NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:581
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 WASTAFEL

​Tumpukan piring berukuran kecil bekas sushi roll, nigiri, hingga sashimi itu kini sudah bersih tak bersisa, bertumpuk rapi di atas meja ruang tamu.

​"Akhirnya... perutku rasanya mau meledak," keluh Reo dengan dramatis. Anak laki-laki itu kini merebahkan dirinya terlentang di atas karpet berbulu, mengelus-elus perutnya yang kini menonjol seperti orang yang sedang hamil tiga bulan. "Gila, ini rekor. Aku nggak bisa berdiri lagi, Gian. Kalau ada gempa bumi, tolong gelindingkan saja badanku ke luar."

​Gian, yang duduk di sofa dengan postur tegap dan elegan, hanya bisa memijat pelipisnya. Dasar rakus, nggak tahu malu, batin Gian. Perasaannya campur aduk antara kenyang, jengkel pada sahabatnya, dan merasa sangat tidak enak pada Gretta yang sedari tadi hanya memperhatikannya.

​"Kalian ini ada-ada saja," kekeh Gretta. Suara tawanya terdengar renyah, membuat kekesalan di kepala Gian langsung menguap begitu saja. "Emmm... ngomong-ngomong, tumben banget kalian berdua ada apa ke sini sore-sore begini?" tanya Gretta sambil mulai merapikan piring-piring kotor itu menjadi satu tumpukan.

​Mendengar pertanyaan itu, Gian langsung teringat pada tujuan utama mereka mengunjungi rumah Gretta. tanpa basa basi ia segera merogoh tas ranselnya yang tergeletak di ujung sofa, mencari-cari kertas ulangan yang ia selipkan dengan hati-hati di sela-sela buku cetak Fisika-nya. Setelah menemukannya, ia menyodorkan selembar kertas tebal itu kepada Gretta.

​"Ini, Gre. Tadi di sekolah, Pak Guru nitipin ulangan susulan Fisika buat kamu kerjakan di rumah," ujar Gian dengan nada datar, meski sebenarnya ujung telinganya sudah terasa sedikit hangat. "Katanya sih, kamu boleh ngerjain ini sambil lihat buku. Santai aja. Kalau udah selesai, kamu bisa kasih kertasnya ke Pak Guru setelah kamu mendingan"

​Gretta menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menerima kertas ulangan itu dari tangan Gian, ujung jari mereka bersentuhan sedikittttt saja, tapi cukup membuat Gian merasa seperti tersengat aliran listrik statis. Gretta membolak-balikkan halaman soal tersebut dengan kening sedikit berkerut, lalu kembali menatap Gian dengan tatapan yang melembut.

​"Makasih banyak ya, Gian. Kamu udah repot-repot ke sini pas jam pulang sekolah cuman buat nganterin ulangan susulan ini," ujar Gretta sambil tersenyum hangat.

​"Sama-sama, Gre. Nggak repot, kok," balas Gian cepat, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.

​Namun, kedamaian itu hanya bertahan tiga detik sebelum Reo, sang penghancur suasana dari dasar karpet, membuka mulutnya yang tidak bisa disaring.

​"Halah, nggak repot apanya! Padahal kan sebenarnya emang mau bertem...!!"

​Grep!

​Dalam sepersekian detik, pergerakan Gian mengalahkan kecepatan cahaya. Ia melesat dari sofa, mencondongkan tubuhnya ke bawah, dan membungkam mulut Reo kuat-kuat dengan telapak tangannya. Reo meronta-ronta dengan mata melotot, mengeluarkan suara bergumam tidak jelas seperti “Mmphh! Mmmppphh!”

​Gretta mengerjapkan matanya, bingung melihat adegan gulat dadakan di ruang tamunya. "Maksudnya Reo... bertem... apa, Gian?" tanyanya heran.

​"T-tidak ada, Gre! Bukan apa-apa!" sergah Gian cepat. Ia menoleh ke arah Gretta sambil memaksakan senyum pepsodent-nya yang paling canggung, sementara tangan kanannya masih membekap mulut Reo dengan tenaga dalam. Gian lalu menunduk, menatap Reo dengan mata setajam silet seolah mengancam: Satu kata lagi keluar, nilai PR Matematika lu bulan ini gue biarin nol.

​"Dia emang suka ngomong yang tidak-tidak kalau kekenyangan, Gre," lanjut Gian dengan tawa kaku.

​"Emmm... begitu, ya?" Gretta tampak kurang yakin, tapi ia memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan. Gadis itu pun berdiri dari tempat duduknya, mengangkat tumpukan piring kotor itu dengan hati-hati. "Aku bawa ini ke wastafel dulu, ya, mau dicuci."

​"Gre, biar aku bantu," ujar Gian, tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera mengambil sisa gelas dan mangkuk kecap asin yang masih ada di meja. Ia berjalan mengekor di belakang Gretta menuju dapur, meninggalkan Reo yang akhirnya bisa bernapas lega dan kembali fokus menonton episode SpongeBob SquarePants di TV.

​Sesampainya di dapur yang beraroma vanila dan kayu manis itu, Gretta meletakkan piring-piring di dalam wastafel. Ia menyalakan keran air dan mulai menuangkan sabun cuci piring beraroma jeruk nipis.

​"Taruh aja di situ, Gian. Biar aku yang cuci." pekik Gretta lembut saat melihat Gian hendak ikut memasukkan tangannya ke wastafel.

​Gian pun menurut, meletakkan gelas-gelas itu tepat di samping wastafel. "Apa ada yang bisa kubantu, Gre? Ngelap piringnya, mungkin?" tawar Gian, enggan menjauh.

​"Tidak usah, kamu duduk aja sama Reo di depan. Kamu kan tamu," sahut Gretta yang kini sudah sibuk menggosok piring dengan spons berbusa.

​"Emmm... ya sudah." Namun, alih-alih kembali ke ruang tengah, Gian justru bergeser satu langkah. Ia tidak pergi. Ia memilih berdiri bersandar pada meja dapur yang berada tepat di sebelah Gretta. mata Gian, matanya tak bisa lepas dari sosok gadis di sampingnya.

​Suara gemericik air mengalir menjadi latar belakang (backsound) yang menenangkan. Gian diam-diam memperhatikan wajah Gretta.

​Tiba-tiba, sehelai rambut Gretta jatuh menutupi sebagian wajahnya. Karena kedua tangan Gretta penuh dengan busa sabun, gadis itu dengan canggung mencoba menyingkirkan poni yang mengganggu itu dengan menggunakan lengan atasnya.

​Melihat itu, entah mendapat dorongan keberanian dari mana, Gian bergerak mendekat. Ternyata dia sangat menarik kalau dilihat dari jarak sedekat ini, batin Gian. Tanpa sadar, tangan Gian terulur. Ujung jari Gian dengan sangat hati-hati menyentuh helai rambut Gretta, lalu menyelipkannya perlahan ke belakang telinga gadis itu.

​Sentuhan itu sangat ringan, namun efeknya bagaikan bom waktu.

​Gerakan tangan Gretta yang sedang menggosok piring langsung berhenti total. Tiba-tiba saja, Gretta memutar kepalanya, menoleh ke arah Gian yang masih berdiri sangat dekat di sampingnya. Jarak wajah mereka kini tak lebih dari dua jengkal.

​Mata Gretta membesar, menatap langsung ke dalam mata gelap Gian. Gian sendiri seakan membeku. Udara di dapur mendadak terasa habis. Waktu seolah berhenti berdetak. Mereka bertatapan selama beberapa detik. Jantung Gian bergemuruh hebat di dalam dadanya.

​Sadar akan situasi yang terlalu intens, Gretta buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke arah wastafel. Ia menunduk dalam-dalam, menggosok piring yang sebenarnya sudah bersih mengkilat secara brutal. Gian bisa melihat dengan sangat jelas pipi Gretta memerah.

​"Gre..." Gian berdehem pelan, suaranya tiba-tiba serak. Ia mundur selangkah untuk memberikan ruang bernapas. "Apa kamu... baik-baik saja?" tanyanya pura-pura polos, padahal ia sendiri sedang menahan senyum.

​"T-tidak apa-apa, kok!" cicit Gretta dengan suara yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Ia tidak berani menoleh lagi, tapi ujung bibirnya melengkung ke atas, mengukir senyuman salah tingkah yang tak bisa ia tutupi, sementara wajahnya kini sudah semerah kepiting rebus.

​Tepat saat kecanggungan manis itu mencapai puncaknya, suara pintu penghubung dari arah ruang keluarga tiba-tiba terbuka lebar.

​"Gree, ini kue untuk teman-temanmu!" seru Tante Lesa, mamanya Gretta, yang muncul dengan langkah ceria. Beliau membawa sebuah nampan berisi seloyang kue bolu cokklat yang baru saja matang. Asap tipis beraroma cokklat manis mengepul dari kue itu. Tante Lesa meletakkannya di atas meja ruang tamu.

​"Dimakan yah, anak-anak. Tante harus turun ke bawah dulu, kebetulan di toko bawah masih ada pelanggan yang nungguin pesanan kue," ujar Tante Lesa.

​Dari arah ruang tengah, telinga Reo seakan memiliki radar khusus untuk mendeteksi makanan manis. Waaaah! batin Reo melonjak. Dalam sekejap, keluhan perut meledaknya hilang. Ia merangkak bangun dan melihat kue didepannya, menatap kue cokkat itu dengan mata berbinar-binar seperti melihat harta karun.

​"Ya ampun, Tante... Kue buatan Tante kelihatan enak banget!" seru Reo dengan mata berkedip-kedip, urat malunya sudah putus entah sejak kapan. "Boleh bungkuskan aku setengah untuk dibawa pulang, nggak, Tante? Buat ibu saya, eh maksudnya buat saya makan nanti malam."

​Mendengar itu, urat di pelipis Gian langsung menonjol. Ia melangkah cepat dari dapur dan memelototi sahabatnya. "Hee, Reo! Bisa nggak kamu jaga sikapmu sedikit? Kita ini di sini numpang makan sushi, masa sekarang mau nodong kue juga? Kalau mau, kamu membelinya sana!" omel Gian dingin, merasa malu hingga ke ubun-ubun dengan kelakuan minus temannya itu.

​Reo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Eh, aduh. Maaf, Tante, maksudku... aku ingin membelinya. Tadi cuma bercanda, hehe," ralat Reo salah tingkah, takut Gian benar-benar akan menendangnya keluar.

​Tante Lesa justru tertawa lepas melihat interaksi dua remaja itu. "Hahaha, emmm, tidak apa-apa kok, Reo! Santai saja. Nanti Tante bungkuskan saja sepotong besar untuk kalian berdua bawa pulang. Hitung-hitung berbagi, kue ini kebetulan tadi bikinnya lebih," senyum Tante Lesa dengan sangat tulus.

​Mata Reo langsung berair karena terharu. "Wah! Makasih banyak, Tante! Tante emang orang paling baik sedunia, pantas Gretta cantik dan baik hati, nurun dari Tantenya eh Mamanya maksudnya!" gombal Reo sembarangan sambil tanpa dosa mencomot satu potong kue hangat yang ada didepannya dan memasukkannya langsung ke mulut. "Hwasyeeek... hmph... enak pwooll!"

​"Dasar makhluk tak tahu diri," gumam Gian sambil memijat batang hidungnya, merasa gagal mendidik temannya.

​Dari arah wastafel, terdengar suara tawa kecil yang tertahan. Gian menoleh dan melihat bahu Gretta bergetar pelan. Gadis itu sedang menertawakan mereka.

​"Kenapa kamu tertawa?" ujar Gian, melangkah kembali mendekati batas dapur. Tatapannya kini melembut melihat wajah ceria Gretta.

​"Tidak... tidak ada," elak Gretta. Ia buru-buru mengambil lap bersih dan pura-pura sangat sibuk mengeringkan tangannya, menyembunyikan senyum lebarnya, sekaligus menyembunyikan sisa-sisa rona merah jambu.

​"Sudah, ya, Tante turun dulu. Jangan lupa dihabiskan kuenya," pamit Tante Lesa yang sudah berada di ambang pintu.

​"Semangat kerjanya, Tante Lesaa!!" teriak Reo dengan mulut yang masih penuh kue cokklat.

​Tante Lesa hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu menghilang ke lantai bawah.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!