NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam semakin larut, namun keheningan di dalam rumah petak yang kumuh itu sama sekali tidak membawa ketenangan bagi Diandra.

Di atas ranjang tipisnya, ia hanya bisa menatap langit-langit kamar yang mulai berjamur.

Pikirannya melayang kembali pada kejadian siang tadi—saat Pratama membawanya ke rumah sakit, mengusap bekas merah di pergelangan tangannya, dan memeluknya dengan begitu erat seolah enggan melepaskannya lagi.

Sentuhan hangat dan tatapan penuh kecemasan suaminya terus membayangi benak Diandra, membuatnya terjaga di tengah malam yang dingin.

Merasa tidak akan bisa memejamkan mata, Diandra akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tidurnya.

Ia berniat menuju ke dapur kecil di bagian belakang rumah untuk mengambil segelas air hangat guna menenangkan sarafnya.

Namun, saat ia baru saja melangkah keluar dari pintu kamar dan melewati ruang tengah yang temaram...

Bugh!

Sebuah hantaman benda tumpul yang sangat keras mendarat tepat di tengkuk belakangnya.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar seketika, membuat pandangannya langsung buram.

Kesadaran Diandra runtuh dalam sekejap, dan tubuh kecil Gia langsung jatuh pingsan, terkapar tak berdaya di atas lantai semen yang dingin.

Dari kegelapan sudut ruangan, dua sosok pria bertopeng melangkah maju sambil membawa beberapa jeriken berisi cairan yang menyengat.

Salah satu dari mereka membuka tutup jeriken dan mulai menyiramkan bensin ke seluruh sudut rumah petak tersebut, mulai dari kasur, gorden usang, hingga ke pakaian-pakaian yang tergantung.

Bau tajam bahan bakar langsung memenuhi ruangan yang sempit itu dalam hitungan detik.

"Bakar rumah ini dan biarkan wanita ini di sini," ucap salah satu pria dengan suara rendah yang berat dan kejam.

"Pastikan tidak ada bukti yang tersisa. Ini perintah langsung agar dia menghilang selamanya."

Pria lainnya menyalakan sebuah korek api gas. Api kecil itu menari-nari di ujung jarinya, merefleksikan sorot mata mereka yang dingin tanpa belas kasihan.

Tanpa ragu sedikit pun, ia melemparkan korek api tersebut ke atas lantai yang telah basah oleh bensin.

Wusss!

Lidah api raksasa langsung berkobar hebat, merayap cepat melahap dinding kayu dan segala benda di dalam rumah.

Asap hitam pekat mulai membubung tinggi, sementara tubuh Gia yang pingsan masih tergeletak di tengah kepungan api yang kian membesar, mengancam nyawanya untuk yang kedua kali.

Di tempat lain, di dalam ruang kerja rumah megah milik keluarga Pratama, keheningan malam mendadak pecah oleh suara dengingan nyaring.

Sebuah ponsel khusus yang tergeletak di atas meja memancarkan cahaya merah berkedip-kedip.

Itu adalah alarm sistem keamanan darurat. Sebagai seorang pria yang sangat paranoid setelah hampir kehilangan istrinya untuk selamanya, Pratama diam-diam telah memasang pelacak GPS mikro berspesifikasi militer di dalam sol sepatu sekolah Gia dan pada liontin kalung yang dikenakannya.

Sinyal bahaya berkedip hebat, menunjukkan bahwa sensor suhu tinggi di sekitar perangkat tersebut aktif, diikuti oleh hilangnya denyut nadi normal dari indikator kesehatan yang terintegrasi.

Pratama yang memang belum tidur sejak tadi langsung bangkit dari kursi kerjanya.

Wajahnya seketika pucat pasi, dan jantungnya berdegup kencang dihantam kepanikan yang luar biasa.

"Diko! Siapkan tim keamanan sekarang! Lokasi rumah petak Gia!" teriak Pratama melalui interkom sambil berlari menyambar kunci mobilnya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Pratama memacu mobil sport hitamnya membelah jalanan malam kota yang sepi dengan kecepatan penuh.

Ban mobilnya berdecit keras di setiap tikungan tajam, diikuti oleh tiga mobil van hitam milik tim keamanannya di belakang.

Di dalam benaknya, hanya ada satu nama yang bergaung: Diandra.

Sesampainya di lokasi, pemandangan di depan matanya membuat dunia Pratama seolah runtuh.

Rumah petak kumuh itu sudah dilalap api besar yang membubung tinggi ke langit malam.

Suara kayu yang terbakar dan runtuh terdengar mengerikan, berbaur dengan teriakan histeris warga sekitar yang mencoba memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Pratama keluar dari mobil bahkan sebelum kendaraannya berhenti sempurna.

"Diandra!!" teriak Pratama histeris, suaranya serak menahan sesak di dada.

Ia melangkah lebar, hendak langsung berlari menuju pintu depan rumah yang sudah dikepung dinding api.

"Pak Pratama, jangan! Itu terlalu berbahaya! Struktur rumahnya sudah tidak stabil!" Diko dengan cepat menghadang tubuh bosnya, dibantu oleh dua orang anggota tim keamanan yang menahan lengan Pratama dengan kuat.

"Lepaskan aku, Diko! Istriku ada di dalam!" bentak Pratama, menyentak tubuhnya dengan kekuatan penuh hingga para pengawalnya terhuyung.

Mengabaikan larangan keras dari warga sekitar dan peringatan Diko, Pratama menyambar seember air dari tangan seorang warga, menyiramkannya ke seluruh tubuh dan jaket tebal yang ia kenakan hingga basah kuyup.

Dengan tatapan mata yang dipenuhi nekat dan keputusasaan, ia menerobos masuk ke dalam rumah petak yang membara itu.

"Pak Pratama!!" teriak Diko frustrasi, namun sosok sang CEO sudah hilang ditelan asap hitam pekat dan jilatan api yang kelaparan.

Di dalam rumah, suhu udara terasa membakar kulit dan asap tebal langsung menusuk paru-parunya.

Pratama terbatuk-batuk hebat, menutup hidungnya dengan lengan jaket yang basah sambil menyisir pandangan melewati ruang tengah yang mulai runtuh.

"Diandra! Kamu di mana, Sayang?! Diandra!"

Tepat di dekat pembatas ruang tengah dan dapur, Pratama menangkap siluet tubuh kecil yang tergeletak tak berdaya di atas lantai semen yang dikelilingi puing-puing berapi.

Tanpa memedulikan balok kayu membara yang jatuh tepat di sampingnya, Pratama berlari menerjang maut demi merengkuh kembali belahan jiwanya.

Pratama menerjang kepungan asap hitam, matanya perih dan paru-parunya terasa membakar.

Begitu melihat tubuh kecil Gia tergeletak tak berdaya di lantai semen, ia langsung berlutut.

Tanpa membuang waktu, Pratama membopong tubuh istrinya ke dalam pelukan, mendekapnya erat-erat seolah seluruh hidupnya bergantung pada raga yang rapuh itu.

"Aku menjemputmu, Sayang. Bertahanlah," bisik Pratama dengan suara parau.

Saat ia berbalik untuk berlari keluar, sebuah suara retakan keras terdengar dari atas.

Sebuah balok kayu penyangga atap yang membara runtuh dengan cepat. Pratama tidak punya waktu untuk menghindar.

Menggunakan insting pelindungnya, ia memutar tubuh, menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi tubuh Gia.

Brak!

Balok kayu panas itu menghantam telak punggung Pratama.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar seketika saat kain jaketnya yang basah mulai mengering dan kulitnya melepuh. Namun, Pratama bahkan tidak memedulikan punggungnya yang terkena puing kayu panas tersebut.

Ia tidak melepaskan dekapannya sedikit pun. Dengan sisa tenaga dan raungan kemarahan, ia menerobos sisa jilatan api dan berhasil keluar ke halaman rumah yang disambut histeria warga dan tim keamanannya.

"Medis! Siapkan ambulans sekarang!" teriak Diko panik melihat bosnya keluar dengan punggung berasap dan membopong Gia yang pingsan.

Sementara itu, di tempat lain yang sangat kontras dengan kobaran api di rumah petak...

Di dalam ruangan khusus bawah tanah yang tenang dan steril, tubuh Diandra yang asli—yang selama berminggu-minggu ini terbaring koma—tiba-tiba mengalami lonjakan drastis pada monitor elektrokardiogram (EKG).

Suara bip yang tadinya konstan beraturan, mendadak berubah menjadi pekikan panjang yang mengerikan.

Beeeeeeeeeeep—

"Dokter! Pasien mengalami gagal jantung mendadak! Detak jantungnya berhenti!" teriak seorang perawat senior dengan panik.

Dokter spesialis yang berjaga langsung berlari masuk ke dalam ruangan.

Suasana seketika berubah menjadi tegang dan penuh urgensi. Garis di monitor EKG benar-benar mendatar.

Jiwa Diandra yang berada di dalam tubuh Gia yang sedang sekarat karena menghirup asap kebakaran, tampaknya ikut menarik paksa sisa kehidupan dari raga aslinya.

"Siapkan defibrillator sekarang! Atur di dua ratus joule!" perintah dokter dengan tegas.

Perawat dengan cekatan mengoleskan gel khusus pada sepasang alat kejut listrik.

Dokter mengambil alih alat tersebut, menggosoknya sejenak, lalu menempelkannya kuat-kuat ke atas dada bidang tubuh asli Diandra yang pucat.

"Semua menjauh! Shock!"

Jedug!

Dokter memberikan kejut listrik pertama. Tubuh asli Diandra melenting ke atas di atas ranjang rumah sakit akibat hantaman arus listrik yang kuat, lalu kembali jatuh terkulai.

Semua mata tertuju pada monitor EKG, namun garis di layar itu masih tetap mendatar.

"Belum ada respons! Naikkan ke tiga ratus joule!" seru dokter, keringat mulai membasahi dahinya.

"Lakukan lagi! Shock!"

Arus listrik kedua yang lebih besar kembali dihantamkan ke dada Diandra, mencoba memanggil kembali jiwa sang pemilik rumah yang kini sedang berjuang di ambang kematian antara dua raga yang berbeda.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!