NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Dekapan Yang Menyesakkan

Basecamp Leovar — Malam hari

Rian duduk termenung di sudut ruangan, jari-jarinya sibuk memutar ponsel. Tatapannya kosong, menembus dinding seolah-olah bisa melihat seseorang di balik sana. Di layar ponselnya, sebuah foto lama—Aelira masih dengan seragam SMP, rambut diikat dua, senyum lebar sambil memegang es krim.

Junet dan Juno saling pandang.

"Bro, udah sejam lo diem kayak patung," ucap Juno pelan.

"Gue baru tahu, kalau mereka itu pacaran," jawab Rian tanpa menoleh.

Junet mendesah. "Oalah. Jadi abang da baru tahu? Udah dari kapan tuh—"

Junot menepuk jidat. "Suka dari SMP tapi kelakuannya ngalahin orang yang baru tahu cinta kemarin sore. Kapan geraknya?"

Rian menggeleng. "No. Ada yang aneh. Dia kayak setakut itu..."

Junet dan Junot kembali saling pandang. Ada yang tidak beres dengan sahabat mereka.

---

Keesokan harinya — Panti Asuhan

Mobil Rian berhenti di depan pagar besi yang sedikit berkarat. Ia tidak sengaja menyerempet seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman.

"Maaf, Bu! Saya nggak lihat—"

Bu Hana tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nak. Kamu cari siapa?"

Rian ragu. "Saya... sebenarnya mencari informasi tentang Aelira. Saya teman lamanya."

Bu Hana terdiam. Matanya menyipit—seperti sedang mengingat sesuatu. Lalu ia menghela napas.

"Sebentar, ya."

Wanita itu berjalan masuk ke dalam panti. Beberapa saat kemudian, ia keluar sambil membawa sebuah binder tua berwarna coklat. Tepinya sudah usang, halaman-halamannya menguning.

"Ini punya Aelira dulu. Dia titipin sebelum pindah. Kata dia, kalau ada yang mencari... kasih saja."

Rian menerima binder itu dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar saat membuka halaman pertama.

Bu Hana menatap Rian dalam. "Dia pernah bilang, kalau waktu SMP, ada cowok yang dia suka... Namanya Rian."

Rian membeku.

"Jadi selama ini bukan cuma aku yang nyimpen perasaan?" bisiknya lirih.

---

Lokasi Syuting — Siang hari

Suasana di lokasi syuting tegang. Puluhan kru terdiam. Semua mata tertuju pada satu titik: Ravian yang berdiri di tengah set dengan dada naik turun.

Syuting adegan romantis seharusnya berjalan mulus. Tapi Citra—lawan mainnya—kali ini membuat kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.

"LO TUH BECUS KERJA NGGAK, SIH???" bentak Ravian naik pitam.

Seluruh kru bergeming.

"Udah sepuluh kali take cuma buat peluk—lo pikir gue seneng?!"

Citra mundur selangkah, wajahnya pucat. "Mas Ravian, aku—"

"Jangan pura-pura bego!" Ravian memotong, suaranya semakin keras. "Lo pikir gue nggak tahu lo modus biar gue peluk terus? Lo pikir nggak capek?"

Dia melempar mic clip ke lantai dengan kasar hingga plastiknya retak. Suara benturan mengagetkan beberapa kru.

"Gue nggak mau syuting. Lo cari aktor lain aja buat dipeluk-peluk sama nih cewek. Gue nggak mau."

Pintu ditendang hingga terbuka lebar.

Sutradara mendekat dengan hati-hati. "Ravian, kita masih perlu—"

"Suruh tuh cewek hafalin dulu dialognya. Jangan bawa nafsu ke dalam scene. Gue mau break!"

Ravian berlalu meninggalkan set dengan rahang mengeras dan mata yang masih menyala-nyala.

---

Area Parkir Lokasi Syuting

Ravian baru saja duduk di kursi belakang mobil ketika sosok Rian muncul dari balik pilar parkiran.

"Mau ngomong," kata Rian datar.

Ravian menyipitkan mata. "Urusan apa lo sama gue?"

Rian melangkah maju. Matanya menatap lurus—tanpa rasa takut. "Waktu itu, gue pernah naro surat dan gelang buat Aelira di loker sekolah. Lo yang ngambil, kan?"

Ravian terdiam. Udara di antara mereka terasa membeku.

"Iya. Gue yang ngambil." Suara Ravian dingin. "Kenapa? Udah gue bakar."

Rian mengepalkan tangan. "Lo berhak sembarangan ambil barang orang?"

"Aelira itu milik gue." Ravian turun dari mobil, tubuhnya menjulang di hadapan Rian. "Dan gue enggak akan biarin lo rebut dia dari gue."

Rian tidak mundur. "Gimana kalau sekarang gue nggak akan diem lagi? Gue akan kejar dia. Sekalipun Aelira tinggal di neraka yang lo ciptakan."

Gerakan Ravian cepat. Kepalan tangannya menghantam wajah Rian—sekali, dua kali hingga Rian tersungkur ke aspal.

"GUE UDAH SURUH LO DIEM, BANGSAT!"

Rian bangkit, membalas. Perkelahian sengit terjadi di tengah parkiran. Pukulan berbalas pukulan. Hingga suara bentakan Linyi memecah suasana.

"BERHENTI! KALIAN BERDUA!"

Bodyguard menarik Ravian. Beberapa kru menahan Rian.

Linyi berdiri di antara mereka dengan wajah merah padam. "Kalian pikir ini pasar malam? Kalian pikir kalian bisa bikin onar seenaknya?"

Ravian menyeka bibirnya yang berdarah. Matanya masih tertuju pada Rian.

Dan Rian—dengan bibir bengkak dan tatapan tajam—hanya tersenyum tipis.

"Gue belum selesai," bisiknya.

---

Rumah Ravian — Malam hari

Pintu kamar terbuka.

Di dalam, Aelira duduk di atas kasur. Bajunya kusut. Wajahnya sembab. Matanya merah—bukan karena menangis baru saja, tapi karena sudah menangis terlalu lama hingga air matanya habis.

Ia memeluk lututnya. Diam.

Ravian masuk. Di wajahnya masih tersisa bekas luka dari perkelahian dengan Rian. Ia mendekat pelan, lalu jongkok di hadapan Aelira. Tangannya mengangkat dagu gadis itu perlahan—memaksa Aelira menatapnya.

"Lo mau mati pelan-pelan karena kelaparan, hah?"

Aelira menepis tangannya pelan. Menunduk lagi.

Ravian menghela napas pendek, menahan diri. Tangannya justru terulur menyelipkan helaian rambut Aelira ke telinga.

"Li..." nada suaranya berubah, pelan. "Gue udah bilang, lo tinggal di sini. Aman. Enggak akan ada yang ganggu lo. Gue penuhi semuanya. Tapi lo harus ngerti, gue cuma mau lo nurut."

Aelira masih diam. Matanya berkaca-kaca tapi tak menitikkan air mata.

"Sampai lo nangis darah, gue nggak akan pernah lepasin lo." Bisiknya pelan.

Ravian berdiri, lalu menarik Aelira berdiri juga.

"Makan, ya?" katanya pelan. "Lo nggak suka lihat gue marah, kan? Lo maunya gue baik. Tapi lo malah bikin gue gila kayak gini."

Aelira bergeming.

Ravian menyentuh pipi Aelira dengan ibu jarinya.

"Gue nggak akan kasar kalau lo nurut. Jadi jangan kabur, jangan cari jalan keluar, jangan cari cowok itu."

Aelira menepis tangannya. Dadanya sesak.

"Mandi dulu, biar otak lo fresh. Sebelum gue kasar."

Aelira tetap tidak peduli.

"Brengsek!" umpat Ravian.

Dalam satu gerakan kasar, pemuda itu membungkuk dan mengangkat tubuh Aelira.

"RAVIAN—NGGAK MAU!" Aelira meronta, memukul dadanya.

Dia membawa Aelira ke kamar mandi, lalu menyalakan keran air hangat. Bathtub mulai terisi.

"RAVIAN, JANGAN!" histeris Aelira saat Ravian membuka ritsleting bajunya—kasar—menyisakan tanktop tipis masih tersisa di tubuh Aelira.

Aelira terisak keras, memeluk tubuhnya sendiri.

Air semprot dari shower menyentuh kulitnya, membuat Aelira tersentak.

"DINGIN! RAVIAN—BERHENTI!" tangis Aelira pecah.

Ravian langsung memutar keran ke suhu lebih hangat.

Tangannya meremas rambutnya sendiri. "Sial, maaf...! Gue—gue nggak bermaksud..."

Dia terduduk di lantai marmer, di samping bathtub.

Aelira masih meringkuk di dalam bathtub—membuat Ravian menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

"Nurut dong, Sayang!" kata Ravian serak, seperti lelah. "Jangan bikin gue nyakitin lo terus. Lo pikir gue suka jadi monster kayak gini?"

Aelira tak menjawab. Hanya deru napas dan sesenggukan kecil yang terdengar.

Ravian perlahan berdiri. Ia membuka kancing bajunya satu per satu, melepasnya, dan menjatuhkan ke lantai—bertelanjang dada. Lalu masuk ke dalam bathtub.

Suara air berkecipak pelan.

Aelira refleks menjauh, menatapnya dengan ketakutan. "Mau apa?"

"Diem!" Ravian mengusap wajah Aelira yang basah.

Uap air melayang di udara. Aelira menatapnya. Cowok itu dengan telaten membasuh tubuh Aelira—walau Aelira terus menolak.

Ravian melihat kaki Aelira yang membiru di dalam air. Bekasnya terbentur undakan tangga semalam.

"Gue nyakitin lo banyak banget, ya?" Ravian menyentuh dagu gadis itu—memaksa Aelira melihat ke arahnya. "Jawab!"

"Lo tau sendiri jawabannya," kata Aelira lirih.

"Gue nggak suka denger lo ngomong pakai lo-gue." tegas Ravian.

Aelira merapatkan lututnya ke dada.

"Cuma kamu ya, Van, yang boleh seenaknya tapi aku enggak boleh?" lirih Aelira tercekat.

Kilatan mata Ravian kembali dingin.

"Kamu sayang aku, kan?" tanya Aelira.

Ravian mengangguk.

"Dengan ngurung aku, narik aku, maksa aku ngaku-ngaku sesuatu yang enggak pernah aku lakukan, itu sayang, Van?"

Suara Aelira meninggi. "JAWAB, VAN!"

Air matanya jatuh lagi. Lebih deras. Dadanya naik turun.

Ravian masih diam. Tapi wajahnya mulai berubah. Tegang. Panik.

Aelira tiba-tiba memukul-mukul air itu dengan kedua tangannya.

"Aku capek, Ravian!! Denger nggak?" Jeritnya sambil memukul permukaan air.

"AKU CAPEK!"

Histerisnya. "AKU CAPEK DIPAKSA NURUT! AKU CAPEK DIBILANG PEMBOHONG! AKU CAPEK DISIKSA SETIAP HARI!!"

Dia menangis sejadi-jadinya sambil memukuli kaca di samping.

Pyar!!

Kaca pecah.

Ravian bangkit. Dengan kacau dan tatapan panik, dia mendekat cepat.

"LI—udah, udah, SAYANG, cukup...! CUKUP GUE BILANG!" sentak Ravian panik.

"LEPASIN!" Aelira meronta lalu menjerit saat pecahan kaca di sampingnya mengenai tangannya.

Greb!!

Tanpa pikir panjang, Ravian menarik tubuh Aelira langsung ke dadanya. Napasnya memburu.

"Gue salah, gue yang salah. Maaf, maaf!" bisik Ravian lembut dengan mata memerah—memeluk tubuh gadis itu seolah tidak mau lepas. "Udah ya, jangan nangis! Nanti sakit semua tangannya."

Ravian memeluk Aelira lembut sambil mengusap-usap punggung Aelira yang sesenggukan hebat di dadanya.

"Are you really okay?"

Ravian menarik Aelira ke pangkuannya hingga mereka berhadapan.

"Gue cuma benci lihat lo sama cowok lain. Maaf karena nggak bisa nahan emosi." gumam Ravian, tangannya membelai rambut Aelira yang basah.

Aelira masih terisak.

Ravian menatap cemas tangan Aelira yang berdarah. "Sakit, hm? Gue panggilin dokter, ya?"

Aelira diam. Pandangan gadis itu buram dengan napas sesak sebelum kepalanya terjatuh lemah di dada Ravian.

"Li?" Ravian menepuk-nepuk pipi Aelira lembut lalu berdecak pelan—wajahnya khawatir sekali. "Sayang, hei!!"

Kepala Ravian tertunduk dan meletakkan pipinya di puncak kepala gadis itu.

Mata Ravian berkaca-kaca.

"Gue cinta sama lo! Maaf kalau cara gue terlalu rusak. Gue cuma takut ditinggal sendirian lagi."

---

Sementara itu, di Basecamp Leovar...

Rian masih duduk di sudut ruangan yang sama. Binder tua itu terbuka di pangkuannya. Tangannya membalik halaman demi halaman—foto-foto lama, catatan kecil, secarik kertas dengan tulisan tangan Aelira yang masih rapi khas anak SMP.

"Hari ini aku ketemu cowok aneh di lorong sekolah. Wajahnya kaku banget kayak patung, tapi matanya sedih. Namanya Ravian."

Rian menutup binder itu perlahan.

"Bro, lo nggak jadi makan?" tanya Junot dari kejauhan.

Rian menggeleng. "Gue kenyang."

"Kenyang apaan? Lo belum makan dari tadi."

"Kenyang mikirin dia," jawab Rian pelan.

Junet dan Junot saling pandang—lalu memilih diam.

Karena tidak ada yang tahu harus berkata apa ketika melihat sahabatnya perlahan hancur, tapi masih tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!