NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Tidak Ada Lagi Jarak

Pagi masih jauh.

Di luar vila kecil itu, badai salju masih turun tanpa henti.

Angin berhembus cukup kencang hingga sesekali terdengar suara ranting pohon yang bergesekan dengan jendela.

Namun di dalam vila, suasananya jauh berbeda.

Hangat.

Tenang.

Dan dipenuhi perasaan yang selama ini tidak pernah berani mereka ungkapkan.

Luna masih duduk di depan perapian dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.

Pipi wanita itu masih sedikit merah.

Entah karena pengaruh wine atau karena situasi yang sedang mereka alami.

Alex duduk di sampingnya.

Jarak mereka begitu dekat.

Tidak seperti biasanya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, tidak ada lagi tembok yang selama ini Alex bangun di antara mereka.

Pria itu menatap api yang menari pelan di dalam perapian.

Lalu tanpa sadar pandangannya beralih kepada Luna.

Wanita itu terlihat cantik.

Sangat cantik.

Rambut panjangnya tergerai berantakan.

Pipinya memerah karena udara dingin.

Dan senyum kecil yang muncul di bibirnya membuat dada Alex terasa hangat.

"Apa?"

tanya Luna ketika menyadari dirinya sedang diperhatikan.

Alex menggeleng pelan.

"Nggak ada."

"Bohong."

Luna tersenyum.

"Kamu dari tadi lihat aku."

Alex tertangkap basah.

Namun kali ini ia tidak mengalihkan pandangan.

Karena memang benar.

Ia sedang melihat Luna.

Dan menikmati setiap detiknya.

---

Keheningan yang muncul tidak lagi terasa canggung.

Justru nyaman.

Sampai akhirnya Luna berkata pelan.

"Aku nggak pernah nyangka bakal ada di sini."

Alex mengangkat alis.

"Di Swiss?"

"Bukan."

Luna menoleh ke arahnya.

"Duduk kayak gini sama kamu."

Jantung Alex berdetak sedikit lebih cepat.

Luna tertawa kecil.

"Kalau beberapa bulan lalu ada yang bilang aku bakal menikah sama pria paling dingin di dunia, aku pasti nggak percaya."

Alex terkekeh.

"Pria paling dingin?"

"Iya."

"Itu berlebihan."

"Nggak."

Luna menggeleng.

"Itu fakta."

Alex hanya bisa menghela napas pasrah.

Namun sudut bibirnya tetap terangkat.

---

Beberapa saat kemudian suasana kembali hening.

Luna memandang nyala api.

Sedangkan Alex memandang Luna.

Dan entah siapa yang lebih dulu bergerak.

Tak ada yang benar-benar tahu.

Yang mereka sadari hanya jarak di antara mereka semakin dekat.

Sangat dekat.

Tatapan keduanya bertemu.

Tidak ada lagi candaan.

Tidak ada lagi topik pembicaraan.

Hanya ada mereka berdua.

Dan perasaan yang selama ini terus tumbuh.

Perasaan yang akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.

Alex mengangkat tangannya perlahan.

Menyingkirkan sehelai rambut yang jatuh di wajah Luna.

Gerakan sederhana itu membuat jantung Luna berdebar hebat.

"Alex..."

Suara Luna hampir seperti bisikan.

Alex tersenyum tipis.

Tatapannya begitu lembut.

Sangat berbeda dari pria yang pertama kali ditemuinya beberapa bulan lalu.

"Aku senang kamu yang ada di sini."

ucap Alex pelan.

Luna membeku.

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa begitu berarti.

Karena ia tahu.

Alex bukan tipe pria yang mudah mengungkapkan perasaannya.

Dan ketika pria itu mengatakan sesuatu seperti ini, maka ia benar-benar tulus.

Senyum Luna perlahan muncul.

"Aku juga."

jawabnya jujur.

---

Malam itu menjadi malam ketika mereka akhirnya berhenti memikirkan masa lalu.

Tentang perjodohan.

Tentang Liana.

Tentang semua kejadian yang membawa mereka ke titik ini.

Karena sekarang yang ada hanyalah Alex dan Luna.

Dua orang yang awalnya dipertemukan oleh keadaan.

Namun perlahan memilih untuk saling bertahan.

Alex menggenggam tangan Luna.

Hangat.

Menenangkan.

Dan Luna membalas genggaman itu tanpa ragu.

Untuk pertama kalinya.

Tidak ada lagi keraguan di hatinya.

---

Di luar, badai salju masih berlangsung.

Namun di dalam vila kecil itu, keduanya menghabiskan malam dengan saling bercerita.

Tentang masa kecil.

Tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai.

Tentang ketakutan yang selama ini mereka simpan sendiri.

Alex bercerita tentang ibunya.

Tentang bagaimana ia merasa kehilangan arah setelah wanita itu meninggal.

Luna mendengarkan dengan tenang.

Sesekali menggenggam tangannya.

Memberikan dukungan tanpa banyak kata.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alex merasa ada seseorang yang benar-benar memahami dirinya.

Bukan karena status.

Bukan karena nama keluarga Dimitri.

Melainkan karena dirinya sendiri.

---

Menjelang dini hari, Luna mulai mengantuk.

Matanya berkali-kali terpejam.

Melihat itu, Alex tersenyum kecil.

"Kamu tidur saja."

Luna mengangguk pelan.

Namun sebelum berdiri, ia menoleh ke arah Alex.

"Terima kasih."

Alex mengernyit.

"Untuk apa?"

"Karena udah hadir di hidup aku."

Pria itu terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia dengar.

Alex kemudian mengusap puncak kepala Luna pelan.

"Kamu juga."

jawabnya singkat.

Namun cukup membuat senyum Luna semakin lebar.

---

Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Bukan karena badai salju.

Bukan karena vila sederhana di tengah pegunungan.

Melainkan karena malam itu mereka akhirnya memahami satu hal.

Bahwa rumah bukanlah sebuah tempat.

Bukan bangunan megah.

Bukan kamar hotel mewah.

Bukan pula rumah besar keluarga Dimitri.

Rumah adalah seseorang.

Seseorang yang membuatmu ingin pulang.

Seseorang yang membuatmu merasa diterima.

Dan tanpa mereka sadari, Alex telah menemukan rumahnya pada Luna.

Begitu pula Luna.

Ia menemukan tempat paling nyaman untuk hatinya.

Pada pria bernama Alex Lucas Dimitri.

Di luar, salju masih turun perlahan.

Sedangkan di dalam vila kecil itu, dua hati yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri akhirnya menemukan arah yang sama.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!