Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Bau karbol yang tajam dan bunyi ritmis dari mesin *bedside monitor* menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Adelard. Kelopak matanya terasa seberat timah, dan ketika ia berhasil membukanya sedikit saja, cahaya lampu neon di langit-langit kamar rumah sakit membuatnya mengerang pelan. Seluruh tubuhnya terasa kaku, seolah-olah ia baru saja dihantam oleh truk kontainer, terutama pada lengan kiri dan punggungnya yang berdenyut panas.
"Dia bangun! Dokter, dia sudah sadar!"
Suara itu bukan suara ibu panti yang lembut, melainkan suara berat seorang pria yang terdengar sangat cemas. Adel mengerjapkan mata beberapa kali hingga bayangannya fokus. Di samping ranjangnya, Tuan Mahendra—pria paling berkuasa yang biasanya hanya ia lihat dari kejauhan—kini duduk dengan wajah kuyu. Rambutnya berantakan, dan kemeja mahalnya tampak kusut, seolah ia tidak beranjak dari sana sepanjang malam.
"Tuan... Mahendra?" suara Adel parau, nyaris seperti bisikan. "Kenapa... kenapa Anda di sini?"
Tuan Mahendra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan kanan Adel yang bebas dari infus dan menggenggamnya erat. Tangannya bergetar. "Jangan banyak bicara dulu, Nak. Kau baru saja melewati masa kritis. Kau kehilangan banyak darah."
Adel bingung. Sejak kapan seorang konglomerat menyebut pelayan harian dengan sebutan "Nak"? Di panti asuhan, Adel belajar bahwa orang kaya hanya peduli pada dua hal: uang dan reputasi. Tindakan Tuan Mahendra saat ini melanggar semua logika yang Adel pahami.
Pintu kamar VIP itu terbuka kasar. Clarissa melangkah masuk dengan gaun musim panas yang modis, diikuti oleh Nyonya Mahendra yang tampak tidak nyaman. Wajah Clarissa memerah, matanya menyipit penuh kebencian saat melihat ayahnya menggenggam tangan Adel.
"Ayah! Apa-apaan ini? Kenapa Ayah masih di sini?" Clarissa merengek, suaranya melengking memecah ketenangan ruang perawatan. "Tadi malam aku mimpi buruk karena trauma melihat lampu itu jatuh, tapi Ayah malah tidak ada di kamarku! Kenapa Ayah justru menunggu pelayan ini?"
Tuan Mahendra melepaskan tangan Adel perlahan, lalu berdiri menghadap putrinya. Sorot matanya yang biasanya penuh kasih pada Clarissa kini berubah menjadi dingin dan tajam. "Dia bukan sekadar pelayan, Clarissa. Dia menyelamatkan nyawamu. Jika bukan karena dia, mungkin hari ini kita sedang mempersiapkan pemakamanmu."
Clarissa tersentak. Ini kedua kalinya ayahnya membentaknya demi Adel. "Tapi dia dibayar untuk itu! Dia pelayan di rumah kita, sudah tugasnya melindungi majikan! Ayah terlalu berlebihan. Dan lagi, kenapa dia harus dibawa ke kamar VIP termahal di rumah sakit ini? Ini pemborosan!"
"Cukup, Clarissa!" Nyonya Mahendra menimpali, meski nadanya lebih karena lelah mendengar keributan. "Hendra, sudahlah. Kau sudah mendonorkan darahmu untuknya, itu sudah lebih dari cukup sebagai imbalan. Biarkan perawat yang menjaganya sekarang. Kita harus pulang, banyak kolega yang menanyakan kabar Clarissa."
"Aku tidak akan pulang," suara Tuan Mahendra tenang namun tak terbantahkan. "Hadi, masuklah."
Dokter Hadi masuk dengan map perak di tangannya. Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Adel hanya bisa memperhatikan dari ranjangnya, merasa seperti orang asing yang terjebak di tengah drama keluarga yang tidak ia mengerti.
"Hadi sudah melakukan pengecekan ulang yang lebih mendalam semalam," Tuan Mahendra memulai, matanya kini beralih pada istrinya. "Tentang darah yang mengalir di tubuh Adel... dan darah yang ada di tubuh Clarissa."
Nyonya Mahendra mengernyit. "Apa maksudmu? Apa ada masalah dengan darahnya?"
"Masalahnya adalah..." Tuan Mahendra mengambil map dari tangan Dokter Hadi dan melemparkannya ke atas meja kopi di tengah ruangan. "Clarissa bukan anak kita, Siska. Dia bergolongan darah B Positif. Sedangkan kau dan aku... kita berdua O Negatif."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap, seolah oksigen ditarik paksa keluar. Wajah Clarissa berubah pucat pasi, lalu menjadi abu-abu. "Ayah... Ayah bicara apa? Ini tidak lucu. Ayah pasti bercanda karena terlalu lelah, kan?"
"Aku tidak bercanda! Aku sudah memeriksa catatan persalinan di RS Medika tujuh belas tahun lalu. Suster Maya, wanita yang dulu kita tuntut karena pencurian, adalah orang terakhir yang memegang bayi kita sebelum dibawa ke ruang bayi," Tuan Mahendra mendekat ke arah Adel, suaranya kini bergetar karena emosi yang meluap. "Dan gadis ini... Adel... dia lahir di hari yang sama, di jam yang sama, dan ditinggalkan di panti asuhan dengan kalung matahari yang kau tahu persis itu adalah pusaka keluarga ibuku."
Adel merasa dunianya jungkir balik. *Ditinggalkan di panti asuhan? Kalung matahari?*
Clarissa berteriak histeris, "TIDAK! Itu bohong! Hasil tes itu pasti salah! Ayah, kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku adalah putri Mahendra! Dia hanya sampah! Dia pelayan!" Clarissa menerjang ke arah ranjang Adel, jemarinya yang berkuku panjang hendak mencakar wajah Adel. "Kau! Kau mencuri semuanya dariku! Kau pelayan busuk yang merencanakan ini semua!"
Sebelum tangan Clarissa menyentuh Adel, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Clarissa di udara.
Devan Dirgantara muncul entah dari mana. Wajahnya yang dingin tampak semakin beku. Dengan satu gerakan kuat, ia mendorong Clarissa menjauh dari ranjang Adel.
"Jaga sikapmu, Clarissa," suara Devan pelan namun mengandung ancaman yang nyata. "Di tempat ini, kaulah yang terlihat seperti sampah sekarang."
"Devan? Kau membela dia?" Clarissa menangis meraung-raung, merasa seluruh dunianya runtuh. "Dia pelayan! Dia bukan siapa-siapa!"
"Dia adalah putri kandungku!" Tuan Mahendra berteriak, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. "Mulai detik ini, siapa pun yang menghinanya, berarti menghinaku. Dan Clarissa... jangan panggil aku Ayah sampai tes DNA kedua keluar. Siska, bawa dia keluar dari sini sekarang juga sebelum aku kehilangan kendali!"
Nyonya Mahendra, yang masih dalam keadaan syok berat, hanya bisa merangkul Clarissa yang terkulai lemas dan menuntunnya keluar. Clarissa terus berteriak, memaki, dan menangis, suaranya bergema di koridor rumah sakit seperti hantu yang terluka.
Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi, namun kali ini penuh dengan beban emosional yang menyesakkan. Tuan Mahendra kembali duduk di samping Adel. Ia menatap Adel dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya yang mulai berkeriput.
"Adel..." suaranya sangat lembut, seolah takut Adel akan hancur jika ia bicara terlalu keras. "Maafkan aku. Maafkan aku karena membiarkanmu hidup dalam kemiskinan... maafkan aku karena membiarkanmu bekerja sebagai pelayan di rumahmu sendiri. Aku gagal sebagai ayah."
Adel terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. Selama tujuh belas tahun, ia selalu bertanya-tanya mengapa orang tuanya membuangnya. Ia sering membayangkan ayahnya adalah seorang pahlawan atau ibunya adalah wanita tercantik yang terpaksa melepaskannya karena keadaan. Namun, kenyataan bahwa ia hidup tepat di bawah hidung orang tuanya sebagai seorang pesuruh... itu adalah ironi yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan itu sendiri.
"Ini... ini tidak mungkin nyata," isak Adel, menutupi wajahnya dengan tangan yang bergetar.
Devan mendekat ke sisi lain ranjang. Ia mengambil selembar tisu dan memberikannya pada Adel. "Ini nyata, Adelard. Dunia memang punya cara yang aneh untuk mengembalikan sesuatu ke tempat asalnya."
Tuan Mahendra mengusap kepala Adel. "Mulai hari ini, kau tidak akan kembali ke panti asuhan. Kau tidak akan kembali ke ruang pelayan. Kau adalah Nona Besar keluarga Mahendra. Aku akan memindahkan seluruh dunia ke bawah kakimu untuk menebus tujuh belas tahun yang hilang."
Adel menatap Tuan Mahendra, lalu menatap Devan. Ia melihat rasa bersalah yang mendalam di mata pria yang seharusnya menjadi ayahnya, dan ia melihat ketertarikan yang misterius di mata Devan.
Namun di balik rasa syoknya, ada percikan api yang mulai menyala di hati Adel. Ia teringat setiap siraman kopi dari Clarissa, setiap hinaan "miskin" yang dilemparkan teman-teman sekolahnya, dan setiap kali ia harus berlutut membersihkan lantai.
"Tuan—maksud saya, Ayah..." Adel mengatur napasnya. "Jika saya benar-benar putri Anda... saya ingin satu hal."
"Apa pun, Nak. Sebutkan saja."
"Jangan usir Clarissa sekarang," kata Adel dengan mata yang mendadak tajam dan dingin, membuat Devan sedikit terkejut. "Biarkan dia tetap di mansion. Saya ingin dia merasakan apa yang saya rasakan. Saya ingin dia melihat saya mengambil kembali takhta yang dia curi, satu per satu. Saya ingin dia menjadi saksi... bagaimana seorang pelayan menjadi ratunya."
Tuan Mahendra tertegun, namun kemudian ia mengangguk perlahan. Ia melihat kekuatan di mata Adel—kekuatan yang ditempa oleh penderitaan. "Jika itu yang kau inginkan, maka itu yang akan terjadi."
Devan tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. "Menarik. Sepertinya drama yang sebenarnya baru saja dimulai."
Di luar kamar, Clarissa yang belum benar-benar pergi, mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia mendengar setiap kata-kata Adel. Jemarinya mencengkeram kusen pintu hingga kukunya patah dan berdarah.
"Kau ingin aku melihatmu jadi ratu?" bisik Clarissa dengan suara penuh racun. "Kita lihat saja, Adel. Siapa yang akan hancur lebih dulu di rumah itu."
Malam itu, darah telah berbicara. Dan bahasa yang digunakannya bukan hanya tentang keluarga, tapi tentang pembalasan yang akan segera dimulai.