NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Sinar matahari sore yang mulai meredup masuk lewat celah gorden kamar Kiyo, menciptakan garis cahaya panjang yang jatuh ke atas permukaan karpet. Bianca sudah berdiri tegak di sana sambil merapikan sisa pakaian pinjamannya dengan gerakan yang mantap dan jelas. Tidak ada lagi raut lemas atau wajah pucat yang ia pasang sedari pagi. Kini ia kembali tampil tenang dan penuh kendali atas dirinya sendiri.

"Kak, aku beneran sudah sehat. Aku harus balik ke apartemen sekarang," ujar Bianca, suaranya terdengar sangat yakin saat menatap Kiyo yang masih duduk santai di sofa kamarnya.

Kiyo mengernyitkan dahi, raut wajahnya jelas sekali menunjukkan ketidaksukaan dan kecemasan. "Bi, Dokter Surya bilang lo butuh istirahat total minimal dua hari. Ini baru sehari. Lo mau pingsan lagi di jalan?"

"Nggak akan, Kak. Aku janji. Aku cuma... aku nggak enak sama Tante Eleanor dan Om Maxwell," Bianca menundukkan wajah lalu memainkan ujung jarinya untuk menimbulkan kesan segan dan sungkan. "Aku takut keberadaanku di sini malah bikin suasana rumah jadi nggak enak. Apalagi semalam Kakak sampai berdebat sama Om Maxwell gara-gara aku."

'Padahal alasan sebenernya, gue harus segera lapor ke Rebecca dan ngecek hasil rekaman penyadapan sebelum si tua bangka itu sadar ada yang aneh,' batin Bianca dengan pandangan yang tajam dan penuh rencana.

"Papa nggak bakal macem-macem selama ada gue," ucap Kiyo dengan nada yang tegas dan meyakinkan. Ia berdiri lalu berjalan mendekati Bianca dengan tatapan penuh perlindungan yang diam-diam membuat Bianca merasa sedikit risih dan tidak nyaman. "Gue nggak mau lo sendirian di apartemen tanpa ada yang jagain."

"Ada temen aku yang bakal mampir nanti malam, Kak. Beneran, aku baik-baik saja," Bianca kembali memohon, matanya menatap tepat ke manik mata Kiyo dengan binar yang sengaja dibuat memelas dan lemah.

Kiyo menghela napas panjang dan berat. Ia kalah telak. Jika sudah ditatap seperti itu, seluruh pertahanan dirinya yang biasanya sekokoh tembok benteng mendadak runtuh begitu saja tak bersisa. "Oke. Gue anter. Tapi kalau sampe lo ngerasa pusing dikit aja, lo harus bilang. Jangan sok kuat."

"Iya, Kak Kiyo. Makasih banyak ya," Bianca tersenyum manis, sebuah senyum yang sukses membuat jantung Kiyo kembali berdetak kencang seolah sedang lari maraton.

Perjalanan menuju tempat tinggal Bianca seharusnya hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit saja, tapi di tangan Kiyo, waktu seolah melambat secara ajaib. Mobil sport hitam mahal itu melaju dengan kecepatan yang sangat santai, bahkan cenderung pelan jika dibandingkan dengan kemampuan mesinnya yang sanggup melesat ratusan kilometer per jam.

Kiyo, yang biasanya dikenal irit bicara dan lebih suka mendengarkan musik keras di dalam mobil, mendadak berubah menjadi sosok yang sangat banyak bertanya dan bercerita.

"Bi, lo udah sedia obat di apartemen?" tanya Kiyo sambil sesekali melirik ke arah Bianca dari balik kacamata hitamnya.

"Udah ada, Kak."

"Makanan gimana? Jangan cuma makan mi instan. Lo baru sembuh, butuh nutrisi yang bener. Nanti gue suruh orang buat anter katering sehat ke tempat lo ya?"

Bianca tertawa kecil, sedikit merasa lucu melihat perubahan sikap cowok di sampingnya ini. "Kak Kiyo, aku cuma sakit pusing dikit, bukan habis operasi jantung. Nggak perlu sampe segitunya."

"Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa," gumam Kiyo pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara halus mesin mobil.

'Kenapa sih nih anak jadi lembut begini? Kiyo yang gue kenal di sekolah itu kan sosok dingin yang kalau ngomong pedesnya minta ampun. Kenapa di depan gue dia malah jadi kayak kakak tingkat yang super perhatian?' batin Bianca merasa bingung dan aneh. Ada sedikit rasa hangat yang menyelinap masuk di dadanya, tapi ia segera menepis perasaan itu jauh-jauh. 'Jangan bego, Bi. Dia musuh lo. Anaknya Maxwell Anderson.'

Mobil itu melewati sebuah kedai es krim dengan dekorasi warna-warni yang mencolok di pinggir jalan. Kiyo mendadak memelankan laju kendaraannya lebih lambat lagi.

"Bi, lo suka es krim nggak?" tanya Kiyo tiba-tiba.

Bianca tersentak kaget. Pertanyaan sederhana itu seketika menghantam sebuah kenangan lama yang tersimpan sangat dalam di ingatannya. Bayangan masa kecil melintas, saat ayahnya masih punya kedudukan dan kekayaan, mereka sering pergi ke kedai es krim serupa setiap akhir pekan. Namun sejak musibah itu terjadi dan nasib mereka berubah, es krim menjadi barang mewah yang dilarang keras oleh Rebecca karena dianggap buang-buang uang untuk kesenangan semata.

Bianca terdiam diam, matanya menatap kosong ke arah kedai yang makin menjauh itu. Wajahnya mendadak berubah murung, ada raut kesedihan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya selama beberapa detik.

"Bi? Lo kenapa? Nggak suka ya? Atau lo alergi dingin?" Kiyo mulai panik melihat perubahan ekspresi Bianca yang drastis.

Bianca mengerjapkan mata berkali-kali berusaha kembali ke dunia nyata. Ia menatap wajah cemas Kiyo di sampingnya, lalu perlahan sebuah senyum muncul di bibirnya. Kali ini bukan senyum manipulatif yang biasa ia pasang, melainkan senyum yang terasa begitu tulus dan ringan tanpa beban.

"Aku suka. Suka banget malah. Tapi udah lama banget nggak makan," jawab Bianca pelan. "Aku mau rasa cokelat, Kak."

Kiyo tampak terpana sesaat. Senyum Bianca barusan... rasanya benar-benar berbeda dari biasanya. "Oke, tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."

Kiyo segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu turun menuju kedai itu. Bianca memperhatikannya dari balik kaca jendela. Ia melihat sosok Kiyo yang biasanya terlihat angkuh dan tinggi hati kini rela berdiri antre di antara anak-anak kecil demi mendapatkan dua wadah es krim.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipi Bianca. Ia segera mengusapnya dengan gerakan kasar. 'Gue kenapa sih? Kenapa gue malah nangis? Ini cuma es krim, Bianca! Jangan biarin kebaikan kecil kayak gini bikin lo goyah. Inget apa yang udah Maxwell lakuin ke Ayah!'

Namun di sisi lain, rasa tersentuh itu tidak bisa hilang sepenuhnya dari hatinya. Tak lama kemudian Kiyo kembali masuk ke dalam mobil dengan wajah yang terlihat sedikit berseri-seri, membawa dua wadah es krim besar di tangannya.

"Nih, cokelat buat lo. Gue juga beli cokelat biar samaan," ucap Kiyo sambil menyodorkan satu wadah ke arah Bianca.

"Makasih, Kak..." Bianca menerima benda itu, merasakan dinginnya plastik menyentuh kulit tangannya.

Mereka pun menyantap es krim itu di dalam mobil yang terparkir di bawah naungan pohon besar. Suasana jadi jauh lebih santai dan akrab. Kiyo mulai bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata tidak seindah kelihatannya, tentang tekanan Maxwell yang selalu menuntutnya menjadi sempurna dalam segala hal, dan betapa tertekannya dia harus menjadi Ketua OSIS hanya demi menjaga nama baik keluarga.

Bianca mendengarkan dengan seksama dan tenang. Ia sadar bahwa di balik kemewahan dan kebesaran nama Anderson, ada jiwa-jiwa yang juga terluka dan tertekan. Namun ia kembali mengingatkan dirinya sendiri dengan keras. 'Terluka atau nggak, mereka tetap keluarga Anderson. Dan Anderson harus hancur lebur demi keadilan Ayah.'

"Makasih ya es krimnya, Kak. Rasanya... persis kayak yang dulu sering aku makan sama Ayah," ucap Bianca lirih setelah menghabiskan suapan terakhirnya.

"Sama-sama. Kapan pun lo mau, bilang aja ke gue. Gue bakal ajak lo ke semua toko es krim di kota ini," jawab Kiyo dengan nada serius dan janji yang membuat Bianca kembali terdiam.

Sisa perjalanan menuju gedung apartemen Bianca terasa jauh lebih singkat dari sebelumnya. Kiyo tidak bisa lagi mengulur waktu karena mereka sudah sampai tepat di depan lobi tempat tinggal Bianca yang tampak sederhana namun rapi dan bersih.

Kiyo turun dari mobil lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Bianca—sebuah tindakan sopan santun yang lagi-lagi membuat Bianca merasa asing dengan perasaannya sendiri.

"Udah sampe. Lo beneran aman kan?" tanya Kiyo, sekali lagi memastikan dengan penuh perhatian.

"Aman, Kak. Beneran. Kakak pulang ya, makasih banyak buat semuanya. Maaf ya sudah merepotkan satu harian ini," ucap Bianca sambil membungkukkan badan sedikit sebagai tanda terima kasih.

"Gue nggak merasa direpotin sama sekali, Bi. Justru gue yang makasih karena lo udah mau... yah, lo tau lah," Kiyo menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, tampak salah tingkah dan malu. "Besok gue jemput sekolah ya?"

"Eh, nggak usah Kak! Aku bisa naik ojek atau bus," tolak Bianca cepat.

"Nggak ada penolakan. Jam setengah tujuh gue di sini. Istirahat ya, Bi."

Kiyo menunggu sampai Bianca masuk ke dalam lobi dan menghilang di balik pintu lift sebelum ia kembali naik ke mobilnya. Di dalam ruang kemudi itu, Kiyo menyandarkan kepalanya ke setir sambil tersenyum lebar sendirian persis seperti orang yang sedang bahagia luar biasa.

'Gue beneran jatuh cinta sama dia. Dan gue nggak bakal biarin siapa pun ngerusak kebahagiaan ini,' batin Kiyo dengan keyakinan yang mantap.

Sementara itu, di dalam ruangan apartemennya, Bianca segera mengunci pintu rapat-rapat dari dalam. Ia meletakkan tasnya ke atas meja lalu berjalan mendekati cermin besar di ruang tamu. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri yang masih menyisakan sedikit bekas air mata di sudut mata.

"Bodoh lo, Bianca," bisiknya pelan pada bayangan dirinya sendiri. "Jangan sampe lo jatuh ke pelukan musuh cuma gara-gara dua wadah es krim cokelat."

Ia segera menyalakan laptopnya lalu menghubungkan perangkatnya ke alat penyadap yang tadi pagi ia pasang di ruang kerja Maxwell. Seketika tatapannya kembali tajam dan dingin. Dendamnya kembali membara hebat. Perasaan hangat yang sempat muncul di dalam mobil Kiyo tadi ia bungkus rapat-rapat lalu simpan di pojok paling gelap di hatinya.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!