NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Langkah Juan menyusuri koridor kampus terasa lebih bertenaga, meski napasnya masih sedikit tersengal. Getaran di dadanya bukan lagi karena rasa takut, melainkan sisa-sisa adrenalin dari pertarungan gairah yang baru saja ia tuntaskan.

Kejadian di ruangan tertutup bersama Bu Hani masih terngiang sangat jelas, aroma parfumnya, suaranya yang parau, dan bagaimana sang dosen berwibawa itu luluh dalam pelukannya.

Satu jam lebih. Juan hampir tidak percaya ia menghabiskan waktu selama itu hanya untuk saling memuaskan dahaga bersama sang dosen.

Begitu sampai di ambang pintu kantin, Juan langsung mengerem langkahnya. Matanya menyapu ruangan yang bising itu hingga berhenti di satu titik.

Andre, Doni, dan Raisa masih duduk di meja yang sama. Namun, atmosfer di sana tidak lagi hangat. Andre tampak cemberut sambil memainkan sedotan es tehnya, Doni bersandar lesu dengan mata terpaku pada ponsel, sementara Raisa...

Gadis itu menatap lurus ke arah lorong dengan raut wajah kesal yang sangat transparan. Aura kemarahan yang tenang namun mematikan terpancar darinya.

Juan mengembuskan napas panjang. Syukurlah mereka belum pergi.

Ia melangkah masuk dengan gaya sedatar mungkin, berusaha menyembunyikan rasa bersalahnya. Begitu ia mendekat, Raisa langsung mendongak. Tatapannya tajam, sebuah kombinasi antara kekhawatiran yang mendalam dan kecemburuan yang membakar.

“Kamu ke mana saja?” todong Andre tanpa basa-basi.

Juan menggaruk tengkuknya yang sedikit gatal karena keringat. “Maaf… bikin kalian menunggu terlalu lama.”

“Kita menunggu kamu satu jam lebih, Bro!” sahut Doni sambil menunjukkan layar jam tangannya dengan wajah dongkol. “Baksonya sampai dingin, kuahnya sudah kaku begini.”

Juan menarik kursi di samping Raisa, mencoba tidak menghirup aroma tubuhnya sendiri yang mungkin masih menyisakan sisa-sisa aroma Bu Hani.

Ia meraih mangkuk baksonya. Benar kata Doni, makanan itu sudah tidak lagi menggugah selera, namun perut Juan yang baru saja terkuras energinya menuntut untuk segera diisi.

“Maaf, serius. Aku nggak menyangka urusannya bakal memakan waktu selama itu,” ucap Juan sambil mulai menyuap bakso dingin tersebut.

Raisa menyilangkan tangannya di depan dada, matanya tidak lepas dari wajah Juan. “Bu Hani memanggil kamu buat apa sampai selama itu? Tidak biasanya bimbingan atau urusan dosen memakan waktu satu jam lebih di jam makan siang.”

Tangan Juan yang sedang memegang sendok sempat membeku sesaat di udara. Ia tahu pertanyaan ini adalah jebakan maut. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa di dalam ruangan kedap suara itu, ia baru saja menaklukkan sang dosen di atas meja kerjanya.

Juan menunduk, fokus pada mangkuknya agar matanya tidak terbaca oleh Raisa. “Beliau minta tolong pindahkan beberapa rak buku dan menyusun dokumen akreditasi,” jawab Juan dengan nada yang sangat meyakinkan. “Ruangannya berantakan sekali, jadi aku bantu merapikannya sedikit.”

Andre menaikkan sebelah alisnya. “Serius? Cuma jadi kuli buku?”

Juan mengangguk mantap tanpa ragu. “Iya, namanya juga dosen muda, barangnya banyak.”

Doni tertawa kecil, rasa kesalnya mulai luntur. “Pantas lama. Ruangan dosen kan isinya buku tebal semua. Nasib lu emang jadi asisten dadakan, Wan.”

Raisa masih menatap Juan dengan tatapan menyelidik. Ia seolah mencoba mencari celah kebohongan di wajah pria itu. Namun, Juan tetap tenang. Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, Raisa akhirnya menghela napas dan kembali mengaduk jus alpukatnya.

“Oh,” gumamnya singkat.

Suasana di meja perlahan mulai mencair, meski Juan bisa merasakan Raisa menjadi lebih pendiam dari biasanya.

“Juan,” panggil Raisa tiba-tiba setelah beberapa saat hening.

Juan mendongak. “Ya?”

Raisa menatapnya lurus-lurus, senyumnya hilang. “Aku nggak suka kamu lama-lama bersama dosen perempuan. Apalagi yang modelnya seperti Bu Hani.”

Ucapan blak-blakan itu membuat Andre dan Doni saling lirik, lalu tertawa kecil untuk memecah kecanggungan. “Wih, protektif banget ya permaisuri kita,” goda Andre.

Raisa melirik tajam ke arah Andre hingga pria itu bungkam. “Diam kamu, Dre.”

Ia kembali menatap Juan, suaranya kini merendah namun penuh penekanan. “Aku cuma nggak mau kejadian seperti Laras terulang lagi. Kamu terlalu polos untuk urusan godaan wanita, Juan. Dan kali ini… aku nggak akan membiarkan kamu lepas begitu saja ke tangan orang lain.”

Juan tertegun. Ia melihat kesungguhan yang luar biasa di mata Raisa. Ada rasa tulus yang sangat kuat di sana, sesuatu yang membuat Juan merasa sedikit bersalah karena baru saja "bermain" dengan wanita lain.

“Aku mengerti, Sa,” jawab Juan singkat.

Raisa tersenyum tipis, sebuah senyum manis yang menyimpan otoritas. Tak lama kemudian, ponsel mahal di atas meja bergetar hebat. Raisa melihat layarnya, dan raut wajahnya berubah serius.

“Ayah menelepon. Sepertinya aku harus pulang sekarang, ada acara keluarga,” katanya sambil merapikan tas.

“Perlu aku antar?” tawar Juan sebagai formalitas.

Raisa menggeleng. “Nggak usah. Sopir pribadi Ayah sudah menunggu di depan gerbang kampus. Kamu lanjut makan saja.”

Sebelum benar-benar beranjak, Raisa mendekatkan wajahnya ke telinga Juan. “Hati-hati. Dan ingat pesan aku… jangan macam-macam.”

Juan hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ancaman manis itu. Raisa pun melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mewahnya yang perlahan memudar di udara kantin.

Begitu Raisa menghilang di balik kerumunan, Andre langsung menyandarkan punggungnya dan terkekeh keras. “Gila! Itu cewek benar-benar sudah 'kecantol' total sama kamu, Wan. Baru kali ini kulihat Raisa se-protektif itu.”

Juan menghela napas panjang, merasa bahunya sedikit ringan. “Jangan bercanda terus, Dre.”

Doni menepuk meja pelan. “Eh, mumpung Raisa sudah pulang… kita jangan langsung balik dulu.”

Juan mengerutkan dahi. “Kenapa lagi? Aku lelah.”

Andre tersenyum lebar, jenis senyum yang biasanya membawa masalah atau kesenangan liar. “Ada urusan penting yang mendesak, Bro.”

“Urusan apa?” tanya Juan curiga.

“Ikut saja, lokasinya nggak jauh dari sini, tapi cukup tersembunyi biar nggak jadi omongan anak-anak kampus,” jawab Andre sambil berdiri dan mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya.

Akhirnya, Juan dan Doni ikut bangkit. Mereka berjalan keluar dari lingkungan kampus yang formal, menyusuri gang-gang kecil di perbatasan area mahasiswa.

Semakin jauh mereka melangkah, suasana semakin sepi. Bangunan kampus yang megah berganti menjadi deretan rumah tua dan ruko yang tampak kusam.

“Sebenarnya kita mau ke mana, Dre?” tanya Juan yang mulai merasa aneh.

Andre berhenti tepat di depan sebuah bangunan dua lantai yang tampak biasa saja, dengan cat yang sudah mengelupas di beberapa sudut. Lampu terasnya menyala redup kekuningan. Andre menoleh, menatap kedua sahabatnya dengan senyum penuh arti.

“Kita sampai.”

“Ini apaan?” tanya Doni bingung.

Andre menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada santai seolah sedang memesan kopi di kafe. “Aku tadi sudah memesan seorang wanita penghibur lewat aplikasi hijau.”

Ucapan itu membuat langkah Juan dan Doni terhenti seketika. Mata mereka membelalak.

“Hah? Kamu gila, Dre?” seru Doni kaget.

Andre mengangguk tanpa rasa bersalah. “Iya, butuh hiburan, Bro. Penat tahu nggak habis kuliah makro ekonomi tadi.”

Juan mengusap wajahnya, tidak habis pikir. “Andre… jadi ini yang kamu sebut urusan penting?”

“Penting buat kesehatan mental gue!” bela Andre sambil tertawa.

Doni ikut menggelengkan kepala. “Gue kira urusan apaan, ternyata lu mau 'jajan'.”

Andre menepuk bahu Juan yang masih berdiri kaku. “Tenang saja, Wan. Kamu nggak harus ikut ngapa-ngapain kalau nggak mau. Cukup temani aku di dalam. Tempatnya aman kok.”

Juan terdiam. Ia menoleh ke arah Doni, yang hanya mengangkat bahu tanda pasrah karena sudah terlanjur sampai di lokasi.

“Lewat aplikasi hijau? Sudah janjian?” tanya Doni penasaran.

“Sudah. Namanya di profil sih 'Mawar'. Fotonya lumayan menggoda, tapi biasanya aslinya lebih 'matang' kata testimoni di sana,” jawab Andre bersemangat.

Juan menghela napas lagi. Ia menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan sebuah dorongan yang aneh. Seolah energi liontinnya memberikan sinyal bahwa di balik pintu itu, mungkin ada "target" lain yang menantinya.

“Ya sudah,” kata Juan akhirnya. “Tapi aku cuma menemani ya.”

Andre tersenyum puas. “Sip! Ayo masuk.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!