Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
Giana masih mengayun bayi itu dengan gerakan pelan, hampir refleks, seperti seorang ibu yang sudah terbiasa menenangkan anaknya sendiri. Tangisan yang tadi memenuhi lorong rumah sakit kini benar-benar mereda.
Bayi kecil itu bahkan mulai terpejam, seolah menemukan tempat paling nyaman di dunia di dalam dekapan seorang wanita yang sebenarnya baru saja kehilangan bayinya sendiri.
Cameron berdiri di depannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia memperhatikan setiap gerakan Giana, cara wanita itu menopang kepala bayi dengan hati-hati, cara jemarinya menyentuh punggung kecil itu dengan lembut, dan bagaimana napasnya seakan menyesuaikan ritme dengan bayi tersebut.
Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Baru beberapa menit yang lalu ia hampir panik menghadapi tangisan keponakannya sendiri. Namun di tangan wanita ini, keponakannya itu menjadi tenang seolah memang seharusnya berada di sana.
“Sepertinya dia hanya butuh dipeluk,” ujar Giana pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Cameron mengangguk singkat lalu bergumam pelan, “Mungkin saja.”
Suasana di antara mereka kembali hening. Di balik kaca, bayi-bayi lain tetap tertidur pulas di dalam boks kecil mereka. Beberapa perawat berjalan melewati lorong tanpa memperhatikan dua orang yang berdiri di sana.
Giana menatap wajah bayi itu lebih lama. Jari kecil bayi itu bergerak pelan dan tanpa sadar menggenggam ujung jarinya. Sentuhan kecil itu membuat dadanya terasa sesak.
Seandainya saja bayinya masih hidup, maka anaknya pun akan menggenggam jarinya.
Air mata kembali menggenang di sudut matanya, tetapi ia cepat-cepat mengedipkannya.
“Dimana Ibunya? Sepertinya dia baru saja lahir, kan? Dia seharusnya berada dalam dekapan ibunya,” tanyanya lagi pada akhirnya sambil mengelus lembut pipi kemerahan itu.
Cameron menggeleng. “Ya, dia baru lahir beberapa jam yang lalu,” jawabnya pelan. “Dan Ibunya, sudah pergi.”
Giana mengangkat pandangan, sedikit terkejut. “Ibunya tidak di sini? Kemana dia pergi? Astaga, bagaimana dia bisa meninggalkan bayinya begitu saja?”
Untuk beberapa detik Cameron tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang, seolah mempertimbangkan apakah ia perlu menjelaskan sesuatu pada seorang wanita yang bahkan tidak ia kenal.
“Ibunya … sudah meninggal,” kata Cameron berbohong. Ia tidak bisa mengatakan bahwa kakaknya telah membuang darah dagingnya sendiri.
Kalimat itu membuat Giana terdiam. Ia kembali menatap bayi kecil yang kini hampir tertidur di pelukannya. “Kasihan sekali,” bisiknya tanpa sadar.
Cameron memperhatikan wajahnya. Ada kesedihan yang begitu jelas di mata Giana, bukan hanya untuk bayi ini, tetapi untuk sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Cameron tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Giana sedikit kaget. Ia menatap bayi itu lagi sebelum menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Aku juga baru saja melahirkan, hanya saja, bayiku meninggal dan tidak tertolong.”
Cameron tertegun. “Maaf, aku turut berduka untukmu. Lalu … di mana suamimu? Dia seharusnya menemanimu di saat seperti ini.”
Ia teringat wajah pucat wanita ini saat mereka bertabrakan sebelumnya, dan cara ia berdiri menatap ruang bayi dengan mata kosong.
“Suamiku … sudah menceraikan aku, tepat setelah aku kehilangan bayiku,” kata Giana sendu. Tetapi ia cepat-cepat menyeka ujung matanya dan tersenyum seolah ia baik-baik saja.
Kata-kata itu jatuh seperti batu yang terjatuh ke dalam air yang tenang. Cameron tidak tahu harus mengatakan apa. Ia bukan pria yang terbiasa menghibur orang lain. Empati bukan bahasa yang sering ia gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun melihat wanita itu menggendong keponakannya dengan begitu lembut membuat sesuatu di dalam dirinya terasa aneh.
“Sekali lagi, aku minta maaf. Aku tidak tahu, maksudku … aku ikut sedih mendengarnya,” ucap Cameron akhirnya.
Hanya satu kalimat. Namun Giana mengangguk pelan seolah itu sudah cukup baginya. Ia menatap lagi bayi yang bergerak sedikit di dalam pelukannya, mengeluarkan suara kecil yang hampir seperti dengusan. Tanpa sadar Giana tersenyum tipis.
“Sepertinya dia lapar,” katanya.
Cameron mengerutkan kening. “Lapar?”
“Biasanya bayi yang baru lahir akan sering mencari susu. Itu cara mereka merasa tenang.”
Cameron terlihat semakin canggung. “Aku … aku tidak memikirkan soal itu. Mungkinkah itu sebabnya dia menangis sebelumnya?”
Giana menoleh padanya, sedikit terkejut. “Dia sama sekali belum minum susu?”
Cameron menggeleng lemah. “Aku baru saja mengambilnya dari ruang bersalin,” jawab Cameron jujur. “Aku bahkan belum sempat mencari pengasuh ataupun menyediakan susu formula. Semuanya terjadi ”
Giana menatap pria itu beberapa saat, mencoba memahami situasi yang ia dengar. Tangannya kembali mengusap punggung bayi itu dengan lembut.
Bayi kecil itu mulai bergerak sedikit lebih gelisah. Dan Giana tahu tanda itu. Dadanya tiba-tiba terasa semakin penuh. Sensasi familiar yang sejak tadi ia coba abaikan kembali muncul. Tubuhnya masih memproduksi ASI, sesuatu yang seharusnya menjadi makanan bagi bayi yang kini tidak pernah ia miliki.
Rasa perih dan nyeri mulai menjalar di dadanya. Ia memalingkan wajah sedikit, mencoba menenangkan diri.
“Perawat biasanya akan membawakan susu formula jika ibunya tidak ada untuk menyusui,” katanya pelan.
Cameron mengangguk, meski jelas ia tidak sepenuhnya mengerti dunia yang baru saja ia masuki. “Terima kasih sudah menenangkannya,” katanya kemudian.
Giana menatap bayi itu lagi. Ada perasaan aneh yang merambat di dalam hatinya. Seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang seharusnya terjadi hari ini, menggendong bayi, menenangkannya, merasakan kehangatan kecil itu di dadanya.
Dengan hati-hati ia menyerahkan bayi itu kembali pada Cameron. Tangannya sedikit enggan melepaskan.
Sementara Cameron menerima bayi itu dengan lebih hati-hati dibanding sebelumnya, seolah ia telah belajar sesuatu dari cara Giana menggendongnya.
“Dia anak yang kuat,” ujar Giana lembut. “Tangisnya keras sekali tadi.”
Cameron menatap wajah kecil itu. “Ya,” katanya pelan. “Dia memang harus kuat.”
Untuk beberapa detik mereka berdiri dalam keheningan.
Lalu Giana mengangguk kecil, seolah menyadari bahwa ia telah terlalu lama berada di sana.
“Aku harus kembali ke kamar,” katanya.
Cameron tidak menahannya. Namun ketika Giana berbalik dan mulai berjalan menjauh dengan langkah yang masih sedikit tertatih, Cameron tiba-tiba menyadari sesuatu.
“Kalian sepertinya cocok,” gumamnya. “Apa kau merasa nyaman saat bersamanya bayi kecil?”
Ia menatap punggung Giana yang semakin menjauh. Lalu ia menatap bayi kecil di lengannya. Sebuah pikiran yang belum sepenuhnya terbentuk perlahan muncul di benaknya.
Sementara itu, Giana terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan yang semakin berat. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri, merasakan nyeri yang tidak hanya berasal dari tubuhnya, tetapi juga dari sesuatu yang jauh lebih dalam.