NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 pembantaian

Suara ketukan pintu Jefri yang beruntun seketika memutus aliran udara panas yang membakar ruang kerja itu.

Devano melepaskan cengkeramannya pada dagu Alana dengan sentakan pelan namun tegas. Pria itu mundur dua langkah, membenarkan letak kemeja hitamnya yang sedikit kusut, lalu dengan gerakan kilat yang sangat halus kembali duduk di atas kursi roda elektriknya. Dalam sekejap, topeng pria lumpuh yang tak berdaya kembali melekat sempurna pada wajah tampannya.

"Masuk," perintah Devano, suaranya langsung kembali sedingin es, seolah ciuman panas beberapa detik lalu tidak pernah terjadi.

Pintu ganda terbuka. Jefri melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah-engah, wajahnya tampak sangat tegang. "Tuan Devano, Siska Wijaya mencoba mengkhianati kesepakatan. Dia tidak berniat menunggu uang satu miliar itu. Kami mendeteksi paspor dan koordinat ponselnya berada di Pelabuhan Internasional. Dia menyuap awak kapal kargo untuk menyelundupkannya keluar negeri dalam waktu satu jam ke depan."

Mendengar laporan itu, Alana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Siska benar-benar nekat. Dia ingin kabur membawa uang lima ratus juta yang pertama sebelum Devano menyadari kelicikannya.

Sudut bibir Devano terangkat, membentuk sebuah senyuman asimetris yang sangat mengerikan. Kilat haus darah terpancar dari manik matanya yang pekat. "Tikus kecil yang bodoh. Dia pikir laut bisa menyembunyikan dosanya dari genggaman tanganku?"

Devano memutar kursi rodanya, lalu menatap Alana yang masih berdiri lemas di dekat dinding dengan tubuh gemetar.

"Ikut aku, Alana," titah Devano tanpa bantahan. "Aku ingin kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana nasib orang yang mencoba bermain api dengan seorang Devano Adhitama."

"T-Tuan... saya..." Alana mencoba menolak, namun tatapan tajam Devano yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup membuat kata-katanya tenggelam kembali di tenggorokan.

Hujan deras mengguyur wilayah pelabuhan malam itu, menciptakan atmosfer yang luar biasa pekat dan mencekam. Guntur menggelegar di langit, menyinari deretan kontainer raksasa yang tersusun rapi seperti labirin monster besi.

Mobil Rolls-Royce hitam milik Devano berhenti tepat di depan sebuah gudang tua yang terbengkalai di ujung dermaga. Jefri dengan sigap membuka pintu belakang, membentangkan payung hitam besar untuk melindungi Devano yang diturunkan menggunakan fasilitas otomatis kursi rodanya.

Alana melangkah keluar dari mobil dengan tubuh yang menggigil kedinginan. Angin laut yang kencang menusuk kulitnya yang hanya dibalut blazer tipis. Lengan kekar Devano tiba-tiba menarik pinggang Alana dengan kasar, memaksa wanita itu berjalan sangat rapat di sisi kursi rodanya saat mereka melangkah masuk ke dalam gudang.

Di dalam gudang yang remang-remang dan berbau karat itu, beberapa pria berjas hitam bawahan Devano sudah berdiri mengitari sebuah kursi kayu. Di atas kursi itu, Siska Wijaya duduk terikat dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang basah kuyup. Sebuah koper hitam berisi uang tunai lima ratus juta terbuka di atas lantai di dekat kakinya.

"Lepaskan aku! Kalian tahu siapa aku?! Aku adalah calon istri Tuan Muda Devano! Berani-beraninya kalian menyentuhku!" Siska menjerit histeris, suaranya menggema di dinding-dinding gudang yang kosong.

Kreeek... Kreeek...

Suara putaran roda yang halus memecah jeritan Siska. Siska seketika menoleh, dan matanya membelalak sempurna saat melihat Devano masuk bersama Alana yang berada di dalam dekapan posesifnya.

"D-Devano? Alana?!" Siska terperangah. Namun, rasa serak dan ketakutannya dengan cepat digantikan oleh keangkuhan yang luar biasa. Siska menatap Devano dengan pandangan meremehkan yang sangat pekat.

"Oh, lihatlah... pria cacat ini akhirnya menjemputku," cemooh Siska dengan tawa melengking yang memuakkan, menyulut emosi pembaca yang menyaksikannya. "Devano, lepaskan aku sekarang juga! Jika tidak, aku akan menyebarkan rekaman busuk ibumu ke seluruh dewan komisaris! Aku akan menghancurkan posisimu sebagai CEO!"

Devano tidak membalas ucapan Siska. Pria itu hanya mengangkat tangan kanannya sedikit. Jefri yang paham langsung melangkah maju, melemparkan sebuah tablet digital ke depan wajah Siska. Layar tablet itu menampilkan siaran langsung dari bursa saham dan ruang rapat Adhitama Group.

"Siska Wijaya," ucap Devano, suaranya sangat rendah, tenang, namun mengandung tekanan intimidasi yang sanggup meruntuhkan nyawa seseorang. "Kau pikir dewan komisaris bisa menjatuhkanku hanya dengan rekaman murahan itu? Dua jam yang lalu, aku sudah membeli seluruh sisa saham milik para komisaris tua itu. Di Adhitama Group, akulah hukumnya. Dan rekamanmu... tidak lebih dari sekadar sampah tak berguna."

Wajah Siska seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. "T-tidak mungkin... Kau... kau pasti berbohong!"

Siska memutar otaknya yang licik, lalu pandangan matanya beralih pada Alana dengan kilat kebencian yang meledak-ledak. "Ini pasti gara-gara kau, jalang kecil! Kau bersekongkol dengan pria cacat ini untuk menjebakku, bukan?! Kau merebut posisiku sebagai Nyonya Adhitama karena kau haus harta!"

"Cukup, Siska!" Alana akhirnya berteriak, air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Kau yang melarikan diri! Kau yang memerasku! Kau yang menghancurkan keluarga kita sendiri!"

"Tutup mulutmu, Anak Haram!" bentak Siska kejam.

Brak!

Devano menghantam sandaran tangan kursi rodanya dengan sangat keras, membuat seluruh orang di dalam gudang itu tersentak ketakutan. Aura kegelapan yang pekat meluap dari tubuh kekar sang tirani. Sepasang mata elangnya menatap Siska seolah wanita itu hanyalah seonggok daging yang siap dimutilasi.

"Jefri, hancurkan paspornya," perintah Devano tanpa ampun, suaranya sedingin angin malam kutub. "Sita seluruh aset atas nama Siska Wijaya dan keluarga Wijaya yang tersisa. Blacklist namanya dari seluruh institusi finansial dan maskapai penerbangan di negara ini. Aku ingin dia menjadi gelandangan yang tidak bisa menginjakkan kaki keluar dari kota ini seumur hidupnya."

"Baik, Tuan Besar," sahut Jefri patuh.

Siska terbelalak tak percaya. Keangkuhannya runtuh seketika, digantikan oleh horor yang luar biasa menyiksa. "Tidak... Devano, jangan! Aku mohon! Aku bersumpah tidak akan menyebarkan rekaman itu! Ampuni aku, Tuan Devano!" Siska mulai menangis histeris, mencoba menggeser kursinya untuk berlutut di depan kursi roda Devano, namun para pengawal menahannya dengan kejam.

Devano mengabaikan tangisan Siska. Pria itu memutar kursi rodanya, menarik pinggang Alana untuk kembali mengikutinya keluar dari gudang yang pengap itu. Mereka berjalan menembus tirai hujan deras menuju mobil Rolls-Royce yang sudah menunggu.

begitu mereka kembali ke dalam kabin mobil yang mewah dan kedap suara, ketegangan baru yang jauh lebih intim kembali mengunci Alana.

Devano tiba-tiba menarik tubuh Alana dengan satu sentakan kuat hingga wanita itu terduduk di atas pangkuan kekarnya. Alana terkesiap, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Devano yang keras seperti batu karang. Aroma parfum maskulin yang sensual bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh Devano langsung meracuni seluruh indra penciuman Alana, memicu ketegangan R-15 yang sangat pekat.

"Kau sudah melihatnya, Alana?" bisik Devano dengan suara serak yang memabukkan, wajah tampannya mendekat hingga bibirnya menyentuh leher jenjang Alana yang dingin akibat air hujan.

Jemari tangan Devano yang besar dan kuat merayap naik ke dalam blazer Alana, meremas pinggang ramping wanita itu dengan cengkeraman posesif ekstrem yang menandai kepemilikan mutlaknya.

"Siska sudah menerima hukumannya," kata Devano tepat di depan bibir Alana yang bergetar hebat. "Dan sekarang... lima ratus juta yang kubuang untuk memancing kakak tirimu akan ditambahkan ke dalam daftar utangmu padaku. Kau harus membayarnya dengan kepatuhan total di atas ranjangku, setiap malam, tanpa ada kata menolak."

Sebelum Alana sempat mengeluarkan suara untuk memprotes, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh dengan obsesi gelap. Alana melenguh pelan di dalam tenggorokannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!