NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARAK DINGIN DAN KABAR DARI KOTA AWAN

​Kota Wadas Putih pada malam hari bukanlah tempat bagi mereka yang lemah hati. Cahaya lampion merah yang bergoyang tertiup angin pegunungan memberikan kesan remang dan liar pada jalanan berbatu yang dipenuhi oleh para petarung, pedagang barang selundupan, dan wanita penghibur. Di tengah hiruk-pikuk itu, berdiri sebuah bangunan kayu tiga lantai yang paling megah sekaligus paling berisik: Penginapan "Awan Berarak".

​Han Feng melangkah masuk, membiarkan pintu kayu berat itu berderit di belakangnya. Seketika, indranya diserbu oleh campuran aroma yang tajam; bau arak gandum yang menyengat, asap tembakau dari pipa-pipa panjang, dan lemak daging yang dipanggang di atas api terbuka. Ia tidak mencari pojok ruangan yang gelap—tindakan yang justru akan menarik kecurigaan bagi mata-mata terlatih—melainkan berjalan tenang menuju sebuah meja kosong di tengah ruangan yang bising.

​"Pelayan, sepoci arak terbaik dan sepiring besar daging rusa panggang. Pastikan bumbunya banyak," ucap Han Feng dengan suara yang serak dan dalam, ciri khas seorang pengembara yang telah menghabiskan terlalu banyak waktu berteriak melawan badai.

​Sambil menunggu makanannya, ia menyandarkan topi bambunya sedikit ke belakang, namun tetap membiarkan bayangannya menutupi sebagian wajahnya. Ia mengeluarkan sebatang sumpit dan mulai memainkannya secara perlahan, sementara telinganya terbuka lebar, menyaring puluhan percakapan yang tumpang tindih di sekelilingnya.

...***...

​Di meja sebelahnya, sekelompok pengawal karavan yang tampak kelelahan sedang menenggak arak dengan rakus. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan kapak besar bersandar di kursi, mulai mengeluh dengan suara keras.

​"Sialan! Jalur utama menuju utara sekarang sudah seperti sarang tawon. Murid-murid inti dari Sekte Pedang Langit dan Sekte Guntur Barat sedang melakukan 'pembersihan' besar-besaran. Mereka membantai setiap kelompok bandit, tapi mereka juga menutup jalan bagi karavan kecil seperti kita hanya agar kereta kuda jenius mereka bisa lewat tanpa hambatan."

​"Kau dengar itu?" sahut temannya yang lebih kurus. "Jarak dari sini ke Kota Seribu Awan masih sebulan perjalanan penuh. Kita harus melewati Gurun Pasir Mendidih dan Ngarai Tulang Putih. Kabarnya, murid-murid sekte besar itu sedang berlomba-lomba mengumpulkan poin prestasi sebelum seleksi Sekte Langit Abadi dimulai. Bagi mereka, kita pengelana ini tidak lebih berharga daripada debu di sepatu mereka."

​Han Feng menyapukan pandangannya pada cangkir araknya yang baru saja tiba. Satu bulan perjalanan darat, batinnya. Itu waktu yang cukup lama jika ia harus terus-menerus berpapasan dengan para murid sekte yang sombong. Namun, informasi berikutnya membuat jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

​"Bukan hanya itu," bisik pria kurus itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah namun Han Feng masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Keluarga Li benar-benar mengamuk. Kalian pikir mereka hanya keluarga bangsawan kota kecil? Salah besar. Kabarnya, Leluhur Besar Keluarga Li yang sudah menghilang selama lima puluh tahun baru saja kembali dari meditasi tertutup di daratan pusat. Beliau dikabarkan telah mencapai puncak Ranah Pondasi Dasar dan hampir menyentuh Ranah Inti Sejati! Dialah yang memerintahkan agar si pelayan pembunuh itu ditangkap hidup atau mati."

​Han Feng menghentikan gerakan sumpitnya sesaat. Leluhur besar? Ini adalah informasi baru yang krusial. Jika Keluarga Li memiliki dukungan dari seseorang yang hampir mencapai Ranah Inti Sejati, maka Sekte Pedang Langit sekalipun tidak akan berani menghalangi mereka. Ini menjelaskan mengapa mereka begitu berani menantang sekte dan memasang sayembara besar-besaran.

​Han Feng memanggil pelayan penginapan yang sedang lewat dan meletakkan dua koin perak di atas meja—tip yang sangat besar untuk ukuran pendekar bebas biasa.

​"Pelayan, katakan padaku, apa benar Keluarga Li telah menutup semua jalur keluar dari Wadas Putih menuju utara?" tanya Han Feng sambil mengunyah daging rusa panggangnya yang lezat.

​Si pelayan buru-buru menyambar koin itu dengan mata berbinar. "Tuan, Anda pengembara baru ya? Jalur utama memang dijaga ketat. Keluarga Li menempatkan mata-mata di setiap pos penjagaan dan sumur air di sepanjang Gurun Pasir Mendidih. Mereka mencari siapa saja yang bepergian sendirian dengan deskripsi tertentu. Namun..." pelayan itu berbisik, "para pendekar yang cerdas biasanya memilih jalur memutar melalui pegunungan di sisi barat, meskipun di sana banyak binatang buas tingkat tinggi."

​Han Feng mengangguk. Jalur pegunungan barat adalah rute yang sama menuju Reruntuhan Lembah Angin yang ada di petanya. Sepertinya takdir memang menuntunnya untuk menghindari keramaian dan mencari kekuatannya sendiri di tengah kesunyian reruntuhan.

​Suasana penginapan yang santai tiba-tiba berubah mencekam saat pintu depan ditendang terbuka. Sekelompok pemuda mengenakan jubah biru tua dengan sulaman kilat di dada mereka melangkah masuk. Aura mereka tajam dan penuh kesombongan—murid-murid dari Sekte Guntur Barat.

​"Semua diam!" teriak salah satu murid yang berada di depan. "Kakak Senior Lei Zhan ingin makan dengan tenang. Siapa pun yang berisik akan kami lempar keluar!"

​Seluruh penginapan mendadak sunyi. Para tentara bayaran yang tadinya tertawa keras kini menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan piring mereka. Kekuatan Sekte Guntur Barat terkenal dengan teknik mereka yang kasar dan destruktif, dan Lei Zhan adalah salah satu jenius yang baru saja mencapai Ranah Pondasi Dasar.

​Han Feng, bagaimanapun, tidak peduli. Ia baru saja mencapai bagian paling enak dari daging rusanya. Ia mengambil sepotong tulang muda dan mengunyahnya dengan suara krak-krak yang cukup keras, memecah kesunyian yang dipaksakan oleh murid sekte tersebut.

​"Kau!" murid yang tadi berteriak menunjuk ke arah meja Han Feng. "Apa kau tuli? Kami bilang diam!"

​Han Feng perlahan mengangkat cangkir araknya, meminumnya hingga tandas, lalu menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Ia melirik murid itu dari balik tepi topi bambunya. Tatapannya sangat malas, seolah-olah ia sedang melihat seekor lalat yang mengganggu waktu tidurnya.

​"Aku tidak tuli," ucap Han Feng dengan nada datar yang menusuk. "Hanya saja, aroma arak dan daging ini jauh lebih menarik untuk dinikmati daripada harus mendengarkan ocehan lalat dari Sekte Guntur yang tidak tahu sopan santun."

​Murid itu membelalakkan mata. Wajahnya memerah karena marah. "Beraninya seorang pengembara sampah sepertimu menghina Sekte Guntur! Kau ingin mati?"

​Ia melangkah maju dan menggebrak meja Han Feng, membuat piring daging rusanya melompat. Han Feng menatap piringnya yang sekarang sedikit berantakan, lalu perlahan bangkit berdiri. Tekanan udara di sekitar meja itu mendadak turun drastis. Murid itu tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri, seolah-olah ia baru saja melangkah ke wilayah seekor binatang buas yang sedang lapar.

​"Aku sedang dalam suasana hati yang baik karena perutku kenyang," bisik Han Feng sambil memegang hulu pedang tumpul yang sengaja ia bawa sebagai bagian dari penyamarannya. "Tapi jika kau menyentuh piringku sekali lagi, tanganmu itu tidak akan pernah bisa digunakan untuk memegang pedang lagi. Mau lanjut minum, atau mau kusembelih di sini?"

​Di sudut ruangan, Lei Zhan—sang jenius Sekte Guntur—menyempitkan matanya. Ia merasakan aura yang sangat asing dari pengembara ini. Itu bukan aura yang meledak-ledak, melainkan aura yang sangat padat dan terkendali, seperti gunung yang siap runtuh menimpa siapa saja yang berani mengusiknya.

​Han Feng berdiri tegak, topi bambunya menutupi sebagian wajahnya, namun aura dingin yang memancar darinya membuat para murid Sekte Guntur itu ragu untuk mengambil langkah selanjutnya. Naga emas itu sedang beristirahat, namun cakarnya tetap tajam bagi siapa pun yang cukup bodoh untuk membangunkannya.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!