"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Kontrak Tak Tertulis
Tiga hari.
Tiga hari bagi Alea terasa seperti tiga abad yang diseret melewati bara api yang membara. Sejak malam pesta ulang tahun yang berakhir dengan air mata di balik pintu kamar yang terkunci, keberadaan Bima benar-benar menguap tanpa jejak.
Tidak ada kepulangan di tengah malam yang ia nantikan, tidak ada suara mesin SUV hitam yang menderu rendah di halaman, bahkan asisten pribadinya di kantor hanya memberikan jawaban yang sama, datar dan mekanis, berulang kali: "Pak Bima sedang menangani urusan krusial di Singapura dan benar-benar tidak bisa diganggu, Nona."
Baskara pun mulai terlihat cemas. Ia sering berdiri di depan jendela besar ruang tamu, menatap gerbang seolah berharap sahabatnya muncul dari sana.
Namun, bagi Alea, kecemasan ayahnya adalah kebohongan yang sopan. Alea merasa sejarah sedang berulang dengan cara yang paling kejam.
Ingatannya tentang bandara sepuluh tahun lalu kembali menghantui setiap tidurnya, bayangan punggung Bima yang menjauh tanpa menoleh. Ia merasa dicampakkan lagi. Ia merasa dibuang ke dalam lubang gelap setelah ia memberikan seluruh hatinya, seluruh kepercayaannya, kepada pria itu.
Pada malam ketiga, kesunyian di kediaman Baskara terasa semakin mencekam, seolah-olah dinding rumah itu ikut berduka. Alea mengurung diri di kamar yang gelap gulita.
Ia tidak lagi peduli pada nampan makanan yang diletakkan pelayan dengan hati-hati di depan pintunya. Tubuhnya terasa lemas, namun jiwanya jauh lebih remuk. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk ponselnya seolah benda plastik dan kaca itu adalah satu-satunya penyambung nyawanya yang tersisa.
"Kau tidak boleh meninggalkanku lagi, Bima. Kau sudah berjanji," isak Alea dalam hati, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.
Namun, di tengah kesedihan yang menghimpit, muncul rasa marah yang meledak-ledak.
Ia merasa kesal karena pria itu memiliki kendali yang begitu mutlak atas kewarasannya. Ia benci karena ia merindukan aroma cedarwood dan tembakau mahal itu.
Ia benci karena jemarinya merindukan sentuhan kasar namun hangat yang selalu membelai rambutnya. Dan yang paling ia benci, ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak bisa lagi membayangkan satu hari pun dalam hidupnya tanpa sosok pria posesif itu di sisinya.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan mata yang membengkak hingga perih, Alea meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan, jarinya ragu sejenak di atas nama "Uncle Bima". Ia tahu ini adalah bentuk kekalahan mutlak. Ia tahu ia sedang memberikan lehernya untuk diikat.
Namun, ia tidak peduli lagi. Harga dirinya sudah lumat, hancur bersama setiap tetes air mata yang jatuh ke atas seprai satinnya.
Ia menekan tombol pesan suara (voice note).
"Kau jahat, Bima..." Alea memulai, suaranya langsung pecah oleh isak tangis yang dalam, menyayat sunyi kamar itu.
"Kau pembohong besar! Kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi! Kau bilang kau akan menjagaku... tapi kenapa kau menghilang tepat saat aku benar-benar menyerahkan segalanya padamu? Kenapa kau meninggalkanku kedinginan di sini?"
Alea menarik napas yang tersengal, dadanya sesak oleh emosi yang tumpah ruah bagai bendungan yang jebol.
"Aku benci kau! Aku benci karena kau membuatku merasa sekecil ini! Aku benci karena aku merindukanmu sampai rasanya aku ingin mati, Bima! Aku... aku mengaku kalah. Aku sadar sekarang... aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa..."
Alea terisak semakin hebat, menutupi matanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap menekan layar ponsel, memastikan setiap isakannya terdengar.
"Aku mencintaimu, Bima! Aku mencintaimu lebih dari siapa pun di dunia ini! Tolong kembali... aku mohon... aku berjanji akan menjadi apa pun yang kau mau. Aku akan menurut pada semua perkataanmu, aku tidak akan pernah membangkang lagi, aku akan menjadi little bird-mu yang patuh, asalkan kau kembali padaku. Tolong... jangan biarkan aku sendirian lagi..."
Alea melepaskan tombol itu, mengirimkan pesan suara yang berisi seluruh pengakuan, kerentanan, dan penyerahan dirinya yang paling primitif.
Ia melempar ponselnya ke ujung tempat tidur, lalu menenggelamkan wajahnya di bantal, meratapi kebodohannya yang telah menyerahkan seluruh kedaulatannya pada pria yang mungkin saja sedang tidak memikirkannya sama sekali.
Hening. Hanya suara isakan Alea yang tersisa, memudar menjadi hening yang menakutkan.
Tiba-tiba, Alea merasakan embusan angin dingin masuk ke dalam kamar. Ia menoleh perlahan ke arah balkon. Pintu kaca yang tadi ia yakini sudah dikunci, entah bagaimana kini sedikit terbuka, membiarkan gorden sutranya berkibar pelan seperti hantu putih.
Sebelum ia sempat berdiri untuk memeriksa, sepasang lengan yang luar biasa kuat dan kokoh melingkar di pinggangnya dari belakang. Tubuh Alea ditarik dengan satu sentakan lembut namun tegas, hingga punggungnya menempel sempurna pada dada bidang yang sangat ia kenal, dada yang panas, keras, dan berdegup dengan irama yang tenang namun dominan.
Aroma cedarwood, tembakau, dan udara dingin malam itu memenuhi indranya. Alea membeku. Napasnya tercekat di kerongkongan.
"Benarkah? Kau akan menurut pada semua perkataanku, little bird?"
Suara berat, parau, dan penuh kepuasan yang tertahan itu bergetar tepat di telinganya. Suara yang selama tiga hari ini ia tangisi, kini terdengar begitu nyata. Bima tidak pernah pergi ke Singapura.
Pria itu ada di sana, bersembunyi di balik bayang-bayang propertinya sendiri, mengawasi setiap tetes air mata Alea melalui kamera tersembunyi atau laporan anak buahnya, menunggu hingga buah itu matang sepenuhnya dan jatuh sendiri ke dalam genggamannya.
Ia membiarkan Alea menderita, karena ia tahu hanya melalui rasa takut akan kehilanganlah, Alea akan mengakui obsesinya sendiri.
Alea tersentak, ia memutar tubuhnya dalam pelukan itu. Di bawah temaram cahaya bulan yang masuk dari balkon, Bima tampak begitu tenang, wajahnya yang tegas terlihat sangat tampan sekaligus mengintimidasi. Tidak ada raut lelah di wajahnya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang berkilat penuh kemenangan mutlak.
Alea menatap bibir pria itu, bibir yang selama sepuluh tahun menghilang, bibir yang tempo hari menciumnya secara brutal, dan bibir yang kini sangat ia damba lebih dari oksigen. Dalam puncak euforia yang menyakitkan dan rasa takut yang meledak, Alea kehilangan seluruh sisa harga dirinya.
Ia tidak menunggu Bima bergerak. Alea justru berjinjit, melingkarkan lengannya yang gemetar ke leher kokoh Bima, dan mencium bibir pria itu terlebih dahulu.
Ciuman itu berantakan, penuh dengan rasa asin air mata dan rasa haus yang teramat sangat. Alea mencium Bima dengan segala keputusasaan yang ia miliki, mencoba menyedot kekuatan dari pria itu, seolah-olah dengan cara itulah ia bisa mengunci Bima agar tidak pernah berani melangkah pergi lagi. Ia menyerahkan bibirnya, jiwanya, dan kedaulatannya dalam satu pagutan yang emosional.
Bima sempat mematung selama satu detik, terkejut dengan keberanian Alea yang menyerangnya lebih dulu. Ia tidak menyangka Alea akan sepasrah ini.
Namun sesaat kemudian, seringai kemenangan muncul di sudut bibirnya. Ia membalas ciuman itu dengan jauh lebih dalam, jauh lebih menuntut, mengunci tubuh Alea hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.
Bima melepaskan pagutannya sejenak, membiarkan Alea menghirup udara yang tersisa, namun tangannya tetap mengunci pinggang gadis itu dengan posesif. Ia menatap mata Alea yang basah dengan tatapan yang sangat kelam.
"Kau yang memulainya, Alea. Kau yang menciumku duluan. Kau yang menyerahkan dirimu padaku secara sadar," bisik Bima, suaranya terdengar seperti hakim yang sedang menjatuhkan vonis.
Ia mengusap sisa air mata di pipi Alea dengan ibu jarinya, gerakannya lembut namun terasa seperti klaim kepemilikan yang permanen.
"Ingat janji itu baik-baik. Karena mulai detik ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Kau sudah menyerahkan kuncimu padaku, dan aku sudah membuangnya ke dasar samudra paling dalam."
Alea, yang sudah benar-benar tenggelam dalam manipulasi cinta dan kebutuhan akan perlindungan, hanya bisa mengangguk pelan sembari terisak dalam pelukannya.
"Ya... miliki aku sepenuhnya, Uncle. Aku milikmu. Asalkan kau jangan pergi lagi..."
Bima kembali menciumnya, kali ini sebuah ciuman yang penuh dengan otoritas dan klaim mutlak. Siasat jitu Bima telah berhasil melampaui ekspektasinya. Sangkar itu kini bukan lagi sekadar kiasan; Alea telah membangun jerujinya sendiri dengan perasaannya, dan ia baru saja memberikan kuncinya kepada sang predator yang kini tersenyum dalam gelap.