Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPECIAL SEASON Episode 6 : Retakan di Dinding Kaca
Keheningan yang ditinggalkan oleh dentuman pintu kamar utama bergema lama di koridor vila Uluwatu. Di ruang makan, Adrian masih berdiri mematung di samping meja. Jemarinya yang besar mencengkeram pinggiran meja kayu dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
*Sangkar emas.'
Dua kata itu terus berputar-putar di dalam kepalanya, memicu denyut menyakitkan di pelipisnya. Adrian memejamkan mata elangnya, mencoba mengusir bayangan masa lalu yang mendadak bangkit kembali.
Ia mengingat tatapan mata Kirana bertahun-tahun lalu di Jakarta tatapan yang penuh dengan ketakutan, ketidakpercayaan, dan luka mendalam akibat keputusannya yang sewenang-wenang.
Adrian mengira ia telah membakar habis sangkar itu dan membangun sebuah rumah yang sesungguhnya di Bali.
Namun hari ini, dari mulut wanita yang paling dicintainya, ia tersadar bahwa ia justru sedang merajut kembali jeruji besi itu dengan benang yang bernama kekhawatiran.
Ponsel di saku celananya bergetar. Adrian menarik napas dalam-dalam, menstabilkan suaranya sebelum mengangkat panggilan yang ternyata dari Rendra.
"Adrian, tim audit hukum Hendra Wijaya baru saja menyelesaikan pengalihan seluruh sisa aset properti Baskoro di Jakarta atas namamu. Semuanya bersih," ujar Rendra dari seberang telepon, langsung pada inti bisnis.
Namun, Rendra yang peka segera menangkap keheningan yang tidak biasa dari sahabatnya.
"Adrian? Ada apa? Suaramu terdengar... berat."
"Aku mengacaukannya lagi, Rendra," bisik Adrian, suaranya terdengar sangat lelah, kehilangan seluruh wibawa CEO yang biasanya ia agungkan.
Rendra terdiam sejenak. "Apakah ini tentang Kirana?"
"Dia bilang aku sedang membangun sangkar emas yang baru untuknya," Adrian berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Di luar, ombak menghantam tebing dengan keras, mencerminkan gejolak di dalam dadanya.
"Aku membatalkan pertemuannya, aku menyewa ahli gizi, aku memperketat penjagaan hingga dia tidak bisa melangkah tanpa diawasi. Aku hanya ingin melindunginya, Rendra. Aku tidak bisa kehilangan anak ini... aku tidak bisa melihat Kirana terluka lagi seperti di gudang tua itu."
Di seberang panggilan, Rendra mengembuskan napas panjang. "Adrian, dengarkan aku. Kamu melindungi Kirana dari ancaman dunia luar, tapi kamu lupa melindunginya dari rasa takutmu sendiri.
Kirana bukan lagi wanita rapuh yang kamu temukan setahun lalu. Dia telah memilih untuk kembali kepadamu karena dia mempercayaimu. Jika kamu terus mengawasinya seperti seorang tahanan, kamu sedang membunuh kepercayaan itu secara perlahan."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Adrian, ada nada keputusasaan yang jarang sekali terdengar dari seorang Adrian Dirgantara.
"Dunia di luar sana tidak aman untuknya saat ini. Para spekulan di Jakarta masih mengintai."
"Percayakan perimeter luar padaku dan tim keamanan," cetus Rendra tegas.
"Tugasmu di dalam rumah adalah menjadi suaminya, bukan kepala sipirnya. Turunkan egomu, Adrian. Masuklah ke kamar itu dan bicaralah sebagai seorang pria yang mencintainya, bukan sebagai pemilik Dirgantara Group."
Setelah panggilan berakhir, Adrian berdiri cukup lama di depan jendela, menatap matahari Bali yang mulai merangkak naik setinggi kepala. Setelah mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya, ia melangkah menuju kamar utama.
Pintu kamar itu tidak dikunci. Saat Adrian mendorongnya perlahan, suasana di dalam ruangan begitu sunyi. Kirana sedang duduk di tepi ranjang yang luas, membelakanginya. Bahunya yang kecil tampak sedikit berguncang, dan suara isakan halus terdengar samar di sela-sela desau angin laut dari balkon yang terbuka.
Adrian melangkah sangat pelan, seolah takut langkah kakinya akan memecahkan kaca-kaca tak kasat mata di sekitar mereka. Ia berlutut di atas lantai marmer tepat di samping lutut Kirana, posisi yang sama seperti malam ketika mereka pertama kali mengetahui tentang kehamilan ini.
"Kirana..." panggil Adrian rendah, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan.
Kirana tidak berbalik, namun isakan nya perlahan mereda. Ia menghapus air mata di pipinya dengan ujung jemarinya.
"Jika kamu ke sini hanya untuk memberitahuku tentang jadwal minum vitamin baru atau aturan dari ahli gizimu, tolong keluar, Mas. Aku sedang ingin sendiri."
Adrian mengulurkan tangannya yang besar, dengan teramat hati-hati menyentuh jemari Kirana yang terasa sedingin es.
Kali ini, ia tidak menggenggamnya dengan paksa. Ia hanya membiarkan telapak tangannya menjadi tumpuan di bawah tangan istrinya.
"Aku ke sini untuk meminta maaf," ucap Adrian lirih.
Kata-kata itu membuat Kirana menoleh. Ia menatap suaminya dengan mata yang sembap dan kemerahan.
Di sana, di depan matanya, pria yang biasanya tak pernah tunduk pada siapa pun kini menatapnya dengan pandangan yang dipenuhi oleh penyesalan yang teramat murni.
"Aku bersalah, Kirana," lanjut Adrian, matanya mengunci pandangan Kirana.
"Kata-katamu tadi pagi... menghantamku tepat di dada. Aku menyadari bahwa di balik semua alasan pelindung yang kuucapkan, aku sebenarnya sedang dikendalikan oleh ketakutanku sendiri. Aku ketakutan setengah mati, Kirana."
Kirana tertegun. Ini adalah pertama kalinya Adrian mengakui sebuah ketakutan secara terang-terangan di hadapannya.
"Setiap kali aku melihatmu diam, atau melihatmu kelelahan, otakku langsung memutar kembali memori saat kamu terluka di masa lalu," Adrian menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di atas punggung tangan Kirana yang berada di pangkuannya.
"Aku sangat mencintaimu, dan kehadiran anak ini... membuatku merasa memiliki dunia yang utuh. Tapi ego bodohku mengira bahwa cara terbaik untuk menjaganya adalah dengan mengontrol setiap detak jengkal hidupmu. Aku melupakan kenyamananmu demi ketenanganku sendiri."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dari suaminya, hati Kirana yang semula mengeras perlahan-lahan melunak. Kemarahannya menguap, digantikan oleh rasa iba yang mendalam.
Ia mengerti sekarangbsifat overprotektif Adrian bukanlah bentuk dari hilangnya cinta, melainkan manifestasi dari trauma mendalam seorang pria yang pernah hampir kehilangan segalanya.
Kirana mengulurkan tangan kirinya, meraba rambut hitam legam Adrian, mengusapnya dengan kelembutan seorang istri. "Mas... tatap aku."
Adrian mendongak, menatap wajah Kirana yang kini sudah tidak lagi memampangkan kemarahan.
"Aku tahu kamu trauma, Mas. Aku pun sama," ucap Kirana dengan senyuman tipis yang tulus.
"Tapi anak kita ini tumbuh dari cinta kita, bukan dari ketakutan kita. Aku tidak ingin dia merasakan atmosfer ketegangan di rumah ini semenjak di dalam kandungan. Aku ingin dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang pelindung yang bijaksana, bukan seorang penguasa yang mengekang."
Kirana menuntun tangan besar Adrian, membawanya ke atas perutnya yang kini sudah membentuk lengkungan yang jelas di balik gaun hamilnya. "Rasakan ini, Mas."
Begitu telapak tangan Adrian menempel di atas perut Kirana, keajaiban kecil itu terjadi lagi. Adrian bisa merasakan sebuah gerakan halus, sebuah tendangan kecil yang sangat lembut namun terasa nyata dari dalam rahim Kirana.
Itu adalah respons pertama sang buah hati seolah ikut mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.
Mata Adrian melebar, setitik air mata haru kembali lolos dari sudut matanya. "Dia... dia bergerak, Kirana?"
"Iya," Kirana terkekeh pelan di sela sisa tangisnya, menggenggam erat tangan Adrian di atas perutnya.
"Dia sedang memberitahumu bahwa dia baik-baik saja di sini. Jadi, tolong belajarlah untuk mempercayai kekuatan kami, Mas. Jangan kurung kami lagi."
Adrian tersenyum, sebuah senyuman penuh kelegaan yang mengikis habis ketegangan di wajah tegasnya selama berminggu-minggu ini. Ia memajukan tubuhnya, memeluk pinggang Kirana dengan erat, menyandarkan telinganya di atas perut istrinya, mendengarkan kehidupan yang sedang bertumbuh di sana.
"Aku berjanji, Sayang," bisik Adrian di atas permukaan perut Kirana.
"Aku akan memulangkan ahli gizi itu siang ini. Dan besok... aku sendiri yang akan mengantarmu menemui perajin kain ikat di Klungkung. Tanpa perawat pribadi, tanpa aturan yang mengekang. Hanya ada aku, kamu, dan anak kita."
Di kamar utama yang kini diterangi oleh cahaya matahari Bali yang hangat, retakan di dinding kaca mereka telah rekat kembali.
Garis merah takdir yang mereka bawa dari masa lalu kini tidak lagi menjadi rantai yang mengikat, melainkan jangkar kuat yang menjaga bahtera rumah tangga mereka tetap kokoh di tengah badai apa pun.
Bersambung~