih jauh lagi ke dalam lumpur."

Pak Didi menatap mata Rendra dengan tajam, sebuah tatapan yang memberikan ultimatum final. "Dengar baik-baik, Rendra. Kami memberikanmu pilihan hari ini. Kamu harus segera meninggalkan wanita itu dan anak-anaknya. Kamu harus memutuskan semua hubungan dengannya dan kembali ke jalan yang benar, di bawah kendali keluarga. Jika kamu tetap bersikeras untuk menikahi janda itu, maka hari ini juga kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini."

Rendra terkesiap. "Ayah... ini bukan pilihan yang adil!"

"Ini bukan soal adil atau tidak," sela Ibu Retno dingin. "Ini soal harga diri. Jika kamu memilih dia, maka anggaplah kamu tidak pernah lahir dari rahim Ibu. Kamu akan dikeluarkan dari daftar keluarga, tidak ada lagi nama Wijaya yang akan kamu sandang, dan jangan harap kamu bisa meminta bantuan satu rupiah pun dari kami jika suatu saat hidupmu hancur oleh wanita itu."

Rendra terdiam. Tubuhnya seolah membeku. Pilihan itu seperti dua bilah pisau yang siap menyayat jiwanya. Di satu sisi, ada orang tuanya, akar yang meskipun pahit, adalah tempatnya berasal. Di sisi lain, ada Laras—wanita yang telah memberinya rasa aman, wanita yang mengandung buah hatinya, dan Satria yang memanggilnya 'Ayah'.

Penulis melihat betapa menyedihkan posisi Rendra saat ini. Ia merasa terpojok dalam dua neraka. Ia teringat tatapan mata Laras yang penuh harap saat ia pamit tadi. Ia teringat kehangatan rumah petak itu. Namun, ia juga sangat sadar bahwa tanpa restu orang tuanya, hidupnya akan jauh lebih berat.

"Aku mencintainya, Yah," bisik Rendra, hampir tanpa suara. "Dia sedang mengandung anakku."

"Cinta itu buta, Rendra. Tapi kami tidak!" balas Pak Didi. "Kamu punya waktu hingga besok pagi untuk membuat keputusan. Jika kamu memilih wanita itu, maka pintu rumah ini tertutup selamanya untukmu. Pergilah sekarang ke penginapan, pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal saat nanti wanita itu meninggalkanmu setelah dia tahu bahwa kamu hanyalah pria yang tidak punya masa depan."

Rendra melangkah keluar dari ruang tamu itu dengan langkah gontai. Kepalanya terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Ia berjalan tanpa arah di sepanjang jalanan kota yang asing baginya. Di tengah hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang, Rendra merasa sendirian di dunia.

Ia tidak punya cara untuk mengirim kabar pada Laras. Ia hanya bisa membayangkan Laras yang mungkin kini sedang duduk di depan teras rumah, menatap jalan setapak desa, menanti kepulangan pria yang ia cintai. Rendra merasa tertekan; keheningan tanpa kabar ini justru membuatnya semakin gelisah. Jika ia memilih Laras, ia harus siap hidup miskin dan dibuang oleh keluarganya sendiri. Jika ia memilih orang tuanya, ia harus mengkhianati Laras dan janin yang ada di rahim wanita itu—sebuah pengulangan dosa yang semakin memperjelas bahwa Rendra memang seorang pria yang rapuh.

Penulis merekam setiap keraguan yang muncul di mata Rendra. Ia adalah seorang pria yang terbiasa lari dari masalah, dan sekarang, masalah itu telah mengepungnya dari segala arah. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada Yuni yang bisa ia tipu lagi, dan tidak ada lagi keluarga yang bisa ia jadikan tameng. Rendra berada di persimpangan jalan di mana setiap arah yang ia pilih akan membawanya pada kehancuran yang lain.

Malam itu, Rendra duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Ia teringat kembali pada Yuni. Apakah dulu Yuni merasa seberat ini saat ia mengkhianatinya? Apakah Yuni juga pernah merasa terbuang saat ia lebih memilih untuk mempertahankan egonya sendiri? Rendra tidak tahu, dan ia tidak berani memikirkannya. Karena jika ia mulai memikirkannya, maka ia akan menyadari bahwa apa yang sedang ia hadapi saat ini hanyalah karma dari segala kebohongan yang ia tanam selama bertahun-tahun.

Di antara dua neraka itu, Rendra masih saja mencari jalan keluar yang paling mudah. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa tidak ada lagi jalan yang mudah bagi dirinya. Ia telah sampai di ujung jalan, di mana hanya ada satu pilihan yang tersisa: menjadi pria sejati yang menghadapi konsekuensi, atau terus menjadi pecundang yang membiarkan orang lain menentukan hidupnya. Sayangnya, bagi Rendra, keberanian adalah barang mewah yang belum pernah ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!