NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Tameng dan Topeng

Suasana mendadak senyap begitu Hendra Wijaya melangkah pergi dengan terburu-buru. Di meja makan restoran terbuka itu, aroma steak lada hitam dan es teh melati yang tersaji seolah menguap begitu saja, tertutup oleh sisa-sisa ketegangan yang masih memancar kuat dari sosok Renard.

Mama Sofia menatap putra tunggalnya lekat-lekat. Perlahan, raut cemas di wajah wanita paruh baya itu mencair, berganti senyuman haru yang tulus. Beliau menggapai tangan Renard yang masih mengepal kaku di atas meja, lalu mengelusnya dengan lembut.

"Terima kasih ya, Renard," bisik Mama Sofia dengan suara yang agak parau. "Mama yakin, ayahmu pasti bangga melihat putranya tumbuh menjadi pria yang tahu cara menghargai dan melindungi istrinya."

Renard sedikit terperanjat. Sentuhan ibunya seakan menariknya kembali ke kenyataan, meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun selama konfrontasi tadi.

Rahangnya yang semula mengeras kini mulai melunak. Namun, saat menyadari kedua wanita di depannya terus memperhatikan, sang miliarder yang dikenal arogan itu langsung berdeham keras untuk menutupi kecanggungannya. Ia menarik tangannya dari genggaman sang ibu, lalu meraih gelas air putih dan menenggaknya hingga tandas dalam sekali teguk.

Semburat merah muda yang samar mulai muncul dari balik kerah kemeja hitamnya, merambat cepat hingga mewarnai kedua daun telinganya.

"Mama jangan berlebihan," tukas Renard ketus. Matanya justru menatap tajam ke luar jendela restoran, seolah enggan bersirobok langsung dengan Arumi. "Aku melakukannya bukan tanpa alasan. Paman Hendra terlalu lancang membawa urusan internal keluarga ke ruang publik. Itu sangat tidak profesional dan bisa merusak citra Wijaya Group kalau sampai terdengar wartawan bisnis yang kebetulan lewat."

Mama Sofia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Ia bertukar pandang dengan Arumi yang sedari tadi hanya diam menyimak dengan debar jantung yang belum juga stabil.

Malam harinya, setelah kembali ke mansion dan Mama Sofia sudah masuk ke kamar untuk beristirahat, Arumi berdiri di depan cermin besar kamar utama.

Ia perlahan membuka ritsleting gaun emerald green pemberian Renard, lalu menggantinya dengan piyama katun longgar yang jauh lebih nyaman.

Begitu keluar dari ruang ganti, ia mendapati Renard sudah duduk di tepi ranjang king-size. Pria itu sudah mengenakan kaus rumahan abu-abu gelap dan tampak sibuk mengoleskan minyak terapi di pelipisnya—sepertinya sisa ketegangan siang tadi menyisakan sakit kepala yang cukup menyiksa.

Arumi mendekat, lalu mengambil posisi duduk di kursi rotan yang terletak tidak jauh dari ujung ranjang.

"Tuan Renard," panggil Arumi lembut.

Renard menurunkan tangannya dan menoleh sekilas dari balik kacamata bacanya yang berbingkai perak. "Apa lagi? Kalau kamu mau membahas soal gaun itu lagi, aku sudah bilang itu murni—"

"Bukan soal gaun," potong Arumi pelan, memutus kalimat defensif suaminya. Ia menatap Renard dengan seulas senyum tulus tanpa binar jenaka yang biasanya ia pakai untuk menggoda. "Terima kasih untuk yang tadi siang. Di depan Paman Hendra."

Renard terdiam selama beberapa detik.

Ia menatap Arumi, memperhatikan bagaimana pendar lampu tidur yang temaram memantulkan kejujuran yang begitu murni dari mata istrinya.

Dinding es yang ia bangun kembali sejak sore tadi mendadak goyah diterpa kehangatan suara Arumi.

Pria itu bergegas melepas kacamatanya dengan gerakan kaku, lalu memalingkan wajah ke arah berlawanan demi menyembunyikan rasa salah tingkah yang sudah berada di ambang batas.

"Sudah kukatakan di restoran tadi, Arumi," desis Renard dengan suara bariton yang rendah dan kaku, berusaha keras memasang kembali topeng dinginnya. "Jangan membesar-besarkan masalah sepele. Secara kontrak, kamu adalah investasiku selama satu tahun ini. Kalau aku membiarkan kerabatku menginjak-injak harga dirimu, itu sama saja dengan membiarkan mereka meremehkan keputusanku dalam memilih mitra. Aku hanya melindungi investasiku sendiri agar tidak terlihat lemah di depan dewan komisaris. Jadi, jangan salah paham."

Arumi tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah mendengar penjelasan yang amat berbelit-belit itu. Ia bangkit dari kursinya, melangkah perlahan hingga berdiri tepat di samping ranjang Renard.

"Tuan Muda yang sangat rasional," ujar Arumi dengan nada menggoda yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia membungkukkan badannya sedikit hingga matanya sejajar dengan daun telinga Renard yang kini sudah merah padam, persis seperti dugaannya.

"Kalau ini cuma soal investasi bisnis dan komisi, Anda tidak perlu sampai mengancam akan menarik seluruh saham operasional toko Paman Hendra di mall hari Senin nanti. Tindakan Anda tadi... lebih terlihat seperti seorang suami yang sedang mengamuk karena wanita yang disayanginya dihina."

Renard seketika menegakkan duduknya. Matanya membelalak karena terkejut sekaligus malu yang luar biasa akibat skakmat verbal dari Arumi. Napasnya mendadak tertahan di tenggorokan, dan debaran di dadanya bergemuruh hebat di tengah kesunyian kamar.

"K-kamu... benar-benar tidak punya rasa takut ya, Arumi?!" gagap Renard. Suaranya meninggi dengan nada yang sangat canggung saat ia buru-buru menarik selimut tebal dan memunggungi Arumi dengan gerakan kilat. "Cepat kembali ke sofamu dan matikan lampunya! Mulutmu itu benar-benar jauh lebih berisik daripada si Oyen!"

Arumi hanya tersenyum lebar, merasa menang telak malam ini.

Ia berjalan menuju sakelar lampu, memadamkan pendar utama kamar, lalu merebahkan diri di atas sofa beludru dalam balutan duvet bulu angsa milik Renard.

Di dalam kegelapan yang sunyi, dua insan yang disatukan oleh selembar kertas bermeterai itu tertidur dengan senyum yang mereka sembunyikan masing-masing.

Sementara itu, topeng besi yang selama ini melindungi sang miliarder perlahan-lahan mulai kehilangan kekuatannya untuk terus berpura-pura.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!