NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:114.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Setelah kalimat mutlak itu menggantung di udara, keheningan yang mencekam kembali menguasai taman belakang. Daniel menghembuskan napas panjang, mencoba menetralkan debar jantungnya yang berpacu cepat dan menghilangkan rasa gugupnya yang sempat menyergap akibat keputusannya yang impulsif.

Ia menoleh ke arah wanita tua di sampingnya, lalu menepuk punggung tangan Bu Siti dengan lembut. "Bu, mohon izin... Daniel ke sana sebentar, ya," pamitnya dengan nada suara yang melembut.

Bu Siti hanya mengangguk pelan, matanya masih menyiratkan rasa haru sekaligus bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Daniel kemudian melangkah tegap mendekati Shanum yang saat ini masih terpaku bagaikan sebuah patung lilin, ia menatap sang dokter dengan pandangan mata bulat yang sarat akan rasa tidak percaya. Begitu jarak mereka mengikis, Daniel sedikit menundukkan kepalanya. Sebelum bertindak lebih jauh, ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Shanum, sebuah isyarat kilat yang memohon agar wanita itu mengikuti permainannya, tetap diam, dan tidak menyangkal sepatah kata pun dulu.

Tanpa aba-aba, tangan kekar Daniel terulur dan langsung merangkul bahu Shanum dengan erat, membawa tubuh wanita itu mendekat ke dalam perlindungannya, di mana posisi Shanum saat itu sedang mendekap hangat Baby Ziva.

Deg!

Shanum terkejut setengah mati. Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu membuat seluruh tubuhnya menegang dan darahnya seolah berdesir hebat. Sementara itu di hadapan mereka, wajah Klara seketika memerah padam. Raut kekesalan dan kemarahan terlihat jelas di wajah cantiknya karena melihat sikap Daniel yang begitu protektif dan intim terhadap wanita yang baru saja ia hina.

Daniel menatap Klara dengan sorot mata elangnya yang dingin, tak menyiratkan sedikit pun sisa masa lalu di antara mereka. "Sekarang hubungan di antara kita sudah selesai, Klara. Jalan hidup kita sudah masing-masing. Kuharap kau tidak mengusik kebahagiaanku lagi, apalagi sampai kau berani menghina wanita yang aku cintai!"

Deg!

Dada Shanum bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat kata-kata magis itu terlontar begitu lancar dari bibir sang dokter tampan. Meskipun ia tahu ini mungkin hanya bagian dari sandiwara untuk mengusir mantan istrinya, entah mengapa ada getaran aneh yang menyusup ke lubuk hatinya.

Klara mengambil langkah maju, memangkas jarak dengan rahang yang mengatup rapat menahan geram. "Mau seperti apa pun wanita yang kau nikahi nanti, aku yakin pada akhirnya wanita itu juga akan pergi meninggalkanmu, Daniel! Karena kau tidak akan pernah bisa menjadi pria yang sempurna untuknya!" ancam Klara dengan senyum sinis, sengaja menyentil trauma masa lalu Daniel.

Mata Klara kemudian beralih menatap tajam ke arah Baby Ziva yang berada di pelukan Shanum. "Dan satu hal lagi, aku tidak sudi putri kandungku memiliki ibu sambung seorang wanita kampungan seperti dia! Catat kata-kataku baik-baik, Daniel... aku akan membawa masalah ini ke pengadilan dan berusaha keras untuk mengambil alih hak asuh Ziva dari tanganmu!"

Mendengar ancaman tentang hak asuh anak yang keluar dari mulut wanita yang dulu menelantarkan putrinya, Daniel tidak tampak gentar sedikit pun. Alih-alih marah, ia justru menyunggingkan senyuman menyeringai yang meremehkan di sudut bibirnya.

"Lakukan saja sesuka hatimu, Klara. Bawa pengacara terbaikmu dan ajukan gugatan itu kapan saja kau mau," tantang Daniel dengan suara baritonnya yang teramat tenang namun mematikan. "Tapi ingat satu hal... sampai kapan pun, Ziva tidak akan pernah jatuh ke tangan wanita egois sepertimu!"

Klara membalikkan tubuhnya dengan sentakan amarah yang kentara. Langkah kakinya yang menghentak keras di atas lantai marmer menjadi tanda kepergiannya yang penuh dendam. Begitu masuk ke dalam mobil mewah merahnya, dengan tangan gemetar karena emosi, ia langsung menghubungi Sony, kekasih kayanya.

"Sony! Aku butuh bantuanmu sekarang juga. Cari pengacara paling hebat, paling mahal, dan paling kejam di Jakarta ini! Aku mau merebut hak asuh Ziva dari Daniel. Aku tidak sudi putriku diasuh oleh wanita jal4ng kampungan pilihan mantan suamiku itu!" raung Klara di telepon dengan napas memburu.

Di taman belakang, setelah bayangan Klara benar-benar menghilang, Daniel perlahan menurunkan tangannya dari bahunya Shanum. Atmosfer intim yang sempat tercipta mendadak menguap, digantikan rasa canggung yang teramat sangat. Daniel menatap wajahnya Shanum yang masih terlihat pias dan bingung.

"Maafkan aku, Num... Kau jadi ikut terlibat dan harus menanggung beban dari masalah masa laluku ini," ucap Daniel penuh rasa penyesalan, sorot matanya meredup bersalah.

Shanum menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum sepenuhnya normal. "Tidak apa-apa, Pak Dokter. Saya bisa memaklumi situasi terdesak yang seperti ini."

Pandangan Shanum kemudian beralih ke arah pintu taman, dan matanya seketika berbinar saat menangkap sosok sang Nenek. "Nek! Nenek sudah boleh pulang? Kenapa tidak memberi tahu Shanum sebelumnya?" seru Shanum, mengalihkan seluruh kecanggungannya.

Melihat Shanum yang ingin menghambur ke pelukan Neneknya, Daniel dengan sigap mengulurkan kedua tangannya. "Sini, biar Ziva aku ambil alih dulu. Kau sapalah Bu Siti."

Shanum menyerahkan Baby Ziva dengan hati-hati, lalu bergegas memeluk Bu Siti dengan erat, menumpahkan segala kerinduan dan rasa leganya.

Di sudut lain, pandangan Daniel kini tertuju tajam ke arah ibunya. Nyonya Tania yang menyadari tatapan menyelidik dari sang putra mendadak berubah menjadi sangat salah tingkah. Wanita paruh baya itu berpura-pura sibuk merapikan tas belanjanya, lalu buru-buru mengajak Bik Sumi masuk ke dalam rumah.

Gerak-gerik tak biasa sang ibu tentu saja memicu alarm kecurigaan di kepala Daniel.

'Apakah Mamah ada kaitannya dengan kedatangan Klara yang tiba-tiba ini? Mengapa Mamah terkesan sengaja memprovokasi keadaan?' batin Daniel curiga.

Namun, melihat kebahagiaan Shanum dan Bu Siti di depannya, Daniel memilih untuk menepis kecurigaan itu sementara waktu.

*

*

Menjelang malam, setelah meminta izin dan diantarkan oleh sopir rumah untuk mengantarkan Bu Siti kembali ke rumahnya di perkampungan kota Jakarta, Shanum baru tiba kembali di kediamannya Daniel. Tubuhnya terasa begitu lelah, baik secara fisik maupun mental setelah melewati hari yang penuh drama.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Shanum duduk bersimpuh di samping boks bayi. Ia menatap lekat wajah Baby Ziva yang tengah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Ada kilatan rasa bersalah di dadanya Shanum karena telah meninggalkan bayi mungil itu cukup lama hari ini. Dengan lembut, ia mengusap pipi gembil Ziva, merasakan kedamaian yang perlahan menjalar di hatinya.

Sementara itu, di ruangan khusus kerja yang terletak di sudut lantai dua, Daniel sedang duduk termenung di kursi kebesarannya. Ruangan itu sengaja dibuat temaram, hanya menyisakan sorot lampu meja yang menerangi tumpukan berkas.

Daniel memejamkan matanya rapat-rapat. Kepalanya berdenyut nyeri saat ingatan tentang kejadian tadi pagi berputar ulang di kepalanya.

"Kenapa aku bisa mengatakan hal gila seperti itu di depan Klara?" gumam Daniel lirih, suaranya frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. "Ini benar-benar gila... 'Shanum adalah calon istriku, wanita yang aku cintai.' Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan! Bagaimana kalau Shanum menjadi tidak nyaman setelah ini?" Daniel menghela napas kasar, merutuki bibirnya yang bertindak lebih cepat daripada logikanya.

Di ruang keluarga, Nyonya Tania dan Tuan Lee sedang duduk berdua di sofa, mengobrol santai sembari memperhatikan pintu ruang kerja Daniel yang tertutup rapat sejak sore.

"Wah, coba saja tadi Papah tidak pergi menemui rekan bisnis, Papah pasti bisa melihat langsung bagaimana wajah wanita tukang selingkuh itu pucat dan kesal setengah mati karena perkataan mutlak dari Daniel! Pokoknya, Shanum harus bisa menikah dengan Daniel," ucap Nyonya Tania bersemangat.

Tuan Lee melirik istrinya, lalu tersenyum tipis. "Tapi Mah, apakah menurutmu putra kita itu benar-benar mulai tertarik dengan Shanum? Atau jangan-jangan dia tadi hanya refleks karena emosi pada Klara?"

Nyonya Tania terkekeh percaya diri. "Mamah sangat yakin sembilan puluh sembilan persen kalau Daniel itu sudah memiliki rasa tersendiri terhadap Shanum, Pah! Tatapannya pada Shanum itu berbeda. Kita tunggu saja kelanjutannya nanti, apakah Daniel benar-benar akan menikahi Shanum demi menjaga harga dirinya dan membalaskan rasa sakit hatinya terhadap Klara. Ya... meskipun awalnya harus dimulai dengan cara pembuktian seperti ini, tapi setidaknya mereka akan memiliki ikatan pernikahan yang sah!"

Mendengar keyakinan dan binar bahagia di mata istrinya yang begitu memperjuangkan kebahagiaan sang anak, Tuan Lee tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Ia menggeser duduknya, lalu menarik tubuh Nyonya Tania ke dalam dekapan hangatnya.

"Kau memang istriku yang paling hebat dan cerdik, Sayang!" ucap Tuan Lee sembari memeluk erat tubuh istrinya, ikut mendoakan agar rencana manis ini benar-benar menjadi awal kesembuhan bagi luka batin putra mereka.

Bersambung...

1
Kusii Yaati
dan... Daniel kayaknya kamu butuh obat tensi deh,biar emosimu agak terkontrol 😩
Patrick Khan
aku suka😍😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih akak cantik 🙏😉
total 1 replies
Patrick Khan
cemburu emang merusak akal kok..🤸🤸🤸
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju
total 1 replies
Patrick Khan
nangis q nenek ketemu natan..eh oas ketemu sanum dredeg kan tenan ..gelut meh🤣🤣🤣🤸
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gelut kak, biar seru 🤣🤣🤣
total 1 replies
~Ni Inda~
Yaaaa...bodohhh
Aihhh...dokter kok bodoh
Beginilah klw emosi menguasai diri...logika mati apalagi matahati...tak dihiraukan
Minta maaf sm abang ipar...obatin luka yg kau beri tadi...baik²in dia...jgn sampai Shanum dibawa pergi 🤣🤣🤣
~Ni Inda~: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
Patrick Khan
wes karepmu lah sanum danil😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
~Ni Inda~
Weslah Niel
Seterahmulahhh
Asal jgn nyesel aja ntar
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
wes km golek perkoro num🤣🤣🤣
Patrick Khan
sanum golek perkoro..gk tau jujur yoan gregetan q😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: awas nanti tensimu naik, kak 🤣🤣🤣
total 3 replies
Teh Euis Tea
maka Daniel jgn emosi aj di duluin klu udah begini kan jd malu, harusnya km dengerin dulu cerita Nathan kan km seorang dokter berpendidikan tinggi tp kalah sm emosi
deuhh jd pengen nyubit othor saking gemesnya🤭🤭🤭🤭🤭
Kusii Yaati: betul Thor, mereka klop sama" menjengkelkan ,aq aja sampai gregetan bawaannya pengen misuh" 😂
total 6 replies
Lisa
Makanya dengerin dulu penjelasan dari Nathan..jgn keburu emosi aj Daniel..
dewi rofiqoh
Mungkin jika Nathan gk langsung main peluk, daniel gk bakalan langsung ngamuk🤔🤔
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul, kak 🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
makany Daniel jadi laki2 jgn emosian tuh ka alu sendiri jadinya bukannya cari tau siapa Natha alah lgsg baku ha tam aja hadeeeh trauma sih trauma tp ga gitu jg kali
Ariany Sudjana
katanya dokter itu Daniel, tapi bodohnya kebangetan. katanya punya banyak anak buah, tapi ga mau cari tahu kebenarannya, sebelum bertindak, dasar bodoh
sri hastuti
akhirnya terungkap ,jd daniel bisa lega, dan traumanya bisa sembuh, sebab shanum tdk berbuat macam2, tetap setia , karena nathan adalah kakaknya kandung 👍👍
Lisa
Daniel ini emosi melulu..seharusnya ditanya dulu kenapa Nathan memeluk Shanum..
Teh Euis Tea
aku ikutan sedih 😢😢😢😢😢 dgn ucapan Daniel yg merendahin Shanum, emang Shanum salah dan Daniel trauma tp ya ga begitu jg x Daniel klu udah gitu jd nyakitin hati shanum
Ariany Sudjana
bodoh kamu Daniel, dokter tapi emosi tinggi, kamu banyak punya anak buah, tapi bukannya cari kebenarannya, malah sibuk menghajar orang lain
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dia gk kepikiran kesitu kak, logikanya tertutup oleh rasa cemburunya
total 1 replies
Ilfa Yarni
tuhkan shanum benarlah arumi adiknya nayhan tp aka kah shanum percaya dgn apa yg dikatakan nathan nantinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semoga saja percaya Bun
total 1 replies
Ani
kenapa nenek siti gak dibawa sekalian sih.. kan jadi salah paham lagi.. Daniel kok yo gak bisa nahan emosi sih..
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aku juga genes kak🤣😉
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!