NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!

---

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karyawisata ke Puncak

Hari Jumat Pagi — Berangkat Karyawisata

Pukul 05.30 pagi. Langit masih gelap gulita, namun semangatku terasa membara—bukan hanya karena senang berwisata, tapi karena ini adalah momen kunci.

Akhirnya tibalah hari karyawisata. Selama tiga hari ke depan, seluruh siswa kelas 1 SMP Negeri 7 Jakarta akan menginap di sebuah vila di kawasan Puncak, Jawa Barat. Di sinilah rencana jahat Rio dan Vania akan dimulai—atau justru berakhir, tergantung siapa yang mampu menyusun strategi dengan lebih cerdik.

Aku berdiri di halaman sekolah bersama rombongan, membawa ransel biru tua yang sudah diperiksa Bunda hingga tiga kali sejak pagi.

Bunda (05.10): “Jangan lupa bawa jaket tebal! Di sana dingin.”

Bunda (05.11): “Cek lagi barang-barangnya, jangan ada yang ketinggalan.”

Bunda (05.12): “Jaga diri baik-baik ya, Nak. Jangan berbuat sembarangan.”

Bunda (05.13): “Dan jangan lupa…”

Nayla (05.14): “Bunda, aku sudah tahu semuanya. Tenang saja.”

Sejak aku "terlahir kembali", Bundaku di kehidupan ini memang menjadi lebih cerewet. Mungkin karena di kehidupan sebelumnya, ia kehilanganku terlalu cepat. Atau mungkin alam bawah sadarnya masih menyimpan rasa khawatir itu, meski ingatannya tidak.

“Nay!” Sasha melambai dari kejauhan. Ia menarik koper berwarna merah muda terang yang ukurannya hampir sama besar dengan tubuhnya yang mungil.

“Kopermu kok sebesar itu, Sha? Kita kan cuma pergi tiga hari,” tanyaku heran.

“Buat jaga-jaga saja,” jawabnya sambil terus mendorong kopernya yang berat. “Aku bawa lima pasang sepatu yang berbeda.”

“Lima pasang?!”

“Tentu saja. Kadang suasana hati butuh alas kaki yang cocok, kan?”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Tak lama kemudian, sosok Rasya muncul di sampingku tanpa suara seperti biasa.

“Pagi,” sapanya singkat. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tampak segar meski hari masih pagi buta. Ia mengenakan jaket abu-abu dan ransel hitam yang terlihat sangat sederhana.

“Kamu cuma bawa barang sedikit saja?” tanyaku lagi.

“Cukup untuk kebutuhan tiga hari,” jawabnya santai. “Di kehidupan sebelumnya aku terbiasa hidup sederhana dan tidak banyak membawa barang.”

“Ehem!” Sasha menyela percakapan kami sambil tersenyum menggoda. “Kalian berdua kalau ngobrol kayaknya sering lupa ada orang lain di sekitar, ya?”

Aku tersenyum malu. “Maaf, Sha.”

“Tidak apa-apa. Tapi ada satu janji yang harus kalian tepati selama di sana.”

“Apa itu?”

“Jangan terlalu sering menunjukkan kemesraan di depanku. Pegangan tangan, tatapan dalam, senyum-senyum sendiri… aku tidak kuat melihatnya.”

Rasya menatapku tenang. “Kami tidak akan berlebihan.”

“Kata siapa?” Aku menyeringai lalu dengan sengaja meraih tangannya.

“Nayla—”

“Cuma pegangan tangan saja, kok.”

Rasya menghela napas, namun akhirnya membalas genggamanku. Jari-jarinya yang agak dingin terasa nyaman melingkari jari-jariku.

Sasha mengerang kesal sambil tertawa. “Sudah aku duga!”

---

Di Dalam Bus

Bus pariwisata berwarna putih dengan tulisan “SMAN 7 JAKARTA” (meski sebenarnya SMP, tapi tak apa) sudah terparkir rapi di halaman sekolah. Kami mulai naik satu per satu.

Aku, Rasya, dan Sasha berhasil mendapatkan tempat duduk di pojok paling belakang—posisi yang sangat strategis, karena dari sini kami bisa mengawasi seluruh isi bus tanpa terlihat mencurigakan.

Di kursi bagian depan, Vania duduk manis di dekat jendela. Di sampingnya ada Rio. Sementara dua baris di belakang mereka, Andre duduk sendirian. Matanya menatap kosong ke luar jendela, namun dadanya naik turun tidak beraturan—tanda ia sedang merasa gelisah.

“Pengawasan dimulai,” bisik Sasha semangat.

“Kita fokus mengawasi Rio dan Vania,” ucapku. “Sasha, tugasmu mengamati Andre. Catat setiap gerak-geriknya, siapa yang diajak bicara, dan apa yang dia perhatikan.”

“Seperti detektif sungguhan nih,” gumam Sasha sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. “Siap dilaksanakan.”

Rasya mengeluarkan sebuah ponsel khusus yang memiliki lensa kamera dengan kemampuan zoom yang kuat. “Aku siap merekam jika ada hal penting.”

“Dari mana kamu dapat ponsel itu?” tanyaku takjub.

“Membelinya secara daring.”

“Kapan?”

“Minggu lalu.”

“Berapa harganya?”

“Rahasia,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

Aku hanya melongo. Ternyata cowok ini sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.

---

Perjalanan Empat Jam Menuju Puncak

Bus mulai melaju meninggalkan Jakarta. Perlahan-lahan, pemandangan gedung-gedung tinggi berubah menjadi hamparan pepohonan hijau dan perbukitan yang asri.

Pukul 07.00 — Vania berdiri membagikan bungkus keripik kepada teman-teman sekelasnya dengan sikap yang sangat ramah dan manis. Namun matanya sesekali melirik ke arah tempat duduk kami.

“Nay, mau?” tawarnya sambil mengulurkan sebungkus keripik.

“Terima kasih, Van. Aku belum lapar,” tolakku sopan.

“Masih marah ya sama aku?” suaranya terdengar sedih.

“Tidak. Benar saja belum lapar.”

Vania mengangguk pelan lalu kembali ke tempat duduknya. Rio menatapku tajam sesaat, lalu berbisik sesuatu ke telinga Vania.

Waktu yang tepat untuk merekam.

Rasya sudah mengarahkan ponselnya dari celah-celah sandaran kursi di depan kami.

“Rasya, jangan terlalu mencolok,” bisikku khawatir.

“Ia tidak akan menyadarinya. Fokusnya hanya padamu.”

“Tapi—”

“Percayalah padaku.”

Aku menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri.

---

Pukul 09.30 — Istirahat di Rest Area

Bus berhenti sejenak di rest area Ciawi agar para penumpang bisa ke toilet, membeli makanan, atau sekadar meregangkan otot.

“Ini waktunya,” bisik Rasya. “Rencana kita mulai berjalan.”

Rencana yang sudah disusun: Sasha akan berpura-pura jatuh sakit di dekat Rio dan Vania untuk mengalihkan perhatian mereka. Sementara itu, aku dan Rasya akan memeriksa barang bawaan Rio untuk mencari bukti yang kuat.

“Kamu yakin Sasha sanggup melakukannya?” tanyaku sekali lagi.

Sasha berjalan perlahan mendekati tempat Rio berdiri. Tiba-tiba, ia memegangi perutnya dan wajahnya menjadi pucat pasi.

“Uh… uh… perutku sakit…” ia mengerang pelan.

Rio menoleh dengan wajah kesal. “Kamu kenapa?”

“Maaf, Mas Rio… aku sepertinya mabuk darat…” Sasha langsung meraih lengan baju Rio, lalu dengan sengaja—aku yakin itu disengaja—ia muntah. Benar-benar muntah.

Tepat di lengan baju Rio.

“ARRGHH! APA INI?!” Rio berteriak kaget sambil mundur dengan wajah jijik.

“Maaf, maaf sekali!” Sasha masih memegang lengan Rio meski ia berusaha melepaskannya. “Aku tidak tahan—ugh!”

Muntah kedua kali, kali ini mengenai sepatunya.

Vania mundur ketakutan. Teman-teman lain menjauh. Guru-guru segera berlarian membawa kain lap dan air bersih.

“Luar biasa,” bisik Rasya takjub.

“Aku tahu Sasha pandai berakting, tapi ini… melebihi ekspektasiku,” gumamku.

Saat semua orang sibuk mengurus Sasha dan Rio yang sedang marah besar, aku dan Rasya dengan cepat mendekati meja tempat tas Rio diletakkan.

“Kamu jaga kalau ada yang lewat,” perintah Rasya. “Aku akan memeriksanya.”

Dengan gerakan yang sangat cepat dan terampil, Rasya membuka ransel Rio. Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan tebal—mirip dengan yang pernah ditemukannya sebelumnya—dan sebuah perangkat keras kecil berwarna hitam.

“Ini dia,” gumamnya. Ia menyelipkan benda itu ke dalam saku jaketnya, lalu menutup kembali ransel Rio dengan rapi seolah tidak disentuh.

“Selesai?” tanyaku.

“Selesai. Ayo kita pergi.”

Kami berjalan menjauh sambil berpura-pura membeli minuman. Dari kejauhan, Sasha yang masih terlihat lemas di lantai mengedipkan mata kecil ke arah kami.

Misi pengalihan perhatian berhasil sempurna.

---

Pukul 10.00 — Kembali ke Dalam Bus

Rio duduk dengan wajah masam sambil mengenakan kaos cadangan. Sepatunya sudah dibersihkan oleh petugas rest area, namun bau tidak sedap sepertinya masih terasa.

Sasha yang duduk di sampingku tersenyum puas.

“Kamu hebat sekali, Sha,” pujiku.

“Aku sudah berlatih sejak tadi malam.”

“Berlatih muntah?”

“Berlatih membuat perut terasa mual. Caranya dengan menonton video orang naik perahu di tengah ombak besar,” jawabnya santai.

Rasya menggelengkan kepala. “Kamu memang unik.”

“Sama seperti kalian. Kita satu kelompok yang aneh,” balas Sasha sambil tertawa.

“Tapi sekarang,” Rasya mengeluarkan perangkat keras yang diambilnya dari saku, “kita lihat apa isinya.”

“Tidak berbahayakah membukanya di sini? Banyak orang yang bisa melihat,” tanyaku.

“Nanti malam saja. Saat semua orang sudah tertidur lelap.”

---

Pukul 16.00 — Tiba di Vila

Akhirnya kami sampai di Vila Mega Permata, tempat kami menginap. Kompleks vila ini cukup luas, terdiri dari tiga bangunan utama: Vila A untuk siswi perempuan, Vila B untuk siswa laki-laki, dan Vila C untuk para guru.

Aku sekamar dengan Sasha dan dua orang teman lain: Dinda, gadis pendiam yang sangat suka membaca buku, dan Mila, gadis tomboi yang gemar berolahraga. Untungnya mereka tidak terlalu banyak bertanya tentang hal-hal pribadi.

“Alismu terlihat rapi sekali, apakah ditato permanen?” tanya Dinda sambil menatap wajahku.

“Bukan. Memang alisku tebal sejak lahir,” jawabku sambil tersenyum.

“Beruntunglah kamu,” gumam Dinda iri.

Sasha melirikku sambil tersenyum kecil, seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah makan malam bersama, acara dilanjutkan dengan kegiatan api unggun dan perkenalan. Namun pikiranku tidak berada di sana. Yang ada di pikiranku hanyalah isi perangkat keras yang disimpan dengan aman oleh Rasya.

Sekitar pukul 21.00, setelah acara selesai, aku mengirim pesan singkat kepada Rasya.

Nayla (21.04): “Kapan kita bisa memeriksa isinya?”

Rasya (21.05): “Jam sebelas malam. Saat semua orang sudah tertidur.”

Nayla (21.05): “Di mana?”

Rasya (21.06): “Di taman belakang vila. Tempatnya sepi dan tersembunyi.”

Nayla (21.06): “Baiklah.”

Sasha yang melihat layar ponselku mengingatkan, “Hati-hati ya, Nay.”

“Tolong jaga kamar ini sementara aku pergi sebentar.”

“Pasti.”

---

Pukul 23.00 — Taman Belakang Vila

Taman belakang vila sangat luas dan dikelilingi pohon pinus yang rindang. Di tengahnya terdapat kolam ikan kecil yang airnya terlihat jernih memantulkan cahaya bulan.

Aku menemukan Rasya sudah duduk di bangku kayu dekat kolam, memegang perangkat keras itu dan sebuah laptop kecil yang ternyata juga dibawanya.

“Kamu memang sangat siap, ya,” kataku sambil duduk di sampingnya.

“Persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan,” jawabnya tenang.

“Kutipan dari siapa?”

“Dari diriku sendiri. Baru saja terlintas di pikiran,” katanya sambil tersenyum.

Aku terkekeh pelan.

Rasya menghubungkan perangkat keras itu ke laptopnya. Kami berdua menahan napas menunggu isinya terbuka.

Layar laptop menampilkan beberapa folder dengan nama yang tertulis rapi: “PROYEK N”, “PROYEK A”, “PROYEK V”, dan “PROYEK R”.

“Proyek N artinya Nayla, Proyek A adalah Andre, Proyek V adalah Vania, dan Proyek R adalah Rasya,” terangnya.

“Buka satu per satu.”

Rasya membuka folder pertama: “PROYEK N”.

Di dalamnya terdapat puluhan, bahkan ratusan foto diriku. Foto-foto itu diambil dari jarak jauh—saat aku di sekolah, di rumah, di mal, bahkan saat aku sedang duduk di dalam kelas.

“Mengerikan sekali,” bisikku merinding. “Dia ternyata mengawasiku sejak lama.”

“Sejak kapan foto ini diambil?”

Aku melihat keterangan tanggal pada file foto tersebut. Tanggalnya menunjukkan tiga bulan sebelum aku terlahir kembali.

“Itu artinya… Rio sudah mengetahui keberadaanku bahkan sebelum aku terlahir kembali?” tanyaku tidak percaya. “Ini tidak masuk akal.”

“Atau mungkin,” Rasya berbicara pelan dan hati-hati, “Rio juga terlahir kembali, namun waktunya lebih awal dari kita.”

“Lebih awal? Maksudnya?”

“Maksudnya, saat kita baru lahir sebagai bayi, Rio mungkin sudah terlahir kembali beberapa tahun sebelumnya. Jadi ia memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan segala rencananya.”

Aku menelan ludah dengan berat. “Kalau begitu… apakah dia mengetahui semua rencana kita?”

“Belum tentu. Namun ia tahu bahwa kita akan menjadi ancaman baginya.”

Kami kemudian membuka folder berikutnya: “PROYEK R”.

Di dalamnya juga terdapat foto-foto Rasya yang diambil secara diam-diam, meski jumlahnya tidak sebanyak fotoku. Namun ada satu file teks yang menarik perhatian kami.

Rasya membuka file yang bertuliskan “RENCANA_EKSEKUSI_R.txt”.

Isinya membuat darahku terasa berhenti mengalir sejenak:

Target: Rasya (alias Rasyid, mantan sopir Nayla di kehidupan sebelumnya)

Waktu Pelaksanaan: Karyawisata Puncak, malam kedua

Cara: Diberi racun ke dalam minuman

Pelaksana: Andre (dengan janji: Nayla akan menjadi miliknya setelah Rasya tiada)

Catatan: Pastikan Nayla tidak melihat. Pastikan tidak ada saksi. Racun bekerja dalam 4-6 jam. Kematian akan terlihat seperti serangan jantung biasa.

Tanganku gemetar hebat.

“Mereka berniat meracunimu. Malam ini? Tapi ini baru hari pertama—”

“Mereka menuliskan malam kedua. Besok malam,” Rasya menggenggam tanganku erat untuk menenangkanku. “Kita masih punya waktu untuk mencegahnya.”

“Kita harus segera memberitahu guru!”

“Belum saatnya. Kita belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk menangkap mereka sekarang. Kita harus bertindak cerdas.” Rasya menatapku dengan pandangan yang tenang namun penuh tekad. “Kita akan membalikkan keadaan.”

---

Pukul 23.30 — Kembali ke Kamar

Aku masuk ke kamar dengan perasaan campur aduk. Sasha masih terjaga, sedangkan Dinda dan Mila sudah terlelap pulas.

“Bagaimana? Apa isinya?” bisik Sasha pelan.

Aku menceritakan semuanya secara rinci. Wajah Sasha perlahan berubah menjadi pucat pasi.

“Mereka benar-benar tidak main-main, ya.”

“Benar-benar serius.”

“Jadi besok malam kita harus menggagalkan rencana mereka sekaligus menjebak mereka agar tertangkap?”

“Tepat sekali.”

Sasha menghela napas panjang. “Ini butuh rencana yang sangat matang.”

“Kita sudah punya rencananya.”

“Cepat ceritakan.”

Aku memejamkan mata sejenak, mengingat pembicaraanku dengan Rasya tadi.

“Besok malam, saat mereka berusaha meracuni Rasya, Andre yang akan menjadi pelakunya. Namun sebenarnya Andre tidak sepenuhnya percaya pada Rio. Selama ini ia masih memiliki perasaan padaku. Kita akan memanfaatkan kelemahan itu.”

“Caranya bagaimana?”

“Kita akan membuat Andre menyadari bahwa ia hanya dimanfaatkan, sehingga ia berbalik arah dan melawan Rio.”

Sasha bersiul pelan. “Ini rencana yang berani dan penuh risiko.”

“Tapi ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.”

Sasha menatapku lama, lalu mengangguk mantap. “Baiklah. Aku ikut serta. Apa pun yang terjadi.”

“Sha, ini sangat berbahaya.”

“Aku tahu. Tapi kalian tidak bisa menghadapi ini sendirian.” Ia meremas tanganku. “Kita bertiga, kan? Seperti janji kita.”

Aku tersenyum haru. “Benar. Kita bertiga.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!