Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Puncak Kaisar Jatuh
Kapal Perang Pembelah Bintang membelah awan putih Benua Tengah layaknya pedang dewa yang menembus sutra. Di bawah lambung besi hitamnya, terbentang pemandangan yang membuat siapa pun dari Benua Pinggiran akan meneteskan air mata kecemburuan.
Gunung-gunung melayang di udara, diikat oleh rantai emas energi bumi. Air terjun spiritual mengalir dari atas langit, memancarkan pelangi tujuh warna yang mengandung Qi murni. Binatang-binatang buas tingkat tinggi—seperti Bangau Mahkota Merah dan Ular Naga Bersayap—berterbangan dengan bebas di antara awan.
"Qi Spiritual di sini... begitu kental hingga terasa lengket di kulit," gumam Ye Fan, menyerap seteguk udara. Di dalam Dantian-nya, fondasi Pembangunan Yayasan-nya bergetar kegirangan, seolah seekor naga yang baru saja dilepaskan ke lautan luas.
Su Yue mengangguk pelan, seratus pedang peraknya berdengung harmonis di sekitarnya. "Hukum Langit dan Bumi di Benua Tengah sangat lengkap. Di Wilayah Selatan, kita merasa seperti ikan di kolam lumpur. Di sini, kita adalah ikan di samudra tak bertepi."
Lin Tian, sang Murid Ketiga, hanya diam. Matanya yang segelap jurang menatap daratan tak berujung di bawah dengan kelaparan yang buas. Samudra tak bertepi? Maka aku akan menelan samudra ini hidup-hidup!
Di anjungan utama, Lin Chen berbaring miring di atas singgasana gioknya. Ia tidak sedang menikmati pemandangan, melainkan sedang menatap layar biru transparan di benaknya yang baru saja berkedip-kedip liar.
[Ding!]
[Misi Utama Ketiga: Mendirikan Takhta Surga di Tanah Para Dewa!]
[Deskripsi: Seekor naga tidak boleh tidur di sarang anjing. Sekte Puncak Awan membutuhkan markas utama yang memancarkan dominasi mutlak di Benua Tengah.]
[Target Lokasi: 'Puncak Kaisar Jatuh' (Fallen Emperor Peak) - Jarak: 3.000 Mil ke arah Utara.]
[Kondisi Tambahan: Lokasi ini saat ini sedang diperebutkan oleh elit generasi muda dari tiga Tanah Suci lokal. Tuan Rumah harus merampasnya dengan gaya yang paling arogan!]
[Hadiah Misi: 50.000 Poin Sistem, Evolusi Akar Roh Tiga Murid Inti, & Bangunan 'Gerbang Pemecah Langit'.]
"Puncak Kaisar Jatuh?" Sudut bibir Lin Chen melengkung ke atas. "Nama yang lumayan. Kaisar masa lalu telah jatuh, maka Kaisar yang baru akan naik takhta di sana."
Lin Chen menjentikkan jarinya, mengirimkan seberkas Qi ke panel kemudi. Kapal perang raksasa itu langsung berbelok tajam ke arah utara, melesat dengan kecepatan yang merobek kekosongan ruang, meninggalkan ledakan sonik yang membuat sekte-sekte kecil di bawahnya gemetar ketakutan.
Puncak Kaisar Jatuh.
Sesuai dengan namanya, pegunungan ini tampak seperti pedang raksasa yang menancap dari langit ke bumi. Dikelilingi oleh lautan kabut hitam pekat yang beracun (Miasma Kutukan), tempat ini dikenal sebagai Area Terlarang di Benua Tengah wilayah Timur. Legenda mengatakan, sepuluh ribu tahun lalu, seorang Kaisar Abadi tewas di sini. Darah dan kebenciannya mengubah radius seratus mil menjadi tanah kematian. Siapa pun di bawah tahap Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) yang menghirup kabutnya akan meleleh menjadi genangan darah.
Namun, hari ini, di luar perbatasan kabut hitam tersebut, puluhan kereta perang mewah dan paviliun terbang berkumpul.
Ini adalah momen langka. Setiap seratus tahun, kabut kutukan Puncak Kaisar akan melemah selama satu jam, memungkinkan para jenius di bawah usia tiga puluh tahun untuk masuk dan mencari warisan peninggalan sang Kaisar.
Di area terdepan, berdiri tiga kelompok besar yang memancarkan aura menindas.
Satu dari Klan Suci Gagak Emas, dipimpin oleh seorang pemuda berjubah emas yang dikelilingi api matahari.
Satu dari Paviliun Pedang Surgawi, dipimpin oleh seorang jenius buta huruf yang memeluk pedang kayunya.
Dan satu lagi dari Sekte Teratai Hitam, dipimpin oleh seorang penyihir wanita berwajah dingin.
Ketiga pemuda-pemudi ini adalah jenius puncak Benua Tengah, masing-masing telah mencapai tahap Pembentukan Inti Lapis Awal (Early Core Formation) di usia kurang dari dua puluh lima tahun!
"Kutukannya mulai melemah," ucap Pemuda Gagak Emas, Jin Lie, dengan nada sombong. Matanya menyapu kedua saingannya. "Warisan Kaisar kali ini akan menjadi milik Klan Jin. Kalian berdua sebaiknya mundur jika tidak ingin tulang kalian terkubur di sana."
Penyihir Teratai Hitam mencibir dingin, namun sebelum ia bisa membalas, langit di atas mereka mendadak menjadi gelap gulita.
Bukan karena awan badai, melainkan sebuah raksasa besi hitam sepanjang dua ratus meter perlahan turun, menutupi matahari sepenuhnya. Suara mesin formasinya mendengung, menciptakan tekanan udara yang membuat puluhan kereta perang mewah milik para jenius itu terhuyung-huyung seperti daun tertiup angin!
"Lancang!" raung salah satu pelindung dari Klan Gagak Emas, seorang tetua tahap Inti Emas Akhir. "Siapa yang berani menerbangkan pusaka rongsokannya di atas kepala Tuan Muda Jin?!"
Di atas anjungan Kapal Perang Pembelah Bintang, Lin Chen menguap lebar. Ia melirik ke bawah melalui perisai transparan.
"Ye Fan," panggil Lin Chen malas. "Ada anjing yang menggonggong di bawah sana. Bersihkan halamanku."
Ye Fan yang sejak tadi sudah gatal ingin menguji pedangnya melawan jenius Benua Tengah, langsung menyeringai. Tulang Pedang Kuno di tubuhnya meledak dengan dengungan yang membelah gendang telinga.
Tanpa banyak bicara, Ye Fan melompat dari atas geladak kapal setinggi ratusan kaki, meluncur ke bawah seperti meteor hitam legam.
"Hanya seorang bocah Pembangunan Yayasan Lapis 1?!" Jin Lie tertawa meremehkan saat melihat aura Ye Fan. "Benar-benar mencari mati! Paman Li, bakar dia menjadi abu!"
Pelindung tua itu mendengus. Ia mengayunkan lengan bajunya, mengirimkan lautan api emas yang memancarkan panas setara letusan gunung berapi ke arah Ye Fan. Ini adalah serangan dari seorang ahli Inti Emas Akhir!
Ye Fan tidak menghindari lautan api tersebut. Ia mencabut Pedang Pemutus Surga yang berkarat dari punggungnya. Mata pedangnya memancarkan cahaya perak absolut.
"Niat Pedang... Pemutus Samudra."
Ye Fan menebas ke bawah dengan satu gerakan lambat namun sarat akan hukum dunia.
SRING!
Lautan api emas yang mengamuk itu... terbelah menjadi dua! Bukan hanya apinya, bahkan ruang hampa di jalurnya pun seolah teriris terbuka. Gelombang pedang hitam itu menembus api dan langsung menghantam Tetua pelindung tersebut!
CRAT!
"AAARGH!" Pelindung dari Klan Gagak Emas itu menjerit histeris. Lengan kanannya putus seketika, dan ia terpental belasan meter memuntahkan darah, dadanya nyaris terbelah dua.
Kesunyian mematikan langsung mencekik puluhan ribu kultivator yang hadir.
Seorang bocah Pembangunan Yayasan baru saja memotong lengan ahli Inti Emas Akhir dengan satu tebasan?! Lelucon surgawi macam apa ini?!
Jin Lie, jenius Gagak Emas itu, mundur selangkah dengan wajah pucat pasi. Arogansinya hancur berkeping-keping.
Ye Fan mendarat dengan elegan, ujung pedang hitamnya menancap ke tanah berbatu. Ia mendongak, menatap kerumunan jenius Benua Tengah dengan pandangan merendahkan yang ia pelajari dari gurunya.
"Mulai detik ini," suara Ye Fan seringan angin namun sedingin es. "Radius seratus mil dari Puncak Kaisar Jatuh adalah wilayah pribadi Sekte Puncak Awan. Kalian memiliki waktu tiga tarikan napas untuk enyah dari pandanganku, atau mati."
"K-Kau... Sekte Puncak Awan?! Faksi kecil dari mana ini berani menantang tiga Tanah Suci sekaligus?!" teriak salah satu murid Paviliun Pedang dengan marah.
Di atas kapal, Lin Chen akhirnya berdiri. Ia melangkah keluar dari perisai, tubuhnya turun perlahan dikelilingi oleh bunga-bunga teratai Qi yang mekar di udara kosong setiap kali kakinya melangkah.
"Tiga Tanah Suci?" Suara Lin Chen bergema dari langit, mengandung tekanan Inti Emas Surgawi yang murni, membuat seluruh jenius di bawah sana berlutut tanpa sadar karena kekuatan penindasan garis keturunan Dao.
"Bahkan jika Kaisar yang mati di dalam gunung ini bangkit kembali, dia harus bersujud saat Kursi Ini (Ben zuo) berjalan melewatinya. Apalagi kalian, sekumpulan katak di dalam sumur."
Lin Chen tidak mempedulikan wajah-wajah penuh teror di bawahnya. Ia menoleh ke arah kabut hitam beracun yang mengelilingi Puncak Kaisar. Kabut yang konon bisa membunuh ahli Jiwa Baru Lahir itu.
"Kutukan yang sangat tidak sedap dipandang. Mengotori rumah baruku," desah Lin Chen.
Ia mengangkat tangan kanannya ke arah pegunungan raksasa tersebut. Dantian-nya bergemuruh. Lin Chen menggunakan sebagian kecil kekuatan dari sistem yang memberinya wewenang mutlak atas wilayah yang diklaimnya.
"Bubar."
Satu kata keluar dari bibirnya, bagaikan titah dari Surga Tertinggi.
WUSSHHHHHH!
Seolah merespons perintah tuhan pencipta mereka, lautan kabut hitam beracun yang telah menyelimuti gunung itu selama puluhan ribu tahun... menguap begitu saja! Mengilang tanpa sisa dalam sekejap mata!
Cahaya matahari akhirnya menyinari Puncak Kaisar Jatuh, mengungkap gunung spiritual giok putih raksasa yang memancarkan Qi puluhan kali lipat lebih murni dari apa pun di Benua Tengah.
Ribuan kultivator di bawah, termasuk ketiga jenius Tanah Suci, hampir kehilangan kewarasan mereka melihat fenomena itu.
Menghapus Kutukan Kaisar Abadi hanya dengan satu kata?! E-Eksistensi monster macam apa pemuda berbaju putih ini?!
Lin Chen tersenyum tipis melihat hasil kerjanya. "Mulai hari ini, Puncak Kaisar Jatuh resmi berganti nama menjadi Puncak Awan Pusat. Yang berani melangkah masuk tanpa izin, akan Kuhancurkan hingga jiwanya tidak bisa memasuki siklus reinkarnasi."