NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sangkar Emas Sang Triliuner

Pintu SUV antipeluru berwarna pekat itu tertutup dengan bunyi 'thud' yang berat dan kedap, memotong seluruh suara hiruk-pikuk dari luar. Di balik kemudi, Dante segera menaikkan kaca partisi hitam tebal yang memisahkan kursi penumpang belakang dari kursi depan. Ruangan di bagian belakang mobil super mewah itu kini menjadi area yang sepenuhnya privat, hanya menyisakan Alana dan pria yang baru saja membalikkan seluruh kewarasannya.

​Mobil mulai bergerak melaju, meninggalkan pekarangan gedung Viora Jewelry yang masih dilanda badai kehebohan.

​Di atas jok kulit Nappa berkualitas tinggi yang beraroma pinus dan musk, tubuh Alana masih bergetar hebat. Gadis itu menarik lututnya mendekat ke dada, menjauhkan dirinya hingga merapat ke pintu mobil. Sepasang mata indahnya menatap nanar ke arah sosok tegap di sampingnya. Pria itu sudah kembali pada postur angkuhnya yang biasa, melepaskan dua kancing teratas kemejanya dengan gerakan yang luar biasa elegan.

​"Jelaskan padaku," suara Alana memecah keheningan yang mencekam. Nadanya bergetar, namun dipenuhi tuntutan yang keras. "Siapa kau sebenarnya? Rex Leonidas? Pemilik perusahaan tempatku bekerja? Triliuner yang semalam menghancurkan bisnis Juragan Bahar?!"

​Xander menoleh perlahan. Sorot mata obsidiannya yang mematikan kini berubah menjadi sedikit lebih lembut saat menatap wajah pucat istrinya. Pria itu menggeser posisi duduknya, memangkas jarak di antara mereka.

​"Jangan mendekat!" Alana mengangkat kedua tangannya sebagai tameng, napasnya memburu. "Berhenti di sana, Tuan Leonidas, atau siapa pun namamu! Kau menipuku! Kau membiarkan aku membayarmu lima juta rupiah di tengah hujan, kau memakan nasi goreng murahanku, dan kau tidur di sofa rongsokanku sambil berpura-pura menjadi pria miskin yang terjerat hutang lintah darat!"

​Mendengar rentetan amarah yang meluap dari bibir mungil itu, sudut bibir Xander justru terangkat, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat menawan namun berbahaya.

​"Kau yang pertama kali menyimpulkan bahwa aku adalah pria malang yang sedang mencari pekerjaan, Alana," jawab Xander dengan nada suaranya yang dalam dan maskulin. "Aku hanya mengikuti alur permainanmu. Jika semalam aku langsung mengatakan bahwa aku adalah penguasa Leonidas Group dan pemimpin kartel bawah tanah, apakah kau akan percaya? Atau kau justru akan lari ketakutan mengira aku adalah orang gila?"

​Alana terdiam sejenak, otaknya mencerna logika tersebut. Xander benar, ia tidak akan pernah percaya. Tapi tetap saja, kebohongan ini terlalu masif!

​"Lalu kenapa kau setuju?!" serang Alana lagi, air mata mulai menggenang di pelupisnya. "Pria berkuasa sepertimu bisa membeli seluruh kota ini. Kenapa kau mau membuang waktumu untuk menerima lima juta rupiah dariku dan berpura-pura menjadi suami sewaanku? Apa kau menganggapku sebagai mainan hiburanmu saja?!"

​Melihat air mata yang nyaris jatuh dari mata gadis itu, raut wajah Xander mengeras. Senyumnya menghilang. Dengan satu gerakan cepat yang tidak bisa diantisipasi, Xander meraih pinggang Alana dan menarik gadis itu ke atas pangkuannya.

​"Lepaskan!" Alana meronta, memukul dada bidang pria itu dengan kepalan tangannya yang kecil.

​Namun Xander tidak bergeming. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Alana dengan lembut namun sangat kokoh, memaksanya untuk berhenti bergerak. Tangan besarnya yang lain bergerak merengkuh tengkuk Alana, menahan pandangan gadis itu agar terkunci tepat pada kedalaman mata kelamnya.

​"Dengarkan aku baik-baik, Alana," bisik Xander dengan nada serak yang dipenuhi kepemilikan mutlak. Aura dominannya menguar kuat, membuat nyali Alana menciut namun sekaligus meremang. "Di dunia tempatku hidup, semua orang mendekatiku dengan motif tersembunyi. Mereka menginginkan hartaku, kekuasaanku, atau nyawaku. Tapi semalam... di tengah badai itu... seorang gadis kecil yang sedang ketakutan setengah mati, justru menawariku perlindungan di apartemen kumuhnya. Kau bahkan mengkhawatirkan keselamatanku saat preman-preman itu datang."

​Xander mengusap pelan air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya. "Lima juta rupiah itu adalah jumlah uang yang kuhasilkan hanya dalam hitungan milidetik. Tapi uang lima juta darimu semalam... telah membeli sesuatu yang tidak pernah kujual kepada siapa pun di dunia ini."

​"Me-membeli apa...?" cicit Alana dengan jantung yang berdebar gila-gilaan.

​"Hidupku. Dan statusku sebagai suamimu," bisik Xander tepat di depan bibir Alana. "Mungkin bagimu, kontrak pernikahan kita di kedai ramen itu hanyalah kepura-puraan demi menghindari rentenir. Tapi bagiku, Rexander Leonidas, kontrak itu adalah mutlak. Kau sudah menyewaku, Alana. Dan aku tidak menerima pembatalan sepihak."

​Alana menelan ludahnya dengan susah payah. Pria ini sudah gila. Dia benar-benar seorang megalomaniak yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya!

​"Kau tidak bisa memaksaku," ucap Alana dengan sisa-sisa keberaniannya. "Turunkan aku di halte depan. Aku ingin pulang ke apartemenku."

​"Apartemenmu yang engsel pintunya sudah hancur itu?" Xander mendengus pelan, sebuah tawa gelap keluar dari dadanya. "Maaf, Istriku. Tapi tempatmu mulai sekarang bukanlah di ruangan sempit yang berbau lavender murahan itu."

​Tepat saat Xander menyelesaikan kalimatnya, mobil SUV yang mereka tumpangi berbelok tajam dan mulai melambat. Kaca partisi perlahan turun, memperdengarkan suara Dante dari kursi depan.

​"Kita sudah sampai di kediaman utama, Tuan Besar."

​Alana menoleh ke arah jendela yang kacanya baru saja diturunkan sedikit. Matanya seketika terbelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena takjub dan syok yang menyatu.

​Di balik gerbang besi raksasa yang berlapis emas dengan ukiran huruf 'L', terbentang sebuah lahan yang luasnya lebih mirip seperti taman nasional daripada halaman rumah. Jalanan beraspal mulus membelah padang rumput hijau yang dipangkas sempurna. Di tengahnya, terdapat sebuah air mancur raksasa dengan patung marmer bergaya Renaissance yang airnya memantulkan cahaya matahari siang.

​Namun yang paling membuat Alana kehilangan kata-kata adalah bangunan yang berdiri megah di ujung jalan tersebut. Itu bukanlah sebuah rumah, melainkan sebuah istana bergaya Eropa klasik modern yang sangat masif. Pilar-pilar pualam putih menjulang tinggi menyangga atap, dengan puluhan jendela kaca kristal yang berkilau.

​Di sepanjang tangga utama menuju pintu ganda raksasa istana itu, berbaris puluhan pelayan berseragam rapi, menunduk hormat dengan sudut 90 derajat. Di barisan lain, puluhan pria berjas hitam bersenjata berdiri tegap layaknya pasukan militer pribadi.

​Mobil berhenti tepat di depan tangga utama. Dante turun dan membukakan pintu untuk bos besarnya. Xander melangkah keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya ke dalam mobil.

​Alana menatap uluran tangan itu dengan ragu. Jika ia menerima tangan ini, ia tahu ia akan melangkah masuk ke dalam dunia mafia dan triliuner yang sangat berbahaya, sebuah sangkar emas yang entah kapan bisa ia tinggalkan.

​"Keluarlah, Nyonya Leonidas," ucap Xander dengan senyum misteriusnya. "Para stafmu sudah menunggu untuk menyambut ratu baru mereka."

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!