Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Bukti Menghilang
Hujan turun lagi ketika malam tiba.
Angin berhembus menyapu jendela besar kamar Arcelia, membuat tirai putih bergerak perlahan.
Cahaya bulan tertutup awan gelap, sementara suasana dimansion tidak seperti biasanya setelah kejadian didapur siang tadi.
Arcelia Vareinne berdiri di dekat jendela sambil memandang taman belakang mansion.
Arcelia terus memikirkan reaksi Marquise Elena sore tadi, tatapan mata ayahnya yang mulai ragu dan kepala dapur Sandra yang sangat ketakutan.
Tiba-tiba Arcelia tersenyum, "seseorang sudah mulai panik. Reaksi alami seseorang yang sedang panik biasanya akan melakukan hal ceroboh." kata Arcelia sambil memainkan jari-jari tangannya.
“Nona, Anda benar-benar belum mau tidur? Lebih baik istirahat lebih awal supaya tubuh anda lekas membaik.” kata Lilian sambil berdiri di dekat meja dengan wajah cemas.
“Aku sedang memikirkan sesuatu." kata Arcelia dan berjalan mendekati Lilian.
“Anda masih memikirkan masalah racun itu?" tanya Lilian sambil menarik kursi supaya Arcelia bisa duduk.
“Tentu saja. Kejadian siang tadi pasti ada seseorang yang mungkin akan mencoba membuang barang bukti sebelum pagi.” kata Arcelia dengan tatapan tajam.
Lilian sangat terkejut karena dia tidak memikirkan hal itu, “Maksud Nona…”
“Mereka tidak akan membiarkan tabib kerajaan menemukan bukti.” kata Arcelia.
Lilian menggertakkan giginya karena kesal, tangannya meremas kain rok yang dia pakai. "Kalau begitu kita harus memberitahu Duke!” kata Lilian yang hendak pergi secara implulsif
Namun Arcelia dengan cepat menahan tangan Lilian.
“Nona, kenapa anda menahan saya? Jika bukti benar-benar hilang Marquise akan menang dan terus menikmati hidup enak." kata Lilian dengan kesal.
“Karena aku belum tahu siapa saja yang terlibat. Elena tidak mungkin melakukan rencana besar itu sendirian." Arcelia memejamkan matanya seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa dia gapai.
"maksud anda ada orang lain lagi yang ingin membunuh nona?." tanya Lilian.
Arcelia membuka matanya perlahan, "itu yang sedang aku pikirkan. Pasti ada seseorang dibelakang Elena."
Arcelia berfikir siapa saja yang kemungkinan terlibat dalam masalah ini, "pelayan? Penjaga atau bangsawan lain. Siapa yang paling mendapatkan manfaat atas kematianku. Ahhh.." batin Arcelia frustasi.
[bib..! Bib...!]
[Peringatan.]
[Aktivitas mencurigakan terdeteksi di area dapur.]
Mata Arcelia terbelalak terkejut, namun ada rasa lega dihatinya, "akhirnya mereka bergerak juga." gumam Arcelia sorot matanya terlihat berbinar.
“Nona?” kata Lilian sambil menundukkan kepalanya menatap Arcelia yang tengah melamun.
“Ayo kita pergi kedapur, kemungkinan ada seseorang yang mulai bergerak." kata Arcelia sambil berdiri dan langsung mengambil mantel tipis yang ada dikursi.
Lilian panik. “Anda mau ke mana?” tanya Lilian mengikuti Arcelia
“Aku mau kedapur melihat sebuah pertunjukan." kata Arcelia sambil tersenyum.
“Tapi nona, ini sudah malam dan kalau benar Marquise telah bergerak malam ini,-" kata Lilian tangannya mengepal sangat kencang bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Arcelia hanya melirik kearah Lilian, “Kalau kita terlambat, semua bukti akan hilang.” kata Arcelia tenang meskipun dia tahu kalau Lilian tengah ketakutan.
Lorong mansion tampak gelap karena sebagian lampu telah dimatikan. Hanya sedikit cahaya yang berasal dari lilin-lilin kecil yang menerangi lorong.
Tap.. Tap.. Tap...
Suara langkah kaki Arcelia dan Lilian menggema keseluruh lorong, karena sudah tidak ada aktivitas lagi dimalam hari.
Tiba-tiba Arcelia berhenti mendadak sampai Lilian hampir menabraknya.
“Ada apa nona? Kenapa anda berhenti mendadak?" kata Lilian dengan wajah kesal.
“Kamu dengar suara sesuatu tidak.?" tanya Arcelia sambil meletakkan jarinya dibibirnya seolah memberi isyarat untuk diam.
Jantung Lilian berdegup kencang, nafasnya hampir tersendat, kemudian samar-samar mereka mendengar sesuatu.
"nona, sepertinya ada suara seseorang yang sedang berbicara." kata Lilian sambil mendekati Arcelia.
Arcelia juga mendengar suara itu, dan dia terlalu fokus, "suara apa itu? Seperti benda?." batin Arcelia.
Mata Arcelia membelalak kemudian saling menatap dengan Lilian yang dibarengi oleh anggukan kepala Lilian.
Mereka memperlambat langkahnya, setelah dekat dapur terlihat pintunya sedikit terbuka.
Cahaya redup keluar dari celah pintu dan dibalik sana ada seseorang.
Arcelia berjalan mendekat dengan mengendap-endap. Kemudian mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Mata Arcelia membelalak, "pakaiannya bukan dari pelayan mansion. Sepertinya orang bayaran yang sudah biasa melakukan hal kotor." batin Arcelia.
Tangannya bergerak cepat mengambil kotak teh hitam yang tadi ditemukan Arcelia.
“Mereka benar-benar mau menghilangkannya…” bisik Lilian gemetar.
Setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya, Arcelia masuk kedalam dapur dan di ikuti oleh Lilian yang ketakutan.
"apakah kalian sedang mencari sesuatu??" tanya Arcelia dengan tenang.
Deg..!!
Kotak teh yang ada ditangan pria itu terjatuh dari tangannya. Wajahnya langsung pucat ketika melihat Arcelia berdiri di depan pintu.
“N-Nona…” katanya gugup.
“Sudah larut malam tapi kamu masih bekerja." kata Arcelia sambil melangkah mendekati mereka.
Pria itu mundur perlahan. “K-Saya hanya membersihkan—”
[Kebohongan terdeteksi aktif.]
[Kebohongan terdeteksi.]
"Tentu saja." batin Arcelia sinis.
Arcelia melangkah masuk perlahan. “Siapa yang menyuruhmu untuk mencuri kotak teh itu?."
“Aku tidak mengerti maksud Anda…” kata pria itu.
“Jangan pura-pura bodoh, kamu datang untuk menghancurkan barang bukti kan?." tanya Arcelia
Pria itu langsung berkeringat dingin. Tatapannya bergerak gelisah mencari jalan keluar.
Mata Arcelia mengikuti arah tatapan pria itu dan langsung teriak, “Lilian, tutup pintunya.”
“A-Apa?” kata Lilian kaget.
“Cepat tutup pintunya."
Lilian segera menutup pintu dan membuat pria itu kepanikan. “Berani sekali kalian—”
BRAK!
Dia tiba-tiba mendorong meja dan berlari ke arah jendela belakang.
Namun sebelum pria itu sempat mencapai jendela,
SRET!
Kilatan pedang melintas dengan sangat cepat membuat pria itu terkejut ketakutan.
Ujung pedang berhenti tepat di depan lehernya.
Mata Arcelia membelalak, "Leonard" batinnya.
Leonard Aster berdiri di dekat jendela dengan tatapan tajam. “Aku menyarankan kau untuk tidak bergerak atau lehermu akan terputus."
Pria bayaran itu ketakutan, tubuhnya bergetar sangat hebat bahkan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
“K-Kesatria Leonard…” kata Lilian gugup.
“Nona Arcelia, sepertinya anda memiliki kebiasaan buruk untuk bertindak sendirian." kata Leonard kepada Arcelia.
Arcelia sedikit mengangkat alis. “Kamu mengikuti kami?” tanya Arcelia.
Leonard tidak memalingkan pandangan dari pria itu. “Saya sudah menduga sesuatu akan terjadi malam ini. Namun siapa sangka malah bertemu dengan anda."
"Menarik." batin Arcelia sambil tersenyum. "Insting Leonard cukup tajam untuk merasakan kejanggalan." batinnya sambil melirik pria tadi.
Perlahan pria itu terkulai lemas, “Saya tidak bersalah, saya hanya menjalankan perintah." katanya, suaranya serak menahan ketakutan.
“Kalimat itu mulai membosankan untuk didengar." ucap Arcelia dengan bola mata malas.
Kemudian Arcelia melangkah mendekati pria tersebut, "kamu bekerja untuk siapa??" tanya Arcelia.
Pria itu menundukkan kepalanya dan hanya diam. Namun keringat dikepalanya mulai berjatuhan.
Leonard menekan ujung pedangnya sedikit lebih dekat. “Kau mau menjawab sekarang atau setelah dibawa ke ruang interogasi?”
Wajah pria itu berubah pucat pasi karena ketakutan, matanya terus menatap pedang yang nyaris menempel dilehernya.
Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan beberapa detik kemudian,
DUK!
Tubuh pria itu terjatuh ke lantai secara tiba-tiba.
Semua orang terkejut bahkan Lilian tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
Mata Arcelia terbelalak, "bunuh diri? Atau racun?." batin Arcelia.
Ada darah keluar dari sudut bibir pria tersebut.
Leonard segera berjongkok memeriksa denyut nadinya. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah suram. “Dia mati.”
Suasana menjadi semakin tidak nyaman.
“Apa?” bisik Lilian pucat.
Arcelia menatap tubuh pria itu tanpa berkedip seolah sedang menganalisa sesuatu.
"tidak ada serangan dan juga tidak ada luka." gumam Arcelia.
Namun wajah pria tersebut berubah menjadi biru dengan sangat cepat.
"Racun." mata Arcelia terbelalak melihat kondisi jasad pria itu. "Dia menyimpan racun didalam mulut dan sebelum rahasia terungkap dia rela meminum racun." Arcelia menggertakkan giginya.
"sungguh anjing yang setia." kata Leonard dengan suara tajam.
Layar biru transparan kembali muncul dimata Arcelia.
[Analisis selesai.]
[Racun bunuh diri terdeteksi.]
Mata Arcelia berubah tajam, "sesuai dugaan, pasti ada seseorang yang lebih kuat dibelakang Elena." batin Arcelia.
Berarti organisasi di belakang semua ini jauh lebih berbahaya dari perkiraannya. Orang biasa tidak akan rela mati hanya untuk menjaga rahasia.
Leonard berdiri perlahan. “Ada seseorang yang tidak ingin dia bicara.”
“Tentu saja, kalau orang biasa tidak akan mau mati konyol seperti ini." kata Arcelia.
Arcelia memandang mayat di lantai dengan tenang. Namun jauh di dalam dirinya, kemarahan mulai tumbuh.
"Mereka bahkan rela membunuh orang sendiri demi menutupi kebenaran." batin Arcelia sambil menggertakkan giginya bahkan tangannya mengepal sangat keras.
Setelah beberapa saat terdengar suara langkah kaki,
Tap.. Tap...
Langkah kakinya lebih dari satu orang Leonard langsung waspada.
Saat pintu terbuka beberapa pengawal masuk bersama Duke Cedric Vareinne tatapannya langsung tertuju pada mayat di lantai lalu pada Arcelia.
Ekspresinya perlahan berubah serius. “Apa yang terjadi di sini?”
Arcelia melihat ayahnya mulai memahami bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di dalam rumah mereka sendiri.