Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3. Tamu Yang Tak Di Undang
Alya meremas pinggiran wastafel dapur hingga buku-buku jarinya memutih. Suara tawa itu mendekat, terdengar begitu akrab dan memiliki nada kepemilikan yang kuat. Tak lama kemudian, sosok wanita cantik dengan balutan gaun merah *maroon* yang ketat muncul di ambang pintu dapur. Rambutnya pirang kecokelatan, ditata bergelombang sempurna, kontras dengan Alya yang hanya menguncir rambut seadanya.
"Oh, jadi ini 'gadis jaminan' itu?" Sisil berjalan mendekat, aroma parfumnya yang manis dan menyengat seketika memenuhi dapur yang tadinya berbau sabun cuci piring.
Sisil menatap Alya dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat menghina. Di belakangnya, Nyonya Ratna berjalan menyusul dengan senyum lebar yang tidak pernah ia tunjukkan pada Alya.
"Sisil, sayang. Maaf ya, pemandangan di rumah ini jadi sedikit kotor karena kehadiran dia," ujar Nyonya Ratna sambil mengelus lengan Sisil.
Alya mencoba tetap tegar. Ia membalikkan badan dan menunduk sedikit, berusaha sopan meski hatinya mendidih. "Selamat pagi," sapanya lirih.
Sisil tidak menjawab. Ia justru mendekati meja dapur, mengambil sebuah gelas kristal yang baru saja dicuci bersih oleh Alya, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai.
Pecahan kristal berserakan di dekat kaki Alya. Alya terlonjak kaget, nyaris saja kakinya yang tanpa alas kaki terkena serpihan tajam.
"Ups, licin sekali. Ternyata tanganmu tidak becus mencuci gelas ya?" Sisil terkekeh, menutup mulutnya dengan jari-jari yang dihiasi kuteks merah menyala. "Cepat bersihkan. Aku ingin minum jus jeruk peras, dan aku mau kau yang memerasnya secara manual. Aku tidak suka jus kemasan."
"Tapi... ada mesin pemeras di sana," Alya menunjuk alat di sudut meja.
"Aku bilang manual, kau tuli?" Suara Sisil meninggi, kilat kebencian muncul di matanya yang indah. "Kau harus tahu diri, Alya. Kau hanya di sini karena Arka ingin membalas dendam pada ayahmu. Jangan harap kau bisa bersantai di rumah ini."
Nyonya Ratna hanya diam, menonton pertunjukan itu dengan tangan terlipat di dada. Alya menarik napas panjang. Ia berjongkok, mulai memunguti pecahan gelas satu per satu dengan tangan telanjang.
"Aduh!" Alya meringis saat sebuah serpihan kecil menusuk ujung jarinya. Darah segar mulai merembes keluar.
"Jangan berdarah di lantai marmerku, itu kotor!" bentak Nyonya Ratna.
Tepat saat itu, langkah kaki berat terdengar masuk ke area dapur. Arka berdiri di sana, masih dengan kemeja kantornya namun lengan kemejanya sudah digulung hingga siku. Matanya langsung tertuju pada pemandangan di depannya: Sisil yang berdiri angkuh, ibunya yang tampak muak, dan Alya yang sedang berlutut di lantai dengan jari berdarah.
"Arka! Sayang!" Sisil langsung menghambur ke pelukan Arka, memeluk lengan pria itu dengan manja. "Lihat, istrimu ini sangat ceroboh. Dia memecahkan gelas dan sekarang malah mengotori lantai dengan darahnya. Aku jadi takut mau makan di sini."
Arka tidak membalas pelukan Sisil. Tatapannya tertuju pada Alya yang mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Untuk sesaat, ada kilatan aneh di mata Arka—sesuatu yang menyerupai rasa kasihan—namun itu menghilang secepat kilat, digantikan oleh dinding es yang tebal.
Arka melepaskan tangan Sisil dengan lembut namun pasti. Ia berjalan mendekati Alya, lalu berdiri tepat di depan gadis itu.
"Bangun," perintah Arka dingin.
Alya berdiri perlahan, menyembunyikan tangannya yang terluka di balik punggungnya. "Maaf, aku akan segera membersihkannya."
"Kau memang tidak berguna, bahkan untuk tugas sederhana seperti ini," ucap Arka pedas. Ia berpaling pada salah satu pelayan yang berdiri di sudut. "Bibi, bersihkan ini. Dan kau, Alya... ikut aku."
Arka menarik pergelangan tangan Alya yang tidak terluka, menyeretnya keluar dari dapur menuju ruang kerja pribadinya. Sisil yang melihat itu menghentakkan kakinya kesal. "Arka! Kita kan mau pergi belanja!"
Arka tidak menghiraukan teriakan Sisil. Ia membanting pintu ruang kerjanya setelah memastikan Alya masuk ke dalam.
"Arka, sakit..." Alya merintih saat Arka melepas cengkeramannya dengan kasar.
Arka membalikkan badan, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alya. "Sakit? Kau bilang ini sakit? Rasa sakitmu ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dialami ibuku karena ulah ayahmu!"
"Aku tidak tahu apa-apa tentang itu, Arka! Tolong, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" tangis Alya pecah.
Arka mencengkeram kedua bahu Alya, mengguncangnya dengan emosi yang meledak-ledak. "Ayahmu mencuri dana operasional perusahaan kakekku, membuat perusahaan itu kolaps dan ibuku jatuh sakit karena depresi! Dia tidak punya uang untuk pengobatan karena ayahmu memblokir semua aksesnya! Ibuku meninggal di koridor rumah sakit umum karena tidak ada biaya, sementara ayahmu sedang merayakan kesuksesan bisnis barunya di Paris!"
Alya terdiam membeku. Ia tidak pernah tahu sisi gelap ayahnya yang ini. Baginya, ayahnya adalah pria yang jujur.
"Itu... itu pasti salah paham..."
"Salah paham?" Arka tertawa sinis, wajahnya memerah. "Aku punya semua buktinya. Dan sekarang, kau akan membayar setiap detik penderitaan ibuku. Jangan berani-berani menunjukkan wajah memelasmu di depan Sisil atau ibuku. Kau hanya sampah di rumah ini, Alya. Ingat itu."
Arka mengambil sebuah kotak P3K dari laci mejanya, melemparnya ke arah kaki Alya.
"Obati jarimu sendiri. Aku tidak mau darahmu menodai dokumen-dokumenku. Setelah itu, temui Sisil di depan. Kau akan ikut kami belanja sebagai pembawa barang-barangnya. Itu adalah tugas pertamamu sebagai 'istri' di rumah ini."
Alya menatap kotak P3K itu dengan pandangan kosong. Arka baru saja menghancurkan martabatnya lebih dalam lagi. Ia dipaksa menjadi pelayan bagi wanita yang mencintai suaminya.
Dengan tangan gemetar, Alya mengambil kotak itu. Di dalam ruangan yang dingin tersebut, ia menyadari bahwa di rumah ini, air matanya tidak akan pernah mengering. Ia harus bersiap untuk babak penyiksaan berikutnya yang sudah menanti di depan pintu.