NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cakar Dia Smile

...(Flash Back On)...

"Ayo duduk di pangkuan Om. Nanti Om beliin kamu Martabak kalau mau. Om beliin khusus satu kotak buat kamu." Pria itu tersenyum, tapi matanya kosong melompong. "Sini, Melody. Duduk sini. Mama sama Papa kamu lagi tidur tuh."

Mata Melody tertuju ke sofa cokelat yang kotor. Dia melihat kedua orang tuanya tergeletak miring. Melody tahu kenapa mereka selalu tidur miring begitu setelah menghisap pipa kaca itu, agar tidak tersedak kalau mereka muntah. Kali ini sepertinya heroin lagi. Pandangannya lalu beralih ke teman kerja ayah tirinya, Jarwis.

"Mereka enggak bakal tahu."

...(Flash Back Close)...

"Melody?"

"Melody!"

Melody tersentak, pandangannya menjadi kabur. Dia mengerjap dan meraba wajahnya dengan tangan gemetar, baru sadar ada air mata yang mengalir deras di pipinya.

"Maaf," bisiknya parau. Melody mengusap air mata itu dan mendongak, melihat Edgard berdiri di depannya.

Wajah Edgard yang tadinya cemas berubah menjadi marah saat menatap Messy. "Apa yang kamu lakuin?"

Messy langsung mengangkat kedua tangannya. "Aku enggak ngapa-ngapain! Kita cuma nawarin martabak, itu aja. Tiba-tiba dia mundur terus melamun, terus nangis gitu." Messy menggeleng kuat. "Enggak ada yang nyakitin dia, sumpah."

Adden mengerutkan kening, tampak bingung sambil terus menatap Melody. Gadis itu menggenggam ujung lengan sweater merahnya yang sudah pudar dan menatap Edgard.

"Dia bener. Mereka enggak ngapa-ngapain. Aku cuma..."

Wajah Edgard kembali lembut. "Gak apa-apa, Melody. Enggak perlu jelasin apa pun. Smile gimana kabarnya? Dia sehat kan?"

"Smile siapa?" tanya Messy penasaran.

Melody melirik Edgard, lalu menatap Messy dan yang lainnya yang tampak menunggu jawaban.

Edgard tersenyum kecil. "Melody ngadopsi kucing."

"Astaga! Lucu banget pasti!" seru Giggi antusias sambil berdiri. "Boleh aku lihat enggak, Melody? Mamaku enggak pernah bolehin aku pelihara kucing di rumah. Kamu beruntung banget sih. Warnanya apa?"

Melody menatap Messy yang tampak kaget dan bingung. "Papa biarin dia adopsi kucing terus disimpen di kamar?"

Edgard menatap tajam ke arah anaknya itu. "Iya, Papa bolehin. Kamu kan punya mobil pickup yang harganya ratusan juta, punya banyak temen, bisa pergi kapan aja, dan dapat uang jajan banyak. Kamu dapat semua yang kamu mau. Jadi ya, Papa bolehin dia pelihara kucing. Ada masalah?"

"Enggak ... terus Mama gimana?"

Edgard terkekeh sinis. "Mama bilang Papa harus membelikan Melody apa pun yang dia mau," jawabnya.

Wajah Melody memanas karena malu. Dia tak pernah menyangka Edgard dan Pujiana akan sebaik ini padanya. Mungkin mereka tidak seburuk yang dia takutkan.

"Boleh kami lihat?" tanya Giggi sambil mendekat.

Melody menggigit bibir, ragu. "Aku... nggak yakin itu ide bagus. Ini malam pertamanya di sini, dia mungkin masih kaget."

"Yaudah, kita naik ke kamarmu pelan-pelan aja. Cuma mau intip sebentar kok," usul Giggi antusias.

"Kamu tahu aturannya, Melody." Edgard menatap Messy tegas. "Nggak boleh ada cowok masuk kamar putriku. Aturannya paten." Dia memindahkan pandangan ke pemuda lain. "Nggak ada yang boleh masuk. Mengerti?"

"Siap, Pak," jawab mereka serempak.

"Sepertinya juga nggak ada yang berminat naik ke kamar dia kok," celetuk Marlin.

Yang lain mendengus, lalu tatapan mereka beralih ke Melody. Issac mengedipkan mata, tapi dia buru-buru membuang muka.

"Messy, ke ruang kerja Papa sebentar. Ada yang perlu Papa bicarakan," panggil Edgard.

Messy berdiri dan mengangguk. "Aku permisi sebentar, teman-teman." Dia berbisik, "Pasti Papa mau marah soal martabak tadi."

Begitu mereka keluar, remote TV melayang dan menghantam dada Issac. Pemuda itu meringis kesakitan.

"Siapa yang main api, pasti terbakar, dasar bodoh," geram Adden dingin.

"Apa-apaan sih, Adden?" tanya Issac kaget.

Adden menatapnya tajam. "Kamu tahu persis maksud aku, Issac."

Melody tahu tipe cowok seperti Issac. Anak orang kaya, atlet, yang suka pesta minum-minuman dan pakai narkoba. Pikirannya langsung tertuju pada Noah. Pasti dia yang menjual barang itu ke mereka. Itu cara Noah cari uang.

Melody belum melihat Messy, Adden, atau Jojo melakukan hal itu, tapi bukan berarti mereka suci. Dia tidak bodoh, dia tahu bedanya sekadar merokok dengan barang keras yang bisa membuat orang hilang akal dan berubah menjadi monster.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Giggi dengan nada khawatir.

Melody memaksakan senyum kecut. "Aku baik-baik aja. Cuma keinget sesuatu."

Giggi bertanya karena tadi melihatnya menangis. Melody tidak bisa cerita soal Jarwis yang memanfaatkan birahinya untuk melecehkannya.

"Aku pengen banget lihat kucing barumu. Dia lucu nggak? Umurnya berapa?" tanya Giggi mengalihkan topik.

Melody tersenyum lega. "Aku ambilin sebentar. Tapi kalau dia gelisah, aku bawa naik lagi."

"Yay, ayo buruan!"

Lima menit kemudian, Giggi duduk bersila membelai Smile yang berbaring di antara kaki Melody. Kucing itu mendengkur keras karena senang.

Issac dan yang lainnya mendekat. Adden berdiri tepat di belakang Melody, membuat bulu kuduknya meremang. Jantungnya berdegup lebih kencang.

"Aku belum pernah seiri ini sama kucing sebelumnya," canda Issac.

Melody merasa Adden melirik, membuat Issac gugup. "Eh, bercanda doang. Maksud aku, kucingnya yang beruntung."

Tangan kekar Adden terulur mengelus perut Smile. Wajahnya hanya beberapa senti dari leher Melody. Hangatnya tubuh pria itu terasa jelas di punggungnya.

"Dia suka sama kamu," kata Giggi tersenyum. "Denger deh, dengkurannya keras banget."

Issac mengulurkan tangan ingin ikut pegang, tapi tiba-tiba Smile mencakar tangannya.

"Aduh! Kucing sialan. Dia cakar aku!" teriak Issac sambil menarik tangannya.

Melody langsung menggendong Smile dan memeluknya erat. "Maaf ya. Mungkin dia kaget atau belum terbiasa sama banyak orang."

Issac menatapnya tajam, tapi Melody membalas tatapan itu tanpa gentar. Kucing punya hak bela diri kalau terancam. Apalagi Smile pernah kelaparan dan hidupnya susah sebelum diadopsi. Melody merasa sangat dekat dengan hewan itu.

"Dasar kucing bodoh, harusnya tahu diri."

"Berhenti Issac. Mungkin dia emang nggak suka sama kamu," potong Adden datar.

"Seharusnya aku garuk pantatnya aja biar tahu rasa."

Melody mengepalkan tangan. Dia menyesal membawa Smile turun. Dia mengecup kepala kucingnya, berusaha menenangkannya.

"Kalau kamu berani sentuh kucingnya, hancur bijimu. Ini peringatan terakhir," ucap Adden dengan nada rendah.

Wajah Issac pun langsung pucat ketakutan. Melody heran, tapi jelas Issac sangat takut pada Adden yang terlihat lebih tinggi dan berwibawa.

Marlin menggelengkan kepala sambil melirik Melody dengan senyum tahu segalanya. Melody ingin menoleh, tapi menahan diri. Meski begitu, dia lega Adden membela makhluk kecil itu. Smile baru berusia delapan bulan, sangat manis, dan tak pantas diperlakukan kasar.

"Dia kucing yang baik. Aku suka," kata Adden.

"Makasih." Melody menatap Issac. "Maaf kalau Smile cakar kamu. Tapi ingat, kalau kamu berani sentuh dia lagi, kamu nggak cuma kena cakar."

Giggi terlihat kaget mendengar ancaman itu. Melody bukan anak kecil lagi. Dia harus menunjukkan kalau dia bisa menjaga diri dan menjaga Smile.

"Apa yang bakal kamu lakuin?" tantang Issac.

Melody tersenyum miring. "Seperti kata orang orang, siapa yang main api, dia yang bakal terbakar, Issac."

Terdengar tawa kecil dari Adden di belakangnya. Issac mendongak, lalu buru-buru membuang muka, jelas tidak berani melawan.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!