NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Konsolidasi Kekuatan Pangkalan

****

Raungan mesin silinder besar dari motor sport hitamku membelah keheningan jalanan pinggiran kota yang kian temaram diselimuti pekatnya kabut senja. Angin malam yang berembun berembus kencang, menghantam jaket kulit hitam yang kukenakan dengan kasar, namun rasa dingin itu sama sekali tidak mampu memadamkan sisa-sisa adrenalin yang masih bergejolak hebat di dalam rongga dadaku. Kemenangan mutlak atas runtuhnya takhta manipulasi keluarga besar Dirgantara di ruang Kepala Sekolah tadi siang barulah sebuah permulaan dari babak konsolidasi yang sesungguhnya.

Aku memutar tuas gas lebih dalam, membuat motor sport-ku melesat cepat memotong jalur jalan raya utama dan berbelok tajam memasuki area kawasan semi-industri di belakang pasar lama. Jalur ini adalah wilayah kekuasaan yang bersih dari jangkauan radar anak-anak OSIS ataupun pengaruh modal korporat. Begitu roda motorku menapak di atas kerikil halaman bengkel tua yang terbengkalai, lampu sorot dari belasan motor anak pangkalan IPS langsung menyala serentak, memecah kegelapan malam dan menyambut kedatanganku bagai seorang panglima yang kembali dari medan pertempuran.

Aku mematikan mesin, menurunkan standar samping dengan satu sentakan kaki yang kokoh, lalu bangkit berdiri dari atas jok motor. Setelan seragam putih abu-abuku malam ini masih melekat dengan sangat rapi—almamater biru tuaku terkancing sempurna, menuruti aturan hukum tertulis sekolah demi mempertahankan posisinya sebagai pelindung legal di samping Mikaela. Namun, di balik kerapian formalitas tersebut, aura berandal yang sangat agresif dan tak tersentuh justru memancar semakin kuat dari dalam diriku.

"Ketua datang! Rapat pleno siap, Sak!" teriak Reno yang berjalan lebar keluar dari balik pintu besi bengkel tua, memegang selembar draf catatan logistik pangkalan di tangan kanannya.

Belasan anak-anak jurusan IPS yang sedang duduk berkumpul di atas deretan motor mereka langsung merapatkan barisan, bergerak konstan mengikuti langkah kakiku yang lebar menuju ke dalam area dalam bengkel yang diterangi oleh lampu neon putih yang temaram. Atmosfer di dalam bengkel tua ini mendadak berubah menjadi sangat serius, kaku, dan penuh dengan kesiagaan tingkat tinggi.

Aku berjalan menuju sebuah meja kayu panjang yang penuh dengan noda oli hitam, lalu melempar alat perekam suara digital hitam—kartu as maut yang tadi kubakai buat membungkam Bapak Dirgantara—ke atas permukaan meja dengan suara hantaman yang konstan.

*Brak!*

"Reno, gimana posisi Mikaela saat ini? Udah dipastikan aman sampai depan teras rumahnya?" tanya-ku dengan nada suara bariton yang berat, serak, dan sarat akan intonasi perintah yang tidak menerima kegagalan sedikit pun.

"Aman mutlak, Sak," jawab Reno tegas, mengambil posisi berdiri di sebelah kanan meja kayu. "Minibus perak kita udah menurunkan Mikaela tepat di jalur belakang komplek lima belas menit yang lalu sesuai instruksi lo. Anak-anak yang bertugas memantau gang depan rumahnya juga melaporkan kalau mobil sedan mewah hitam milik keluarga Devan udah gak terlihat lagi berkeliaran di sekitar sana sejak sore tadi. Gertakan lo di ruang Kepala Sekolah bener-bener bikin mereka mundur teratur dari dunia nyata."

Aku mengangguk pelan, sebuah seringai dingin nan sangat tajam kembali terukir di sudut bibirku yang kokoh. Aku melipat kedua tanganku di depan dada, mengedarkan pandangan mata elangku ke seluruh penjuru wajah anak-anak pangkalan IPS yang berdiri tegap mengelilingi meja. Sifat protektif dan obsesi posesifku terhadap keselamatan kebebasan Mikaela tidak akan pernah menurun sedikit pun, melainkan mengkristal menjadi sebuah sistem pertahanan baru yang jauh lebih berbahaya di luar sekolah.

"Jangan pernah ada satu pun dari kalian yang menurunkan kewaspadaan hanya karena laporan sore ini aman," geramku rendah dengan nada suara yang merendah, sangat lambat, namun memiliki penekanan tak terbantahkan yang mengunci fokus seluruh anak pangkalan. "Devan Dirgantara bener-bener iblis manipulatif yang punya seribu satu cara buat membalas dendam lewat jalur ekonomi dan relasi di luar sekolah. Ayahnya mungkin tadi terpaksa menarik laporan pengaduan karena takut reputasi bisnis perusahaannya hancur di media massa akibat draf rekaman suara ini. Tapi sisa masa skorsing dua minggu Devan di rumah adalah waktu yang sangat kritis. Dia pasti lagi menyusun taktik kotor baru yang jauh lebih liar."

Aku memajukan tubuh tingginya sedikit, mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di atas alat perekam suara hitam dengan ritme yang konstan. "Mulai malam ini juga, kita lakukan penguncian total terhadap seluruh akses informasi luar sekolah yang berhubungan dengan Mikaela. Reno... lo pegang draf nama alumni senior anak IPS yang mengelola yayasan beasiswa mandiri di luar kota kemarin. Urus seluruh draf administrasinya malam ini juga tanpa ada kesalahan sedikit pun. Gue mau draf bersih alternatif itu udah siap di tangan gue sebelum Devan mencoba menyentuh jalur kuliah Mikaela lagi."

"Siap, Sak! Berkas administrasi beasiswa mandiri dari alumni udah beres setengah jalan, tinggal nunggu tanda tangan draf dari Mikaela aja besok siang," balas Reno dengan anggukan mantap penuh rasa solidaritas tinggi.

Salah satu anak pangkalan dari kelas XII IPS 2 melangkah maju satu langkah, menatapku dengan raut wajah yang sedikit ragu. "Tapi, Sak... kalau sampai pihak keluarga Devan menggunakan kekuatan hukum kepolisian buat mempermasalahkan insiden perusakan dokumen kontrak yayasan tadi pagi di ruang tata usaha, gimana? Posisi lo bisa terancam dikeluarkan secara sepihak dari dinas pendidikan kota kalau mereka nekat bermain di luar jalur sekolah."

Mendengar kekhawatiran itu, aku justru mengeluarkan tawa lirih yang sangat dingin, liar, nan penuh dengan keagresifan tulus yang selalu berhasil menciutkan nyali musuh-musuhku di jalanan. Aku menegakkan kembali posisi tubuhku, membuat postur tinggiku menjulang kokoh menantang kegelapan bengkel tua.

"Biarkan mereka coba-coba membawa jalur kepolisian ke pangkalan ini," bisikku dengan intonasi yang sarat akan ancaman maut yang mengerikan. "Gue udah bilang di depan wajah bapaknya Devan tadi siang... gue gak punya beban apa-apa buat kehilangan sisa masa SMA gue di sekolah ini, atau bahkan masuk ke dalam sel penjara malam ini juga demi menjaga kebebasan hidup cewek gue. Tapi mereka... keluarga Dirgantara punya segalanya buat hancur berkeping-keping menjadi abu di depan publik luar kalau salinan draf rekaman suara pemerasan emosional anak kesayangan mereka ini sampai gue sebar ke tiga server jaringan pangkalan IPS luar kota. Kita lihat siapa yang bakal mati duluan di dunia nyata."

Seluruh anak pangkalan IPS yang berada di dalam bengkel tua langsung terdiam serentak, membeku seutuhnya di bawah intimidasi mengerikan dan tekad maut yang luar biasa besar memancar dari dalam diriku. Mereka baru menyadari bahwa tingkat sifat *red flag* perlindungan posesif yang kumiliki terhadap Mikaela sudah berada di level yang tidak lagi mengenal batas-batas logika atau rasa takut terhadap hukum formalitas manusia. Aku siap mengobrak-abrik apa saja, mempertaruhkan masa depanku sendiri di atas aspal jalanan, asalkan tidak ada satu pun ular manipulatif yang berani menyentuh atau mengurung hak milik perlindunganku yang paling berharga.

Aku meraih kembali alat perekam suara digital hitam dari atas meja kayu, memasukkannya dengan aman ke dalam saku bagian dalam almamater rapi biruku, lalu berbalik tubuh berjalan lebar menuju ke arah pintu keluar bengkel tua.

"Rapat selesai. Kalian semua bubar ke posisi penjagaan masing-masing di sekitar pembatas jalur komplek luar rumah Mikaela sepanjang malam ini. Jangan ada satu pun mobil asing yang diizinkan parkir di sekitar sana tanpa pemeriksaan dari anak pangkalan," perintahku tegas sebelum melangkah lebar menaiki kembali jok motor sport hitamku yang sudah menanti di bawah siraman cahaya bulan senja.

Aku menyalakan mesin motor dengan satu sentakan kaki yang kuat, memicu raungan knalpot besar yang memekakkan telinga membelah sunyinya area pasar lama. Sumbu konflik asmara berkarakter *red flag* penuh proteksi beracun ini telah resmi memasuki fase konsolidasi kekuatan penuh di luar dinding sekolah. Taktik Devan untuk mengurung mentalku menggunakan instrumen hukum kaku sekolah telah resmi kupatahkan seratus delapan puluh derajat tadi siang, dan malam ini, di bawah bayang-bayang perlindungan keagresifan tulus milikku, aku akan memastikan bahwa seluruh sisa jalan cerita ini akan berjalan dengan ritme yang jauh lebih cepat, padat ketegangan, dan penuh dengan konfrontasi liar yang memacu adrenalin di dunia nyata. Motor sport hitamku melesat kencang membelah pekatnya malam kota, bergerak cepat menuju ke arah komplek perumahan Mikaela untuk memastikan benteng pertahananku bekerja sempurna menjaga tidurnya malam ini.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> Ketegangan taktis dan pergerakan plot cerita **RED FLAG** bener-bener makin dinaikkan ke level tertinggi yang melibatkan pergerakan massa pangkalan luar sekolah di Bab 33 ini! Kita bisa melihat dengan jelas bagaimana Saka Aditya tidak mau memberikan celah sekecil apa pun bagi kubu Devan Dirgantara untuk melakukan serangan balik selama masa skorsing dua minggunya berjalan.

> Transformasi Saka yang mengombinasikan kerapian seragam sekolah dengan keagresifan taktis berandal luar sekolah bener-bener nunjukin esensi dari pesona *bad boy* versi rapi-posesif yang sangat berbahaya dan bikin nagih banget bagi para pembaca setia! Langkahnya mengunci jalur beasiswa alternatif lewat jaringan alumni IPS membuktikan kalau dia siap pasang badan lahir batin demi masa depan kebebasan Mikaela dari jeratan modal keluarga Devan. Perang psikologis asmara ini bener-bener makin liar dan memacu adrenalin!

> Kira-kira langkah nekat atau konfrontasi seperti apa lagi yang bakal terjadi saat Mikaela menerima draf bersih beasiswa tanpa syarat di rumahnya esok pagi? Apakah Devan bakal nekat melanggar masa skorsingnya lagi buat mendatangi Mikaela secara pribadi? Yuk, ikuti terus kelanjutan kisah penuh proteksi beracun yang memacu adrenalin ini setiap harinya ya! Jangan lupa klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk kelancaran kontrak novel kita di NovelToon, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan seluruh teori gila kalian! Sampai berjumpa di Bab 34 besok sore, *keep reading, stay sharp, and stay alert, guys!*

>

1
Indah Sari Nurwahyuningtyas
tapi bagus ga si kalo si saka sama devan kerja sama buat dapetin Mikaela kan jadi seru
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!