NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Orang yang Akhirnya Ditangkap

Lampu merah dan biru memenuhi area hutan.

Suara sirine bersahut-sahutan di tengah hujan.

Mobil polisi datang dari segala arah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Orang-orang bersenjata milik Pak Surya mulai panik.

“Turunin senjata!”

Teriakan polisi menggema keras.

Beberapa pria langsung kabur ke arah hutan.

Sebagian lain mencoba melawan.

Namun suara tembakan polisi jauh lebih ramai sekarang.

Situasi berubah kacau total.

Pak Surya masih terduduk di tanah.

Darah mengalir dari kakinya.

Namun pria tua itu tetap mencoba tersenyum santai.

“Cepat atau lambat…”

Tatapannya jatuh ke Arsen.

“…orang-orang di atas saya bakal cari kalian.”

Arsen tidak menjawab.

Tatapannya kosong.

Masih dipenuhi kehilangan.

Namun sekarang…

Ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Dingin.

Tapi tidak gelap lagi.

“Pak Surya!”

Beberapa polisi langsung mendekat sambil menodongkan pistol.

“Angkat tangan!”

Pria tua itu tertawa kecil.

“Kalian tahu saya siapa?”

Namun salah satu polisi justru memborgol tangannya tanpa ragu.

“Kami tahu.”

Tatapannya dingin.

“Dan kami juga tahu semua rekamannya.”

Deg.

Pak Surya langsung membeku sepersekian detik.

Tatapannya langsung menuju Arsen.

Atau lebih tepatnya—

Ke flashdisk di tangan pria itu.

“Jadi…”

Senyumnya perlahan hilang.

“…kalian benar-benar mau hancurin semuanya.”

Nadira memeluk Raka erat.

Adiknya masih gemetar hebat.

Wajahnya pucat.

Tatapannya kosong.

“Kak…”

“Nggak apa-apa.”

Padahal Nadira sendiri hampir hancur.

Karena malam ini terlalu panjang.

Terlalu menyakitkan.

Dan terlalu banyak kehilangan.

“Nadira.”

Suara mamanya terdengar pelan.

Wanita itu mendekat perlahan sambil menangis.

Tatapannya jatuh ke Raka.

Lalu pecah begitu saja.

“Maaf…”

Tubuhnya langsung lemas berlutut di tanah.

“Maaf Mama nggak nemuin kamu…”

Raka membeku.

Anak itu terlihat bingung.

Canggung.

Karena baginya…

Sosok ibu hanyalah sesuatu dari ingatan samar.

Bukan kenyataan.

“Aku cari kamu…”

Tangisan mamanya makin keras.

“Setiap hari…”

Papanya ikut mendekat perlahan.

Wajah pria itu terlihat jauh lebih tua malam ini.

Penuh penyesalan.

Namun Raka justru mundur sedikit.

Refleks.

Dan itu langsung menghancurkan hati kedua orang tuanya.

Karena mereka sadar—

Anak itu tidak mengenal mereka lagi.

“Raka…”

Papanya mencoba bicara.

Namun suaranya pecah.

“Ayah minta maaf.”

Sunyi.

Raka menatap pria itu cukup lama.

Lalu bertanya pelan,

“Kenapa Ayah nggak jemput aku?”

Deg.

Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan dari teriakan.

Papanya langsung menangis.

Benar-benar menangis sekarang.

“Ayah cari kamu…”

“Lama?”

Papanya mengangguk cepat.

“Sangat lama.”

Raka menunduk.

Tangannya mencengkeram baju Nadira pelan.

“Aku tunggu juga lama.”

Dan kalimat itu sukses membuat semua orang hancur.

Arsen berdiri beberapa meter dari mereka.

Diam.

Basah kuyup.

Tatapannya masih tertuju ke tubuh ayahnya yang kini sudah ditutup kain putih oleh polisi.

Nadira memperhatikannya cukup lama.

Lalu perlahan berjalan mendekat.

Tanpa bicara.

Hanya berdiri di sampingnya.

Dan itu saja ternyata cukup.

“Aneh ya.”

Suara Arsen serak.

“Aku benci dia seumur hidup.”

Tatapannya tidak lepas dari tubuh ayahnya.

“Tapi sekarang rasanya…”

Napasnya berat.

“…sesak banget.”

Nadira menatap pria itu pelan.

“Karena dia tetap ayah kamu.”

Deg.

Arsen tertawa kecil hambar.

“Dia monster.”

“Tapi dia juga nyelametin Raka.”

Sunyi.

Kalimat itu menggantung di udara.

Karena keduanya tahu—

Manusia tidak selalu hitam putih.

Kadang seseorang bisa jadi monster sekaligus penyelamat.

Dan kenyataan itu menyakitkan.

“Aku takut jadi kayak dia.”

Suara Arsen pelan sekali.

Hampir tenggelam oleh hujan.

Nadira langsung menoleh.

Tatapan pria itu kosong.

Rapuh.

“Aku takut suatu hari…”

Ia mengepalkan tangan pelan.

“…aku nyakitin orang yang gue sayang.”

Deg.

Jantung Nadira langsung terasa aneh.

Karena itu pertama kalinya Arsen terdengar begitu jujur.

Begitu takut.

“Kamu nggak akan jadi dia.”

Nadira menjawab pelan.

Arsen tersenyum kecil.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Nadira diam beberapa detik.

Lalu berkata lirih,

“Karena kamu masih bisa nangis buat orang lain.”

Sunyi.

Dan kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Arsen terasa hangat sekaligus sakit.

Tiba-tiba—

Seorang polisi mendekat cepat.

“Pak Arsen Wijaya?”

Arsen langsung menoleh.

“Ada apa?”

Pria itu terlihat serius.

“Kami perlu ikut Anda ke kantor polisi untuk pemeriksaan.”

Suasana langsung berubah lagi.

Mamannya langsung panik.

“Nggak mungkin!”

Namun polisi itu tetap tenang.

“Nama keluarga Wijaya masuk dalam semua laporan.”

Deg.

Nadira langsung membeku.

Karena ia baru sadar—

Mimpi buruk mereka belum selesai.

“Gue ikut.”

Suara Damar tiba-tiba muncul.

Bahunya masih diperban seadanya.

“Tapi dia nggak sendirian.”

Polisi itu mengangguk kecil.

“Semua yang terlibat akan diperiksa.”

Pak Rudi yang sejak tadi diam langsung tertawa kecil pahit.

“Bagus.”

Tatapannya kosong.

“Akhirnya semua selesai juga.”

Namun Nadira tahu—

Ini belum selesai.

Belum sama sekali.

“Aku ikut kamu.”

Nadira langsung bicara.

Arsen menoleh cepat.

“Nggak usah.”

“Aku tetap ikut.”

Tatapannya keras.

Dan Arsen langsung tahu—

Mustahil membantah gadis itu sekarang.

Perjalanan ke kantor polisi terasa panjang.

Hujan masih turun.

Raka duduk diam di samping Nadira.

Tatapannya terus melihat keluar jendela mobil.

Seolah dunia luar masih terasa asing baginya.

“Kamu capek?”

tanya Nadira pelan.

Raka mengangguk kecil.

“Dunia luar berisik ya.”

Deg.

Nadira langsung menahan sesak di dadanya.

Karena bagi orang lain—

Lampu jalan, suara mobil, dan kota adalah hal biasa.

Namun bagi Raka…

Semuanya baru.

“Aku boleh sekolah?”

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba.

Nadira langsung menoleh.

“Apa?”

Raka terlihat ragu.

“Aku lihat di TV…”

Tatapannya malu-malu.

“…anak-anak sekolah punya teman.”

Air mata Nadira langsung hampir jatuh lagi.

“Iya.”

Ia menggenggam tangan adiknya pelan.

“Kamu boleh sekolah.”

“Boleh punya teman juga?”

“Iya.”

“Dan keluar rumah?”

Tangis Nadira akhirnya jatuh juga.

“Iya Raka…”

Suaranya pecah.

“Kamu boleh hidup sekarang.”

Sesampainya di kantor polisi—

Suasana langsung ramai.

Banyak wartawan sudah berkumpul di depan.

Lampu kamera menyilaukan.

Semua berebut mengambil gambar.

“ITU KELUARGA WIJAYA!”

“APA BENAR TERLIBAT PENCUCIAN UANG?!”

“APA BENAR ADA PEMBUNUHAN?!”

Nadira langsung refleks menutupi Raka.

Anak itu panik melihat keramaian.

“Kak…”

“Nggak apa-apa.”

Namun Arsen langsung membuka jalan di depan mereka.

Tatapannya dingin.

Dan entah kenapa…

Tak ada wartawan yang berani terlalu dekat.

Di dalam kantor polisi—

Semua dipisah untuk diperiksa.

Nadira duduk sendirian di ruang tunggu.

Tubuhnya lelah sekali.

Pikirannya kosong.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua dimulai…

Kesunyian datang.

Namun justru itu membuat semuanya terasa lebih berat.

“Nadira.”

Suara Nayla membuatnya menoleh.

Saudara kembarnya duduk di sampingnya perlahan.

“Kamu oke?”

Nadira tertawa kecil hambar.

“Menurut kamu?”

Nayla ikut tertawa kecil.

Lalu keduanya mendadak diam.

Karena terlalu banyak hal yang berubah.

Dalam satu malam.

“Kita masih punya satu sama lain.”

Suara Nayla pelan.

Nadira langsung menoleh.

Saudara kembarnya tersenyum kecil sambil menggenggam tangannya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Nadira merasa sedikit tenang.

Sedikit saja.

Namun cukup untuk bertahan.

Tak lama kemudian—

Pintu ruangan terbuka.

Arsen keluar perlahan.

Tatapannya langsung mencari Nadira.

Dan saat mata mereka bertemu...

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan sekadar rasa suka lagi.

Melainkan kebutuhan untuk tetap bersama setelah melewati neraka yang sama.

“Kamu gimana?” tanya Nadira pelan.

Arsen mengembuskan napas berat.

“Mereka belum nahan gue.”

Nadira langsung lega sedikit.

Namun belum sempat bicara

lagi—

Seorang polisi mendekat cepat.

“Pak Arsen.”

“Ada apa?”

Polisi itu terlihat ragu.

Lalu berkata pelan,

“Ada seseorang datang dan minta bertemu Anda.”

“Siapa?”

Pria itu menelan ludah.

“Dia bilang…”

Tatapannya berubah aneh.

“…dia ibu kandung Anda.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!