NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Melangkah ke Sarang Harimau

​Pagi hari di Kota Awan Merah terasa sangat damai. Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menghalau sisa-sisa kabut malam.

​Di depan gerbang utama kota, Lin Tian berdiri tegak menatap punggung putranya yang perlahan menjauh, menyusuri jalan tanah berdebu. Tidak ada arak-arakan megah atau pengawal yang mengantar. Lin Chen hanya mengenakan jubah rami sederhana berwarna abu-abu, sebuah topi bambu yang menyembunyikan sebagian wajahnya, dan sebilah pedang besi biasa yang dibelinya dengan harga murah di pasar terikat di punggungnya.

​Bagi orang awam, ia hanya terlihat seperti pengembara muda biasa. Namun, Lin Tian tahu betul bahwa di balik penampilan sederhana itu, bersemayam seekor naga yang siap membalikkan lautan.

​"Terbanglah yang tinggi, Chen-er," gumam Lin Tian sambil tersenyum bangga. "Buatlah langit dan bumi gemetar mendengar namamu."

​Tiga Hari Kemudian, di Kaki Pegunungan Awan Surgawi.

​Pegunungan Awan Surgawi membentang sepanjang puluhan ribu mil, puncaknya menembus lapisan awan putih layaknya pilar-pilar yang menyangga langit. Di tempat inilah letak sekte penguasa wilayah ini, Sekte Pedang Awan Surgawi. Energi spiritual di sekitar pegunungan ini setidaknya tiga kali lipat lebih padat daripada di Kota Awan Merah.

​Lin Chen berdiri di pelataran batu raksasa di kaki gunung utama. Di depannya, membentang anak tangga batu giok putih berjumlah puluhan ribu yang menjulang naik hingga menghilang ke balik kabut awan. Itu adalah Tangga Ujian Fana.

​Pelataran batu itu saat ini disesaki oleh puluhan ribu pemuda dan pemudi dari berbagai kota dan klan di seluruh wilayah kekuasaan sekte. Hari ini adalah hari penerimaan murid baru yang diadakan lima tahun sekali. Wajah-wajah muda itu dipenuhi antusiasme, ketegangan, dan ambisi.

​"Ingat, bocah," Mo Xuan memperingatkan dari dalam kesadaran Lin Chen. "Di tempat ini, ahli Ranah Pengumpulan Qi bukanlah hal yang langka, dan Tetua Inti Emas bertebaran di mana-mana. Sembunyikan kultivasi aslimu. Tampilkan kekuatanmu di batas Ranah Pengumpulan Qi Bintang 1. Itu cukup untuk membuatmu dianggap jenius dan dihormati, tapi tidak cukup tinggi untuk membuat sekte merasa terancam atau curiga."

​"Aku mengerti," jawab Lin Chen dalam hati. Ia menekan fluktuasi Qi Emas di Dantiannya, mengubah auranya menjadi sangat stabil dan biasa, persis seperti kultivator Bintang 1 yang baru saja menerobos.

​"Minggir, rakyat jelata! Berani-beraninya kalian menghalangi jalan Tuan Muda dari Kota Kayu Besi?!"

​Sebuah teriakan arogan memecah keributan di pelataran. Sepasukan pengawal berbaju zirah mendorong paksa kerumunan pemuda untuk membuka jalan. Di tengah formasi pengawal itu, berjalan seorang pemuda gemuk berpakaian sutra emas yang memancarkan kultivasi Pemurnian Tubuh Bintang 9.

​Banyak pemuda biasa yang terdorong jatuh dan luka-luka, tapi mereka hanya bisa menelan amarah karena tidak berani menyinggung bangsawan dari kota besar.

​Pemuda gemuk itu terus berjalan maju dengan angkuh hingga ia tiba di dekat posisi Lin Chen. Lin Chen sedang berdiri diam menatap puncak gunung, sama sekali tidak bergeser dari posisinya.

​"Hei, pengemis! Kau tuli?!" teriak salah satu pengawal yang berada di depan, mengayunkan gagang tombaknya ke arah bahu Lin Chen untuk mendorongnya menyingkir.

​Lin Chen bahkan tidak menoleh. Ia hanya melepaskan seutas kecil Qi Bintang 1-nya dari bahunya.

​BAM!

​Tombak besi itu melengkung seketika saat menyentuh bahu Lin Chen. Pengawal itu merasakan gaya tolak yang mengerikan merambat dari tombaknya, membuat tangannya robek dan tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak pemuda gemuk dari Kota Kayu Besi hingga keduanya terguling di lantai batu.

​Kerumunan seketika terdiam. Semua mata membelalak menatap pemuda bertopi bambu yang tetap berdiri tak tergoyahkan seperti gunung batu.

​"K-Kau... Berani-beraninya kau melukaiku?!" Pemuda gemuk itu meronta bangun, wajahnya merah padam. "Bunuh dia! Cincang dia!"

​"Cukup!"

​Sebuah suara serak yang memekakkan telinga meledak dari udara. Tekanan spiritual yang sangat berat—setidaknya Ranah Pengumpulan Qi Bintang 9 tahap puncak—turun menyapu pelataran.

​Dari langit, seorang pria tua berjubah abu-abu melayang turun dan mendarat di atas pilar batu tinggi. Di dadanya terdapat sulaman dua bilah pedang perak bersilang. Dia adalah Tetua Luar yang bertugas mengawasi pendaftaran.

​"Di Kaki Gunung Awan Surgawi, tidak ada Tuan Muda atau Bangsawan! Yang ada hanya calon murid. Siapa pun yang berani membuat keributan sebelum ujian dimulai, akan langsung dicoret dan dibuang ke lembah binatang buas!" ancam Tetua itu dengan mata menyipit tajam.

​Pemuda gemuk itu seketika pucat pasi dan buru-buru menundukkan kepalanya, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

​Tetua itu menyapu pandangannya ke arah Lin Chen. Ia sedikit terkejut saat mendeteksi fluktuasi Qi di tubuh pemuda sederhana itu. Pengumpulan Qi Bintang 1? Di usia semuda itu? Bibit yang sangat bagus.

​"Ujian Tangga Fana akan segera dimulai!" seru Tetua itu. "Siapa pun yang bisa menaiki seribu anak tangga dalam waktu satu jam, akan diterima sebagai Murid Luar! Mulai!"

​Ribuan pemuda seketika berdesakan maju, berlomba-lomba menaiki anak tangga giok. Namun, begitu kaki mereka menginjak anak tangga pertama, banyak yang langsung jatuh berlutut, berkeringat deras. Anak tangga itu diukir dengan Formasi Gravitasi. Semakin tinggi mereka naik, semakin berat tekanan yang menimpa tubuh mereka.

​Lin Chen tidak ikut berdesakan. Ia berjalan santai menembus kerumunan, langkah kakinya seolah tidak terpengaruh oleh Formasi Gravitasi sama sekali. Tentu saja tidak terpengaruh—fisik Lin Chen telah ditempa oleh Mandi Darah Naga dan bisa menahan serangan Binatang Iblis Tingkat 3. Tekanan gravitasi tingkat rendah ini baginya seperti angin sepoi-sepoi.

​Namun, alih-alih menaiki tangga tersebut, Lin Chen berjalan langsung menuju meja pendaftaran tempat Tetua pengawas tadi duduk.

​"Anak muda, apa yang kau lakukan? Tangga ujian ada di sebelah sana," tegur Tetua itu, alisnya berkerut.

​Lin Chen melepaskan topi bambunya, memperlihatkan wajahnya yang tegas dan tenang. Ia merogoh ke dalam cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah plakat kayu cendana berukir pedang, meletakkannya perlahan di atas meja.

​"Lin Chen dari Kota Awan Merah," ucapnya dengan nada datar. "Membawa Token Juara Turnamen Kota untuk melapor masuk."

​Mata Tetua itu sedikit melebar melihat token tersebut. Memiliki Token Juara berarti pemuda ini memiliki hak istimewa untuk langsung masuk ke Pelataran Murid Luar tanpa perlu mengikuti tes Tangga Fana.

​Namun, sesaat kemudian, ekspresi Tetua itu berubah aneh. Ia mengingat sebuah pesan rahasia yang diedarkan oleh salah satu faksi kuat di dalam sekte beberapa hari yang lalu.

​Lin Chen dari Kota Awan Merah... Bukankah ini anak yang menyinggung Tetua Bai dan Kakak Senior Liu Meng'er? batin Tetua itu.

​Tetua itu menatap Lin Chen dalam-dalam, menghela napas tipis yang mengandung sedikit rasa iba. "Tokenmu sah. Namamu sekarang resmi terdaftar sebagai Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi. Namun, ingatlah ini, anak muda... tidak semua tempat di atas sana disinari oleh matahari."

​Ia menyerahkan sebuah lencana perunggu bertuliskan kata 'Luar', dua pasang seragam sekte berwarna abu-abu, dan sebuah kunci kayu bernomor 444.

​"Itu adalah nomor kediamanmu di Asrama Murid Luar. Lewati gerbang samping ini, seseorang akan memandumu," kata Tetua itu, sengaja mempercepat prosesnya agar tidak terlihat terlalu mencolok.

​Lin Chen menerima barang-barang tersebut tanpa ekspresi, lalu melangkah menuju gerbang batu raksasa yang menandai batas masuk wilayah sekte luar. Saat kakinya melangkah melewati gerbang itu, senyum dingin dan buas perlahan mengembang di sudut bibirnya.

​"Liu Meng'er... Tetua Bai... Cuci leher kalian bersih-bersih. Mimpi buruk kalian baru saja datang."

​Sementara itu, di Puncak Teratai Es (Wilayah Murid Inti).

​Di sebuah paviliun mewah yang diukir dari bongkahan es abadi, seorang gadis cantik berpakaian gaun sutra putih sedang duduk bersila, menyerap aura dingin di udara.

​Itu adalah Liu Meng'er. Auranya kini jauh lebih kuat dan lebih murni daripada sebulan yang lalu. Berkat sumber daya tak terbatas dari sekte dan ajaran langsung Tetua Bai, ia telah menembus Ranah Pengumpulan Qi Bintang 5!

​Ketukan pelan terdengar dari luar pintu.

​"Masuk," ucap Liu Meng'er dingin tanpa membuka matanya.

​Seorang murid perempuan berseragam pelayan masuk dan berlutut hormat. "Kakak Senior Meng'er, saya membawa laporan dari Gerbang Pelataran Luar."

​"Katakan."

​"Setengah jam yang lalu, seorang pemuda bernama Lin Chen dari Kota Awan Merah telah resmi mendaftar menggunakan Token Juara Kota. Ia sekarang berada di Asrama Murid Luar sektor Barat."

​Mata Liu Meng'er seketika terbuka. Sedikit fluktuasi emosi merusak ketenangannya, membuat secangkir teh panas di atas meja di sebelahnya langsung membeku menjadi es.

​"Dia benar-benar berani datang ke sini?" Liu Meng'er mencibir tajam, rasa jijik tergambar jelas di wajahnya cantiknya. "Katak cacat itu ternyata cukup beruntung bisa menggunakan pil sampah dan harta acak untuk menembus turnamen desa itu. Dia pikir Sekte Pedang Awan Surgawi adalah tempat bermain?"

​"Apa yang harus kita lakukan, Kakak Senior? Apakah saya harus menyuruh murid-murid dari faksi kita untuk memberinya 'pelajaran' malam ini?" tanya pelayan itu penuh semangat menjilat.

​Liu Meng'er berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap lautan awan di bawah puncaknya.

​"Tidak perlu kita yang bertindak langsung mengotori tangan. Guru sedang melakukan kultivasi tertutup dan aku harus fokus menghadapi Ujian Peringkat Inti bulan depan," Liu Meng'er mendengus remeh.

​Ia memutar cincin giok di jarinya. "Kirimkan pesan pada Zhang Kuang di Pelataran Luar. Katakan padanya, pemuda yang membuat adik sepupunya cacat di turnamen bulan lalu telah tiba. Aku yakin, Zhang Kuang akan sangat senang menyambut 'saudara seperguruan' barunya di Arena Hidup dan Mati sekte malam ini."

​Pelayan itu tersenyum kejam. "Sesuai perintah Kakak Senior."

​Liu Meng'er kembali menutup matanya, menyingkirkan nama Lin Chen dari pikirannya seperti membuang lalat mati. Di matanya, takdir Lin Chen di sekte ini hanya ada dua: menjadi mayat malam ini, atau menjadi anjing cacat yang merangkak keluar dari gunung besok pagi.

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!