NovelToon NovelToon
God Emperor Zhao Xuan

God Emperor Zhao Xuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.

Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Undangan Sang Putri Naga

Sinar matahari pagi di Benua Tengah berwarna sedikit keemasan, membawa kepadatan Qi murni yang membuat pori-pori setiap kultivator terbuka dengan nyaman.

Di dalam pelataran Penginapan Awan Emas, pagi itu diawali dengan rutinitas baru yang dipenuhi jeritan.

"BOS! SINGKIRKAN BENDA INI DARIKU!"

Long Chen melompat ke atas pilar kayu setinggi tiga tombak, menempel layaknya cicak ketakutan. Di bawahnya, Batu Kekosongan hitam legam itu berguling-guling pelan di lantai, sesekali mengeluarkan tentakel bayangan kecil yang berusaha menggapai ujung jubah Long Chen seperti anak anjing kelaparan yang meminta makan.

Zhao Xuan melangkah keluar dari kamarnya. Rambut merah nya berkibar tertiup angin pagi, memancarkan hawa hangat yang membuat embun di sekitarnya langsung menguap. Ia menatap batu itu, lalu mendesah pelan.

"Kemari," perintah Zhao Xuan.

Mendengar suara tuannya, Batu Kekosongan itu berhenti mengejar Long Chen. Ia berguling patuh menghampiri kaki Zhao Xuan. Zhao Xuan membungkuk, meneteskan setitik darah dari ujung jarinya yang mengandung sedikit Api Nirwana.

SLUUURP.

Batu itu menyedot tetesan darah tersebut, bergetar kegirangan, lalu terdiam layaknya batu kali biasa.

"Keturunan Naga Leluhur yang takut pada sebongkah batu," ejek Zhao Xuan sambil berjalan menuju meja teh di taman pelataran. "Jika para leluhur nagamu melihat ini, mereka akan mencekik diri mereka sendiri dengan kumis mereka."

Long Chen turun dari pilar sambil cemberut. "Batu itu tidak normal, Bos! Ia tidak memancarkan Niat Membunuh, tapi insting nagaku berteriak bahwa benda itu bisa mengunyah jiwaku tanpa dikunyah!"

Jian Zui tertawa pelan sambil menuangkan teh spiritual. "Duduklah, Tuan Muda Long. Teh Pencerahan Awan Pagi ini sangat baik untuk menenangkan saraf."

Sementara kelompok Zhao Xuan menikmati pagi yang damai, di sudut lain Benua Tengah, kedamaian adalah barang yang mustahil ditemukan.

Benua Tengah – Markas Besar Paviliun Pedang Bintang.

Di dalam Aula Pedang Surgawi yang menjulang menembus awan, tekanan Qi yang luar biasa tajam membuat lantai giok di sekitarnya dipenuhi ribuan retakan halus.

Di tengah aula, Tuan Muda Jian Chen berlutut dengan wajah pucat pasi. Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya dengan alis setajam pedang dan jubah yang memancarkan cahaya bintang. Ia adalah Jian Wuya, Master Paviliun Pedang Bintang, seorang monster di ranah Setengah Langkah God Emperor.

PLAAAK!

Sebuah tamparan Qi murni menghantam wajah Jian Chen, melempar pemuda jenius itu hingga terguling belasan tombak. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, namun ia tidak berani merintih.

"Bodoh! Tolol! Arogansi tanpa perhitungan!" raung Jian Wuya, Niat Pedangnya mengamuk menghancurkan pilar-pilar aula. "Kau mengirim Tiga Bayangan Malam untuk membunuh target yang bahkan belum kau ketahui fondasi aslinya?! Dan sekarang, abu mereka dikirim kembali sebagai lelucon?!"

"M-Maafkan saya, Guru..." Jian Chen bersujud gemetar. "Saya tidak menyangka pemuda berambut merah itu memiliki penjaga yang bisa memanipulasi Hukum Bayangan. Dia pasti Tuan Muda dari benua tersembunyi!"

"Tidak peduli dia dari benua mana, dia telah menginjak wajah Paviliun kita!" Jian Wuya menyipitkan matanya, meredam sedikit Niat Pembunuhnya. Monster tua yang telah hidup puluhan ribu tahun ini jauh lebih licik dari muridnya.

"Guru, apakah kita akan mengirimkan Penatua Pedang untuk memenggalnya hari ini?" tanya Jian Chen penuh harap.

"Tidak," jawab Jian Wuya dingin. "Membunuh secara diam-diam hanya akan menunjukkan bahwa kita takut menghadapinya secara terbuka. Terlebih lagi, undangan dari Klan Han Kuno untuk Perjamuan Resonansi Dao telah tersebar. Han Tianyi, rubah kecil yang licik itu, sengaja mengundang pemuda ini untuk memancing kita."

Jian Wuya mengibaskan lengan bajunya, berjalan kembali ke singgasana pedangnya.

"Biarkan dia hidup dan menikmati sisa napasnya selama sebulan ini," putus sang Master Paviliun dengan senyum kejam. "Di Perjamuan Resonansi Dao nanti, seluruh pimpinan dan jenius Tiga Klan Kaisar akan hadir. Di hadapan ribuan mata Benua Tengah, kau akan menantangnya dalam Duel Hidup dan Mati di Panggung Surgawi. Bunuh dia dengan pedangmu sendiri. Hanya darahnya di atas panggung suci yang bisa membersihkan rasa malu Paviliun kita."

Jian Chen mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya memancarkan tekad berdarah. "Murid mengerti! Saya akan memasuki pengasingan di Kolam Pedang Bintang hari ini juga. Saat perjamuan tiba, saya pasti akan memenggal kepalanya!"

Kembali ke Kota Pelabuhan Awan Awal.

Menjelang siang, Zhao Xuan merasa bosan duduk di penginapan. Ia memutuskan untuk turun ke jalanan distrik perdagangan atas bersama kelompoknya, membiarkan Long Chen mencicipi berbagai jajanan daging panggang spiritual yang dijajakan di pinggir jalan.

Mereka akhirnya singgah di Paviliun Angin Musim Semi, sebuah rumah teh dan anggur kelas atas yang melayang di udara, memberikan pemandangan indah menghadap ke Lautan Kekosongan.

Zhao Xuan duduk di dekat jendela, menyesap arak yang dingin. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.

Udara di lantai dua paviliun itu mendadak menjadi sangat segar. Harum teratai bercampur embun pagi menyapu ruangan. Para kultivator lokal langsung menahan napas dan menundukkan kepala dengan hormat.

Dari tangga, seorang gadis cantik dengan zirah hijau-emas melangkah naik. Sisik naga tipis berwarna zamrud di pelipisnya memantulkan cahaya matahari. Dua pengawal God King Menengah mengikutinya bagaikan bayangan.

Itu adalah Ao Qing, Putri Klan Naga.

Alih-alih bersikap arogan atau mencari masalah, Ao Qing mengukir senyum yang anggun namun penuh perhitungan. Ia berjalan lurus ke arah meja Zhao Xuan.

Gu Tianxue seketika meletakkan tangannya di gagang pedang. Niat Bayangannya mengunci kedua pengawal naga tersebut.

Namun, Ao Qing mengabaikan ancaman itu. Ia berhenti di depan meja Zhao Xuan dan menangkupkan kedua tangannya memberi salam sebuah gestur yang sangat langka dilakukan oleh ras Naga yang sombong kepada manusia fana.

"Bolehkah naga kecil ini meminta izin untuk berbagi meja dengan Tuan?" sapa Ao Qing, suaranya merdu namun memiliki ketegasan seorang bangsawan. "Saya Ao Qing, dari Klan Naga."

Long Chen, yang sedang asyik mengunyah iga naga bumi panggang, mendadak berhenti. Matanya menyipit. Sebagai pemilik Garis Keturunan Naga Leluhur (kasta tertinggi dari segala jenis naga), ia bisa merasakan fluktuasi garis keturunan di tubuh gadis itu.

Naga? Hmph, hanya kadal bersayap yang berevolusi, batin Long Chen, mendengus pelan hingga asap tipis keluar dari hidungnya.

Mendengar dengusan itu, Ao Qing melirik ke arah Long Chen. Detik ketika mata vertikalnya bertatapan dengan mata emas Long Chen, Ao Qing merasakan jantungnya berdegup sangat kencang! Sebuah tekanan garis keturunan yang menindas secara kuat membuat lututnya nyaris lemas.

P-Pemuda berambut perak ini... Garis keturunan naga apa yang dia miliki?! Kekuatannya melampaui Kaisar Naga kami! batin Ao Qing terguncang hebat. Namun, ia dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya dengan senyuman.

Zhao Xuan memutar cangkir araknya, melirik Ao Qing dengan santai.

"Meja ini cukup luas. Duduklah," ucap Zhao Xuan datar.

Ao Qing menghela napas lega dan duduk berhadapan dengan Zhao Xuan. Kedua pengawalnya tetap berdiri di belakangnya.

"Saya akan langsung pada intinya, Tuan Zhao," Ao Qing berbicara dengan elegan. "Berita tentang pembelian Batu Kekosongan seharga sepuluh juta dan lenyapnya Tiga Bayangan Pedang Malam semalam telah menyebar di kalangan elit intelijen. Anda telah menciptakan gelombang besar bahkan sebelum kaki Anda menginjak tanah utama Benua Tengah."

"Gelombang kecil di kolam dangkal," timpal Zhao Xuan santai.

Ao Qing terkekeh pelan, menutupi mulutnya dengan lengan bajunya. "Arogansi yang menyegarkan. Namun, apakah Anda menyadari bahwa undangan dari Han Tianyi untuk Perjamuan Resonansi Dao adalah sebuah jebakan eksekusi publik? Klan Han menggunakan arogansi Anda untuk memancing Paviliun Pedang Bintang. Di perjamuan nanti, Jian Chen dipastikan akan menantang Anda di depan seluruh penguasa benua."

Zhao Xuan menyandarkan punggungnya. Lingkaran emas di matanya menatap Putri Naga itu dengan tatapan yang bisa membaca kedalaman jiwa fana.

"Kau datang ke mari bukan untuk memperingatkanku, Putri," Zhao Xuan menyeringai tipis, Seringai Asura yang membuat bulu kuduk Ao Qing berdiri. "Kau datang karena kau penasaran. Kau ingin melihat apakah pisau yang akan menantang Tiga Klan Kaisar ini terbuat dari baja murni, atau sekadar kayu rongsokan yang kebetulan memiliki uang."

Ao Qing terdiam. Analisis pemuda berambut merah ini menembus semua basa-basinya. Gadis itu tersenyum lebih tulus kali ini.

"Anda sangat cerdas, Tuan Zhao. Ya, Klan Naga kami tidak memiliki urusan dengan dendam Anda terhadap Klan Han atau Pedang Bintang. Kami berada di posisi netral," Ao Qing mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya datang untuk menawarkan sebuah perspektif. Jika Anda berhasil keluar dari perjamuan itu hidup-hidup... Klan Naga akan menyambut Anda sebagai sekutu."

Ini adalah bentuk investasi tingkat tinggi. Ao Qing sedang bertaruh pada potensi Zhao Xuan.

Zhao Xuan tertawa. Tawa yang rendah, tiranik, dan tidak memedulikan etika faksi mana pun di alam semesta.

"Sekutu?" Zhao Xuan menghabiskan arak di cangkirnya dan meletakkannya kembali ke meja dengan bunyi klak pelan. "Aku tidak mencari sekutu, Putri. Aku mencari panggung yang layak. Dan sejujurnya..."

Zhao Xuan mencondongkan wajahnya, matanya menatap lurus ke arah mata naga Ao Qing. Hawa panas Api Nirwana merembes keluar sedikit, membuat cangkir teh di depan Ao Qing mendidih seketika.

"...aku khawatir panggung perjamuan Klan Han itu terlalu kecil, dan aku mungkin akan menghancurkan seluruh pulaunya saat aku duduk."

Ao Qing menahan napas. Tekanan tirani yang barusan ia rasakan bukanlah arogansi kosong. Itu adalah kebenaran absolut dari seorang monster yang memandang tatanan dunia sebagai mainan.

Putri Naga itu tersenyum, menyadari bahwa Benua Tengah tidak akan pernah sama lagi. "Kalau begitu, Tuan Zhao... kami dari Klan Naga akan menyiapkan kursi penonton terbaik untuk melihat Anda meruntuhkan pulau tersebut."

1
Nono19
wess thanks for crazy upnya author yok ngopi☕
Arinto Ario Triharyanto
iye kelamaan Thor, tumben
Budi Wahyono
ok
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
prima ginting
nantap
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
eka suci
lama juga koma nya , cepat bangun lah , ya walaupun Zhao tetap mampu ,tapi si kakek pemabuk mati , eh dikelilingi para cewe lagi nih🤭
eka suci
buat jadi debu juga musnahkan 💪
eka suci
ngga rela iiihhhh😥
eka suci
duuuuhhh masa si kakek mati sih long Ceng bakal mewek😥
eka suci
makanan mewah 😥 udah lama Zhao xuan ngga berdarah " shenzu emang agak beda🤭
eka suci
si batu kemana tuh ada camilan gratis malah bobo cantik
eka suci
kakek pemabuk jangan kaget ya ,jantung aman kan😄
eka suci
bantu mengarahkan biar ngga mati
eka suci
panggung nya masih dibutuhkan jadi petir nya harus di serap kau kejam Zhao 🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
blarrrrrrrrrr..... sikatttttt epribadiiii...
Xiao Bar
lanjutin
Xiao Bar
lanjut thor
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️
Mahyuni Muhyar
Lanjuuuttttt thor 🦾👍🏻
Boo Ceng Li
💪💪💪🔥🔥🔥
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
eka suci
si batu itu mirip si kerak 🤭 udah si gembul tukang tidur, si burung suka main api sekarang si batu suka makan qi🤣🤣🤣
Sang_Imajinasi: tahan ya ingat sekerak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!